HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
282. Pamit Lewat Pesan


__ADS_3

Sudah empat hari Billy tidak menghubungi Rosalia pasca hukuman terakhir ayah gadis itu padanya, mungkinkah Billy marah dan mulai menjauhinya? Pemikiran itu membuat gadis berprofesi dokter kandungan sama seperti ibu sambungnya itu uring-uringan. Namun ia tetap profesional dalam berkerja.


Begitu istirahat tiba, Rosalia buru-buru memeriksa ponselnya berharap Billy menghubunginya. Ternyata benar, ada dua panggilan tidak terjawab saat ia ada diruang operasi dan satu pesan dari Billy.


Rosalia tersenyum senang, ada bahagia direlung hatinya, ternyata Billy tidak marah dan tidak melupakannya.


Seketika senyum dan rasa bahagia itu sirna berganti kalut yang begitu menyesak didalam dadanya setelah membaca isi pesan dilayar ponselnya. Rosalia buru-buru menekan nomor Billy, namun jawaban dari seberang sana sungguh mengecewakan karena sudah berada diluar jangkauan.


Masih dengan perasaan kalutnya, Rosalia menelpon kerumahnya.


📞"Hallo selamat siang, rumah kediaman tuan Hartawan. Ada yang bisa saya bantu?" terdengar suara ramah bibi Uni dari seberang sambungan telepon.


📞"Semalam apa ada Billy datang kerumah Bi?" tanya Rosalia mengingat cuplikan pesan Billy padanya tanpa menjawab salam asisten rumah tangganya itu.


📞"Iya Non, tapi disuruh pergi lagi sama Tuan, ayah Non," terang bibi Uni polos.


Lutut Rosalia terasa lunglai, mata memerah, sesak dalam dada kembali terasa dan menyerang hingga ke ulu hati dokter cantik itu. Rosalia seketika berdiri sempoyongan dibelakang meja kerjanya.

__ADS_1


📞"Kenapa? Kenapa bibi tidak memberitahuku kalau Billy datang.semalam?" tanya Rosalia putus asa Satu tangannya memegang ujung mejanya, bertumpu disana supaya dirinya tidak terjatuh.


📞"Maafkan saya Non, Tuan melarang dan memerintahkan saya kembali kekamar belakang," sahut bibi Uni dengan perasaan tidak nyaman.


📞"Pagi tadi saya berencana untuk memberitahu Non saat sarapan, tapi saya keburu ke pasar karena bahan-bahan didapur sudah habis," imbuhnya lagi.


📞"Sudahlah Bi, tidak apa-apa," Rosalia langsung menutup ponselnya dengan suara terdengar semakin lesu.


Diseberang sana bibi Uni menatap gagang teleponnya, mendengar suara lesu anak majikannya, hatinya turut merasakan kesedihan sang Nona majikannya.


Bila pemuda setampan dan sebaik itu datang kerumah untuk mendekati anak perempuannya, tentu saja ia akan berbangga hati, sayangnya itu tak mungkin terjadi, batin sang bibi.


Wanita yang sudah belasan tahun menjadi asisten rumah tangga dirumah sang jendral itu lalu meletakan gagang telepon pada tempatnya dengan hati-hati lalu kembali beranjak kebelakang, melanjutkan tugas-tugasnya yang sempat tertunda.


Sementara itu, Rosalia kembali menempelkan ponselnya pada daun telinganya,.menunggu panggilannya diangkat. Nafas gadis itu memburu menahan gejolak dalam dadanya.


📞"Hallo Sayang, Papah lagi nyetir, sebentar lagi tiba dirumah sakit bersama Mamahmu, kita akan makan siang bertiga," terdengar suara Hartawan yang bernada gembira diseberang sambungan telepon. Rosalia membiarkan ayahnya menyelesaikan kalimatnya hingga tuntas dengan perasaan semakin bergejolak.

__ADS_1


📞"Tidak perlu menjemputku makan siang. Papah makan siang saja berdua sama Mamah. Rosa tidak berselera," jawab gadis itu datar.


📞"Sayang, kau tidak boleh melewatkan makan siangmu, nanti kau sakit," kali ini suara Rosalie yang terdengar. Rupanya ponsel ayahnya sengaja di loadspeaker agar ibu sambungnya itu bisa mendengarnya juga.


📞"Biarkan saja Mah, biar saja Rosa sakit. Mungkin itu lebih baik, biar Papah puas!" pekik Rosalia disertai ledakan tangisnya yang tidak bisa terbendung lagi.


📞"S-sayang, apa yang terjadi?" Rosalie kaget sekaligus panik, ia melirik suami yang tengah menyetir disebelahnya dengan raut penuh tanya, tapi hanya disambut datar saja oleh laki-laki itu.


📞"Tanyakan pada Papah Mah! Kenapa dia tega mengusir Billy lagi semalam dari rumah kita, mungkin saja Billy mau berpamitan karena diberi tugas diperbatasan!" Rosalia kembali memekik, ia benar-benar hilang kendali saat mengingat Billy hanya berpamitan dengannya lewat pesan singkat. Entah kapan mereka bisa bertemu lagi batinnya.


📞"Hallo, hallo! Sayang!" Rosalie semakin panik, putrinya sudah memutuskan saluran telepon secara sepihak.


"Kenapa Pah? Kenapa kau lakukan itu pada putri kita? Kau sudah menyakiti hatinya," Rosalie terlihat kesal dan juga marah.


Selama ini dirinya selalu berusaha mentolerir sikap keras suaminya pada putri sambungnya itu, tapi hari ini ia sudah tidak bisa membendung lagi perasaan marahnya mendengar tangisan putrinya yang harus berpisah untuk waktu yang tidak mereka tahu.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2