HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
128. Perkenalan Keluarga


__ADS_3

Hana menyeret kopernya memasuki rumah orang tuannya, rumah dimana ia dilahirkan dan dibesarkan. Ia nampak kaget karena melihat ruang tamu terlihat lebih besar dari biasanya, dan sudah dihampar karpet permadani dengan rapi.


"Sepertinya banyak perubahan pada rumah kita ayah." Ucap Hanaria, ia berhenti dan berdiri ditengah - tengah ruang tamu sambil memperhatikan dan memutar tubuhnya berkeliling.


"Iya Hana..... Tapi maafkan ayah, sudah membongkar kamar tidurmu, untuk memperluas ruang tamu ini, tanpa meminta ijin padamu terlebih dulu, supaya ruang tamu kita lebih besar." Ucap pak Muri sedikit tidak nyaman pada putrinya.


"Tidak apa - apa ayah...... Hana bisa tidur dimana saja dalam rumah ini, kan masih ada kamarnya kak Jonly....." Ucap Hanaria tersenyum tipis.


"Tidak Hana, ayahmu sudah membuat kamar baru untukmu dibelakang dekat dapur. Ayo kita kesana.... " Ajak ibu Muri lalu berjalan mendahului putrinya.


Hanaria mengikuti langkah ibunya dari belakang bersama ayahnya sambil menyeret kembali kopernya menuju belakang.


"Ini kamarmu Hana, masuklah......" Ibu Muri membuka pintu kamar Hanaria yang baru.


"Wah..... Kamarnya lumayan besar dari yang dulu bu....." Ujar Hanaria melangkah masuk dan meletakan kopernya disudut ruangan kamar tidur.


"Semua renovasi rumah ini ayah membeli bahan bangunannya menggunakan uang yang kau berikan pada ayah, tapi ongkos tukangnya dibiayai oleh nak Willy....." Ujar pak Muri.


"Kenapa ayah? Apa uangnya kurang?" Tanya Hana heran.


"Tidak Hana...... Tapi saat ayah membayar ongkosnya, tukang tidak mau menerimanya, dengan alasan bahwa mereka sudah menerima bayaran dari nak Willy katanya."


"Karpet - karpet permadani itu, yang kau lihat ada diruang tamu, nak Willy juga yang mengirimkannya kemaren sore dengan diantar oleh orang toko dari kota. Katanya keluarga besarnya akan datang kemari malam ini untuk melamarmu secara resmi Hana." Sambung Pak Muri.


"Seminggu yang lalu, Willy datang bersama pak Arta dan ibu Arta, nak Reymon juga ikut untuk melamarmu Hana." Ucap ibu Muri turut bicara.


"Mas Reymon juga ikut bersama kedua orang tuanya??" Tanya Hanaria hampir tak percaya.


"Iya Hana, justru pak Arta yang menjadi juru bicaranya nak Willy dalam melamarmu, dan nak Reymon juga mengatakan, kalau dirinya tidak keberatan. Karena dia menyadari bahwa dirimu tidak mencintainya Hana."


"Awalnya kami menolak, namun setelah dijelaskan panjang lebar alasan - alasan Willy melamarmu Hana, lalu pak Arta juga bu Arta terus memohon bersama nak Willy, katanya kau sudah menerima pinangan dari keluarga nak Willy, akhirnya kami menerimanya."

__ADS_1


"Selama beberapa hari ini kami memang sengaja tidak menelponmu , karena nak Willy mengatakan kau sangat sibuk mempersiapkan pernikahan ini Hana, itu sebabnya ayah dan ibu tidak menelponmu kembali saat kami melihat panggilan tidak terjawab darimu." Jelas ibu Muri panjang lebar.


Hanaria terhenyak, mulutnya sedikit ternganga, bagaimana bisa Willy mengarang cerita seperti itu. Ingin rasanya ia menyela dan meluruskan berita yang sebenarnya, namun saat dilihatnya kedua orang tuanya begitu percaya pada Willy dengan disertai senyum terpancar dari wajah keduanya, Hanaria terpaksa mengurungkan niatnya itu.


Hanaria masih tidak percaya akan apa yang ia dengar, bagaimana bisa, Reymon yang pernah melamarnya bersama kedua orang tuanya, kini melamar dirinya lagi untuk anak sang mantan majikan neneknya Reymon.


Hanaria masih terdiam, ia berpikir bila inilah waktunya ia mengatakan apa yang harus orang tuanya ketahui mengenai persyaratan yang pernah ia ajukan pada Willy dan orang tuanya, sebelum keluarga Willy datang malam ini kerumah mereka.


"Ayah..... Ibu..... Hana sudah ada dirumah ini. Ada yang harus Hana ceritakan supaya jangan sampai terjadi kesalah fahaman nantinya pada kita." Ucap Hanaria, ia mengatur posisi duduknya ditepi tempat tidurnya sambil mengambil napas dalam.


Sementara pak Muri dan ibu Muri memperhatikan Hanaria dengan seksama. Kedua orang tua itu ikut merapikan duduk mereka sejajar dengan Hanaria ditepi tempat tidur dan siap mendengarkan apa yang akan dikatakan putri mereka itu.


"Tok...... tok...... tok........!"


"Ayah ada yang mengetuk pintu." Ucap bu Muri sambil menatap wajah suaminya.


"Sebentar ya Hana, ayah kedepan dulu, melihat siapa yang datang berkunjung." Pak Muri segera bergegas meninggalkan kamar Hanaria untuk menemui tamu yang sedang mengetuk pintu didepan.


Tidak lama kemudian pak Muri kembali dengan langkah tergopoh - gopoh masuk kekamar Hanaria.


"Ada apa ayah?" Tanya ibu Muri pada suaminya yang datang mendekat.


"Itu bu..... Tadi pak ketua RT yang datang. Katanya kita berdua sudah ditunggu oleh bapak Kepala Dusun, Kepala Adat, dan perangkat dusun lainnya di Lamin." Jelas pak Muri.


"Untuk apa ayah?" Tanya Hanaria ingin tahu.


"Mempersiapkan Pernikahan Adat antara dirimu dan nak Willy besok Hana." Hanaria menelan salivanya dengan perasaan kaget. Walau ia sudah mengetahui hal itu dari jadwal yang telah diberikan oleh calon ayah mertuanya sebelumnya, tetap saja ia merasa perasaan yang berbeda, kenapa begitu cepat moment - moment itu menghampirinya, fikirnya didalam hati.


"Maafkan ayah dan ibu Hana..... Kami harus segera pergi. Kau beristirahatlah dahulu. Kau pasti lelah menempuh perjalanan jauh hari ini. Persiapkanlah dirimu dengan energi yang cukup untuk lamaran dari nak Willy dan keluarganya malam ini, juga Pernikahan Adat yang akan dilaksanakan besok."


"Mengenai pembicaraan penting yang akan kau bicarakan tadi, kita akan mencari waktu lagi untuk membahasnya ya Hana." Ucap pak Muri

__ADS_1


"Baiklah ayah......" Hanaria terlihat sedikit mendesah. Kini ia hanya bisa pasrah pada apa yang akan terjadi. Waktu terasa begitu sempit dan mepet, membuatnya tidak leluasa untuk berbagi kabar pada kedua orang tuanya terutama menyangkut lamaran nanti malam.


...***...


Malam ini, Hanaria dan kedua orang tuanya, demikian juga dengan Kepala Dusun, Kepala Adat dan perangkat kampung lainya, terlihat begitu terpana, saat mendengarkan Moranno mulai memperkenalkan anggota keluarga Agatsa satu persatu.


Bagimana tidak, Nyonya Agata memiliki anak kembar, Yaitu Moranno dan Margareth. Moranno memiliki dua kali anak kembar, yaitu Billy - Willy dan Mariana - Malizha. Margareth memiliki anak kembar, yaitu Edwar dan Edrine. Dan mereka semua hadir dirumah orang tua Hanaria.


Gen kembar keluarga itu begitu kuat, sehingga keturunan mereka sering melahirkan anak kembar. Diam - diam Hanaria bergidik ngeri mendengar semua itu. Apakah dirinya juga akan melahirkan anak kembar dari Willy juga, batinya.


"Tidak..... Bagaimana mungkin aku bisa berfikir sampai kesana. Tuan muda saja tidak mencintaiku bagaimana mungkin kami berdua akan membuat anak, dan kembar pula....." Gumam Hanaria didalam hati sambil tersenyum - senyum sendiri memikirkan kekonyolan fikirannya.


Sementara itu Willy yang duduk disamping ayahnya, dan Reymon yang juga duduk didekat pak Arta ayahnya sama - sama tidak sengaja memperhatikan Hanaria yang tengah tersenyum, dan duduk diantara ayah dan ibunya.


"Oeekkk...... Oeekkkk.......Ooeeekk"


Semua mata yang hadir, dan duduk melantai diruang tamu rumah pak Muri itu mengarah kepintu yang terbuka lebar saat mendengar tangisan bayi yang mendayu - dayu.


Wajah Jonly nampak kusam dan kusut tidak terurus sambil menggendong dua bayinya didalam kedua tangannya, Misha yang baru berusia 1 tahun 3 bulan, dan Randi yang baru berusia 3 bulan.


Ibu Muri dan Hanaria segera beranjak dari duduknya dan menghampiri Jonly yang masih berdiri didepan pintu karena tidak bisa masuk oleh acara lamaran yang banyak dihadiri oleh pihak keluarga besar Agatsa.


"Bu maafkan Jonly..... Jonly terpaksa membawa Mizha dan Randi kemari. Elina sedang sakit, ia muntah - muntah karena hamil muda, jadi ibu mertuaku yang mengurusnya dirumah." Ucap Jonly pada ibunya.


"Kak Elina hamil lagi? Randi masih bayi kak....? Kak Jonly keterlaluan, tidak sabaran......!" Ucap Hanaria gemas pada kakaknya itu.


Semua yang hadir berusaha menahan senyum mendengar ucapan Hanaria yang menggelikan menurut mereka, ditambah lagi saat mereka menyaksikan kondisi Jonly yang menyedihkan tidak terawat karena sibuk memomong kedua anaknya yang masih bayi.


"Mohon maaf bapak - bapak dan ibu - ibu semua..... Saya dan Hana ijin kebelakang sebentar mengurus dua bayi ini, silahkan dilanjutkan perkenalannya tuan Moranno....." Ucap Ibu Muri pada semua tamunya.


"Sudahlah..... Tidak apa - apa Jonly. Ayo kita kekamar adikmu Hana lewat samping." Ajak ibu Muri sambil menggendong bayi Randi, sedangkan Hanaria menggendong Mizha.

__ADS_1


...***...


__ADS_2