HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 57 Kesan Yang Baik


__ADS_3

"Kak Hana..... aku rindu padamu....." Firlita yang baru keluar dari pintu rumah langsung menghambur kedalam pelukan Hanaria.


"Iya, kakak juga rindu padamu Fir..... Bagaimana denganmu, apakah kau baik - baik saja Fir selama kakak tidak dirumah?" Hanaria ikut memeluk Firlita, perempuan muda dan mungil itu sudah ia anggap seperti adik kandungnya sendiri.


"Aku baik juga kak. Kak Hana diantar siapa?" Tanya Firlita sambil melepas pelukannya melihat kearah mobil mewah yang terparkir disebelah kiri pekarangan Hanaria.


"Bosnya kakak....." Sahut Hanaria. Firlita menatap Willy yang sedang menurunkan barang - barang Hanaria dari bagasi belakang mobilnya. Ia melangkah mendekati Willy. " Tuan......" Panggil Firlita sambil menatap Willy dan tersenyum ramah.


"Terima kasih karena sudah menolong saya malam itu." Willy mengernyitkan keningnya tidak mengerti saat mendengar ucapan Firlita, ia menatap kearah Hanaria yang tengah mengikuti langkah Firlita dari belakang. Hanaria yang mendengar ucapan Firlita segera mengerti apa yang dimaksud adik angkatnya itu.


"Firlita...... bukan dia....." Ucap Hanaria setengah berbisik pada Firlita.


"Aku tidak salah lihat kak, memang tuan ini orangnya, bosnya kakak....." Ucap Firlita bersikeras. Willy hanya memperhatikan sekilas perdebatan kedua wanita dihadapannya mengenai dirinya. Tidak sengaja ia melihat perut Firlita yang sedikit membuncit.


"Perkenalkan..... nama saya Willy....." Ucap Willy sambil mengulurkan tangannya pada Firlita sambil tersenyum tipis. Hanaria tersentak, ia tidak pernah melihat atasannya itu seramah itu. Pasti ada maunya, pikir Hanaria curiga.


"Saya Firlita tuan....... Terima kasih karena tuan Willy sudah menolong saya malam itu saat dicafe." Ulang Firlita sambil menerima uluran tangan Willy padanya. Ia merasa senang menerima keramahan pria tampan didepannya, apalagi pria itu adalah bos dari Hanaria yang sudah dirinya anggap sebagai kakaknya.


"Nona Firlita..... bukan saya yang menolongmu..... tapi kakak saya......." Ucap Willy masih mengulas senyum tipisnya.


"Tapi...... kenapa malam itu..... wajah pria yang menolong saya itu sangat mirip dengan anda tuan Willy....." Firlita merasa dirinya tidak salah melihat.


"Kami memang mirip nona, itu karena kami kembar. Nama kakak saya itu Billy....."Jelas Willy.


"Oh...... pantas saja sangat mirip...... saya pikir itu tuan Willy...... sama baiknya, sama ramahnya, dan juga sama tampannya......" Ucap Firlita sambil menatap kagum pada pria tinggi dihadapannya. Willy yang mendapat tatapan kekaguman dari Firlita hanya bisa tersenyum, dirinya sudah terbiasa mendapat pujian dari banyak kaum hawa, sehingga tidak membuatnya lupa diri.


Sementara Hanaria yang mendengar pujian Firlita pada atasannya itu hanya bisa memutar bola matanya. "Kau tidak tahu saja bagaimana tabiat buruk laki - laki dihadapanmu itu Firlita." Batin Hanaria.

__ADS_1


Tin..... tin..... tin.....


Sebuah mobil travel singgah didepan rumah Hanaria. Sang sopir menurunkan kaca depan mobilnya sambil melemparkan senyumnya pada Hanaria yang melihat kearahnya.


"Siapa??" Tanya Willy pada Hanaria saat melihat pria berkumis tipis yang duduk dibelakang kemudi itu tersenyum ramah pada Hanaria.


"Sopir travel yang mengantarkan kedua orang tua saya tuan muda." Sahut Hanaria, lalu mendekati pagar yang masih terbuka.


"Kalau begitu, saya keluarkan dulu mobil saya supaya mobil travel itu bisa masuk kepekaranganmu ini nona Hana." Willy bergegas menuju pintu mobil didekat kemudinya.


"Tidak perlu tuan muda...... barang - barang saya 'kan belum kita turunkan semua tadi. Lagi pula pekarangan ini masih cukup untuk masuk satu mobil lagi." Ucap Hanaria. Ia langsung memberi arahan pada sopir travel itu untuk masuk.


Dengan kelihaiannya, sopir itu membelokan kemudinya dan memundurkan belakang mobilnya memasuki pekarangan rumah sederhana milik Hanaria.


Sopir mobil travel itu segera turun diikuti kedua orang tua Hanaria. Hanaria segera memeluk kedua orang tuannya secara bergantian. Wajahnya terlihat sangat bahagia saat melihat ayah dan ibunya telah tiba dengan selamat dirumahnya.


"Bagaimana perjalannya ayah.....?? Melelahkan ya?" Ucap Hanaria setelah melepaskan pelukannya.


"Kalau begitu, ibu masuk saja dulu kedalam rumah supaya segera beristirahat." Ucap Hanaria sambil menggandeng Ibunya untuk masuk kedalam rumahnya. Tanpa banyak komentar, ibu Muri mengikuti tuntunan Hanaria hingga kekamarnya.


Saat keluar dari kamarnya, Hanaria terkejut melihat tuannya itu membantu sopir travel mengangkat barang - barang bawaan orang tuanya yang sangat banyak masuk kedalam rumahnya yang sempit dan menaruhnya diruang tamu.


"Tuan muda...... jangan lakukan ini, biar kami saja yang membawanya." Ucap Hanaria merasa tidak nyaman. Willy tidak menjawab, ia kembali keluar dan membawa lagi masuk semua barang - barang yang diturunkan dari mobil travel bersama ayah Hanaria dan sopir travel itu.


"Mbak Hana...... semuanya sudah beres, saya pulang dulu ya......" Ucap sopir travel itu berpamitan setelah menurunkan semua barang milik orang tua Hanaria dari mobilnya.


"Berapa ongkosnya mas??" Tanya Hanaria yang merasa belum memberikan biaya jasa pada sang sopir.

__ADS_1


"Sudah dibayar sama masnya kok mbak, saya juga sudah diberi oleh - oleh buah - buahan yang banyak didalam mobil sama ayahnya mbak Hana." Sahut sopir itu. Ia lalu keluar membawa mobilnya meninggalkan rumah Hanaria.


"Masnya?? Apakah ayah yang membayar ongkos travel tadi?" Tanya Hanaria pada ayahnya yang berdiri disampingnya, sesaat setelah mobil travel itu menjauh.


"Bukan, nak Willy yang membayarnya Hana....." Sahut ayahnya jujur.


"Apa?? Tuan muda yang bayar?? Kenapa ayah tidak melarangnya?" Hanaria terkejut sekaligus merasa malu.


"Siapa itu tuan muda??" Pak Muri balik bertanya pada Hanaria.


"Yang ayah sebut nak Willy itu adalah tuan muda, anaknya pemilik perusahaan tempat Hana berkerja ayah....." Jelas Yurina dengan wajah serius melihat kearah ayahnya.


"Oh.... ayah tidak tahu Hana, tadi nak Willy hanya memperkenalkan kalau dirinya adalah temanmu, tidak ada menyebutkan kalau dirinya adalah pimpinanmu dikantor. Ayah juga sudah melarangnya Hana.... tapi nak Willy tetap mau membayar dan langsung memberikannya pada sopir tadi." Jelas pak Muri pada putrinya itu.


"Kak Hana.... aku sudah membuat teh..... ayo kita masuk untuk minum bersama.....!" Panggil Firlita dari teras rumah dengan setengah berteriak, memotong pembicaraan Hanaria dan ayahnya.


"Iya Fir, kami akan segera kesana.....!" Sahut Hanaria pula setengah berteriak.


"Ayo ayah kita masuk dulu......" Hanaria menggandeng tangan ayahnya untuk membawanya masuk.


"Nak Willy ayo masuk, kita minum teh dulu......" Ajak Pak Muri pada Willy yang tengah membawa barang - barang Hana yang belum sempat dibawa masuk kerumah.


"Iya om, saya ambil barang yang masih tersisa dimobil." Sahut Willy sambil berlalu pergi.


"Tuan muda Willy mana mau minum teh bersama orang kecil seperti kita ayah....." Ucap Hanaria setengah berbisik, namun bisa terdengar oleh Willy yang berada tidak jauh dari mereka.


"Hush....!! Nak Willy anak yang baik, kau tidak boleh berburuk sangka begitu Hana....." Tegur ayahnya yang merasakan keramahan Willy mulai awal mengenalnya.

__ADS_1


"Terserah ayah saja....." Hanaria tidak menyanggah lagi ucapan ayahnya, karena sekarang bukan waktu yang tepat untuk berdebat tentang Willy menurutnya.


Diruang tamu sudah menunggu Ibu Muri, dan Firlita. "Kita tunggu nak Willy dulu....." Ucap Pak Muri yang baru masuk bersama Hanaria, sambil duduk di sisi isterinya sedangkan Hanaria duduk disebelah Firlita.


__ADS_2