
Pukul 2 dini hari, Willy baru tiba diapartemenya, dan memarkirkan mobilnya dibasemen. Walaupun ibunya memaksa untuk menginap dirumah besar mereka, ia tetap bersikeras untuk pulang.
Willy menoleh kekiri dan kanan, suasana nampak begitu sepi, tidak terlihat ada seorangpun disana selain dirinya, namun sepanjang perjalanan menuju lift, ia merasakan ada seseorang yang terus mengikutinya.
Didalam lift, Willy kembali mengingat pembicaraan dirinya bersama kedua orang tuannya. Ia tidak menyangka, apa yang ia lakukan harus menjadi serumit ini.
Menikahi pegawainya sendiri, memang bukan perkara mudah baginya, tapi yang menjadi pemikirannya saat ini adalah bagaimana ia harus bicara pada Reymon. Bukankah Hanaria adalah wanita yang sangat disukai oleh Reymon. Dan dirinya sudah pernah mengatakan pada Reymon bahwa antara dirinya dan Hanaria tidak mempunyai hubungan apa - apa.
Bila tiba - tiba dirinya harus menikah dengan Hanaria, apa yang akan ia katakan pada pria dusun itu, mau ditaruh dimana wajahnya, padahal ia sudah berjanji menjaga Hanaria sebagai calon kakak iparnya.
Willy mengacak - acak rambutnya hingga berantakan tidak karuan. Saat ini dirnya sungguh - sungguh dilema. Ia bisa saja menikahi wanita itu walau belum terlalu yakin pada perasaan hatinya. Tapi bagaimana dengan Reymon? Ia sangat menghargai pria baik itu selama ini.
"Ting - tong.....!" Pintu lift terbuka. Willy segera melangkah keluar. Ia menyusuri koridor sepi dengan langkah gontai menuju apartemennya yang hanya berjarak 100 meter saja dari pintu lift.
Dirinya begitu lelah hari ini, rasanya ingin segera beristirahat diranjangnya yang empuk. Willy menempelkan kartu pada pintu apartemennya hingga berbunyi " Ceklek". Willy segera mendorong kenop pintu.
"Brughh....." Dua pukulan keras menghantam rahang dan bibir bawah Willy membuat dirinya jatuh terjerembab kelantai apartemenya. Kepalanya langsung terasa berkunang - kunang
Tubuh seorang pria langsung menindih dan menduduki punggung Willy yang masih tertelungkup dilantai. Pria itu langsung menjambak rambut Willy hingga kepalanya mendongak keatas.
"Siapa..... kau?!" Tanya Willy dengan susah payah.
"Aku??..... Aku Jonly kakak Hanaria, perempuan dusun yang menjadi pegawai diperusahaanmu. Itu hadiah pukulan untuk adik perempuanku, seenaknya saja kau memperlakukan adikku seperti itu." Ucap pria itu, seraya bangkit dari punggung Willy.
"Ayo berdiri......! Lawan Aku.....! Bukankah kau pria sejati? " Tantang Jonly.
Willy berusaha berdiri, walau kepalanya terasa sangat pusing. Ia memaksakan dirinya untuk berdiri tegak, dengan bersandar didinding apartemenya, ia mengusap darah yang keluar dari bibirnya yang pecah akibat pukulan Jonly.
Willy menatap sekilas wajah Jonly. Ia ingat, wajah pria yang telah memukulnya itu sama persis dengan wajah pria didalam poto keluarga yang terpasang diruang tamu Hanaria.
__ADS_1
Jonly menatap tajam wajah Willy yang membiru dibagian rahang dan bibirnya yang pecah akibat pukulannya. Pria itu memiliki tubuh yang lebih tinggi dari padanya.
"Kalau sampai orang tua kami tahu..... dan melihat tayangan berita ditelevisi itu, betapa hancurnya hati mereka. Karena tidak mungkin putri kesayangan mereka melakukan hal itu." Ungkap Jonly masih terlihat geram.
"Ayo.....! Lawan aku......! Aku ingin tahu, sampai dimana kemampuan laki - laki sepertimu.....! Kau tidak tahu bagimana kami keluarganya, menjaga Hanaria dengan sangat baik. Tapi laki - laki tidak bertanggung jawab sepertimu...... mau merusaknya begitu saja.....!" Jonly menarik kerah baju Willy hingga membuat kepalanya mendongak keatas kembali. Willy tidak membela diri, ia terlihat pasrah.
"Kenapa?? Kenapa kau tidak melawanku?! Heumm!!! Apa kau menganggap ku remeh.....!!Geram Jonly, ia lalu memukul perut Willy dengan kepalan tangannya hingga tiga kali.
"Lakukan saja, apa yang menurutmu baik. Aku memang bersalah pada adikmu itu. Aku pantas menerimanya." Ucap Willy masih tidak melawan. Ia menahan sakit pada wajah bagian bawahnya dan juga perutnya.
"Apa yang membuatmu melakukan itu pada adikku? Jawab.....!!" Geram Willy setengah berteriak.
"Aku....... Aku......" Willy merasa sangat sulit melanjutkan kalimatnya. Pria yang memukulnya itu pasti berpikir dirinya hanya mengada - ada.
"Aku apa??!! Jawab yang tegas dan lantang......! Berlakulah seperti seorang laki - laki!" Bentak Jonly menatap tajam wajah Willy, dan semakin mengencangkan pegangan tangannya pada kerah baju pria yang telah menjadi bulan - bulannya itu.
"Kenapa? Kenapa harus adikku? Apa dikota ini kekurangan wanita? Bagaimana laki - laki kaya sepertimu menyukai wanita berasal dari dusun seperti adikku.....!" Ucap Jonly dengan pertanyaan beruntunnya. Ia tidak memberi ruang pada Willy untuk menjawab semua pertanyaannya.
Jonly pun tidak mau mendengar jawaban apa - apa dari Willy, pria yang menyebalkan itu, dirinya sudah terlanjur emosi.
"Aku tahu...... Kau pasti laki - laki yang tidak laku, laki yang tidak disukai wanita, dan laki - laki yang hanya mau memanfaatkan adikku saja.....!" Ucap.Jonly mengata - ngatai Willy semaunya, lalu kembali mendaratkan bogem mentahnya diperut laki - laki itu bekali - kali hingga tersungkur dilantai apartemennya lagi.
Setelah melihat Willy tidak berdaya, Jonly lalu segera keluar sambil membanting pintu apartemen Willy dibelakangnya, dan meninggalkan tempat itu tanpa mengatakan apapun.
Sementara Willy masih terkapar ditempat ia terjatuh, perutnya terasa begitu sakit dan kram. Willy berusaha mengambil napasnya yang terasa sesak. Pukulan bertubi - tubi, yang dilakukan Jonly, sempat beberapa kali bersarang dilambung atas dekat dadanya.
...***...
"Kak Jonly??" Ucap Hanaria kaget, saat melihat kakaknya muncul didepan pintu pagi -.pagi buta. Jonly mengulas senyumnya, menatap Hanaria yang baru selesai mandi.
__ADS_1
"Boleh kakak masuk?" Tanya Jonly berbasa - basi.
"Tentu saja, yuk kak....." Ajak Hanaria mempersilahkan masuk.
"Siapa dibelakang?" Tanya Jonly mendengar suara berisik didapur Hanaria.
"Oh itu..... Firlita, dia sedang menyiapkan sarapan pagi kak." Sahut Hanaria ikut memperhatikan apa yang didengar kakaknya.
"Mau minum apa kak?" Tanya Hanaria.
"Apa saja?" Sahut Jonly sambil mendudukan dirinya disofa tamu Hanaria.
Hanaria segera berlalu kedapur, tidak lama ia sudah kembali dengan membawa dua cangkir teh dan setoples camilan ringan.
"Kakak kemana saja, kok baru nongol kemari. Ayah dan ibu memberitahuku lewat telepon, kalau kakak ada pelatihan dikota, kutunggu - tunggu, tapi tidak memunculkan batang hidungnya. Semalam aku menelpon kakak bolak balik, tapi tidak diangkat. Aku takut kakak sudah pulang kedusun, padahal aku sudah membelikan pakaian bayi untuk bayi Jo...." Ucap Hanaria sambil meletakkan cangkir teh dihadapan kakaknya.
"Iya, kakak ada pelatihan selama tiga hari. Sudah selesai kemarin. Rencana akan pulang hari ini kedusun, kasian Elina repot mengurus Mizha dan Jo yang masih bayi. Tapi kakak mau tiduran dulu, siang nanti baru berangkat. kakak lelah sekali." Ucap Jonly sambil menguap.
"Iya, kakak tiduran saja disini sampai kakak merasa enakan. Atau besok saja pulangnya" Tawar Hanaria, ia merasa kasihan melihat wajah kakaknya yang terlihat lèlah, apalagi kakaknya itu akan pulang kedusun hanya menggunakan sepeda motor dinasnya.
"Memangnya kakak semalam ngapain? Kok terlihat lelah sekali seperti itu?" Tanya Hanaria.
"Biasa...... ngumpul - ngumpul bersama teman - teman sebelum pulang kedusun....." Sahut Jonly bersikap santai, agar aksinya semalam tidak ketahuan oleh adiknya itu.
"Kakak tidak bisa menunda Hana, kakak tidur sebentar saja sudah cukup membuat lelah kakak berkurang. Kangen sama anak - anak kakak, juga ibunya" Ucap Jonly sambil tersenyum.
"Huuu.....!" Sahut Hanaria sambil terkekeh.
"Beneran lah......! Nanti kalau kau punya suami dan anak..... kau pasti tahu rasanya gimana....." Ucap Jonly ikut terkekeh.
__ADS_1