
"Pah, apa kau tidak merasa keterlaluan pada Billy. Dia anak muda yang memiliki bobot, bibit, bebet yang baik." dokter Rosalie memandang dengan perasaan iba, sosok cucu kebanggaan keluarga Agatsa yang melangkah menjauh, menuju luar pagar rumah megah mereka dimana motornya di parkir.
Hartawan tidak menjawab, ia malah masuk tanpa mengatakan apapun.
Dokter Rosalie mendesah, lalu ikut masuk. Ini sudah kesekian kalinya Billy disuruh pulang begitu saja oleh Hartawan. Sebenarnya ia ingin menunggu dan melihat anak sahabatnya itu pergi dengan mengendarai motornya, tentu itu tidak mungkin ia lakukan sebagai seorang isteri sementara suaminya sudah tidak ada disana.
"Mah, apa tadi itu Billy yang datang?" tanya Rosalia, gadis itu tergesa-gesa menuruni anak-anak tangga rumah megah orang tuanya.
"Bukan Sayang, itu tukang sayur." Hartawan cepat menjawab, mendekati putrinya yang berdiri di anak tangga terakhir sambil memegang pagar pegangan tangga. Dokter Rosalie yang didahului oleh suaminya hanya bisa berdiam diri saja.
"Tukang sayur? Aneh, kok malam-malam sih Pah," Rosalia mengernyitkan keningnya heran.
"Iya mana Papah tahu, itu 'kan urusan Bibi yang buat janji sama tukang sayur itu." Rosalia melongo mendengar sahutan ayahnya.
"Apa kau fikir setiap bel berbunyi di rumah kita selalu saja Billy yang datang? Memangnya anak itu tidak punya kerjaan?" ucap Hartawan lagi sembari mengacak lembut pucuk rambut putrinya.
"Papah juga, kok tumben-tumbenan bukain pintu untuk tukang sayur, kan ada bi Uni sama mang Kila," celetuknya sembari menjauhkan kepalanya dari tangan ayahnya supaya rambutnya tidak bertambah berantakan.
Hartawan seketika tergagap, Rosalie yang melihat suaminya memberi kode padanya untuk membantu memberi jawaban pura-pura tidak mengerti, ia sengaja membiarkan suaminya itu memberi penjelasannya sendiri.
"Itu--, kebetulan Papah ada didekat pintu. Iya, seperti itu." ucap Hartawan sekenanya.
"Kau, makan malamlah Sayang, Papah dan Mamah ke kamar duluan ya, Papah lelah," ucap Hartawan menarik pergelangan tangan isterinya untuk mengikutinya menaiki tangga.
"Memangnya Papah sama Mamah udah makan?" tanya Rosalia memandang ayahnya yang membawa ibunya terburu-buru menaiki tangga.
"Sudah Sayang, tadi Papah sangat lapar, jadi tidak sempat menunggumu," ucapnya terus melangkah naik.
__ADS_1
Rosalia tidak bertanya lagi, ia beranjak menuju ruang makan, sambil men-dial nomor seseorang diponselnya.
...⚘️⚘️⚘️...
"Kenapa kau sangat menggemaskan sekali? Heum?" Billy mulai menghujani ciumannya pada bayi Elnathan yang masih terjaga, sementara adik kembarnya Jonathan sudah tertidur pulas dengan mulut terbuka.
"Nghh, oee, oo--," bayi yang sudah beberapa bulan itu tergelak senang, tubuh gembulnya semakin terasa berat saat Billy mengangkatnya dari ranjang bayi.
Hanaria yang sedari tadi memperhatikan interaksi antara baby Elnathan dan kakak iparnya hanya tersenyum sendiri melihatnya.
"Kak Billy sudah cocok menimang bayi," ungkap Willy yang juga memperhatikan kakaknya yang tidak terlihat canggung menggendong bayi mereka.
"Tentu saja Willy, kita berdua 'kan seusia, aku hanya lebih dulu lima menit lahir darimu, hanya saja kau yang lebih beruntung duluan menikah dariku," ujar Billy sembari terus membawa baby Elnathan bermain.
Drrtt. Drrtt. Drrtt.
"Ini Rosalia," nyonya Agatsa memperlihatkan layar ponsel pada cucunya itu.
"Angkat saja Oma," ucap Billy masih menggendong keponakannya.
"Kok Oma? Rosalia pasti ingin bicara denganmu Billy," nyonya Agatsa tetap menyodorkan ponsel ditangannya pada Billy.
"Iya Oma, nanti Billy yang bicara. Oma cukup mengaktifkan loadspeaker.
"Berikan El padaku Kakak ipar, supaya Kakak bisa leluasa berbicara dengan dokter Rosalia," Hanaria berinisiatif mengambil putranya dari gendongan Billy.
"Tidak perlu adik ipar, aku belum puas bermain dengannya," Billy kembali menghujani keponakan gembulnya itu dengan ciumannya.
__ADS_1
Sesuai permintaan Billy, nyonya Agatsa lalu menggeser log berwarna hijau.
📞"Hallo," sapa Billy, sementara yang lainnya membisu untuk mendengarkan kecuali baby Elnathan yang terus berceloteh tanpa henti dalam gendongannya.
📞"Kau dimana Billy?" tanya Rosalia dari seberang sambungan telepon.
📞"Dirumah Daddy dan Mommy," sahutnya.
📞"Heum, apa kau sudah makan malam? Aku berniat memintamu menemaniku makan malam," ucap Rosalia sedikit memelan. Willy yang menguping mulai grasak-grusuk tak tahan ingin ikut nimbrung namun segera dihentikan nyonya Agatsa
"Aduh!" Willy memekik tertahan, saat nyonya Agatsa mencubit lengannya.
"Jangan ikut campur, Oma akan memukul kepalamu, anak nakal," gumam nyonya Agatsa mendelikan matanya. Hanaria terpaksa harus menahan tawanya melihat Willy dan neneknya bertengkar.
📞"Maafkan aku, malam ini aku tidak bisa menemanimu makan malam? Aku sedang belajar merawat dan mengasuh bayi," tolaknya halus.
📞"Eum, merawat dan mengasuh bayi? Apa kau berencana akan menikah dalam waktu dekat? Hingga harus belajar merawat bayi dari sekarang?" Suara Rosalia kembali memelan.
Diseberang sana perempuan itu nampak sedikit tegang, ada rasa cemburu bercampur tidak terima bila apa yang dirinya sendiri katakan itu benar-benar terjadi. Ditambah lagi saat ini dirinya tengah mendengar celoteh seorang bayi yang cukup jelas pada pendengarannya.
📞"Apa aku boleh tahu siapa wanita yang beruntung itu?" Rosalia kembali memelankan suaranya. Dadanya serasa sesak menahan sakit bila Billy benar-benar mengatakan siapa nama wanita itu.
"Bukan wanita beruntung! Tapi Wanita TIDAK beruntung Rosa!" pekik Willy nyaring.
Gletuk!
"Aduh sakit!! Oma tega sekali!" Willy meringis kesakitan sembari mengusap-usap area yang sakit setelah mendapat hadiah sentilan jitu tepat pada jidatnya dari nyonya Agatsa yang gemes melihat aksi tiba-tibanya, padahal wanita itu telah mewanti-wanti sebelumnya.
__ADS_1
Bersambung...👉