HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
133. Pemberkatan Nikah


__ADS_3

Gaun pengantin berwarna putih menjuntai panjang dengan ujung yang terseret mengikuti setiap langkah Hanaria menaiki satu demi satu setiap anak tangga didampingi ayahnya.


Hanaria sudah membulatkan tekadnya memutuskan untuk tetap menyelesaikan semua prosesi pernikahan hari ini hingga akhir. Ibu dan para sahabatnya mengikutinya dari belakang.


Dua pegawai nyonya Mexan dengan sigap mengikuti Hanaria dari belakang gaunnya untuk berjaga supaya tidak tersangkut benda - benda yang ada disekitar anak - anak tangga yang dilalui oleh sang pengantin wanita.


Paduan suara segera dikumandangkan dengan syair yang mengalun lembut bagai aliran sungai, saat Hanaria sudah berdiri didepan pintu gereja bersama ayah dan ibunya, dan juga para sahabat terdekatnya.


Gedung gereja sudah dipadati oleh para hadirin. Mereka berdiri ditempatnya masing - masing, menatap wajah mempelai wanita yang masih tertutup dengan kerudung putih tipis.


Semua mata menatap setiap langkah demi langkah yang nampak anggun dan tenang sesuai ketukan irama paduan suara yang diperdengarkan oleh para choir dan pemandunya.


Dibalik langkah tenangnya, sebenarnya Hanaria pun merasakan grogi yang teramat sangat. Ya, sekalipun semua yang ia lakukan bukan berdasarkan cinta, tapi tetap saja, moment sakral ini membuatnya gugup.


Ia mencengkram erat lengan ayahnya yang sedang menggandengnya menuju altar, tempat pemberkatan nikah yang ada didepan.


"Hana..... ayah tahu kau gugup dan merasa gelisah. Ayah akan selalu mendoakanmu, semoga pemberkatan nikahmu berjalan dengan lancar. Semoga, kau dan nak Willy dapat membawa bahtera rumah tangga kalian sampai ditujuan akhir dengan bahagia. Dan hanya maut yang memisahkan." Bisik ayah Hanaria, ia berusaha menghibur hati putri kesayangannya.


Bagi seorang ayah, tidaklah mudah melepaskan putrinya, dan mempercayakan pria lain untuk mengambil alih tugas menjaga putri kesayangannya.


Dalam hati kecilnya, selalu ada harapan, dan doa terbaiknya, mulai putrinya itu ada didalam rahim isterinya, bahkan sampai sekarang, dan bahkan sampai ia menutup mata kelak, ia akan selalu memberikan semua doa terbaiknya buat Hannaria, putri kesayangannya itu.


Langkah Hanaria dan ayahnya akhirnya terhenti, saat mereka sudah berada dialtar dan berhadapan dengan Willy yang menyambut keduanya bersama pak pendeta yang berdiri disebelahnya. Paduan suarapun turut berhenti dinyanyikan.


Pak Muri segera melepaskan tangan Hanaria yang menggandeng lengannya, mempersilahkan Willy mengganti posisinya didekat putrinya. Dan dirinya meninggalkan kedua calon pengantin dialtar bersama pak pendeta.


"Para hadirin...... Yang saya hormati, apakah diantara kita semua yang hadir dihari ini, ada pihak - pihak yang berkeberatan atas dilangsungkannya pernberkatan nikah antara saudara Willy Moranno Agatsa dengan saudari Hanaria. Bila ada, silahkan mengajukan keberatannya dengan alasan yang dapat dipertanggung jawabkan." Ucap sang pendeta, sambil mengedarkan pandangannya pada semua hadirin yang masih berdiri, memadati ruangan itu.


"Bila tidak ada yang menangguhkan, maka saya nyatakan.......kita akan melanjutkan prosesi pemberkatan nikah hari ini antara saudara Willy Moranno Agatsa dan saudari Hanaria. Dan semua hadirin sekalian, menjadi saksi atas pernikahan mereka yang akan dilakukan hari ini."


"Hadirin dipersilahkan duduk." Seluruh hadirin langsung menduduki kursinya masing - masing.


"Saudari Hanaria....... Apakah anda sudah siap melanjutkan prosesi pernikahan Hari ini?" Tanya sang pendeta memastikan, sebagai syarat yang memang harus dilakukannya supaya tidak terjadi hal - hal yang tidak diinginkan dikemudian hari.


"Saya siap......." Ucap Hanaria tegas.

__ADS_1


"Baik, terima kasih....." Sahut pak Pendeta menatap wajah Hanaria yang masih tertutup kerudung tipis yang ia kenakan. Ia lalu beralih menatap Willy yang berdiri berdampingan disebelah Hanaria.


"Dan anda saudara Willy Moranno Agatsa........" Pak pendeta menjedah ucapannya sejenak, wajahnya sedikit ragu sambil tetap menatap lekat wajah calon pengantin pria.


"Apakah saudara sedang sakit? Wajah anda terlihat sangat pucat?" Ujar sang pendeta masih memperhatikan.


"Saya..... baik - baik saja pak pendeta, hanya sedikit gugup saja, seharusnya para perias itu memberi make-up diwajah saya lebih tebal seperti calon isteri saya ini, supaya wajah kami sama - sama terlihat cerah dan bersinar." Ucap Willy berusaha mengurangi rasa gugupnya dengan banyolannya.


Spontan saja seisi gereja itu tertawa, baru kali ini calon pengantin begitu santai berucap walau merasa gugup. Mereka tidak tahu, bahwa pengantin pria adalah seorang CEO perusahaan besar, yang sudah terbiasa mengatasi kegugupannya dihadapan ribuan pegawainya.


"Kalau begitu..... Mana para periasnya, silahkan diatur kembali make - up calon pengantin prianya." Ucap pak pendeta serius.


Para perias nyonya Mexan yang berada disudut paling depan langsung mengambil alat - alat make - up dan bersiap mendekati Willy yang berdiri didepan.


"Tidak perlu pak pendeta..... Kita lanjut saja, saya sudah tidak sabar beralih status menjadi seorang suami. Saya sudah cukup sabar menunggu beberapa jam saat calon isteri saya didandani." Willy melanjutkan banyolannya.


Segenap hadirin kembali tertawa, calon pengantin pria yang mereka sangka pendiam ternyata memiliki rasa humoris juga.


Pak pendeta hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Willy, ditengah kegugupannya, pria muda dihadapannya itu masih sempat berusaha mencairkan suasana tegang yang ada dalam pernikahanya.


"Gen siapa yang menurun padanya sayang? Aku saja diam seribu bahasa saat kita menikah dulu, tidak berani bicara apa - apa selain menjawab yang pak pendeta tanyakan." Bisik Moranno ditempat duduknya pada Yurina yang duduk disebelahnya.


"Yang jelas tidak ada benih lain yang masuk kerahimku, selain milikmu suamiku." Sahut Yurina ikut berbisik.


"Mari saudara Willy dan saudari Hanaria, langsung menuju altar pemberkatan nikah yang telah disediakan." Ucap pak pendeta mempersilahkan.


"Ayo, gandeng lenganku, seperti kau memggandeng lengan ayahmu tadi nona Hana....." Bisik Willy.


"Tidak mau......" Sahut Hanaria dengan suara ikut berbisik.


"Apakah kau tidak pernah melihat orang menikah? Atau kau mau membuat aturan sendiri? Baiklah kalau itu maumu..... Kau tahu kan kalau aku tidak suka mengulang perkataanku." Tanpa basa lagi, Willy meraih tangan Hanaria, dan memaksanya menggandeng lengannya, namun Hanaria berusaha menepis tangan Willy yang meraih tangannya.


Sesaat, terjadi tarik - menarik tangan antara Hanaria dan Willy, dihadapan semua orang. Membuat keduanya yang menjadi pusat perhatian para hadirin kembali menuai tawa.


Memang ada saja hal - hal tidak terduga dilakukan oleh para calon pengantin dihari sakral mereka yang memang sering kali disaksikan oleh para warga gereja setiap kali dilakukan acara pernikahan.

__ADS_1


Kedua orang tua Hanaria dan orang Willy pun ikut tersenyum sambil mengeleng - gelengkan kepala melihat tingkah anak - anak mereka diatas altar.


Setelah menyadari bila mereka jadi bahan tertawaan, Hanaria yang salah tingkah akhirnya menyerah, ia menggandeng lengan Willy sambil mencubitnya. Namun Willy tidak merespon apa yang dilakukan Hanaria padanya, menurutnya sudah cukup membuat Hanaria salah tingkah dihadapan semua orang, itu sudah membuatnya senang dan merasa menang.


Keduanya lalu melangkah bersama menuju altar pemberkatan nikah, riak - riak tawa para hadirin sudah tidak terdengar lagi.


Suasana khidmat kembali terasa, semua mengikuti dengan tenang dan tertib saat prosesi demi prosesi berjalan.


Setelah pemberkatan nikah telah dilakukan oleh pak pendeta, penyematan cincin pernikahan disematkan oleh Willy pada jari manis Hanaria sambil mengikrarkan janji nikah.


Hanaria langsung melepas kaos tangan yang dikenakan Willy saat giliran dirinya tiba untuk menyematkan cincin pernikahan pada jari manis suaminya itu untuk memeriksa pergelangan tangannya. Hanaria merasa lega, bahwa kali ini memang benar - benar Willy, karena tidak ada tanda lahir dipergelangan tangan kanannya.


"Kenapa?" Tanya Willy menatap wajah Hanaria.


"Tidak...... aku hanya ingin melihat jarimu saja." Sahut Hanaria beralasan.


Ia lalu memasang kembali kaos tangan Willy dan menyematkan cincin pernikahannya sambil mengikrarkan janji pernikahannya.


"Saudara Willy, saatnya kau boleh membuka kerudung pengantin wanitamu." Ucap pak pendeta mempersilahkan.


Willy memajukan dirinya satu langkah kedepan. Sejenak ia memperhatikan wajah Hanaria yang masih tersembunyi dibalik kerudung putih tipisnya.


Desiran - desiran halus terasa menjalar didalam hatinya. Ia mengangkat tangannya pelan, menyentuh ujung kerudung tipis itu dengan kedua tangannya, dan menyingkapkannya dengan hati - hati lalu merapikannya dibelakang sanggul Hanaria.


Tatapan Hanaria dan Willy beradu sejenak, hingga keduanya sama - sama disadarkan oleh suara pak pendeta.


"Saudara Willy, anda boleh memberikan.ciuman pertama anda dikening pengantin wanita anda." Ucap pak pendeta mempersilahkan.


Willy kembali fokus pada wajah Hanaria dihadapannya, debaran - debaran itu kembali terasa. Ia mendekatkan wajahnya, dengan lembut mendaratkan ciumannya didahi Hanaria yang terdiam membeku ditempatnya berdiri.


Keduanya sama - sama merasakan desiran - desiran aneh, sentuhan Willy didahinya membuat Hanaria tanpa sadar turut menikmatinya.


Prosesi selanjutnya, kedua pengantin pria dan wanita menandatangani surat pernikahan beserta para saksi yang telah dihubungi sebelumnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2