HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 29 Ke Rumah Sakit


__ADS_3

"Bagaimana kondisi adik saya dok?" Tanya Hanaria pada dokter jaga yang menangani Firlita malam itu.


"Kondisi nona Firlita baik - baik saja, benturan pada dahinya tidak menyebabkan hal yang buruk. Apakah nona Firlita sedang mengandung?" Tanya sang dokter jaga.


"Iya benar dok. bagaimana kandungannya?" Hanaria menatap wajah dokter jaga itu.


"Untuk sementara, kondisi kandungan nona Firlita baik, tapi perlu pemeriksaan lebih lanjut. Besok pihak rumah sakit akan menyiapkan dokter kandungan untuk memeriksakan kandungan nona Firlita."


"Karena kondisinya sedang mengandung ini, kami tidak bisa memberikan obat anti nyeri pada nona Firlita. Dan untuk malam ini, pasien harus dirawat inap dulu disini nona Hana. Tadi perawat telah membawanya keruang melati nomor 12." Jelas sang dokter.


"Terima kasih banyak untuk semuanya dok....." Ucap Hanaria yang merasa sudah cukup jelas mendengar penjelasan tentang kondisi Firlita.


"Sama - sama nona Hanaria......" Sahut dokter jaga itu dengan senyum ramahnya.


Setelah berpamitan, Hanaria meninggalkan ruangan dokter jaga itu menuju ruang rawat inap yang telah disebutkan sang dokter jaga.


Hanaria memasuki ruang melati nomor 12. Ruangan itu, merupakan salah satu ruangan kelas 3 dirumah sakit Pemerintah. Ruangan ini terlihat penuh sesak dengan para pasien yang rawat inap ditambah lagi salah satu dari anggota keluarga yang harus menemani sang pasien.


Seorang suster petugas mengantarkan Hanaria mendekati salah satu ranjang pasien.


"Terima kasih suster......" Ucap Hanaria pada suster yang telah mengantarkannya hingga keranjang Firlita yang sedang dirawat.


"Sama - sama nona Hana......" Sahut suster itu dengan senyum ramahnya lalu berpamitan.


Hanaria mendekati Firlita yang terbaring diranjang pasiennya, ia duduk dikursi plastik dan menatap wajah Firlita yang juga sedang memandang kearahnya.


"Terima kasih kak......" Suara Firlita terdengar serak, buliran bening mengalir disudut - sudut matanya.


"Aku tidal tahu apa jadinya kalau kak Hana tidak ada untukku.....".Suara serak Firlita kembali terdengar.


Hanaria mengusap air mata Firlita, hatinya begitu sakit melihat kondisi gadis muda yang malang itu.

__ADS_1


"Bagaimana keadaanmu sekarang Firlita, apa yang sedang kau rasakan?" Tanya Hanaria menatap wajah Firlita.


"Dahiku masih terasa sakit kak. Juga tubuhku terasa remuk." Sahut Firlita sambil meringis saat menggerakkan sedikit tubuhnya untuk memperbaiki posisi tubuhnya yang sedang berbaring.


"Kakak harap kau dapat menahan rasa sakitnya Firlita. Karena dokter tidak berani memberikan obat penahan nyeri, disebabkan kondisimu yang sedang mengandung." Hanaria memeriksa beberapa tubuh Firlita yang terdapat luka lebam akibat diseret dan didorong keluar oleh laki - laki dicafe itu beberapa jam yang lalu.


Firlita hanya menganggukan kepalanya mendengar ucapan Hanaria.


"Firlita, bagaimana kau bisa ada disana bersama pria itu, jujurlah.... ceritakan semuanya pada kakak." Ucap Hanaria, menatap wajah Firlita lekat.


"Pria itu....dia adalah ayah dari bayi yang kukandung kak....." Ucap Firlita tesendat. Hanaria terdiam, dirinya sudah menduga akan hal itu.


"Mahendra namanya. Beberapa hari yang lalu, aku melihatnya pergi dengan seorang gadis seusia anak SMU, di dekat pusat perbelanjaan. Aku tidak sempat mengikutinya karena dia cepat menghilang ditengah kerumunan orang banyak di mall."


"Tadi aku melihatnya lagi, saat pulang berkerja. Aku langsung menguntitnya hingga ke cafe itu. Hingga terjadilah pertengkaran kami karena aku minta pertanggung - jawabannya padaku." Ucap Firlita mengakhiri ceritanya.


"Kau tahu siapa laki - laki itu?" Tanya Hanaria masih menatap lekat wajah Firlita yang terlihat sembab karena banyak menangis.


"Kalau kau tidak tahu, kenapa kau bisa tidur sampai dua kali dengannya? Maafkan kakak, kakak telah mendengar sebagian percakapanmu dengan laki - laki itu." Ucap Hanaria masih menatap wajah Firlita yang terbaring diranjang pasien.


Firlita terkesiap. Pertanyaan Hanaria begitu menyentak hingga kejantungnya.


Raut wajah Firlita terlihat malu. Malu pada Hanaria yang telah banyak membantunya, dan malu pada dirinya sendiri, mengapa semudah itu bisa tidur dengan seorang pria yang tidak dikenalnya dengan baik.


"Awalnya aku bertemu dengannya sekitar 6 bulan yang lalu bersama beberapa teman saat kami menonton film dibioskop." Firlita kembali memulai kisahnya, matanya menatap langit - langit ruang rawat inapnya.


"Ia menyebutkan kalau namanya Mahenda, dia mengaku sebagai seorang pegawai cafe. Mulai saat itu kami sering bertemu. Mahendra sering menemuiku di tempat pekerjaanku saat aku sedang berkerja."


" Tiga bulan perkenalan kami, kami resmi pacaran. Dia laki - laki yang baik, dan perhatian. Kerap kali dia membelanjakanku beberapa pakaian ditempat aku berkerja sebagai SPG kak. Ia terlihat sangat baik, hingga akhirnya aku mau tidur bersamanya." Firlita menghentikan ucapannya sesaat, menatap wajah Hanaria yang sedang menatapnya.


Wajah Hanaria nampak serius dan tegang, ia sesekali menahan napasnya mendengar cerita Firlita yang begitu mudahnya percaya dengan laki - laki yang belum dikenalnya dengan baik.

__ADS_1


"Aku tahu, tindakanku itu salah kak dan tidak boleh kami lakukan, karena kami belum menikah. Tapi rasa cintaku, mengalahkan semua akal sehatku. Untuk kedua kalinya, aku kembali tidur dengan Mahendra, dengan alasan yang sama, yaitu cinta." Firlita tersenyum getir.


"Saat aku mengetahui diriku hamil, aku mengatakan hal itu pada Mahendra. Ia memintaku menunggu beberapa hari untuk memberi solusi atas kehamilanku. Sejak saat itu, Mahendra menghilang entah kemana. Aku berusaha untuk mencarinya, tapi tidak tahu kemana. Mahendra tidak pernah mengatakan diamana, dan apa nama cafe tempat ia berkerja." Ucap Firlita dengan wajah penuh penyesalan.


"Lalu apa maksudnya ia membayarmu setiap kali menidurimu?" Hanaria kembali bertanya dengan nada menyelidik.


Firlita menelan salivanya dengan susah payah mendengar ucapan Hanaria.


"Kakak mendengar itu juga?" Ucap Firlita tercekat, ia memalingkan wajahnya kearah dinding. Terlihat punggungnya berguncang, menahan tangisnya yang hampir meledak. Dengan sekuat tenaga ia membekap mulutnya sendiri supaya tangisnya tidak pecah diruangan yang penuh dengan pasien yang sedang dirawat seperti dirinya.


Hanaria mengusap lembut punggung Firlita, untuk membantu menenangkan perasaannya yang sedang hancur saat ini.


"Maafkan kakak, sudah menanyakan hal yang terlalu pribadi ini padamu Fir....." Ucap Hanaria lembut.


"Kakak tidak salah..... aku saja yang terlalu terbawa perasaan saat mengingat hal memalukan itu." Ucap Firlita lirih sambil sesenggukan, terlihat dirinya menekan suaranya supaya tidak terdengar pasien lainnya, karena malam sudah beranjak subuh.


"Mahendra memang selalu meninggalkan sejumlah uang didalam amplop setiap kali kami tidur bersama. Tapi aku tidak mau menerimanya kak. Aku merasa..... tidak ubahnya seorang perempuan yang menjual diri bila menerima uang pemberiannya itu pikirku, sedangkan aku ini pacarnya, dan impianku.... aku akan menikah dengan Mahendra yang kuanggap sebagai pacarku. Itu sebabnya aku tidak menolaknya." Ucap Firlita mengungkapkan alasannya dengan jujur.


"Jadi kau tidak tahu siapa Mahendra itu sebenarnya sampai sekarang??" Tanya Hanaria lagi untuk memastikan.


Firlita menggelengkan kepalanya. "Tidak kak, aku tidak tahu. Hanya pegawai cafe, itu menurut salah satu pegawai pria saat aku bertanya padanya dimana aku menemui Mahendra tadi."


Hanaria kembali menghembuskan napasnya setelah mendengar semua penuturan Firlita. Ia tidak berkomentar apapun lagi, walaupun dirinya ingin melakukannya. Ada banyak yang ingin ia ucapkan pada Firlita karena kecerobohannya itu, tapi ia tidak tega, wanita itu sudah cukup terluka dan menderita dengan kondisinya yang sekarang pikirnya.


"Tidurlah.....Firlita......, kau harus banyak istirahat. Besok ada dokter kandungan yang akan memeriksa kandunganmu, semoga saja kandunganmu itu baik - baik saja." Firlita kembali mengangguk lemah. Hanaria membantu Firlita untuk menyelimuti dirinya.


"Bila kau tidak melihat kakak saat kau terbangun nanti, itu arrinya kakak sudah pulang untuk berangkat berkerja. Jam makan siang, kakak akan kembali, tapi kalau tidak sempat, kakak akan kemari setelah pulang berkerja." Ucap Hanaria.


"Iya kak, terima kasih banyak untuk semuanya.... aku sudah sangat merepotkan kak Hana......" Ucap Firlita dengan tatapan sedih.


"Kakak ikhlas Fir...... ayo, segeralah tidur." Hanaria segera mengambil posisi untuk berbaring dilantai saat melihat Firlita telah memejamkan matanya.

__ADS_1


โ™กโ™กโ™ก Terima kasih buat kakak pembaca yang telah berkenan meninggalkan like dan comennya. Author berusaha lebih semangat lagi up nya...๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ™โ™กโ™กโ™ก


__ADS_2