HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
283. Khawatir


__ADS_3

Hartawan tidak menjawab, ia lebih memilih fokus pada kemudinya, ingin segera tiba dirumah sakit, dalam benaknya turut merasa khawatir pada putri semata wayangnya itu. Baru kali ini putrinya berteriak padanya dan isterinya ditelepon.


"Ayo cepat Pah," Rosalie buru-buru keluar dari dalam mobil suaminya karena sedari tadi Rosalia tidak kunjung mengangkat teleponnya.


Tanpa menunggu Hartawan, ia bergegas menuju ruangan Rosalia yang hanya berjarak kurang lebih 100 meter dari parkiran.


"Rosa! Dimana kamu Sayang?" panggil Rosalie semakin panik bercampur khawatir begitu melihat tidak ada siapapun disana.


"Ada apa Mah?" Hartawan yang baru saja menyusul semakin khawatir melihat wajah isterinya.


"Rosalia tidak ada diruangannya Pah."


Hartawan menyapu pandangannya ke seisi ruangan. "Dalam toilet mungkin Mah?" ucapnya sembari berjalan menuju toilet yang ada dalam ruang kerja putrinya.


"Tidak ada Pah, aku sudah memeriksanya tadi." Rosalie mencengkram lengan suaminya, dirinya tidak pernah sekhawatir ini selama menjadi ibu sambung putrinya suaminya itu.


Perasaan Hartawan semakin kacau, takut, khawatir, juga menyesal bercampur jadi satu dalam benaknya, namun laki-laki itu tetap berusaha tenang tidak ingin menunjukan apa yang tengah dirasakannya saat ini.


"Mungkin dikantin Mah," Hartawan membawa isterinya keluar ruangan untuk kekantin rumah sakit.


"Selamat siang Tuan, Dokter," seorang suster yang kebetulan berpapasan menyapa dengan sikap hornat di lorong rumah sakit, ia cukup mengenal kedua orang tua Rosalia itu.

__ADS_1


"Siang Sus, apa tahu putri kami dimana?" tanya Hartawan pada suster itu.


"Tadi saya melihat dokter Rosalia ke parkiran, mungkin makan siang diluar Tuan," terang suster itu menunjuk kearah parkiran dimana Rosalia biasa memarkirkan mobilnya.


"Baik, terima kasih Sus,"


"Sama-sama Tuan, Dokter," setelah membungkuk hormat suster itu berlalu, demikian pula Hartawan dan Rosalie, keduanya kembali ke parkiran.


"Apa benar Billy sekarang bertugas di perbatasan?" Rosalie melirik suaminya yang berjalan disisinya menuju lahan parkiran.


"Heum," angguk laki-laki itu.


"Bukan Mah, bukan aku yang melakukannya. Aku memang sering menjauhkan mereka berdua. Tapi untuk urusan tugas, itu langsung turun dari pimpinan tertinggi," terang Hartawan.


"Jendral Giran?" Rosalie melambatkan langkahnya lalu berhenti menatap Hartawan yang juga ikut menghentikan langkahnya.


"Apa itu sesuatu yang sangat darurat?" sambung Rosalie penuh tanya.


"Sepertinya begitu, tugas rahasia, bahkan akupun tidak mengetahuinya." sahut Hartawan, ia teringat sore kemarin dirinya diberi tahu oleh Giran yang sempat memarahinya karena menolak kepindahan Billy.


"Memang sedang terjadi kemelut dibagian Timur," Hartawan kembali menambah tentang situasi keamanan negara.

__ADS_1


"Apa Billy akan pulang dari tugasnya dengan selamat? Bukankah disana situasinya sedang memanas?" Rosalie bertanya penuh rasa khawatir.


"Tenanglah, anak itu sepertinya punya nyawa rangkap. Beberapa kali dikirim, dia pasti kembali dengan selamat," Hartawan tidak meragukan kemampuan Billy, selain itu ia merasa pemuda itu selalu memiliki keberuntungan sendiri dalam setiap tugas yang diembannya.


"Harusnya kau membiarkan Billy bertemu Rosalia semalam. Kenapa hatimu terlalu tega Pah?" Rosalie kembali menyesalkan perlakuan suaminya, iapun tidak tahu kalau Billy semalam kerumah mereka bila tidak mendengarnya dari Rosalia yang berbicara ditelepon.


Hartawan tidak menjawab, ia hanya terdiam sepi sambil masuk kedalam mobil dan duduk dibelakang kemudi.


"Telepon orang-orang Papah sekarang, cari tahu dimana Rosalia berada, Mamah masih khawatir, takut Rosalia kenapa-kenapa," pintanya.


Hartawan mengeluarkan ponselnya dari dari dalam saku, ia mulai menghubungi beberapa orang-orangnya untuk menemukan keberadaan putrinya.


...***...


Hanaria terpaku disisi mobilnya, ia baru saja tiba ketika pandangannya tertuju pada suaminya yang tengah dipeluk erat oleh Rosalia.


Beberapa asisten rumah tangga yang melihat kehadiran Hanaria nampak cemas, begitu pula Yurina yang juga sedang menyambut Moranno pulang berkerja sore itu.


Rosalia memang akrab dengan kedua putra kembarnya, tapi masalahnya Willy sekarang sudah berstatus suami, dan isteri Willy itu kini tengah menangkap basah putranya dipeluk wanita lain, sahabat sejak kecilnya.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2