HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
135. Berkabut Dan Membara


__ADS_3

Tubuh Hanaria dan Willy masih beguling - guling ditempat tidur. Terkadang Willy yang berada diatas dan terkadang Hanaria yang mengungguli.


Keduanya ternyata sama - sama pegulat sejati, tidak ada yang mau mengalah. Hingga akhirnya posisi Hanaria dibawah dan langsung dikunci oleh Willy.


"Lepaskan aku......" Ucap Hanaria yang masih ada dalam cengkraman pelukan Willy. Nafas keduanya terdengar memburu dan tersengal - sengal.


"Tidak akan, sebelum kita menyelesaikan malam pertama kita." Ucap Willy menakuti Hanaria. Ia merasa senang saat melihat wajah Hanaria yang ada dibawahnya terlihat takut.


"Tolong, lepaskan aku..... Aku minta maaf....." Rengek Hanaria yang sudah tidak bisa bergerak akibat kuncian Willy yang menekan dan menindih??nya dengan kuat. Selain itu tubuhnya sudah merasa sangat lelah walau hanya sekedar berguling - guling saja.


Sprei ranjang pengantin sudah awut - awutan tidak karuan, sementara bantal - bantal sudah terhempas keluar dari kelambu pengantin mereka.


Hanaria menggerakan tubuhnya dibawah Willy, berusaha melepaskan diri. Akibat pergerakan itu, Willy merasakan lembutnya dua benda kenyal yang menyentuh dada telanjangnya.


Aliran - aliran darah diseluruh tubuhnya tiba - tiba saja seperti terkena sengatan listrik. Dan ada sesuatu yang menegang dibawah sana.


"Ini tidak benar...... Sepertinya otakku sudah mulai tidak waras. Aku tidak boleh melakukannya malam ini, apalagi ditempat ini." Gumam Willy didalam hati.


Ia mulai melonggarkan kunciannya pada tubuh Hanaria, sambil menahan hasrat kelelakiannya.


Hanaria yang merasa kuncian Willy mulai melemah, dengan segenap tenaganya yang masih tersisa, ia segera menggulingkan tubuh Willy diatasnya menjadi dibawahnya.


Dengan senyum kemenangan ia menatap wajah Willy dibawahnya yang sudah mulai berkabut.


"Kau fikir mudah mengalahkanku heum?!" Ucap Hanaria, ia tersenyum puas diatas tubuh Willy.


"Iya...... Aku..... Mengaku kalah...... Sekarang, kumohon menyingkirlah dari atas tubuhku, cepat......!" Pinta Willy, suaranya tersendat - sendat, ia berusaha keras menahan hasratnya yang semakin bergelora.

__ADS_1


Dalam hati, Willy merutuki kesalahannya sendiri yang sudah bermain api malam ini, ia rasanya sudah mau terbakar dengan gelora hasratnya yang tidak mau padam itu.


"Tidak semudah itu......! Saat aku memintamu menyudahi semuanya ini, kau tidak perduli kan? Sekarang kau sudah kalah, lalu gantian kau yang meminta menyudahi semuanya......" Ucap Hanaria, tanpa sengaja ia menggerakkan tubuhnya yang berada diatas tubuh Willy, membuat suaminya itu semakin kalang kabut, lenguhannya mulai terdengar seperti mendesis.


"Kenapa suaramu mendesis seperti ular begitu?" Tanya Hanaria menatap wajah Willy yang semakin berkabut menahan hasratnya.


"Cukup, jangan bergerak lagi! Nanti kau dipatuk ular berbisa dibawah sana!" Ucap Willy memperingatkan, suaranya masih terdengar mendesis.


"Apa? Ular??" Hanaria yang fobia pada ular langsung memeluk erat tubuh Willy dibawahnya. Sambil menggeser sedikit posisinya diatas Willy supaya lebih merasa aman.


"Aauhkkksss......." Pelukan erat Hanaria dan gerakan tubuh isterinya itu semakin memacu hasratnya. Willy mulai menggigil, keringat dingin mengucur deras dari tubuhnya.


"Sudah ku bilang..... jangan bergerak lagi....... Kau membuatku sakit kepala......." Keluh Willy dengan wajah sangat menderita.


"Bagaimana aku tidak bergerak, seperti ada kayu bulat yang menusuk selangkanganku, tidak enak rasanya......" Ucap Hanaria jujur, ia menatap wajah Willy dibawahnya, yang sudah memejamkan matanya menahan sesuatu.


"Apa? Ular?? Bagaimana bisa ada hewan melata itu masuk dalam kelambu pengantin kita?" Hanaria semakin merasa takut saat mendengar kata - kata ular dari mulut suaminya itu. Ia mulai bergerak tidak karuan diatas tubuh Willy, membuat Willy semakin menggeliat - geliat tidak karuan dibawahnya.


Bila bisa memilih, Willy hanya ingin pingsan saja bila diperhadapkan pada situasi seperti saat itu. Namun kenyataannya, tidak ada hal yang bisa membuatnya pingsan selain harus menghadapi semua kenyataan dan situasi yang semakin tidak bisa ia kendalikan.


"Bukan ular sungguhan yang kumaksud...... Tapi senjata pamungkasku......." Ucap Willy dengan suara masih mendesis. Ia berusaha sabar pada Hanaria, dan merasa gemas saja, kenapa dalam situasi seperti ini kecerdasan isterinya itu tidak bisa berfungsi.


"Senjata pamungkas??" Hanaria mematung. Ia berusaha mencerna ucapan Willy yang masih menggeliat - geliat dibawahnya.


Hanaria mulai tidak merasa takut seperti sebelumnya, karena bukan ular melata yang mengerikan, tetapi hanya senjata pamungkas saja. Itu tidak terlalu berbahaya dibandingkan ular, fikirnya didalam hati. Ia kembali menggerak - gerakan tubuh bagian bawahnya, mencoba merasakan senjata pamungkas apa yang dimaksud oleh suaminya itu, jiwa penasarannya mendadak mendorongnya melakukan hal itu.


Hanaria masih memeluk Willy dengan kedua tangannya yang mendekap erat tubuh suaminya itu. Perlahan ia mengulurkan tangan kirinya kebawah, berusaha mencari tahu benda apa yang dari tadi mengganggu bagian selangkangannya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan.......??!!" Mata Willy langsung mendelik saat Hanaria menyentuh bagian sensitifnya.


"Hanya penasaran saja, dan juga ingin tahu..... benda keras, dan sedikit kenyal ini membuatku tidak nyaman sejak tadi." Ungkap Hanaria sambil menekan - nekan dan sedikit memijit apa yang sedang disentuhnya dibalik kain celana panjang Willy.


Willy yang sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan Hanaria, tanpa berfikir panjang lagi langsung menggulingkan tubuh Hanaria diatasnya kembali diposisi dibawah tubuhnya lagi.


Hanaria terkesiap, ia langsung merasa tegang saat baru menyadari apa yang telah disentuhnya barusan. Dan itu semua sudah terlambat. Willy sudah kembali berada diposisi atas tubuhnya.


"Kenapa?? Apa kau takut?? Dan sudah tau, benda apa yang sengaja kau sentuh dengan jarimu itu?? Itu bisa membuatmu memiliki banyak anak kembar......." Ucap Willy mulai meraba - raba tubuh Hanaria.


"Aku sudah memperingatkanmu berkali - kali, tapi kau tidak mau mendengarkanku......" Imbuhnya lagi.


"Maafkan aku..... Sebelumnya aku tidak tahu, tapi sekarang aku sudah mengerti......" Sahut Hanaria mulai tergagap, ia tahu, dalam hal ini ia sudah sangat bersalah pada suaminya itu.


"Aku mohon, maafkan aku....." Wajah Hanaria nampak memelas.


Willy sebenarnya merasa kasihan pada isterinya itu, tapi ia sudah tidak mampu menjinakkan hasratnya yang sudah terlanjur membara.


Hanaria berusaha berontak, saat Willy mulai melakukan aksinya. Kedua pasang pengantin baru itu tidak menyadari bila apa yang mereka lakukan terdengar hingga sampai keluar.


Beberapa warga yang sempat mendengarkan suara - suara berisik yang tak jelas, mulai berbisik - bisik sambil berusaha menahan senyum.


"Bruggghhh........ Kreeettttakkkkk"


Moranno, pak Muri, Billy, pak Arta, Reymon, kepala dusun dan beberapa warga pria lainnya berlarian menuju pintu bilik pengantin. Saat mendengarkan suara keras dari dalam bilik pengantin yang mengejutkan mereka.


Para ibu - ibu dan wanita lainnya hanya duduk, sambil mengawasi dari kejauhan.

__ADS_1


Sesampainya didepan bilik pengantin, para orang tua dan pria dewasa itu saling berpandangan sesaat. Mereka nampak ragu untuk membuka pintu. Namun mereka juga khawatir, jangan - jangan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada kedua pengantin baru itu didalam.


__ADS_2