
Hartawan meraih buket bunga di atas meja yang sedari tadi menyita perhatiannya. Diputar dan di bolak baliknya. "Masih baru, dari siapa?" tanya laki-laki itu pada isterinya yang baru saja keluar dari toilet setelah mengantarkan Rosalia dan meninggalkannya didalam sana.
"Dokter Faraz," singkat Rosalie datar, ada rasa malas memberi jawaban dari nada suaranya.
"Dokter Faraz?" beo laki-laki itu, raut wajahnya berubah serius memandang isterinya.
"Iya Pah, dari dokter Faraz." ulang Rosalie dengan suara rendahnya.
"Apa dia serius suka sama putri kita?" tanya Hartawan mengawasi.
Seketika Rosalie mendelik, biasanya ia selalu sabar menghadapi suaminya, kali ini emosinya langsung tersulut tak terbendung kala mendengar pertanyaan suaminya.
"Menurut Papah apa namanya itu, bila seorang pria dewasa sudah mengatakan dirinya ingin melamar seorang gadis dan membawakan gadis itu sebuket mawar merah segar?" suara Rosalie sedikit meninggi.
"Putri kita itu seorang gadis perawan Pah, dia berhak menemukan pasangan sebayanya," Rosalie berusaha menekan suaranya yang sudah dikuasai emosi, sementara Hartawan masih terlihat tenang dan datar saja.
"Dan jarak usia dokter Faraz itu sangat jauh dari Rosalia, lebih dari dua kali lipat usia putri kita Pah, dia juga duda---. Upss!" Rosalie langsung membekap mulutnya yang keceplosan, mimik datar dan tenang Hartawan seketika berubah dingin, memandang isterinya yang terlihat kikuk.
"Pah, maafin Mamah, Mamah tidak bermaksud--,sesalnya tanpa ada niatan menyinggung perasaan suaminya.
"Bermaksud bilang Papah duda," rajuknya.
"Nah, salah-faham kan? Papah sukanya begitu. Terserah Papah sajalah, Mamah lelah," Rosalie gegas beranjak ke sofa dan mendudukan dirinya disana. Seperti katanya, ia memang benar-benar lelah memikirkan putrinya yang masih sakit juga niatan dokter Faraz yang mau melamar Rosalia.
"Kok sensi sih isterinya Papah," Hartawan yang semula hendak merajuk menyusul Rosalie duduk di sofa.
"Mah, biar Papah duda, Papah kan sayang, cinta mati sama Mamah, dan rumah tangga kita baik-baik aja kan selama ini?" Hartawan memeluk isterinya itu dari belakang.
Selama berumah tangga mereka memang sangat jarang bertengkar. Bila tidak menemui titik temu dalam perdebatan, maka salah satunya akan berusaha mengalah, demi menghindari dari meruncingnya masalah yang sebenarnya tidak perlu dalam berumah tangga.
"Iya Papah benar. Dan hubungan kita sama-sama didasarkan cinta Pah. Tapi Rosa, dia cintanya sama Billy bukan dokter Faraz Pah."
Ceklek.
Hartawan dan Rosalie sama-sama kaget, keduanya menoleh kearah pintu toilet, nampak Rosalia berdiri mematung disana bertumpu pada tiang infusnya, wajahnya masih terlihat memucat menatap kearah kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Rosa sayang, kau sudah selesai," Rosalie gegas menghampiri putrinya, begitu pula dengan Hartawan. Keduanya khawatir bila Rosalia mendengar pembahasan mereka.
"Kenapa dengan dokter Faraz, Mah?" tanya Rosalia, sesaat setelah kedua orang tuanya itu menggandeng lengannya untuk memapah dirinya kembali ke ranjang pasien bersama tiang infus yang dibawanya.
"Tidak ada.apa-apa Sayang. Kami sekedar mengobrol saja," sahut Rosalie melirik kearah Hartawan.
"Mamah jangan bo'ong, Rosa dengar semuanya. Buket bunga itu pemberian dokter Faraz 'kan, Ma? Bukan pemberian Papah seperti kata Mamah tadi sore," lirih Rosalia sayu.
Hartawan dan Rosalie kembali saling berpandangan.
"Sebaiknya kau makan bubur sup-mu lagi ya Sayang, supaya kau cepat sembuh." Rosalie buru-buru mengambil mangkuk sup, dengan uap panasnya yang masih mengepul, berharap dapat mengalihkan Rosalia dari pertanyaannya.
"Katakan dengan jujur, Mah. Apa yang Mamah dan Papah coba sembunyikan tentang dokter Faraz?" Rosalia menatap kedua orang tuannya. Tangannya mencengkram kuat tepi ranjang pasien dimana ia duduk.
Tok. Tok. Tok.
Ketiganya kompak melihat ke arah pintu. Rosalie sejenak merasa lega, karena ketukan pintu itu telah menolongnya walau untuk sesaat. Sementara itu Hartawan buru-buru berdiri menuju pintu dan membukanya.
"Selamat malam tuan Hartawan," sapa salah satu dari ke lima orang yang berdiri didepan pintu.
"Ayo! Mari, mari masuk. Kami sedang memaksa si manja Rosa makan bubur supnya. Dia susah sekali makan." ujar Hartawan lagi sambil terkekeh.
"Kita ngobrol-ngobrol diluar saja dulu, sampai Rosa selesai makan baru kita menemuinya. Bagaimana?"
"Baiklah kalau begitu," setuju Hartawan, usul nyonya Agatsa dipandang baik olehnya. Ia juga tak ingin Rosalia telat makan lagi.
"Aku dan Willy izin masuk ya Om. Mungkin saja kehadiran kami bisa membantu dokter Rosalia mau makan." ucap Hanaria.
"Boleh. Masuklah Hana, Willy." ujar Hartawan memberi izin. Sepasang suami isteri itu mengembangkan senyumnya terlebih dahulu lalu bergegas masuk. Lagi-lagi Hartawan merasakan ada sesuatu yang aneh pada Willy. Kembaran Billy itu tidak banyak bicara seperti biasanya. Yah, mungkin saja dia lagi sariawan batinnya kembali menepis perasaan ganjilnya.
"Tante," Hanaria menyapa, ia gegas mencium punggung tangan Rosalie, begitu pula dengan Willy.
"Kalian berdua saja kemari?" tanya Rosalie menatap Hanaria dan Willy.
"Tidak Tante, kami bersama Daddy, Mommy, dan juga Oma," sahut Hanaria tersenyum.
__ADS_1
"Oh ya?" Rosalie nampak kaget dengan menampilkan wajah sumringahnya.
"Bagaimana kalau Tante bergabung saja dulu dengan Daddy, Mommy, dan Oma? Biar Hana sama Willy saja yang menemani dan menyuapi dokter Rosa makan." ucap Hana dengan nadanya yang merayu.
"Tapi Hana, Tante nggak enak ngerepotin kalian berdua." tolak Rosalie halus.
"Jangan bilang begitu Tante. Kita ini keluarga, saya dan Willy juga udah biasa dengan dokter Rosa. Bukan begitu Sayang?" Hanaria menyenggol lengan suaminya.
"Itu benar Mah," sahut Willy dengan senyum menghiasi wajah tampannya.
"Baiklah kalau begitu Hana." Rosalie akhirnya mengalah. Ia beralih memandang pada Willy. "Senyummu membuat Mamah teringat pada saudara kembarmu itu. Andai saja Billy ada disini, Rosa pasti cepat sembuh." guman Rosalie tersenyum getir.
"Rosa sayang, Mamah tinggal sebentar, mau temui keluarga tuan Moranno," Rosalie mencium lembut pucuk rambut putrinya
"Kau tidak apa-apa kan Mamah tinggal bersama Hana dan Willy?" Rosalia hanya mengangguk, sedari tadi ia hanya memandangi Willy yang sekali-kali curi pandang padanya.
"Titip Rosa ya, tante keluar dulu menemui orang tua kalian dan Nyonya besar," pamitnya.
"Iya Tante,"
"Iya Mah,"
Sahut Hanaria dan Willy hampir bersamaan.
"Dokter Rosa, saya suapin ya," Hanaria mendekatkan mangkuk sup yang telah ia ambil alih dari Rosalie sebelumnya.
"Saya nggak berselera makan nona Hana," geleng Rosalia lemah, sepasang mata sayunya terus mengawasi Willy yang berdiri dibelakang Hanaria.
"Billy? Kenapa kau baru datang sekarang? Kenapa kau pergi tanpa menemuiku dulu? Dan kenapa kau tidak menelepon, atau setidaknya mengirim pesan padaku? Aku--, aku sangat merindukanmu," suara Rosalia terdengar bergetar, dari sudut-sudut matanya telah bergulir bebas bening-bening kristal membasahi pipinya.
Melihatnya, Hanaria dan Willy saling berpandangan sesaat.
"Mendekatlah. Kau bukan Willy, aku sangat mengenalmu lebih dari siapapun Billy," Rosalia mulai sesenggukan ditepi ranjang pasiennya.
Bersambung...👉
__ADS_1