
Ponsel nyonya Mingguana berbunyi, saat ia sedang menyetir mobilnya menuju rumah sakit seorang diri. Demi dilihatnya nama Hanaria di layar ponselnya yang menyala, ia segera menepikan mobilnya.
"Hallo......"
"Anda sedang dimana nyonya?" Tanya Hanaria tanpa basa - basi dari ujung sambungan telepon.
"Saya masih dijalan nona Hana. Ada apa menelpon?" Nyonya Mingguana balik bertanya.
"Dari tadi saya berusaha menelpon Firlita untuk tahu kabarnya, tapi tidak diangkat. Saya khawatir terjadi sesuatu padanya, perasaan saya tidak enak. Tolong kabari saya bila nyonya sudah sampai dirumah." Ucap Hanaria dengan nada khawatir.
" Baiklah nona Hana." Sahut nyonya Mingguana singkat. Apapun alasannya Hanaria tidak boleh tahu keadaan Firlita sekarang, batinnya.
"Terima kasih nyonya..... Maaf, sudah mengganggu perjalanan anda."
"Sama - sama nona Hana. Tidak masalah."
Telepon akhirnya diakhiri oleh keduanya. Nyonya Mingguana kembali menghidupkan mesin mobilnya, perlahan mobilnya kembali berjalan dan melaju menuju rumah sakit.
Begitu tiba dirumah sakit, setelah memarkirkan mobilnya, dengan langkah sangat terburu - buru ia menuju ruang tindakan. Terlihat pak Aji dan pak Dedi, supir pribadinya tengah menunggu diluar ruangan.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya nyonya Mingguana, sesaat setelah dirinya berada didekat kedua bawahannya itu.
"Kami belum tahu nyonya. Nona Firlita masih diperiksa oleh dokter kandungannya didalam." Sahut pak Dedi.
Setelah mendengar jawaban pak Dedi supirnya, nyonya Mingguana mencari tempat duduk. Ia berusaha mengusir rasa lelahnya dengan duduk disalah satu kursi kosong, sementara kedua bawahannya itu tetap berdiri disekitarnya.
Nyonya Mingguana kembali berdiri. Ia berjalan mondar - mandir didepan pintu ruang dimana Firlita sedang dirawat. Rasa kesal, amarah pada putranya masih mengganjal didadanya. Ia terlihat begitu gelisah, takut terjadi sesuatu pada menantunya itu.
__ADS_1
Bukan karena sayang pada Firlita, tapi lebih pada Hanaria, ia begitu perduli pada respon gadis itu, bila sampai terjadi hal buruk pada Firlita, ia dapat bayangkan, semarah apa Hanaria padanya. Tentu saja hal itu jangan sampai terjadi fikirnya. Bila itu sampai terjadi, semua rencana besarnya akan kandas begitu saja. Padahal ia sudah mengeluarkan banyak rupiah demi rencana besarnya itu.
Pak Dedi dan pak Aji yang melihat wajah dingin sang majikan hanya bisa saling berpandangan dan berdiam diri satu sama lain, tidak berani mengeluarkan suara, mereka sangat hafal, sedikit saja suara yang mereka keluarkan, akan berakibat fatal.
Wajah nyonya Mingguana menegang saat ia melihat sosok yang sangat ia kenal berjalan dikoridor rumah sakit mendekatinya dan menatap lurus kearahnya. Ia berusaha tenang dan tidak lagi berjalan mondar - mandir didepan ruang pemeriksaan Firlita.
"Nona Hana, bagaimana anda bisa ada disini?" Tanya nyonya Mingguana sambil memaksakan senyum tipisnya yang sangat jarang ia tampakan.
"Apa yang telah kalian lakukan pada adikku nyonya? Sampai ia bisa masuk rumah sakit." Hanaria tidak memperdulikan pertanyaan dari nyonya Mingguana padanya, malah ia balik bertanya, tatapannya penuh selidik.
Nyonya Mingguana menelan salivanya dengan susah payah ia tetap berusaha tenang menghadapi pertanyaan Hanaria yang dilontarkan padanya, ia pun merasa heran mengapa Hanaria bisa tahu secepat ini, siapa yang memberi tahunya? fikirnya didalam hati sambil mengatur nafas dan menyiapkan kata - kata jawaban yang tepat.
Pintu ruang perawatan Firlita terbuka, Hanaria dan nyonya Mingguana segera menghampiri suster yang baru membuka pintu.
"Bagaimana keadaan Firlita suster?" Tanya Hanaria dengan wajah amat khawatir.
Firlita langsung menangis saat melihat Hanaria datang. Tangisnya tidak begitu nyaring, seperti tertahan dalam tenggorokannya. Hanaria memeluk Firlita yang masih berbaring di ranjang pasien, sambil mengusap lembut rambutnya
"Aku takut kak......" Lirih Firlita.
"Tenanglah Firlita kak Hana ada disini bersamamu, jangan takut lagi." Hibur Hanaria. Nyonya Mingguana hanya berdiri mematung didekat dokter Rosalia.
Hanaria memperhatikan wajah Firlita yang sedikit memucat. Batang leher bagian depannya terlihat membiru. Hanaria langsung naik pitam, rahangnya mengeras, pandangannya beralih menatap tajam pada nyonya Mingguana yang tetap berusaha tenang dengan wajah datarnya.
"Katakan padaku, apa yang telah kalian lakukan pada Firlita adikku, bukankah aku sudah memperingatkan kalian, jangan pernah menyakitinya lagi!" Geram Hanaria, ia maju satu langkah mendekati nyonya Mingguana.
Dokter Rosalia yang melihat gelagat yang kurang baik langsung menghadang Hanaria, posisinya berada diantara Hanaria dan nyonya Mingguana.
__ADS_1
"Tenangkan dirimu nona Hana. Mari kita mengobrol bertiga diruangan saya. Nona Firlita, dia sudah melewati masa kritisnya, demikian pula bayi yang ada dalam kandungannya aman." Ucap dokter Rosalia.
"Suster, tolong pindahkan nona Firlita keruang rawat inap yang sudah dipesankan oleh nyonya Mingguana tadi." Perintahnya pada salah satu perawat yang masih membereskan peralatan medis ditubuh Firlita.
"Baik dok......" Sahut suster itu sambil mengangguk.
"Ayo nona Hana, nyonya Mingguana...... Mari ikut dengan saya....." Hanaria langsung mengikuti dokter Rosalia, begitu pula dengan nyonya Mingguana. Ketiganya melangkah dalam keheningan, hanya derap sepatu mereka yang terdengar saling berkejaran disepanjang koridor rumah sakit menuju ruangan dokter Rosalia.
"Duduklah nyonya Mingguana, nona Hanaria." Dokter Rosalia mempersilahkan kedua wanita didepannya itu duduk didepannya, sementara ia sendiri duduk dibelakang meja kerjanya.
"Saya sengaja memanggil nona Hanaria datang kemari nyonya Mingguana." Ucap dokter Rosalia menatap wanita paruh baya dihadapannya seolah menjawab pertanyaan wanita itu.
"Syukurlah nyonya segera membawanya kerumah sakit. Walau tenggorokannya membiru, tapi nona Firlita masih bisa bernafas dibantu alat oksigen. Akibat kejadian itu, rasa takut yang teramat sangat menimbulkan kontraksi pada janin yang ada dalam kandungannya. Bayi ikut gelisah karena turut merasakan apa yang dirasakan ibunya."
"Tentu saja ini sangat berbahaya bagi keselamatan ibu dan bayinya." Jelas Rosalia sambil menatap Hanaria dan nyonya Mingguana secara bergantian. Kedua wanita itu memiliki ekspresi yang berbeda setelah mendengarkan pemaparan dokter kandungan dihadapan mereka.
"Saya adalah dokter kandungan nona Firlita, saya memiliki riwayat pemeriksaannya selama ini nyonya Mingguana,.mulai kekerasan yang dialami dirinya dicafe oleh putra anda, sampai terakhir beberapa minggu lalu."
"Maafkan saya nyonya...... Bukan saya mau campur tangan dalam urusan keluarga nyonya. Tapi sebagai seorang dokter, saya berkewajiban memberi teguran pada siapa saja yang bertindak mencelakai pasien saya dan bayinya."
"Selama mengandung, seorang wanita hamil harusnya merasa bahagia dan dicintai suaminya, sehingga itu mempengaruhi perkembangan bayi yang ada dalam kandungannya. Tapi nona Firlita, ia mengalami hal yang sebaliknya."
"Nyonya Mingguana, jelaskan secara jujur apa yang telah terjadi? Sampai Firlita seperti itu!" Hanaria sudah tidak bisa bersabar lagi, dirinya menuntut penjelasan.
Tadi sepulang berkerja, saya langsung pulang kerumah. Seperti biasa, saya memeriksa kamar Firlita untuk mengetahui keadaannya. Ternyata sampai disana, Mahendra sedang mencekik Firlita, mungkin mereka bertengkar. Saya langsung saja melerainya." Jelas nyonya Mingguana singkat.
Ia tidak menceritakan kebejatan putranya yang menyebabkan anak dan menantunya itu bertengkar. Hal itu tentu saja akan membuatnya malu dan kehilangan muka. Walau bukan rahasia lagi, banyak orang sudah mengetahui sifat buruk putranya yang seorang casanova.
__ADS_1