
"Shasie......boleh aku minta tolong sesuatu padamu?" Tanya Hanaria saat temannya itu baru masuk keruangan setelah istirahat makan siang.
"Hmm.....tumben seorang Hanaria meminta bantuan....membuat seorang Shasie tersanjung......" Ucap Shasie dengan gaya imutnya sambil memeluk Hana yang menghampiri meja kerjanya.
"Udah..... biasa aja kaleee..... tapi ini memang bidangmu sayangku, DETEKTIF SHASIE......" Kekeh Hanaria yang diikuti Shasie.
"Emang siapa sih yang mau kau selidiki Hana..... ??" Tanya Shasie penasaran. matanya menatap Hanria penuh tanya. Walau terkesan dengan gaya centil dan manja, Shasie sangat piawai bila ditugaskan mencari tahu sesuatu hingga mendapatkan informasi yang sedetail mungkin, itulah hobby nya sejak kanak - kanak, selalu mencari tahu apapun itu. Ditambah lagi, ia memiliki ayah seorang inteligen.
"Ada deeehhh..... Sebentar......." Hanaria meraih ponsel dari sakunya. Dengan cekatan, jari - jemarinya menggeser layar ponselnya. Beberapa detik kemudian terdengar suara notifikasi pada ponsel Shasie berbunyi.
"Ayo cepatan dibuka......" Perintah Hanaria menyenggol lengan temannya itu.
Wajah Shasie mengernyit saat melihat kartu nama yang dikirimkan Hanaria via WhatsApp.
"Apaan ini Hana......??" Tanya Shasie menatap wajah Hanaria masih penuh tanya.
"Kartu nama......." Sahut Hana sekenanya.
"Iya...... anak TK juga tahu kalau yang kau kirim ini kartu nama Hanaaaa..... maksudku apa yang kau inginkan dengan kartu nama ini. Terus siapa dia, wajahnya juga lumayan tampan......"Ucap Shasie sambil memperhatikan kartu nama diponselnya.
"Aku ingin kau selidiki siapa dia, keluarganya, pekerjaannya, dimana dia tinggal, teman.... pokoknya semua yang ada hubungannya tentang pria di kartu nama itu." Ucap Hanaria menguraikan permintaannya.
"Apa dia pria incaranmu Hana??" Tanya Shasie bersemangat sambil tersenyum lebar dengan mengangkat kedua alisnya keatas hingga bergerak - gerak
"Bukan.......dia bukan tipeku....." Sahut Hanaria cepat.
"Lalu..... buat apa kau menyelidiki laki - laki itu? Dari photo dikartu namanya..... wajahnya lumayan tampan kok..... aku saja naksir Hana......" Ucap Shasie tersenyum usil.
" Kau itu Shasie, gak bisa liat cowok ganteng dikit langsung naksir. Tapi aku jamin, kalau kau tahu siapa laki - laki itu sebenarnya, kau pasti ingin memukulnya sampai pingsan.....!!" Ucap Hanaria tiba - tiba geram. Ia mengepalkan tinjunya dan memukulkannya pada telapak tangannya yang lain.
"Iiiiihhh Hana..... sadis amat sih sama cowok ganteng, pantes aja belum punya pacar sampai sekarang." Seloroh Shasie, namun dirinya merasa ngeri melihat bahasa tubuh Hanaria yang seolah ingin menghajar pria itu.
"Kau bisa bilang begitu karena kau belum tahu siapa laki - laki itu Shasie. Wajahnya memang terlihat ganteng, tapi hatinya sangat jahat." Ucap Hanaria masih geram membuat Shasie semakin ngeri.
"Oke.....oke...... tenangkan dirimu Hana. Aku janji, aku akan berusaha membantumu sebisaku...... tapi kau juga harus janji, cerita padaku kenapa kau sepertinya sangat membencinya." Shasie menepuk - nepuk punggung Hanaria yang lebih tinggi 20 senti dari dirinya.
"Terima kasih Shasie..... oke aku janji, aku bakalan cerita padamu." Ucapnya kembali tenang.
__ADS_1
"Aku kembali kemejaku dulu ya, hari ini aku sibuk sekali . Maklum baru hari pertama masuk kerja setelah cuti." Ujar Hana sambil berlalu menuju mejanya yang berada disudut ruangan divisi lantai 6 itu.
Shasie segera mengutak - atik ponselnya. Berbagai aplikasi dan media - media sosial ia buka diponsel pintarnya untuk menemukan informasi tentang laki - laki yang ada dikartu nama yang baru dikirim Hanaria itu.
Sepuluh menit kemudian, Shasie menutup ponselnya untuk melanjutkan pekerjaan pokoknya dikantor itu.
...•••...
Ponsel Hanaria bergetar disakunya. Wanita muda itu segera mematikan mesin mobilnya yang baru saja sampai diparkiran rumah sakit sore itu sebelum mengangkat panggilan telepon.
"Halloo........." Sapa Hanaria sesat setelah ia keluar dari mobilnya.
"Hallooo..... kami dari rumah sakit pemerintah. Apakah ini dengan nona Hanaria." Terdengar suara lembut seorang wanita dari sambungan telepon.
"Iya benar suster....... saya Hanaria....... ada apa ya sus?" Tanya Hanaria .
"Kapan nona Hanaria akan kemari. Dokter kandungan yang telah memeriksa kandungan nona Firlita ingin bertemu. Ada hal yang penting yang perlu disampaikan." Jawab suara wanita itu dari seberang sambungan telepon.
"Saya sudah ada diparkiran suster." Jawab Hanaria.
"Baik suster...... Terima kasih."
"Sama - sama nona Hana....." Telepon terputus, Hanaria menyimpan kembali ponselnya didalam sakunya. Ia bergegas menuju ruang informasi yang tidak jauh dari area parkir.
"Selamat sore suster......" Sapa Hanaria pada suster yang tengah sibuk memeriksa buku dihadapannya.
"Iya..... selamat sore juga nona.......Ada yang bisa saya bantu?" Ucap suster itu dengan senyum ramahnya.
"Dimana ruangan dokter Rosalia, dokter kandungan ?" Tanya Hanaria.
"Dari sini nona lurus kesebelah kiri saya, saat dibelokan koridor, pilih kekiri lagi, nanti nona akan melihat ruangan para dokter disana. Ruangan dokter Rosalia ada pada deretan nomor 3 saat masuk kesana." Jelas suster itu.
"Baik saya mengerti, terima kasih ya sus....." Ucap Hanaria dengan senyum ramahnya.
"Sama - sama nona......"
Hanaria bergegas melangkah sesuai petunjuk suster bagian informasi itu. Setelàh sampai diujung koridor, Hanaria berbelok kekiri. Benar saja, pada deretan ketiga, tertera nama Dokter Kandungan : Rosalia.
__ADS_1
Hanaria mengetuk pintu pelan. Belum ada jawaban. Ia mengulang untuk kedua kalinya masih pelan. Juga belum ada jawaban.
Hanaria mengetuk pintu ruangan dokter kandungan itu untuk ketiga kalinya sedikit lebih keras.
"Silahkan masuk......!" akhirnya terdengar suara lembut seorang wanita dari dalam.
Hanaria memegang kenop pintu, lalu mendorongnya dengan perlahan. Saat pintu terbuka, ia melihat seorang wanita berpakaian jas putih yang biasa dikenakan para dokter. Dokter itu sedang menundukkan wajahnya menuliskan sesuatu pada berkas dihadapannya.
"Selamat sore dokter, saya Hanaria, teman dari pasien yang bernama Firlita." Ucap Hanaria saat berada didepan meja dokter kandungan itu.
Dokter itu segera mendongakkan wajahnya melihat kearah Hanaria dengan tersenyum sambil membalas sapaan Hanaria.
"Selamat sore juga nona Haaaa.........." Ucapan dokter itu menggantung. Wajahnya nampak terkejut, demikan juga dengan Hanaria.
"Anda.......???." Hanaria dan dokter Rosalia sama - sama saling menunjuk dengan jarinya.
"Bukankah dokter temannya tuan muda Willy?" Hanaria yang masih mengenali wajah dokter Rosalia langsung berucap.
"Iya, itu saya nona Hanaria, tidak disangka ya kita bisa bertemu disini." Ucap dokter wanita itu ramah, sambil mengembangkan senyumannya.
"Ayo silahkan duduk nona....." Dokter Rosalia mempersilahkan Hanaria duduk dikursi yang ada dihadapan mejanya.
"Terima kasih dokter." Hanaria langsung mendudukan tubuh nya dikursi. Ia menatap wajah cantik dokter wanita itu yang sedang membenarkan letak kacamatanya.
"Nona Hana, senang bertemu denganmu. Saya memanggil anda kemari..... karena ada sesuatu yang perlu kita bicarakan mengenai nona Firlita. Kalau boleh saya tahu, apa hubungan nona Hana dengan nona Firlita? Tanya dokter Rosalie dengan wajah ramahnya.
"Firlita..... dia sahabat saya, dan saya sudah menganggapnya seperti adik saya sendiri." Terang Hanaria.
"Apa nona tahu kalau nona Firlita..... dia sedang mengandung?" Tanya dokter Rosalia lagi.
"Saya tahu dokter."
"Dimana suaminya, kenapa bukan suaminya yang mengantarnya kemari? Apakah mereka sedang bertengkar? Saya melihat beberapa luka lebam dan luka terbuka didahinya? siapa yang melakukannya? Itu sangat berbahaya bagi seorang wanita yang sedang hamil muda seperti nona Firlita." Ucap dokter Rosalia dengan pertanyaan beruntunnya.
...•••...
♡♡♡ Terima kasih buat kakak pembaca yang telah berkenan meninggalkan like dan comennya. Author berusaha lebih semangat lagi up nya...😁😁🙏♡♡♡
__ADS_1