
"Tak perlu terlalu risau. Yang terpenting kedua bayi kembarmu dan Hanaria tetap mendapat haknya, mendapat asupan ASI dan kasih sayang yang cukup dari ibunya. Jadi sebisa mungkin, kau harus mengusahakan isterimu itu tidak tahu akan hal ini untuk sementara waktu," ucap nyonya Agatsa mengakhiri ucapannya, sembari menepuk-nepuk punggung cucunya itu.
"Yang dikatakan Oma-mu benar Willy, seperti aku dan Mommy-mu kami berdua juga memiliki bayi kembar seperti isterimu Hanaria, jadi ASI yang dimiliki memang harus melimpah, melebihi ibu-ibu menyusui yang hanya memiliki satu bayi," tambah Margareth.
"Iya, terima kasih banyak Oma, Bibi, aku akan ingat itu," Willy bangkit dari duduknya.
Setelah mengucapkan selamat malam, ia mulai menghampiri para orang-orang tua dalam keluarga besarnya itu untuk berpamitan kembali keruang rawat inap. Masing-masing mereka memberi dukungan dan semangat pada Willy yang memang terlihat lumayan kacau dengan perasaannya.
Didalam ruang rawat inap sana, tanpa mereka sadari Hanaria ternyata mendengar semuanya, dari balik cela pintu yang sedikit terbuka. Ia tidak sengaja menguping saat menunggu Willy yang terlalu lama tidak kembali.
Buliran bening menggenang, merasakan haru akan perhatian luar biasa yang ditunjukan keluarga besar pihak suaminya itu pada dirinya. Sungguh dirinya bersyukur, bisa menjadi bagian dari anggota keluarga yang baik itu.
"Nyonya, salah satu bayi Anda terbangun, sepertinya ia ingin menyusui lagi," panggil suster yang ditugaskan menemani Hanaria memberitahu.
"Baik, saya akan segera kesana." Sebelum membalikkan tubuhnya, Hanaria buru-buru mengusap air matanya yang belum sempat terjatuh, lalu menyusul sang perawat.
Benar saja, salah seorang bayinya sedang menangis, dengan dua kaki tangannya yang menggapai-gapai ke udara didalam baby box, sementara bayi satunya tertidur pulas tanpa merasa terganggu.
Perawat dengan hati-hati mengangkat sang bayi mungil itu dan menyerahkan pada Hanaria yang duduk ditepi tempat tidur.
"Pelan-pelan dong Sayang," ucap Hanaria tersenyum lembut ketika melihat kerusuhan bayinya yang tidak sabaran menyambar pucuk payudar*nya.
Suara cecapan dan tatapan bayi berusia 14 hari yang tengah menyusui itu membuat Hanaria tertawa sendiri. Ada rinai kebahagiaan menyelimuti hatinya. Dalam sekejap ia dapat melupakan apa yang ia dengar tentang perusahaan yang ia pegang walau untuk sesaat.
__ADS_1
"Sayang," Willy tiba-tiba muncul dibalik pintu. "Kau belum tidur?" ucapnya sembari mendekati Hanaria dan memperhatikan apa yang dilakukan bayinya.
"Iya, masih menyusui baby Jo," sahut Hanaria menoleh sekilas pada Willy yang sudah duduk disebelahnya.
"Baby Jo?" Willy memperhatikan dengan cermat wajah dan postur tubuh putranya yang sudah semakin lahap menyusui empat hari belakangan ini dibandingkan awal-awal saat baru lahir.
"Sampai sekarang aku tidak hafal, yang mana Jo, dan yang mana El," celetuk Willy dibarengi tawa kecilnya, suster yang mendengarpun ikut tertawa.
"Memang sulit membedakan bayi kembar Tuan, tapi berjalannya waktu, Tuan pasti akan bisa membedakan mereka, dari suara menangis, atau cara mereka menyusui misalnya," ucap perawat ikut berbicara.
"Semoga saja begitu ya Sus," ucap Willy melihat kearah suster yang menemani isterinya.
"Karena Tuan sudah datang, saya mohon pamit dulu, Tuan dan Nyonya," ucap suster itu lagi, begitu dirasanya tidak ada yang bisa ia lakukan lagi.
"Tidak perlu Tuan, Tuan disini saja menemani Nyonya," tolak suster itu. Setelah membungkuk hormat, ia bergegas meninggalkan kamar inap Hanaria.
"Boleh aku membantumu untuk menyusui, supaya kau tidak lelah terjaga sepanjang malam?" ucap Willy, begitu suster sudah menghilang dibalik pintu, ia memperhatikan baby Jo yang masih belum puas menyusui.
Hanaria kembali menoleh. "Menyusui?" tanyanya bingung.
"Iya, menyusui seperti yang kau lakukan itu," sahut Willy, menunjuk apa yang dilakukan Hanaria pada bayi mereka.
Hanaria tertawa. "Kau ada-ada saja. Tapi boleh juga kalau kau memiliki pabriknya," sahut Hanaria sekenanya sambil tertawa, begitu pula dengan Willy. Ia tahu, Willy sengaja melontarkan guyonan ringannya yang tidak masuk akal itu hanya membuat dirinya tertawa.
__ADS_1
"Aku menyayangimu," gumam Willy, setelah tawa keduanya mereda.
Hanaria kembali menoleh, mendapatkan suaminya itu sedang menatapnya dengan senyum menawannya. Ia tahu, ada banyak kerisauan dibalik senyuman itu yang diperuntukan baginya.
Karena dirinya menyaksikan sendiri bagaimana raut dan ekspresi yang ditunjukan Willy saat membahas tentang permasalahan perusahaannya bersama keluarga besarnya.
Selain rasa haru, tentu saja ia merasa sedih, sesak, dan tidak nyaman, karena tanpa sengaja sudah membawa suami dan keluarga besar suaminya turut memikirkan masalah yang tengah dihadapinya karena perusahaan nyonya Mingguana yang beralih padanya.
"Apa kau bicara begitu karena merasa takut tersaingi oleh dua putramu?" Hanaria berusaha tidak menyinggung apa yang telah ia ketahui.
"Heum," Willy nampak berfikir sejenak. "Tidak. Aku tahu, cintamu itu adil. Cukup untukku, juga cukup untuk dua bayi kita," sahut Willy lagi masih dengan senyum menawannya.
"Kau memang seorang suami yang pandai membuat isterimu senang. Semoga aku bisa menjadi seperti apa yang kau katakan, Sayang," Hanaria balas tersenyum, merasa beruntung memiliki suami sebaik Willy, walau kadang sengaja bersikap konyol sesuka hatinya.
"Sayang, besok aku mau pulang kerumah. Kita sudah dua minggu berada dirumah sakit ini." ucap Hanaria yang sudah beberapa hari ini tidak betah berlama-lama dirumah sakit.
"Apa kau yakin? Maksudku, apakah kau sudah merasa lebih baik?" tanya Willy.
"Iya, dua hari setelah melahirkan sebenarnya aku sudah merasa lebih baik. Hanya saja aku berfikir tentang bayi-bayi kita, dan sekarang mereka juga sudah memperlihatkan banyak kemajuan, sudah lebih berisi dibandingkan saat mereka baru dilahirkan." terang Hanaria menatap baby Jo yang sudah mulai terkantuk-kantuk menyesap pucuk da*a ibunya.
"Baiklah, besok aku akan bicara dengan dokter Rosalia dulu. Bila diijinkan sudah boleh pulang, barulah kita pulang," sahut Willy sembari mengusap lembut rambut panjang isterinya itu.
Bersamabung...👉
__ADS_1