HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
148. Klinik Kecantikan


__ADS_3

Dari sudut lain ruang keluarga itu, sepasang mata teduh milik Firlita, menyaksikan semua drama yang ada didalam ruang keluarga itu.


Ia-pun melihat saat Yurina mengajak Hanaria pergi kedapur setelah Willy dan adik-adik perempuannya meninggalkan ruang keluarga.


"Betapa bahagianya bila aku ada diposisi kak Hana," gumam Firlita didalam hatinya.


"*Semua orang yang ada didalam rumah ini menerimanya dengan tangan terbuka,"


"Dan yang lebih manisnya lagi, suaminya juga, sangat menyayanginya*," Firlita tersenyum hambar melihat semuanya itu.


Jalan hidupnya, tidak semenarik dan seberuntung kakak angkatnya itu, terlalu jauh perbedaannya, sejauh barat dari timur.


Hidup sebatang kara, tidak tahu dimana orang tua atau keluarga terdekat. Hamil diluar nikah, lalu dinikahi, tapi tidak diterima, baik oleh suami, maupun ibu mertuanya, sungguh tragis dan menyedihkan hidupnya.


Sekarang ia berada dirumah besar, mewah dan megah, ditengah-tengah keluarga Agatsa yang terhormat, dan mereka semua begitu baik menerimanya. Dan itu karena Hanaria kakak angkatnya yang berbelas kasihan padanya, membawanya, berharap bisa menjaganya seperti adik kandungnya sendiri.


"Nona Firlita," panggil bibi Salu, yang sedari tadi berdiri didekat Firlita.


"Iya Bi," sahut Firlita tanpa menoleh kearah bibi Salu, ia segera mengusap air matanya yang jatuh menetes dipipinya, tidak ingin dilihat oleh pelayan rumah itu.


"Sebaiknya nona kekamar saja untuk beristirahat, nona sudah terlalu lama berdiri disini." ucap bibi Salu sopan.


"Iya bi," Firlita lalu beranjak dengan langkah pelan sambil memegang perut buncitnya yang semakin berat dan semakin membesar. Bibi salu mengikutinya dari belakang dengan sabar, mengikuti gerak langkah lambat Firlita yang seolah sudah tidak mampu membawa dirinya sendiri.


Firlita menghentikan langkahnya saat melewati dapur, ia melihat Yurina sedang mengajari Hanaria menata meja makan, menyusun sendok, garpu, dan pisau diatas piring saji.


Memberitahukan letak duduk penghuni rumah besar itu, mulai dari yang tertua hingga yang termuda, saat sedang duduk bersama dimeja makan keluarga. Aturan-aturan ini dan itu saat sarapan, makan siang, dan makan malam. Semua dijelaskan Yurina begitu detail pada menantunya itu.


Firlita kembali tersenyum hambar menyaksikan semuanya itu.


"Nona, apakah anda baik-baik saja?" tanya bibi Salu, saat tak sengaja ia melihat Firlita mengusap airmatanya dengan jari-jemarinya.


"Saya, saya baik-baik saja Bi," sahut Firlita terbata-bata.


"Maafkan saya nona, saya melihat sepertinya nona sedang bersedih?" ucap bibi Salu memberanikan diri, namun tetap bersikap sopan.

__ADS_1


"Ber-bersedih? Tidak Bibi, saya justru sedang bahagia, begitu nyamannya suasana dirumah ini, semuanya saling menerima dan menyayangi satu sama lain," sahut Firlita tergagap, berusaha menyembunyikan perasaan hatinya yang remuk karena kemalangan hidupnya yang tidak seberuntung orang- orang yang ada didalam rumah besar itu.


Bibi Salu tidak bertanya lagi, ia hanya mengangguk-anggukan kepalanya, karena yang keluar dari mulut Firlita tidak seperti bahasa tubuhnya.


...***...


Willy membuka pintu mobil yang ada disamping Hanaria. Tanpa ijin dahulu pada Hanaria, Willy langsung menautkan jari-jemarinya pada jari-jemari tangan Hanaria untuk bergandengan.


"Apakah harus seperti ini?" tanya Hanaria yang sebenarnya mulai suka diperlakukan seperti itu oleh Willy.


"Iya, supaya orang-orang yang ada disini tahu kalau aku dan dirimu adalah suami-isteri." sahut Willy, lalu menutup pintu mobilnya, setelah membawa Hanaria keluar dari dalamnya.


"Bukankah yang merias kita saat pernikahan didusun tempo hari adalah nyonya Mexan dan para pegawainya, jadi mereka sudah pasti tahu kalau kita ini suami-isteri," sahut Hanaria yang merasa ucapan suaminya itu tidak masuk akal.


"Itu benar Hana, tapi kita sekarang tidak kesalon nyonya Mexan, tapi kesana, klinik kecantikan milik nyonya Mexan," tunjuk Willy ke satu bangunan disebelah bangunan salon nyonya Mexan.


Hanaria mengarahkan pandangannya pada arah yang ditunjuk oleh Willy.


"Bisa tidak, kau menghentikan kebiasaan protesmu itu, menjadi isteri yang manis dan penurut?" bisik Willy ditelinganya, membuat Hanaria merinding merasakan sapuan napas panas dari mulut suaminya itu.


"Merajuk?" tanya Hanaria dengan nada mengejek, perkataan Willy serasa menggelitik hatinya.


"Iya, merajuk," sahut Willy dengan wajah yang dibuat serius.


"Aku rasa, kau tidak tau bagaimana caranya merajuk. Buktinya kau selalu berusaha menempel padaku sehingga pernikahan kita ini terjadi," ucap Hanaria yang hanya berniat meledek saja.


"Oh-, kau sengaja ya membuat suamimu ini tersinggung, jadi kau benar-benar mau membuatku merajuk, baiklah," ucap Willy datar, tapi tangannya belum rela melepaskan genggaman tangannya pada jari-jemari Hanaria.


Tanpa bicara, Willy menarik tangan Hanaria lembut untuk mengikutinya. Hanaria-pun hanya menurut, tidak berusaha melepaskan tangan Willy yang masih menggenggam tangannya.


"Selamat siang tuan muda Willy," sapa seorang pegawai dimeja resepsionis, saat Willy dan Hanaria muncul disana. Resepsionis itu melirik sekilas tangan Willy dan Hanaria yang masih saling bertautan.


"Ada yang bisa saya bantu tuan muda?" tanya pegawai itu dengan mengembangkan senyum ramahnya.


"Berikan saya daftar paketnya nona," pinta Willy.

__ADS_1


"Ini tuan," Pegawai itu menyerahkan beberapa exemplar paket pada Willy.


Willy mulai membuka lembar demi lembar, dan menandai pilihannya dengan pulpen yang sudah tersedia diatas meja resepsionis.


Hanaria hanya memperhatikannya saja, tanpa tahu apa yang sedang di oret-oret oleh suaminya itu hingga beberapa menit lamanya.


"Dokternya sudah ada nona?" tanya Willy yang sudah membuat janji sebelumnya.


"Sudah tuan muda, ditunggu sebentar ya, saya akan mengantarkan ini dulu pada dokternya," ucap pegawai itu tetap dengan sikap ramah dan sopannya.


Tidak lama berselang, pegawai itu kembali dengan senyum ramahnya.


"Nona Hanaria sudah bisa masuk, mari saya antar," ucapnya dengan sikap sopan.


"Masuklah," ucap Willy, saat Hanaria melirik kearahnya. Ia terlihat kikuk, karena bingung apa yang akan dilakukan didalam bersama seorang dokter.


Seumur hidupnya, Hanaria tidak pernah menggunakan jasa klinik kecantikan, jadi ini hal yang baru dan pertama baginya.


Ia mengikuti pegawai itu yang membawanya masuk kesuatu ruangan khusus.


Seorang dokter wanita menyambutnya dengan senyuman manis, dan pegawai yang mengantarkannya meninggalkannya bersama dokter itu.


"Nona Hanaria, silahkan naik dan berbaring disini," ucap dokter wanita itu menunjuk pembaringan yang ada didekatnya.


Hanaria berjalan perlahan sambil memperhatikan ruangan yang begitu rapi, bersih dan terlihat sangat mewah dan elegan itu.


Perlahan ia membaringkan tubuhnya dipembaringan yang sudah disediakan.


"Apakah anda sudah siap nona?" tanya dokter itu ramah, saat Hanaria sudah berbaring dipembaringan.


"Apakah sakit dokter?" Hanaria balik bertanya, membuat sang dokter wanita yang cantik itu berusaha menahan senyumnya.


"Tidak nona, ini perawatan kecantikan, bukan operasi atau semacamnya seperti dirumah sakit,"


"Kami akan membuat anda merasa senyaman mungkin selama proses ini nona," ucap dokter wanita itu.

__ADS_1


Hanaria tertawa kecil, merasa malu akan pertanyaan bodohnya, maklum dirinya tidak pernah melakukan perawatan kecantikan, hanya kesalon saja, itupun hanya seputar potong rambut atau merapikan potongan rambut yang sering salah potong karena dilakukannya sendiri dirumah.


__ADS_2