HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
157. Sekelumit Kisah


__ADS_3

Mobil sport berwarna merah milik Willy memasuki area Villa keluarga Agatsa saat tengah hari. Security yang membuka gerbang membungkuk hormat saat mobil yang dikemudikan Willy melintas melewati gerbang.


Bagi Hanaria, rumah tua milik keluarga Agatsa yang dihuni keluarga mertuanya sudah sangat megah, indah, dan unik. Namun saat ia memasuki area Villa keluarga Agatsa ini tidak henti-hentinya dirinya tercengang-cengang melihat keindahan karya seni arsitecture yang ditampilkan mulai dari pintu gerbang yang mereka masuki.


Hanaria turun dari mobil ia menatap takjub bangunan-bangunan yang ditampilkan dihadapannya itu. Estetika karya seni yang bukan hanya menonjolkan keindahan semata, tapi juga memadukan keseimbangan dalam bentuk, ruang, kekuatan, dan fungsinya.


"Selamat siang, dan selamat datang tuan muda Willy dan nona," sapa seorang wanita berusia lanjut ditemani beberapa pelayaan menyambut kedatangan Willy dan Hanaria sambil membungkuk hormat.


"Selamat Siang Bibi Marla," sahut Willy dengan senyum tipisnya. Hanaria yang berdiri disisi Willy ikut mengulas senyum ramahnya pada kepala pelayan lanjut usia itu dan pada para pelayan yang menyertainya.


"Untuk makan siang, tuan muda dan nona ingin makan apa?" tanya bibi Marla, sang kepala pelayan Villa yang sudah berpuluh tahun mengabdi pada keluarga Agatsa.


"Tidak perlu Bibi, terima kasih. Kami masih kenyang karena sempat singgah makan siang saat dalam perjalanan kemari." Sahut Willy.


"Tolong antarkan semua barang-barang kami ini saja ke kamar, aku akan membawa isteriku berkeliling dahulu." pinta Willy pada bibi Marla.


"Untuk menu makan malam bagaimana tuan?" tanya bibi Marla lagi.


"Juga tidak perlu disiapkan Bibi, kami akan menyiapkan sendiri keperluan kami, kami kan hanya berdua. Yang penting bahan-bahannya saja yang disiapkan didalam lemari pendingin," sahut Willy.


"Bibi lakukan saja apapun pekerjaan Bibi bersama yang lainnya seperti biasanya selama kami disini. Bila kami membutuhkan bantuan Bibi, kami akan mengatakannya," jelas Willy.


"Baiklah tuan muda," sahut bibi Marla mengerti. Ia dan beberapa pelayan yang bersamanya kembali membungkuk hormat saat Willy dan Hanaria berlalu.


"Kita mau kemana?" tanya Hanaria, saat Willy menarik tangannya dan membawanya pergi dari hadapan bibi Marla dan para pelayan.


"Berkeliling Villa ini, aku akan menunjukan semua bangunan yang ada disini padamu? Kulihat kau sangat menyukainya mulai kita memasuki area tempat ini," ucap Willy sambil berjalan. Hanaria tidak banyak protes, ia hanya menurut saja, apalagi dirinya sangat menikmati suasana tenang yang disuguhkan didalam area Villa mewah milik keluarga suaminya itu.


"Di Villa inilah daddy dan mommy menikah dahulu, dan hanya dihadiri oleh keluarga dan teman-teman terdekat saja, aku dengar seperti itu dari mommy," jelas Willy.


"Sepertinya undangannya sangat terbatas, apakah karena tempatnya yang jauh?" tanya Hanaria heran.

__ADS_1


"Bukan itu alasannya," sahut Willy.


"Apa alasannya?" tanya Hanaria penasaran.


"Mommy terpaksa menikah dengan Daddy karena sudah ada kak Billy dan diriku didalam perut mommy," sahut Willy sambil terus menelusuri taman-taman kecil yang ada disetiap bangunan Villa yang mereka lewati.


Langkah Hanaria terhenti, wajahnya nampak terkejut, Willy yang menyadari keterkejutan Hanaria ikut pula menghentikan langkahnya.


"Apakah kau terkejut mendengarnya?" tanya Willy menatap Hanaria.


"Eum," Hanaria mengangguk.


"Apakah pantas kita berbicara topik ini, inikan kisah orang tua-mu Willy," ucap Hanaria yang merasa tak nyaman ingin mendengarkan kisah selanjutnya tentang kedua mertuanya itu.


"Tidak masalah, aku hanya menceritakan garis besarnya saja supaya dikemudian hari, saat kau mendengar kisah ini, kau sudah tahu kebenarannya lebih dahulu," jelas Willy. Ia kembali melanjutkan langkahnya diikuti oleh Hanaria yang berjalan bersisian dengannya.


"Karena kisah kedua orang tuaku itu pernah menjadi topik utama di beberapa televisi swasta dinegeri ini, bahkan surat- surat kabar pada waktu itu," ungkap Willy.


Hanaria hanya terdiam, ia tidak berani berkomentar selain hanya mendengarkan sambil tetap melangkah santai disamping Willy yang terus membawanya mengelilingi dari satu bangunan Vila kebangunan Villa lainnya.


"Waktu itu, saat pesta ulang tahun perusahaan Agatsa Properti Group, seorang pelayan memasukan obat perangsang digelas minuman Daddy atas suruhan bibi Gandis," lanjut Willy.


"Siapa itu bibi Gandis?" tanya Hanaria memotong perkataan Willy.


"Kakak perempuan mommy yang diadopsi kakek dan nenek Morgan," sahut Willy.


"Tapi aku tidak pernah melihat bibi Gandis-mu itu pada saat semua keluarga besarmu berkumpul dirumah tua, dan juga saat kita menikah," kata Hanaria sambil mengingat-ingat keberadaan wanita yang disebut Willy.


"Bibi Gandis tidak hadir, dia selalu punya banyak alasan yang tidak masuk akal saat diminta untuk kumpul-kumpul keluarga," sahut Willy.


"Kenapa bibi Gandis melakukan hal itu pada Daddy, bukankah Bibi kakak Mommy," tanya Hanaria tidak mengerti.

__ADS_1


"Saat itu, bibi Gandis menyukai Daddy, dan semua keluarga belum tahu siapa Mommy, karena mereka Mengenal Mommy sebagai anak yatim piatu yang berkerja sebagai seorang cleaning service di perusahaan Daddy," jelas Willy.


"Akibat perbuatan bibi Gandis itu, Mommy-lah yang menjadi korban saat itu," imbuh Willy.


"Walau sempat ditentang oleh oma, Daddy tetap bersikukuh menikahi mommy untuk mempertanggung-jawabkan kesalahannya." ucap Willy mengakhiri kisah singkatnya.


"Masalah itulah yang dimanfaatkan oleh beberapa lawan bisnis daddy untuk menjatuhkan nama baik dan bisnis keluarga Agatsa waktu itu, namun syukurnya masih bisa diatasi oleh Daddy," kata Willy lagi.


"Dan apa yang terjadi pada Daddy itu, juga hampir terjadi padaku," ucap Willy kemudian.


"Maksudmu?" Hanaria kembali menghentikan langkahnya.


"Saat menyelesaikan pendidikanku di Singapura, paman Harry dan bibi Margareth membawaku menghadiri pesta yang diadakan salah satu koleganya disana,"


Hanaria kembali melangkahkan kakinya, mengekor Willy yang menaiki jembatan melengkung yang membelah telaga yang ada ditengah-tengah area Villa itu.


"Sekalian memperkenalkanku pada para pembisnis yang ada disana," lanjut Willy.


"Setelah meminum minuman yang diantar oleh pelayan pesta, aku merasakan sesuatu yang aneh bergejolak dalam tubuhku,"


"Lalu?" wajah Hanaria nampak menegang.


"Paman Harry dan bibi Margareth segera membawaku kekamar hotel yang memang disiapkan oleh penyelenggara pesta bagi kami para tamunya."


"Bibi Margareth dan paman Harry sengaja meninggalkanku dan mengunciku dikamar hotel itu seorang diri,"


"Setelah beberapa menit, Paman dan Bibi kembali dan mendapatkan Lucy sudah ada dikamarku,"


"Lucy? Siapa dia?" tanya Hanaria menatap Willy yang sedang memandangi bunga-bunga teratai yang ada ditengah-tengah telaga.


"Wanita yang sempat dekat denganku selama aku di Singapura," sahut Willy singkat.

__ADS_1


"Apakah dia pacarmu?" ucap Hanaria ragu, sebenarnya dirinya sangat tidak ingin bertanya hal pribadi suaminya itu, namun jiwa penasarannya memaksanya untuk bertanya.


__ADS_2