
"Daddy...... Bagaimana dengan pekerjaan Willy, tidak semudah itu main tinggal begitu saja. Daddy pasti lebih tahu kan aturan perusahaan kita." Ucap Willy beralasan.
"Daddy tahu..... Jadi hari ini, kau dan sekretarismu harus menghadap daddy setelah usai istirahat makan siang, semua pekerjaan dan jadwalmu akan dialihkan ke daddy dan asisten Rudi untuk sementara waktu selama kau mengambil cuti. Daddy tidak mau urusan ini berlarut - larut tanpa ada penyelesaian. Kau mengerti Willy?" Tekan Moranno.
"Iya dad......" Sahut Willy pasrah.
"Ini pelajaran berharga buatmu Willy, supaya kau tahu, bahwa tidak mudah mengambil anak gadis orang Jadi, belajarlah kendalikan dirimu, jangan berbuat sesuka hatimu lagi.." Ucap Moranno sambil berdiri dari duduknya diikuti oleh Yurina.
"Satu lagi..... Kau harus menanggung semua biaya pernikahanmu itu dengan uang hasil keringatmu sendiri, termasuk persyaratan yang nona Hanaria tulis dikertas itu. Supaya kelak kau tidak bermain - main dengan pernikahanmu." Tambah Moranno lagi.
Mata Willy kembali membola, ia mengacak - acak rambutnya sendiri, tidak percaya kalau ayahnya sekejam itu menanggungkan semua beban itu padanya. Moranno dan Yurina hanya bisa menggeleng - gelengkan kepala melihat tingkah putra kedua mereka itu.
...***...
Hanaria bernafas lega saat berada diluar ruangan Moranno. Ia mengelus dadanya, rasa bebannya terasa ringan setelah memberikan jawabannya pada Willy dan kedua orang tuanya.
Hanaria merasa sangat yakin, setelah pertemuan mereka barusan, Willy dan kedua orang tuanya akan mundur teratur. Terutama Willy, laki - laki itu pasti akan bertambah ilfil padanya, itulah yang ia harapkan.
Hanaria segera melangkahkan kakinya dengan ringan sambil tersenyum riang menuju lift pegawai.
Sekretaris Morin, yang mengawasi Hanaria sejak ia keluar dari ruang kerja tuan besarnya itu, merasa heran. Tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya, bahwa Hanaria akan keluar dengan wajah sembab, dan babak belur karena dihajar sang nyonya yang ada didalam, karena sudah berani menggoda suaminya.
"Nona Hana, apa yang membuatmu begitu senang setelah keluar dari ruang kerja tuan Moranno?" Tanya sekretaris Morin yang tidak bisa menahan rasa penasarannya, hingga ia melupakan dan menyingkirkan rasa bencinya pada Hanaria untuk sementara waktu.
"Mau tahu AJA...... atau mau tahu BINGIT??" Ucap Hanaria sedikit mengoda, karena sekretaris Morin jarang sekali bersikap baik padanya.
"Terserah kau mau mendefinisikan apa...... Yang jelas aku hanya ingin tahu nona Hana, tidak lebih dan tidak kurang." Sahut sekretaris Morin dengan angkuh, namun wajah penasarannya tidak dapat disembunyikan.
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu sekretaris Morin, karena aku khawatir pemikiranmu tidak akan sampai kejalan fikiranku. Ku sarankan, lebih baik kau tidak tahu apa - apa, dari pada kau akan syok mendengarnya. Selamat tinggal....." Hanaria tersenyum penuh arti, sambil melambaikan tanganya dengan gaya sedikit mengejek, dan berlalu pergi memasuki lift pegawai.
__ADS_1
"Memang siapa dia, berani berkata seperti itu padaku.....! " Geram sekretaris Morin sambil membanting berkas diatas mejanya dengan perasaan kesal, hingga berantakan.
Pintu ruang kerja Moranno tiba - tiba terbuka. Sekretaris Morin segera membereskan berkas yang sempat berantakan itu dengan terburu - buru, saat melihat Willy keluar dari ruang kerja ayahnya menuju meja kerjanya.
"Kenapa berantakan sekali......?" Ucap Willy, saat melihat lembaran - lembaran kertas berhamburan diatas meja sekretaris pribadinya itu.
"Saya sedang beres - beres tuan muda......" Sahut sekretaris Morin gugup, sambil mengambil beberapa lembar kertas yang sempat terjatuh dilantai.
"Rapikan dengan cepat......! Aku tidak ingin melihat meja sekretaris pribadiku seperti kapal pecah. Bagaimana kalau ada tamu yang tiba - tiba datang, dan melihat ini semua. Jangan terjadi lagi seperti ini sekretaris Morin, kau harus bisa menjaga kerapian tempat kerjamu, mengerti??" Ucap Willy sambil berdiri disisi meja sekretaris Morin.
"Saya mengerti tuan muda, tolong maafkan saya....." Wajah sekretaris Morin merona merah menahan rasa malu, karena mendapat teguran langsung dari sang atasan yang menjadi idolanya itu. Sungguh ia merasa kehilangan muka, ini semua gara - gara Hanaria, gerutunya didalam hati dengan wajah sedikit menunduk.
"Sudahlah...... Aku memakluminya kali ini. Setelah ini siapkan semua jadwalku sepanjang bulan ini, jangan sampai ada yang terlupakan. Selepas makan siang, kita akan menemui daddy diruangannya. Pastikan, jangan sampai ada yang tertinggal." Ucap Willy menatap wajah sekretaris Morin yang sedikit menundukan wajahnya.
"Baik tuan......." Sahut sekretaris Morin masih menunduk hormat.
Willy segera kembali keruangannya, karena masih ada beberapa menit lagi waktu yang bisa ia gunakan untuk berkerja sebelum jam istirahat makan siang.
...***...
"Tok..... Tok......Tok....... " Suara ketukan pintu menghentikan perbincangan mereka. Hanaria bergegas menuju pintu depan.
"Masuklah tuan Mahendra........" Hanaria mempersilahkan.
"Saya diluar saja nona Hana......." Sahut laki - laki itu dingin.
"Saya meminta anda masuk bukan karena menganggap anda tamu tuan Mahendra, tapi untuk membantu mengangkat barang - barang Firlita yang sudah menjadi isteri dan tanggung jawab anda." Ucap Hanaria menatap wajah dingin yang masih berdiri didepan pintu rumahnya.
Dengan wajah terpaksa Mahendra masuk, dan mengangkat barang - barang Firlita yang sudah siap diruang tamu, lalu memasukannya dibagasi belakang mobilnya.
__ADS_1
"Kita langsung ke rumah sakit Pemerintah dulu tuan Mahendra, saya sudah buat janji dengan dokter kandungan Firlita pukul 7, setelah itu baru kita pulang menuju rumah tuan." Ucap Hanaria saat mereka sudah didalam mobil milik Mahendra.
Tanpa banyak bicara, Mahendra menghidupkan mesin mobilnya. Mobil itu perlahan meninggalkan rumah Hanaria. Langit diluar rumah sudah terlihat berwarna lembayung, pertanda sebentar lagi akan gelap.
Mahendra memarkirkan mobilnya dilahan parkir rumah sakit Pemerintah. Suasana sudah gelap saat mereka tiba disana. Hanaria segera turun dari jok belakang mobil bersama Firlita.
"Tuan Mahendra, kenapa anda tidak ikut turun?" Tanya Hanaria, saat ia tidak melihat ada pergerakan sama sekali dari laki - laki yang masih merasa nyaman duduk dibelakang kemudinya itu.
"Saya tunggu disini saja......." Ujar Mahendra acuh sambil memainkan ponselnya. Hanaria langsung menggedor pintu samping mobil dekat kemudi, membuat pria itu mendengus kesal padanya dengan tatapan tajam, lalu keluar dengan wajah marah.
"Apa mau mu hai nona.......! Aku bukan budakmu! Seenaknya saja dari tadi kau memerintahku seperti pelayanmu saja......!" Ketus Mahendra, ia sudah tidak tahan dengan Hanaria yang memintanya melakukan ini dan itu semaunya.
"Itu urusan anda tuan, bila anda menganggap saya memperlakukan anda seperti budak.....! Tapi anda harus ingat, bahwa anda adalah ayah bayi yang ada dalam kandungan adik saya....! Jadi anda harus ikut menemui dokter, untuk melihat pemeriksaan kondisi bayi dan ibunya .....!" Sahut Hanaria tidak kalah ketus.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?! Aku kan tidak menginginkan bayi itu, apa lagi ibunya !" Ucap Mahendra dengan nada menantang.
"Terserah anda saja tuan Mahendra. Bukankah anda sudah menyetujui kesepakatan kita? Satu saja anda langgar, maka kesepakatan yang telah kita tandatangani di kantor polisi itu batal secara otomatis "
"Kau mengancamku?!" Geram Mahendra sambil mengepalkan tangannya.
"Bukan mengancam...... Tapi memperingatkan anda saja tuan, bahwa segala yang anda lakukan, selalu ada konsekuensinya." Ucap Hanaria tenang.
"Saya sudah tidak mau berdebat lagi. Tuan mau ikut menemui dokter kandungan atau masih tetap disini. Bila pilihan masih tetap disini. Dengan senang hati, detik ini juga, saya akan membuat pelaporan untuk pembatalan. Dan anda pasti tahu, bagaimana reaksi nyonya Mingguana Alhandra Liem, ibu anda yang terhormat itu, bila kesepakatan itu sampai batal......"
"Cukup.......!! Kau tidak perlu meneruskan ucapan menyebalkanmu itu......!! Aku ikut sekarang......!! Kau puas....!!." Mahendra lalu bergegas mendahului Hanaria dan Firlita yang mengikutinya dari belakang.
Willy keluar dari kegelapan. Ia sempat bersembunyi saat melihat Hanaria keluar dari mobil bersama Firlita. Ia mendengar semua percakapan antara Hanaria dan Mahendra, tidak ada yang terlewatkan olehnya, sehingga membuatnya ingin sekali menghajar Mahendra yang terang - terangan mengatakan tidak menginginkan bayinya.
Willy cepat - cepat masuk ke mobil, karena sudah puas menjadi obat nyamuk selama dalam persembunyiannya tadi, setelah sempat buang air ditoilet.
__ADS_1
...***...