HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
262. Menyembunyikan Sesuatu


__ADS_3

"Selamat sore Nona," asisten David dengan sigap berdiri, begitu melihat Hanaria keluar dengan dituntun oleh Willy. Sebenarnya wanita itu sudah berulang kali menolak diperlakukan demikian, namun suaminya tetap bersikeras melakukannya, beralasan khawatir terjadi sesuatu pada isterinya itu.


"Selamat sore asisten David, duduklah kembali," Hanaria duduk tepat berhadapan dengan asistennya itu.


"Aku akan meninggalkanmu bersama asisten David disini, mungkin saja ada hal yang penting yang harus kalian bicarakan." ucap Willy bersiap akan pergi.


"Tidak Sayang, kau disini saja bersamaku," Hanaria memegang lengan Willy yang bersiap hendak pergi.


"S-sayang? Kau memanggilku Sayang," Willy menatap lekat pada Hanaria, tentu saja ia senang mendengarnya. Selama ini keduanya memang belum ada kata sepakat, padahal itu juga penting dalam membina hubungan, selama ini Willy dan Hanaria menjalani seperti air yang mengalir saja.


"Iya, bukankah harusnya seperti itu, heum. Rasanya tidak romantis bila hanya memanggil nama saja, juga terlalu panjang bila memanggil Daddy-nya Jo dan El, heum... Menghabiskan banyak kata dan waktu," ucap Hanaria disela senyum manisnya.


"Kalau begitu kita harus meresmikannya malam ini," ungkap Willy sembari mengedipkan matanya penuh makna.


Hanaria hanya tersenyum, ia tahu maksud dari suaminya. Pasti suaminya itu lupa kalau dirinya masih dalam keadaan nifas, seperti yang sedang dialami semua ibu-ibu paska persalinan.


Sementara asisten David berpula-pura tuli mendengar pembicaraan sang nona majikannya itu bersama suaminya.


"Asisten David, apa laporan yang ingin kau sampaikan?" tanya Hanaria, begitu Willy sudah mengambil tempat disebelahnya. Ia hafal benar, asistennya itu tidak akan mungkin minta bertemu bila itu bukan sesuatu yang sangat penting.


"Sesuai perintah. Kemarin sore, saya sudah membawa ibu Maria pulang ke rumah kediaman nyonya Mingguana, dan telah menyelesaikan semua administrasinya juga. Dan senua berkas-berkasnya ada dikantor Nona." jelas asisten David, namun semua berkasnya sebenarnya ada diluar, karena paman dari suami majikannya itu memintanya untuk meninggalkan semuanya diatas meja dimana mereka.berada.


Selesai menjelaskan, asisten David kembali diam, seperti orang kebingungan, karena sudah tidak ada bahan laporan yang bisa ia sampaikan lagi. Ia tidak berani melanggar pesan nyonya Agatsa, nenek Willy.

__ADS_1


"Syukurlah asisten David, aku sangat senang mendengarnya," Hanaria tersenyum lega. "Aku harap, pak Aji dan ibu Maria bisa hidup.bahagia dimasa tua mereka." ucapnya tersenyum.


"Asisten David."


Asisten David buru-buru mendongak, "Iya Nona."


"Mungkin kau tahu apa alasannya mantan Nyonya-mu itu seakan terlalu kejam. Seolah sengaja memisahkan seorang isteri dari suaminya, bahkan keduanya sama-sama sudah berusia lanjut. Bukankah bisa saja kalau isteri pak Aji itu tinggal disana juga sekalian membantu pekerjaan bibi Narsih yang banyak itu?" telisik Hanaria berusaha menggali apa yang ia rasa ganjil.


"Maaf Nona, saya tidak tahu. Saya hanya melakukan apapun sesuai perintah," sahut asisten David singkat, tidak berani banyak bicara.


Hanaria hanya mengangguk pelan, sementara Willy tetap menjadi pendengar setia, dan enggan ikut berkomentar yang bukan urusannya.


"Laporan berikutnya?" Hanaria menatap asisten David. "Tidak biasanya kau tidak membawa beberapa berkas, atau setidaknya ponsel dan tabletmu." tanya Hanaria dengan nada heran.


"Apa tidak ada yang kau sembunyikan asisten David," tanya Hanaria curiga.


"Tidak ada Nona," sahut asisten David setengah menunduk.


"Aku tahu dirimu asisten David, kau tidak akan meminta bertemu bila bukan sesuatu yang penting, bisanya kau cukup menelpon saja bila kau dapat menangani tugasmu," telisik Hanaria lagi masih sepenuhnya belum percaya bila tidak ada yang disembunyikan oleh asistennya itu.


"Tidak ada Nona, saya kemari hanya ingin membesuk dan melihat keadaan Nona saja, dan memberi laporan bila perintah Nona untuk memindahkan ibu Maria kerumah sudah saya selesaikan." ucap asisten David meyakinkan.


"Baiklah kalau begitu. Terima kasih banyak untuk bunga anggrek dan hamper-nya, asisten David." Hanaria sebenarnya ingin memaksa asistennya itu, tapi ia tidak melakukannya untuk sementara waktu, tentu ada alasan tertentu kenapa asistennya itu berlaku demikian fikirnya.

__ADS_1


"Iya, sama-sama Nona. Saya mohon pamit dulu," asisten David berdiri lalu membungkuk hormat.


"Aku akan mengantarmu asisten David," ucap Willy, sebelum asisten pribadi isterinya itu berbalik badan.


"Tidak perlu Tuan, terima kasih." tolak asisten David, ia merasa sungkan saja karena dirinya hanyalah seorang pegawai.


"Anggap ini perintah. Walau aku bukan majikanmu, tapi isteriku adalah majikanmu, jadi akupun berhak memberimu perintah," pungkasnya tak ingin dibantah.


"Baik Tuan." sahut asisten David tak mau bermasalah.


"Tunggu sebentar, aku akan mengantar isteriku ke kamarnya," Willy segera membantu Hanaria, memapahnya menuju kamar.


"Willy, kau tidak perlu begini, aku masih kuat berjalan sendiri," ucap Hanaria pelan sambil keduanya berjalan menuju kamar.


"Kau itu Hana, baru saja memanggilku Sayang, kenapa bisa berubah lagi?" protes Willy.


"Maaf ya, aku lupa. Aku akan berusaha untuk tidak lupa dan tidak salah lagi--, Sayang," ucap Hanaria lalu mendaratkan ciumannya pipi suaminya itu sebagai permintaan maaf.


Willy berhenti melangkah, tangannya yang sedang memapah Hanaria seketika memeluk isterinya erat. "Aku mau lagi, tapi disini." tunjuk Willy pada bibi*nya.


"Inilah akibatnya kalau cari gara-gara," batin Hanaria. Tanpa banyak ba-bi-bu Hanaria tetap memberikan apa yang diminta suami tercintanya itu.


Kalau tidak, suaminya itu bisa saja ngambek melebihi bayi-bayinya, dan mampu menghabiskan banyak uang hanya dalam hitungan jam untuk perawatan, supaya Hanaria tetap tertarik dan tidak menolaknya.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2