HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 81 Tebang Pilih


__ADS_3

"Kau, harus bertanggung - jawab padanya Willy, kau harus menikahi gadis itu......" Sambung Yurina.


"Tidak adakah solusi yang lain, selain menikahi perempuan itu mommy? Willy belum mau menikah, Willy belum siap. Lagi pula, Willy tidak sampai menghamilinya kok mom, Willy hanya menciumnya saja..... Itu hukuman bagi pegawai yang berani membantah pimpinannya....." Bantah Willy. Baginya, kata - kata 'menikahi' terlalu keramat ditelinganya, sangat menyeramkan, menakutkan, dan horor.


"Plaakkkkk........!!!" Dengan sangat gemas, Moranno Agatsa memukul punggung putranya itu, dengan surat kabar yang ia ambil dari atas meja. Dirinya tidak habis fikir, bila Willy bisa berucap seperti itu.


"Dasar memang sableng.......Bisa - bisanya, hal seperti itu kau sebut hukuman. Kau itu hanya membuat alasan yang tidak masuk akal, tidak bisa diterima akal sehat, tidak ada hukuman dari seorang atasan pada bawahannya seprti itu Willy.....!" Ujar Moranno semakin gemes pada putranya itu.


"Sekarang daddy mau tanya padamu Willy. Kalau yang membuat kesalahan itu ibu Sari, atau bibi Nani, apakah kau juga akan memberi hukuman dengan cara mencium mereka juga, seperti kau mencium Hanaria??!! Hmmm??!!" Mata Moranno Agatsa mendelik, ia sangat kesal, akan apa yang diucapkan putranya yang dianggapnya tidak logis itu.


"Jawab Willy.....!!!? Ayo Jawab.......!!!?" Ucap Moranno Agatsa setengah berteriak. Willy hanya terdiam dan kembali tertunduk, ia tidak tahu harus menjawab apa.


"Piifffffffff......." Billy tidak kuasa menahan tawanya, ia yang sedari tadi hanya menjadi pendengar, dan menyimak pembahasan tentang kekacauan yang dilakukan adiknya itu, membungkam mulutnya kuat - kuat dengan kedua tangannya, supaya tawanya tidak meledak.


"Ada yang lucu??" Moranno menoleh pada Billy yang duduk disamping Yurina. Billy tidak langsung menjawab pertanyaan ayahnya itu, ia masih berusaha keras menguasai dirinya supaya jangan sampai tertawa ditengah keseriusan ayahnya memberi pelajaran pada adiknya itu.


"Suamiku, pertanyaanmu itu memang terdengar lucu, fikir saja...... tidak mungkinlah Willy mau mencium mereka yang sudah seperti oma baginya." Ujar Yurina yang turut menahan senyum diwajahnya.


"Dari itulah sayang, kita dapat simpulkan, bahwa yang Willy lakukan terhadap Hanaria, pegawainya itu, bukanlah suatu hukuman. tapi ada maksud - maksud yang tersembunyi." Sahut Moranno pada Yurina yang duduk disampingnya. Moranno kembali menatap Willy tajam, yang duduk berseberangan dengan dirinya, Yurina dan Billy.

__ADS_1


"Bagaimana Willy, apakah kau juga akan mencium ibu Sari, bibi Nani, kedua wanita yang seusia dengan oma mu itu? Hmmm?" Moranno kembali mengulang pertanyaannya. Willy masih diam dan menunduk.


"Jawab Willy.....!!!?" Bentak Moranno Agatsa, ia mulai tidak sabar pada putranya itu.


"Tidak dad.....!" Sahut Willy akhirnya. Karena bila ia menjawab iya, ayahnya itu pasti akan memerintahkan dirinya melakukan seperti apa yang telah ia katakan. Bisa gila dirinya, fikirnya. Karena kedua wanita tua yang disebutkan ayahnya itu, terlalu sering membuat kesalahan, karena sudah mulai pikun.😁. Willy bergidik ngeri.


Billy, dan Yurina yang setia menyimak pembicaraan Moranno Agatsa da Willy, kembali menahan senyum, saat mendengar jawaban Willy. Mereka bisa bayangkan, Moranno tidak main - main dalam setiap ucapannya untuk mendidik setiap anak - anaknya, apa yang menjadi jawaban, itulah yang harus dilakukan.


"Willy...... Willy...... Bagaimana mungkin seorang CEO sepertimu, memberi hukuman pada para pegawaimu tebang pilih, itu tidak adil namanya." Ucap Moranno lagi, sambil mendesah kesal.


"Seperti kata mommy mu Willy, kau harus menikahi gadis itu, hanya itu solusinya, bila tidak..... itu sama halnya kau secara tidak sengaja menciftakan masalah - masalah baru pada diri gadis itu. Itu semua tanggung jawabmu Willy, bila saja kau tidak melakukan hal itu padanya, mungkin semua masalah ini tidak akan terjadi." Tambah Moranno Agatsa, kini nada bicaranya lebih melunak.


"Seharusnya, nonaHanaria sudah melaporkanmu Willy. Apa yang telah kau lakukan padanya itu, dirinya sudah memiliki cukup bukti. Sepertinya pegawaimu itu masih menjaga nama baik keluarga kita. Dia saja, yang hanya sebagai pegawaimu berusaha tidak memburukkan namamu, kenapa kau sebagai bosnya tidak menjaga nama baik dirimu sendiri? Aku setuju pada daddy dan mommy, kau harus menikahi pegawaimu itu, kalau tidak, ia akan menanggung banyak celaan dan cibiran akkbat perbuatanmu itu. Kau yang melakukan kesalahan, tapi dirinya yang harus menanggungnya." Ujar Billy ikut berbicara.


"Aku tahu pegawaimu yang bernama nona Hanaria itu Willy. Karena beberapa kali, aku sempat melihatnya dikantor polisi mengurus pelaporan tentang adik perempuannya. Untung saja dia tidak melaporkanmu Willy, dia sepertinya wanita pemberani dan juga pintar, orang yang dia laporkan adalah pengusaha yang sangat berpengaruh dikota kita ini, nyonya Mingguana Alhandra Liem, daddy sangat mengenalnya bukan?" Ucap Billy lagi, sambil melihat kearah ayahnya.


"Iya, daddy mengenalnya. Bahkan sekarang nyonya Mingguana Alhandra Liem itu diberitakan sudah membeli saham Global Company yang hampir bangkrut itu. Apa kasus yang dilaporkan nona Hanaria itu Billy? Hingga harus menyeret nama pengusaha wanita itu." Tanya Moranno pada putranya.


"Yang dilaporkan sebenarnya adalah putranya nyonya Mingguana, yaitu tuan Mahendra. Billy tidak bisa memberitahukan kasusnya...... maaf ya dad......." Sahut Billy.

__ADS_1


"Tidak masalah...... Daddy faham tugasmu Billy. Tidak seperti adikmu ini, daddy sering tidak faham pada jalan fikirannya. Sudah jadi CEO, masih selengean." Ucap Moranno, kembali mengarahkan pandangannya pada Willy yang masih setia dengan posisi tertunduk.


"Dad....... Mom...... Billy pamit dulu, ada panggilan mendadak." Ujar Billy yang baru saja menerima panggilan telefon. Billy bergegas berdiri, mencium punggung tangan sang daddy, dan mencium pipi mommynya.


"Willy, ingat.... kali ini kau harus menikahi nona Hanaria, jangan coba - coba lari dari tanggung jawab." Billy kembali mengingatkan adik kembarnya itu, yang usianya hanya selisih empat menit saja darinya.


"Billy, selamat bertugas sayang....." Ucap Yurina sambil melambaikan tangannya, saat putra sulungnya itu terlihat terburu - buru meninggalkan ruang keluarga.


"Terima kasih mom........!" Sahut Billy, lalu menghilang dibalik gorden ruang keluarga.


"Willy juga pamit mom..... dad..... sudah larut malam." Ucap Willy sambil melirik arloji yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Willy akan fikirkan, apa yang sudah daddy dan mommy sampaikan tadi......" Ucap Willy lagi sambil berďiri.


"Apa sebaiknya kau menginap disini saja Willy, ini sudah terlalu larut malam, mommy khawatir kau menyetir dalam keadaan seperti ini sayang." Ucap Yurina, sambil mengusap lembut kepala putranya yang sedang mencium punggung tangannya.


"Tidak apa - apa mom...... Willy baik - baik saja, Willy juga tidak sedang mengantuk, lagi pula ada mas Reymon diapartemen, besok pagi ia akan kembali ke dusun, tidak baik kalau dirinya pulang, tuan rumah tidak ada." Sahut Willy, ia berdiri lalu beralih mencium punggung tangan ayahnya.


Flashback.

__ADS_1


...***...


__ADS_2