HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
164. Tumpukan Buku


__ADS_3

"Untuk apa buku sebanyak ini?" Tanya Hanaria menatap tumpukan buku diatas meja sofa disamping tas jalan dan ponselnya.


"Untuk kau pelajari Hana," sahut Willy, sambil meletakan beberapa toples camilan diatas meja sofa yang dibuat oleh para pelayan.


"Aku memberi waktu padamu untuk menghabiskan membaca buku-buku itu sampai pukul sepuluh pagi ini," imbuh Willy lagi.


"Apa? hanya tiga jam saja?" tanya Hanaria terperanjat.


"Iya, kau tidak sanggup?" Willy menatap Hanaria datar.


"Baiklah, aku akan mencobanya." Hanaria menjawab dengan lesu.


"Tapi untuk apa aku harus membacanya?" tanya Hanaria menatap Willy dengan mimik penasaran.


"Nanti aku jelaskan, lakukan saja yang menjadi bagianmu, pelajari semua buku-buku ini," tekan Willy sambil beranjak menuju pintu.


"Kau mau kemana?" Hanaria menatap Willy yang akan meninggalkannya seorang diri dikamar.


"Ada yang harus aku kerjakan. Ingat, pukul sepuluh, kau sudah harus menyelesaikan bacaanmu itu."ucap Willy, ia lalu menghilang dibalik pintu yang telah ia tutup dengan rapat dibelakangnya.


Hanaria menatap buku-buku dihadapannya, tangannya mulai meraih satu persatu buku-buku diatas meja, ada dua belas buku, dan semuanya tentang pertanian, bermacam-macam jenis padi, pengeloaannya, administrasi, hingga manajemen perusahaannya.


"Itu artinya, dalam satu jam aku harus menghabiskan membaca empat buku dari buku-buku ini," gumam Hanaria seorang diri.


Walaupun tidak tahu, apa tujuan Willy memintanya mempelajari semua buku-buku itu, Hanaria tetap mematuhi apa yang diperintahkan Willy padanya.


Mulutnya juga tidak henti-hentinya mengunyah camilan sambil membaca. Cuaca dingin di Villa itu membuatnya selalu merasa lapar walau sudah sarapan bersama Willy sebelumnya.


Tok! Tok! Tok!


Hanaria baru saja menyelesai tugas membacanya, ia bergegas menuju pintu berharap Willy yang muncul didepan pintu itu, untuk melayangkan berbagai protes.


"Selamat pagi nona Hana," sapa bibi Marla, sang kepala pelayan Villa.


"Selamat pagi juga Bibi," Hanaria balas menyapa, ia menghembuskan nafasnya saat bukan Willy yang ia lihat.


"Ada apa Bibi?" tanya Hanaria, matanya melirik kereta dorong yang dibawa oleh pelayan itu.

__ADS_1


"Ini dari tuan muda nona." sahut bibi Marla menunjuk tumpukan buku-buku diatas kereta dorongnya.


"Buku- buku yang nona baca sebelumnya akan saya bawa kembali ke perpustakaan Villa ini," imbuh bibi Marla dengan sikap hormatnya.


"Dimana tuan muda sekarang berada Bibi?" tanya Hanaria menatap wanita lanjut usia itu, namun terlihat masih enerjik.


"Tuan muda sedang keluar nona," sahut bibi Marla.


"Kemana?" tanya Hanaria ingin tahu, karena suaminya itu tidak mengatakan apapun padanya.


"Maafkan saya nona, saya tidak tahu kemana tuan pergi," sahut bibi Marla, wajahnya sedikit menunduk dengan sepasang tangan bertumpu diatas perutnya.


"Kalau begitu, silahkan masuk dulu Bibi," Hanaria mempersilahkan. Ia membalikkan tubuhnya dan masuk lebih dulu, lalu diikuti oleh bibi Marla sambil membawa kereta dorong masuk bersamanya.


Bibi Marla meraih semua buku-buku dari atas meja sofa dan menaruhnya pada rak susun yang ada dalam kereta dorong. Sementara buku-buku yang baru ia bawa, ia turunkan dan letakan diatas meja sofa.


"Saya permisi dulu nona," pamit bibi Marla setelah menyelesaikan tugasnya.


"Baik Bibi, terima kasih banyak," ucap Hanaria mengulas senyumnya.


"Sama-sama nona," bibi Marla membungkuk hormat lalu bergegas menuju pintu dengan mendorong kereta didepannya keluar dari kamar Hanaria dan Willy.


"Lanjutkan belajarmu, pelajari semua buku yang baru dibawa bibi Marla itu. Aku baru bisa menemuimu saat jam makan siang nanti.


Willy."


Hanaria melipat kertas yang baru dibacanya, yang ditulis rapi oleh suaminya itu, lalu memasukannya kembali kedalam amplop berwarna pink.


Setelahnya, Hanaria kembali membuka-buka buku didepannya. Buku-buku dengan jumlah yang sama seperti sebelumnya, dua belas buku. Ia melihat sampul-sampul buku itu, ada enam buku tentang berkebun sayur-sayuran, vitamin dan nutrisi yang terkandung didalamnya. Lalu enam buku lainya tentang bunga-bunga mawar dan filsafatnya, sampai pada cara mengolah dan memproduksi bunga-bunga itu menjadi parfum.


Untung saja, Hanaria sudah terbiasa begulat dengan buku-bukunya saat ia menempuh pendidikan diperguruan tingginya, jadi ia bisa mempelajarinya dan mengambil setiap intisari dari benang merahnya saja dari buku-buku itu tanpa menemui kesulitan sedikitpun.


...***...


"Kita mau kemana?" tanya Hanaria, saat Willy melajukan mobilnya keluar dari area Villa selepas makan siang.


"Agatsa Rice Group," sahut Willy.

__ADS_1


"Apakah itu salah satu anak cabang dari perusahaan Agatsa Group?" tanya Hanaria, ia memang merasa asing mendengar nama perusahaan yang disebutkan suaminya itu.


"Iya, kau benar Hana," sahut Willy singkat.


"Dari namanya, sepertinya perusahaan Agatsa Rice Group ini bergerak dibidang penyedia pangan." tebak Hanaria.


"Itu juga benar," sahut Willy masih singkat, ia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menyusuri jalan yang lengang dihadapan mereka.


"Apakah ini ada hubungannya dengan tumpukan buku-buku yang kau minta aku mempelajarinya?" Hanaria masih melontarkan pertanyaannya.


"Itu juga masih benar Hana. Aku ingin, kau sudah tahu secara teori tentang anak cabang perusahaan yang akan kita kunjungi ini. Dan saat kita disana nanti, aku akan memperlihatkan padamu secara praktek apa yang telah kau pelajari dibuku-buku itu." jelas Willy. Ia membelokan kemudinya, memasuki area persawahan yang membentang luas, menghijau bak lukisan sang seniman terhampar dihadapan mereka.


Security menaikkan palang portal besi yang melintang. Beberapa petugas security itu membungkuk hormat saat mobil Willy melintas didepan pos jaga security.


Mobil yang dikemudikan Willy berhenti sempurna diparkiran khusus milik owner Agatsa Group. Willy membuka sabuk pengamannya, lalu keluar diikuti oleh Hanaria.


Para pegawai berdiri berjejer didepan lobi kantor menyambut kedatangan Willy dan Hanaria yang mengunjungi tempat kerja mereka.


"Selamat siang tuan muda dan nona," sapa mereka bersamaan sambil membungkuk hormat.


"Selamat siang," sahut Willy. Ia mengulas senyumnya demikian pula Hanaria yang berdiri disisinya.


"Silahkan lanjutkan pekerjaan kalian." tambah Willy lagi.


"Baik tuan muda," pegawai-pegawai itu kembali membungkukkan tubuh mereka dengan hormat pada Willy dan Hanaria sebelum mereka membubarkan diri, kembali melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda.


"Manager Hardi, tadi kita sudah mengunjungi seluruh area persawahan itu, sekarang saya ingin memeriksa administrasinya, apakah team auditnya sudah siap?" tanya Willy memastikan.


"Iya tuan muda, mereka sudah menunggu diruang pertemuan," sahut Manager Hardi.


"Mari, kita langsung saja kesana." ajak Manager Hardi. Ketiganya lalu menuju ruang meeting yang dimaksud.


Hanaria duduk disamping Willy, sambil memperhatikan penjelasan dari team audit didalam ruangan meeting itu. Ia pun menyimak setiap penjelasan yang dipaparkan oleh para team saat menerima pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan Willy pada mereka.


Kagum, itu yang dirasa Hanaria, saat ia mengikuti dan menyimak tanpa melewatkan satu topik-pun dari pembahasan hasil audit dari team audit di perusahaan Agatsa Rice Group itu.


Luas lahan persawahan yang mencapai dua ribu hektar, diari oleh air yang ditampung dalam bendungan raksasa yang dibangun oleh Agatsa Rice Group, air itu-pun turut dinikmati oleh warga yang yang tinggal disekitar area perusahaan Agatsa Rice Group.

__ADS_1


Agatsa Rice Group rutin panen tiga kali dalam setahun, dan hasil panennya-pun mencapai ribuan ton sekali panen.


__ADS_2