
Siang itu, Hanaria dibawa pulang kerumah mertuanya oleh Willy bersama bayi kembarnya. Sepanjang perjalanan pulang, beberapa kendaraan roda 4 dan roda 2 product Mega Otomotif yang melintas di depan mobil mereka cukup mencuri perhatiannya.
"Willy," panggil Hanaria, berniat menanyakan apa yang tengah dilihatnya itu.
"Heum, Willy lagi, Willy lagi, telingaku mulai alergi mendengarnya," protesnya melirik sekilas pada Hanaria yang seketika tertawa menyadari perkataannya yang membuat suaminya itu sensi.
"Maaf, tidak sengaja Sayang, aku akan berusaha untuk tidak lupa ya," Hanaria masih tertawa, tangannya mengusap lembut tangan Willy yang terus pokus pada jalan dihadapannya, berharap suaminya yang memang tidak pernah protes dan marah pada dirinya selama ini masih mau memaklumi.
"Nah, begitu 'kan lebih enak didengarnya Sayang," ucap Willy sembari tersenyum senang.
"Cup," Willy dengan cepat mendaratkan kecupannya pada pipi kanan isterinya itu.
"Sayang, kau lagi menyetir," rona wajah Hanaria seketika menghiasi wajah cerahnya siang itu. "Itu berbahaya," ucapnya mengingatkan.
"Tidak, aku juga 'kan berhati-hati. Dan itu sebagai pengantar supaya baby Jo dan El cepat punya adik baru lagi." godanya, senang melihat wajah Hanaria yang semakin merona mendengar kelakarnya.
"Sepertinya untuk dua hingga tiga tahun kedepan kita harus menunda rencanamu itu Sayang," ujar Hanaria.
"Kenapa?" tanya Willy menunjukan rasa penasarannya.
"Aku perlu memberi jedah waktu pada dokter kandunganku untuk mempersiapkan dirinya dalam membantu persalinanku kalau aku hamil lagi nantinya," terang Hanaria.
__ADS_1
"Rosalia itu sudah profesional jadi dokter kandungan Sayang, jadi kau tidak perlu khawatir." pungkasnya.
"Aku setuju pendapatmu itu, tapi dokter Rosalia juga butuh kesiapan mental dan jantungnya mendengar teriakan-teriakan histerismu Sayang, supaya tensi darah tingginya tidak naik tiba-tiba saat membantu persalinanku," ungkap Hanaria melirik wajah Willy yang kini bersemu merah seraya terkekeh malu.
Di jok belakang, bibi Salu dan bibi Sun yang tengah menemani dua bayi kembar Willy dan Hanaria pura-pura tidak melihat dan mendengar namun keduanya tidak kuasa mengulum senyumnya masing-masing.
"Apa kau sengaja mengejekku dengan kejadian itu Sayang, heum?" Willy gemes, tangan kirinya berusaha meraih tubuh Hanaria disebelahnya untuk merengkuhnya.
Hanaria menghindar, ia merasa cukup puas melihat roman wajah Willy yang merona. Baginya, disaat seperti itu suaminya terlihat menggemaskan dan jauh lebih tampan.
"Akhirnya kita sampai juga," ucap Willy begitu mobilnya memasuki gerbang rumah megah kedua orang tuanya.
Hanaria tersenyum lebar begitu melihat sambutan keluarga besar suaminya yang berdiri diteras rumah. Dengan dibantu oleh Willy, ia menghampiri satu persatu para orang tua itu dan mencium punggung tangan mereka.
"Iya Mom," Willy menggandeng tangan Hanaria, dan membawanya menuju lift demi menghemat tenaga isterinya itu.
"Willy pandai membuat anak, lihatlah bayi-bayi gembul ini terlihat sangat tampan seperti dirinya." puji nyonya Agatsa, begitu Willy dan Hanaria sudah meninggalkan mereka. Ia nampak gemas melihat dua cicitnya yang sedang tertidur pulas itu.
"Mommy jangan lupa, baby-baby ini tampan karena ibunya juga cantik," sela Margareth turut memperhatikan anak-anak Willy dan Hanaria yang menjadi tontonan bagi mereka.
"Dan semoga saja mereka tidak sebandel ayahnya," celetuk Moranno ikut berkomentar.
__ADS_1
"Semoga harapanmu itu terwujud Moranno. Tapi nenek sangsi, buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya." ucap nyonya Naomi menimpali lalu terkekeh senang, memperlihatkan kerut-kerut kulit tua diwajahnya.
"Oeekk! Oeekk! Oeekk!" kedua bayi kembar itu tiba-tiba saja menangis nyaring, merasa terganggu akan suara-suara orang yang ada disekitar mereka.
Bukannya mendiamkan, para orang tua itu malah tersenyum lebar menikmati tangisan dua bayi itu yang mulai menggeliat-geliat kesana kemari, karena tidak segera dihampiri.
"Nyonya Naomi ternyata sangat benar, mereka sangat mirip ayahnya, suara tangisannya begitu nyaring," ucap nyonya Agatsa sangat bersemangat.
"Kalau begini caranya, cucu mantuku itu harus segera hamil lagi, supaya dirumah ini banyak anak-anak dan aku akan betah disini," sambungnya lagi masih bersemangat.
"Jangan seperti itu juga Mom, kasihan Hana, dia juga 'kan tengah meniti kariernya." ucap Moranno pada ibunya.
Mendengar perkataan Moranno putranya, nyonya Agatsa menegakkan kepalanya mengalihkan pandangannya dari baby Joe dan baby El yang masih saja menangis.
"Moranno, Mommy lebih suka kalau Hanaria melepaskan perusahaan-perusahaan tambang yang bermasalah itu. Aku yakin, wanita monster itu sengaja mengalihkan perusahaan itu pada cucu mantuku itu, supaya cucu mantuku itu mendapat masalah dan ia berharap hal itu akan berpengaruh pada keluarga besar kita."
"Huh tidak semudah itu. Di fikirnya dia pintar? Mimpi! Aku sudah meminta Billy untuk melakukan penyelidikan begitu Hanaria menyanggupi memegang perusaha miliknya. Dan aku akan membuat wanita jahat itu mendekam lebih lama dalam jeruji besi itu. Kalau perlu, sampai dirinya membusuk disana," geram nyonya Agatsa, memperlihatkan urat-urat wajah dan lehernya yang seketika menegang.
"Oeek! Oeek! Oeek!" Suara baby Jo dan baby El semakin bertambah nyaring, lidah-lidah mungil mereka nampak bergetar memperdengarkan suara tangis yang memekikan telinga
"Duh Sayang, cup-cup-cup, maafkan kami yang tua-tua ini ya," nyonya Agatsa segera tersadar.
__ADS_1
"Sebaiknya kita bawa masuk saja ya Mom, mungkin mereka kepanasan dan juga kehausan," ucap Yurina hati-hati, takut ibu mertuanya itu tersinggung pada ucapannya.
Bersambung...👉