
Langkah ringan Willy memasuki kantin yang ada dikantornya, ia sudah membuat janji makan siang bersama tuan Doffy. Seperti biasanya, Willy selalu mendapat perhatian dari para pegawainya baik laki - laki maupun perempuan karena wajahnya yang berparas tampan, berpenampilan rapi dan wangi dalam setiap kesempatan, ditambah tubuh atletisnya yang terbilang jangkung untuk ukuran tubuh Indonesia. Ya, demikianlah dirinya, nyaris sempurna sebagai seorang pria dewasa.
Sekalipun pasca penyebaran video antara dirinya dan Hanaria pegawainya, tidak mengurangi bagi para kaum hawa yang masih single untuk tetap menggandrungi dirinya, bahkan mereka semakin terobsesi dalam mendapatkan perhatian dari sang CEO muda itu dalam berbagai hal.
""Selamat siang tuan muda Willy....... Mari silahkan duduk........" Sapa tuan Doffy, sambil membungkuk hormat, dan mempersilahkan Willy duduk berhadapan dengannya. Sementara banyak pasang mata para wanita muda itu terus memperhatikan dirinya dari tempat mereka duduk masing - masing.
"Terima kasih tuan Doffy, anda sudah lama menunggu?" Tanya Willy sambil mendudukkan dirinya dikursi yang telah disiapkan untuk dirinya.
"Baru saja tuan muda......." Sahut tuan Doffy. Pria yang usianya lebih tua dari ayahnya itu melambaikan tangannya pada seorang pelayan. Pelayan yang dipanggil segera datang menghampiri, dan mencatat pesanan yang disampaikan oleh Willy dan tuan Doffy. Setelah selesai mencatat, dengan tergopoh - gopoh dirinya segera pergi untuk menyiapkan apa yang telah dipesan.
"Tuan muda Willy, proyek perumahan 'Bukit Biru' yang dipimpin pimpro pak Paris sudah rampung kemarin, dalam 2 minggu kedepan akan ada serah terima dengan tuan Mondie Gafarlie. Pihak kita sedang mempersiapkan semua dokumen yang akan diperlukan pada saat serah terima nanti." Jelas tuan Doffy sambil melihat layar tablet dihadapannya.
"Lalu besok siang, tuan Mondie Gafarlie hendak bertemu pihak perusahaan kita membicarakan beberapa proyek baru beliau. Besok saya sudah ada jadwal bertemu dengan pimpro tuan Sumantri mulai pukul 8 pagi di lokasi proyek, dan kedua anak magang dari Singapura itu akan ikut bersama saya tuan, jadi saya mohon maaf, tidak bisa menemani tuan muda. Mungkin tuan muda akan ditemani sekretaris Morin saja." Ujar tuan Doffy kemudian, sambil menutup tabletnya.
"Silahkan tuan muda dan tuan Doffy......." Ucap pelayan yang telah selesai menyajikan pesanan makan siang diatas meja.
"Terima kasih......." Sahut tuan Doffy pada dua pelayan itu.
"Sama - sama tuan......" Sahut kedua pelayan itu sambil tersenyum tipis, lalu beranjak pergi untuk melayani para pengunjung kantin yang lain.
"Ayo, sambil dimakan tuan muda......." Ujar tuan Doffy mempersilahkan.
"Lalu bagaimana dengan nona Hanaria, apakah dia ikut dengan tuan Doffy juga? Kalau tidak..... suruh dia ikut denganku saja, menemui tuan Mondie Gafarlie. Bukankah kalau tuan Doffy berhalangan, nona Hanaria lah yang berkewajiban untuk menggantikan." Ucap Willy, sambil menyendok makan siang yang ada didalam piring dihadapannya kemulutnya.
__ADS_1
"Maafkan saya tuan muda, saya lupa memberitahukan pada anda, bahwa sudah dua hari ini, nona Hanaria tidak turun berkerja karena sakit. Terakhir ia berkerja, ia hampir saja terjatuh, karena tidak sadarkan diri, untung saja saat itu, beberapa teman - temannya dengan sigap menolongnya." Jelas tuan Doffy, sambil memegang sendok dan garfu dikedua tangannya, siap menyuapi makanannya.
"Sakit apa?" Tanya Willy datar, sambil terus menyuapi dirinya sendiri.
"Entahlah tuan muda, saya juga masih belum tahu. Belum ada kabar dari nona Hanaria sampai hari ini tuan muda. Tapi.......itu terjadi setelah dirinya melihat......." Tuan Doffy seakan ragu melanjutkan ucapannya, ia melirik Willy sekilas, lalu memakan makanannya yang sejak tadi menggantung diudara karena sibuk menjawab pertanyaan Willy.
"Melihat apa tuan Doffy?" Tanya Willy lagi, ia masih menatap makanan dihadapannya sambil terus menyuapinya kemulutnya.
"Melihat........ Video antara tuan muda bersama dirinya......." Sahut tuan Doffy hati - hati, sambil menatap wajah Willy dengan raut wajah yang sulit terbaca.
"Uhukk......Uhuuuukkkk.........Uhhuuukkkkk" Willy langsung terbatuk - batuk, makanan yang masih ada didalam rongga mulutnya langsung terhambur keluar mengenai wajah tuan Doffy sebagiannya.
Tuan Doffy segera meraih gelas air mineral, dan memberikannya pada Willy yang tiba - tiba terbatuk - batuk karena tersedak oleh makanannya sendiri. Dirinya sudah menduga, hal demikian akan terjadi, itu sebabnya ia sudah bersiap mengisi gelas kosong tuannya itu dengan air mineral dari dalam botol.
Beberapa pegawai yang ada disekitar tuan Doffy dan Willy sempat menoleh kearah mereka, setelah melihat tuan Doffy mampu mengatasi apa yang terjadi pada CEO muda mereka, para pegawai itu kembali fokus untuk melanjutkan makan siang mereka masing - masing.
"Iya, saya baik - baik saja tuan Doffy. Tidak perlu khawatir. Justru saya yang harusnya meminta maaf pada anda, karena makanan dari dalam mulut saya mengenai wajah anda." Ucap Willy menahan senyumnya, ia meraih beberapa lembar tissue dari atas meja dan memberikannya pada tuan Doffy.
"Terima kasih tuan muda......" Tuan Doffy tersenyum tipis, segera menerima tissue pemberian Willy, lalu segera membersihkan wajahnya yang sedikit kotor akibat ulah Willy yang tidak sengaja itu.
...***...
Sepulang berkerja, Willy melajukan mobil sport merahnya dengan kecepatan sedang. Sore itu dirinya menjadi supir pribadi Moranno Agatsa, dan Yurina. Ia dipaksa untuk mengantarkan kedua orang tuanya itu menuju ke kediaman Hanaria.
__ADS_1
Wajah Willy nampak kesal, ia sudah berupaya untuk menolaknya habis - habisan dengan berbagai alasan. Namun kedua orang tuanya itu tetap memaksa dan tidak mau tahu, dengan alasan, bahwa hanya Willy saja yang tahu rumah Hanaria, karena pernah mengantarkan Hanaria pulang dari rumah sakit beberapa waktu lalu.
"Kita sudah sampai." Ucap Willy datar, saat mobilnya berhenti didepan pagar rumah Hanaria.
"Kau harus turun dulu Willy, buka pagarnya, dan ketuk pintunya. Masakkan kau tidak mengerti caranya bertamu." Ujar Moranno pada putranya itu, yang telihat enggan turun dari belakang kemudinya.
Dengan wajah terpaksa, Willy turun tanpa berkata sepatah katapun keluar dari mulutnya, dirinya masih merasa kesal. Moranno Agatsa dan Yurina hanya memperhatikan putranya itu turun dan membuka kait pagar yang belum terkunci karena masih sore.
Ia menuju teras rumah Hanaria, untuk beberapa detik lamanya, ia berdiam diri didepan pintu, mengambil nafas dan menghembusknnya kasar. Mengambil nafas lagi, lalu menghembuskannya lagi dengan kasar. Demikian ia lakukan itu berkali - kali. Dan semuanya itu diperhatikan oleh kedua orang tuannya dari dalam mobilnya.
"Ting - tong....... ting - tong....... ting - tong" Terdèngar suara bel yang dibunyikàn Willy berulang - ulang. Tidak lama, terdengar suara anak kunci pintu rumah diputar dari dalam.
"Cek - klek" Willy menahan nafasnya, ia bersiap melihat wajah seorang pegawai perempuannya, yang sudah dua hari ini tidak dilihatnya.
Seorang wanita mungil, dengan tinggi hanya dibawah bahu Willy, mendongakkan wajahnya keatas, memperhatikan siapa yang menekan bel. Perutnya buncitnya semakin terlihat membesar.
"Tuan muda Willy?" Ujar Firlita, yang segera mengenali siapa pria tinggi yang berdiri dihadapannya, sambil mengulas senyum ramahnya.
"Mari silahkan masuk tuan muda. Mau jenguk kak Hanaria ya?" Ucapnya ramah, sambil mempersilahkan masuk. Willy bernafas lega, ternyata bukan Hanaria, pegawai perempuannya itu yang membuka pintu.
"Sebentar nona Firlita, saya bersama kedua orang tua saya kemari, saya panggil mereka dulu." Sahut Willy, ia membalas senyum ramah Firlita padanya. Willy bergegas menuju mobilnya kembali untuk membukakan pintu bagi ayah dan ibunya yang masih ada didalam mobil.
"Siapa wanita yang sedang mengandung itu Willy?" Tanya Yurina setengah berbisik, yang baru saja turun dari mobil Willy.
__ADS_1
"Namanya Firlita. Adik nona Hanaria mommy......" Wajah Yurina terlihat berubah, ia nampak terkejut. Willy yang sempat melihat perubahan wajah ibunya hanya diam saja, ia pun tidak tahu harus berkata apa.
"