
Sore itu, Willy mengajak Hanaria menginap dirumah kedua orang tuanya, bibi Salu tidak lupa diajak, mereka tidak tega meninggalkannya kesepian seorang diri diapartemen.
Willy berharap, dengan bertemu kedua orang tuannya, dan orang-orang rumah lainnya, kesedihan Hanaria bisa semakin berkurang, dan mungkin saja mereka bisa menemukan jalan keluar saat berbincang-bincang dengan kedua orang tuanya yang lebih banyak memakan asam garam kehidupan.
Kedatangan mereka disambut senyum bahagia Yurina, ibunda Willy, juga bibi Nani, kepala pelayan rumah keluarga Agatsa.
"Hallo Mom," sapa Willy memeluk ibunya lalu mencium pipi kiri dan kanan ibunya dengan penuh rindu. Itulah yang selalu dilakukannya bila sudah berhari-hari dirinya tidak bertemu ibunya.
"Hallo juga sayang, si anak manja Mommy, kau masih saja tidak berubah. Ingat, sudah punya isteri dan sebentar lagi punya anak," tegur Yurina pada putranya dan dibalas kekehan.
"Kalau berubah bukan anak manja Mommy lagi ''kan namanya." ucap Willy dengan tawa riangnya.
Hanaria yang sudah terbiasa melihat keakraban suaminya dengan ibu mertuanya hanya bisa ikut tersenyum. Sementara Yurina langsung memeluk menantu satu-satunya itu dan mencium lembut pipinya.
"Apa kabarmu nak?" tanya sang ibu mertua.
"Baik Mom, Mommy apa kabarnya?" Hanaria balik bertanya, saat mereka sudah melepaskan diri dari pelukannya masing-maaing.
"Baik juga sayang, syukurlah kalau begitu," ucap Yurina senang.
Sementara mereka berbincang, mobil Moranno memasuki halaman luas rumah itu, dan berhenti tepat disebelah mobil Willy.
"Kalian baru tiba?" tanya Moranno pada anak dan menantunya, setelah dirinya mencium kening Yurina isterinya yang menyambut kedatangannya.
"Iya Dad," sahut Willy, ia lalu mencium punggung tangan ayahnya, dan diikuti oleh Hanaria.
"Ayo kita masuk dulu, membersihkan diri dan berganti pakaian,"ajak Yurina.
"Setelah itu kita akan makan malam bersama. Mommy dan bibi Nani sudah memasak hidangan yang spesial," ucap Yurina pada suami, anak, dan menantunya itu.
"Aku jadi lapar Mom," kata Hanaria sambil mengusap perutnya yang sudah terlihat membesar.
__ADS_1
"Kalau begitu, ayo kita segera masuk," ajak Yurina lagi lalu menggandeng tangan menantunya.
"Salah pasangan Mom," tegur Willy memandang tangan ibunya yang menarik pergelangan tangan isterinya.
"Apanya yang salah? Hanaria kan menantu Mommy," sahut Yurina tidak perduli. Ia tetap membawa Hanaria ikut dengannya.
"Masa Willy sama.Daddy sih Mom, yang ada pedang berhadapan dengan pedang. Tidak seru Mom," ucap Willy serius.
Moranno membelalakan matanya menatap Willy, begitu pula dengan Yurina yang serta-merta menghentikan langkahnya. Sementara Hanaria menampilkan wajah meringisnya, khawatir ucapan sembrono suaminya itu akan mendapatkan omelan dari kedua mertuanya.
"Kenapa mulutmu selalu saja asal bicara? Heum?" Benar saja, Moranno mencubit kedua bibir putranya gemas sambil memutar dan memelintirnya dengan semena-mena.
Willy hanya bisa meringis kesakitan namun tidak bisa mengucapkan sepatah kata apapun karena terkatup rapat oleh perlakuan ayahnya.
"Sudahlah suamiku, kau seperti tidak tahu Willy saja," Yurina berusaha melerai, walaupun ia merasa Willy layak mendapatkan hukuman itu.
"Kalau tidak diberi pelajaran, anak bandel ini akan seperti ini terus sayang, padahal sebentar lagi dia akan memiliki anak. Bahaya 'kan kalau tidak berubah?" kata Moranno masih setia dengan hukumannya, sementara Willy berusaha menahan rasa perih yang semakin terasa tanpa berani berontak.
Mendengar permintaan menantunya, Moranno segera melepaskan tangannya dari bibir putranya.
"Ingat jangan diulangi lagi!" ketus Moranno. Setelah berkata demikian ia lalu menggandeng Yurina dan pergi meninggalkan anak dan menantunya dihalaman rumah besar itu.
Hanaria langsung menghampiri Willy, ia tidak bisa menahan tawanya saat memeriksa bibir suaminya yang terlihat tebal dan sedikit melebar.
"Kenapa? Lucu?" Willy yang merasa ditertawakan pura-pura sewot. Sejujurnya ia merasa malu, diperlakukan ayahnya seperti anak kecil didepan isterinya. Salah siapa coba?
"Seperti disengat tawon," gumam Hanaria masih tertawa.
"Sudah, kita masuk." Willy cepat menggandeng isterinya, tidak mau membahas lebih lanjut kejadian yang mempermalukannya sore itu.
Bibi Nani dan beberapa pelayan yang semula tidak berani jujur untuk tertawa, akhirnya meledakan tawa mereka saat Hanaria dan Willy sudah menghilang didalam rumah.
__ADS_1
Kehadiran Willy dirumah itu memang sering menjadi konsumsi bahan tertawaan para pelayan tanpa disadari oleh para majikan dirumah besar itu. Bagi mereka, kekonyolan tuan muda mereka bukanlah hal yang buruk, tapi lebih pada hiburan, apalagi Willy selalu bersikap baik pada semua pelayan dirumah itu, sama seperti kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya yang lain.
...***...
Selepas makan malam yang kembali dihiasi canda tawa, tentu saja karena kehadiran dan kebawelan Willy yang melebihi Hanaria yang sedang hamil, minta dilayani ibunya ini dan itu, membuat ayahnya yang melihatnya selalu melayangkan protes.
Kini mereka sedang duduk diruang keluarga, sesekali Willy melemparkan guyonan-guyonan segarnya lagi, membuat Yurina dan Hanaria kembali tertawa terpingkal-pingkal, yang anehnya, hanya Moramno saja yang tidak larut dalam irama guyonan putranya itu, malah memasang wajah galak seperti biasanya, ternyata, dirinya-lah yang menjadi objek guyonan sang putra. Dasar, anak kurang garam.
Tidak seterusnya Willy berseteru dengan ayahnya, dan berbicara sesuka mulutnya. Misalnya saja saat ini, wajahnya terlihat sangat serius saat membahas tentang pengadopsian bayi Elvano dan persyaratan yang diajukan oleh nyonya Mingguana, hingga pada kejadian siang hari diapartemen, saat bayi itu dibawa pulang secara paksa atas perintah neneknya yang dijalankan oleh pengasuh dan asisten David.
Moranno sesekali mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti dan sesekali juga terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa tidak habis fikir akan apa yang dilakukan oleh nyonya Mingguana pada cucunya sendiri.
Sementara Yurina terlihat sibuk mengusap punggung menantunya, yang kembali terlihat sedih dalam obrolan mereka malam itu.
Moranno menatap Hanaria sejenak, ia tahu bila menantunya itu sangat menyayangi bayi dari mendiang Firlita, adik angkatnya.
"Hanaria, bila terjadi sesuatu yang buruk pada bayi mendiang Firlita, apakah kau sudah siap?" tanya Moranno.
"Sepertinya-, aku belum siap Dad," sahut Hanaria jujur.
"Tidak ada jalan lain. Kau harus menerima persyaratan nyonya Mingguana secepatnya." ucap Moranno kemudian. Baik Yurina, Hanaria, apalagi Willy, tidak menduga mendengar perkataan itu yang bakal keluar dari mulut Moranno.
"Dad, itu tidak mungkin, Hanaria sedang mengandung," sanggah Willy cepat.
"Bila tidak, mungkin Hanaria akan kehilangan bayi itu. Karena dari kisah yang kalian sampaikan, nyonya Mingguana sepertinya tidak perduli pada keselamatan bayi itu," lanjut Moranno menatap putranya.
Semua kembali terdiam, ketika mendengar perkataan Moranno. Hanaria teringat, bagaimana kondisi bayi Elvano yang menyedihkan, saat pertama kali menginap diapartemen mereka, kurus, terlihat kurang gizi, karena bibi Narsih sibuk seorang diri, selain mengurus bayi Elvano, mengurus rumah, bolak-balik ke lapas, mengantar apa yang perlu untuk nyonya Mingguana dan putranya, sesuai ijin dari petugas disana.
Pak Aji, tukang kebun itu juga tetap membantu. Tapi semua urusan rumah, hanya mereka berdua sendiri saja yang mengerjakannya.
Bersambung...👉
__ADS_1