HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
219. Imbalan


__ADS_3

Hanaria mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Suhu ruangan terasa sangat dingin subuh itu, ia mengarahkan pandangannya pada jam dinding kamar yang tengah berdenting, menunjukan sudah pukul lima pagi.


"Ternyata dia benar-benar berlaku seperti bayi besar kalau begini caranya," gumam Hanaria sambil tersenyum. Hatinya menghangat, ia membelai lembut kepala suaminya yang sedang meringkuk dan melingkar menyerupai bayi kedinginan dalam dekapan ibunya.


Hanaria bergerak dengan hati-hati, supaya Willy tidak terganggu dengan pergerakannya. Saat berhasil duduk, ia buru-buru kembali masuk kedalam selimut, ternyata setelah adegan panas mereka semalam, ia langsung tertidur dan lupa mengenakan pakaiannya kembali.


"Kau mau kemana Hana?" Willy segera melingkarkan tangannya pada pinggang isterinya erat, saat dirasakannya pèrgerakan tubuh isterinya itu membangunkannya.


"Aku mau ke kamar mandi dan membersihkan diri dulu, setelah itu menyiapkan sarapan pagi untuk kita," sahut Hanaria.


"Jangan kemana-mana, aku masih ingin begini," kata Willy semakin mempererat pelukannya. Walau matanya masih terpejam, namun tangan nakalnya sudah bergerilya kemana-mana.


"Ini sudah pagi Willy, kita akan terlambat kalau tidak lekas bangun," tangan Hanaria sudah berhasil meringkus sepasang tangan nakal Willy yang tidak mau diam.


"Ayo cepat bangun, hari sudah mulai terang, aku harus menyiapkan sarapan, supaya kita berdua jangan sampai terlambat," kata Hanaria lagi berusaha melepaskan diri.


"Tidak perlu khawatir, ada bibi Salu yang akan menyiapkan sarapan untuk kita," kata Willy berusaha melepaskan tangannya yang sedang dipegang kuat isterinya.


"Bibi Salu?" Hanaria nampak berpikir sejenak mendengar ucapan suaminya, sementara pertahanannya mulai melonggar.


"Semalam aku menelpon mommy supaya mengirimkan bibi Salu kemari," terang Willy yang masih setia dengan mata terpejamnya.


"Buat apa? Aku masih bisa melakukan pekerjaan rumah seorang diri Willy, itu tidak menyulitkan, hanya kau dan diriku saja bukan yang ada di apartemen ini?" sanggah Hanaria.


"Semua memang beres, tapi aku terabaikan," keluh Willy manja sambil menelusupkan kepalanya kedada isterinya.


Hanaria kembali berfikir sambil menahan kepala nakal suaminya," terabaikan bagaimana maksudnya?" tanyanya tak mengerti.


"Bukankah setiap pagi aku juga sudah menyiapkan pakaian kerjamu juga?" lanjut Hanaria sambil memikirkan apa yang masih kurang.


"Memanjakanku," sahut Willy langsung naik keatas tubuh isterinya.


"Agghh" pekik Hanaria tertahan. "Kau bisa menekan anak kita didalam sana," Katanya sedikit terkejut pada apa yang dilakukan suaminya.


"Aku tahu caranya menahan bobot tubuhku, kau tidak perlu khawatir Hana, aku ini olah ragawan yang handal, dan mampu melakukan push up hingga hitungan ke empat puluh kali setiap hari," ucap Willy membanggakan diri sambil mengerlingkan matanya.


"Lalu apa hubungannya push up yang kau banggakan itu dengan yang kau lakukan sekarang ini?" tanya Hanaria seraya tertawa kecil, walau ia sudah tahu, Willy pasti selalu memiliki jawabannya.


"Aku ingin imbalanku," Willy menurunkan wajahnya perlahan menatap lekat wajah Hanaria djbawahnya.

__ADS_1


"Imbalan apa?" Hanaria dengan cepat menahan wajah Willy.


"Persetujuan adopsi bayi pria gila itu, dan aku meminta imbalanku," sahut Willy kesal saat wajah Mahendra tiba-tiba melintas dibenaknya.


Hanaria langsung terkekeh mendengar julukan Willy untuk Mahendra, ditambah wajah kesalnya yang terlihat lucu pada pemandangannya.


Kring! Kring! Kring!


"Sebentar, ada yang menelponku," ucap Hanaria dan membuat Willy terpaksa harus turun dari atasnya.


"Ayah," bisik Hanaria pada suaminya.


"Hallo ayah, apa kabar? Ayah dan Ibu sehat?" sapa Hanaria menanyakan orang tuanya sambil mengembangkan senyumnya.


"Iya nak, Ayah dan juga ibumu. Kami berdua semuanya sehat," sahut pak Muri dari ujung sambungan telepon.


"Bagaimana kabarmu dan nak Willy? Semoga kalian berdua juga sehat," doa pak Muri lagi.


"Iya ayah, kami berdua sehat," sahut Hanaria senang.


"Maafkan ayah nak, pagi-pagi buta sudah menelponmu. Ayah kefikiran saja. Kemaren sore, sepulang berkerja, kakakmu Jonly mengabarkan pada ayah bahwa kau menstansfer uang pengembalian pinjamanmu."


"Iya, tidak apa ayah, Willy yang memaksaku mengembalikannya. Katanya malu meminjam uang ayah," ucap Hanaria jujur. Ia melirik suaminya yang berbaring disamping, tapi tidak melihatnya, karena Willy menggulung dirinya didalam selimut tebalnya.


"Oh begitu," terdengar suara tawa pak Muri.


"Baiklah, Ayah tutup dulu. Salam pada suamimu. Kau pasti ingin bersiap bukan?"


"Iya Ayah, nanti Hana sampaikan. Salam pada Ibu juga." Setelah ayahnya menutup telepon, Hanaria menyimpan ponselnya diatas nakas kembali.


"Ada salam dari ayah untukmu," kata Hanaria melirik Willy yang masih meringkuk diam didalam selimut.


"Willy, apa kau kembali tertidur?" tanya Hanaria, ia mendekat, menyentuh punggung Willy dari balik selimut, masih tidak ada pergerakan juga.


Hanaria membuka selimut perlahan, untuk melihat kebaradaan Willy didalam sana. Ia terkesiap saat berhasil membuka selimut, Willy sedang menatapnya, ternyata ia tidak sedang tertidur.


"Kenapa kau tidak menjawabku?" tanya Hanaria lembut.


"Aku sedang merajuk," kata Willy dengan raut cemberut.

__ADS_1


Hanaria hampir saja tertawa, tapi ia tetap menahannya, takut Willy tersinggung dan tambah merajuk. Belum pernah ia mendengar pengakuan seseorang yang sedang merajuk blak-blakan mengatakan bila dirinya memang sedang mearajuk, selain suami tampannya ini.


"Maafkan aku sudah membuatmu merajuk," kata Hanaria sambil kembali berbaring disisi suaminya itu. Ia tahu penyebab suaminya itu merajuk, dan tahu bagaimana cara untuk membujuknya supaya tidak merajuk lagi.


"Bagaimana bila kita lanjutkan lagi cerita imbalan tadi? Hmm?" bisik Hanaria ditelinga suamiya, sambil mengeratkan pelukan pada tubuh suaminya yang tengah memunggunginya.


"Tidak mau," sahut Willy bergumam.


"Serius tidak mau?" Agghhh," lenguh Hanaria sambil memijat dada bidang Willy yang terasa keras dengan jari-jemarinya yang bergerilya mènekan dan meremas.


Willy menoleh, ia merasa heran, "Kenapa kau yang malah mendesah?" tanya Willy dengan raut konyolnya. Pertanyaan Willy membuat Hanaria merasa gemes, ia tahu suaminya itu sedang ingin mengerjai dirinya. Tapi Hanaria berusaha tidak terpengaruh, ia tetap melancarkan aksinya dengan jari-jemarinya yang mulai menurun ke bawah, pada bagian tubuh suaminya yang sudah tidak berbalut sehelai benangpun itu.


"Sudah pagi, nanti kita terlambat," kata Willy tiba-tiba, sambil meringkus balik tangan Hanaria yang mau menyentuh senjata pamungkasnya, lalu berusaha melepaskan diri dari pelukan isterinya itu.


"Willy, aku tahu kau mau membalasku. Aku minta maaf," ucap Hanaria memelas, ia semakin mempererat pelukannya.


"Aku tidak berniat membalasmu Hana, ini benaran sudah pagi, lihat cahaya terang sudah masuk disela-sela gorden kamar kita," sahut Willy sambil mengarahkan pandangannya pada gorden.


"Aku tidak mau kau pergi sekarang Willy. Aku akan memaksamu," ucap Hanaria masih merengek dan terus memeluk suaminya semakin erat.


"Memaksaku?" tanya Willy dengan penekanan.


"Iya, memaksamu," sahut Hanaria ikut mengulang ucapan suaminya.


"Aku suka dipaksa," Willy langsung berbalik dengan senyum lebarnya.


"Benarkan kau mengerjaiku tadi?" sungut Hanaria.


"Demi mendapatkan imbalanku," Sahut Willy seraya mengerlingkan matanya nakal.


Willy menelusupkan wajahnya disela-sela leher jenjang Hanaria, hingga membuat isterinya itu menggeliat-geliat kegelian, merasakan sentuhan-sentuhan lembut yang dilancarkan bibirnya.


Setelah merasa cukup puas bermain-main lama disana, dan meninggalkan beberapa jejak kepemilikannya, perlahan bibir basah Willy mendarat dengan lembut pada bibir terbuka Hanaria yang siap menerimanya, wanita itu mulai terbuai oleh pesona suaminya. Sementara tangan Willy lainnya sedang bergerilya, mencari sesuatu yang dapat diraihnya.


"Aku suka ini," bisik Willy serupa geraman, jari tangannya mulai memainkan satu pabrik susu isterinya yang sudah tidak muat dalam satu tangkupan tangannya.


Suara-suara erangan halus mulai terdengar dari bibir Hanaria akibat pijatan tangan terampilnya membuat gairah Willy kian menggebu melakukan aksinya.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2