HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 41 Pilihan


__ADS_3

"Berapa yang kau butuhkan untuk menutup mulutmu atas kasus ini nona Hana? Aku bisa membayarmu sesuai permintaanmu. Aku akan membiayai adikmu itu juga, beserta bayinya hingga dewasa, asal kau mencabut laporanmu." Nyonya Mingguana memberi penawaran. Tatapannya tenang, berbeda dengan putranya yang terlihat gelisah.


"Tidak usah memikirkan tentang menutup mulut saya nyonya." Hanaria berusaha menahan gejolak emosinya dengan mengambil napas dalam dan mengeluarkannya kembali dengan pelan.


"Tapi bayi didalam kandungan Firlita, itu yang perlu nyonya pikirkan..... bayi itu perlu satu keluarga, yang terdiri dari seorang ayah dan seorang ibu yang mengasuh dan mendidiknya hingga dewasa. Apakah anda sebagai neneknya rela, melihat salah satu keturunan anda terlantar, terlunta - lunta diluar sana. Uang nyonya itu tidak mampu menciftakan bayi itu menjadi manusia yang lebih baik, bila tidak dididik dengan baik oleh kedua orang tuanya secara bersama. Dimasa depan, anda tidak akan pernah tahu, bayi yang anda tolak itu akan menjadi siapa. Bisa saja dia akan melebihi anda neneknya dan ayahnya yang sekarang. Anda sudah tua, hanya punya anak tunggal. Bila anda sudah tidak berguna, mungkin saja anak anda ini akan membuang anda karena tabiatnya yang buruk, sebagai balasan anda telah memperlakukan cucu anda hari ini." Tutur Hanaria panjang lebar.


"Cukup omong kosongmu nona.... aku tidak yakin kau membantu adikmu tanpa embel - embel pamrih. Kau tentu berharap, jika usahamu berhasil menikahkan adikmu itu denganku, kau pun akan mengambil keuntungan dari kehidupan keluarga kami, benarkan??" Tuduhnya sambil tersenyum sinis.


"Saya tidak heran dengan ucapan anda tuan. Sebab, orang yang jahat, akan mengeluarkan segala perkataannya yang jahat, dari dalam hatinya yang penuh dengan kejahatan, itulah anda....... tuan Mahendra." Sahut Hanaria dengan ucapan sarkasnya.


"Kau mengata - ngataiku.... kau akan tahu akibatnya.....!" Hanaria hanya tersenyum sinis saat mendengar ancaman Mahendra.


"Cukup Mahendara....." Tegur nyonya Mingguana menatap putranya tajam. Mahendra lalu memukul meja dihadapannya dengan keras karena kesal. Ia mengacak - acak rambutnya hingga berantakan. Hanaria dan nyonya Mingguana yang melihat hal itu hanya menatap Mahendra dengan pikirannya masing - masing.


"Jadi bagaimana nona Hana..... untuk tawaran saya yang tadi, apakah anda mau menerimanya?" Tanya nyonya Mingguana kembali kepokok permasalahan.


Hanaria menatap nyonya Mingguana dengan tatapan sedih penuh emosi.


"Semoga hanya anda saja nyonya Mingguana, orang kaya yang mengukur semuanya dengan uang. Merasa dapat membeli segala sesuatu dengan uang. Pantas saja, didikan anda telah menciftakan putra anda menjadi manusia yang tidak bertanggung jawab seperti tuan Mahendra." Ketus Hanaria.


"Saya hanya ingin tuan Mahendra menikahi Firlita dan memberi adik perempuan saya itu status yang jelas, demikian juga dengan bayi yang ada dalam kandungannya......bukan bayaran." Tegas Hanaria lagi.


"Jika itu yang anda putuskan..... dengan sangat menyesal kami tidak dapat menyanggupinya." Sahut nyonya Mingguana dingin dan datar.


"Itu artinya..... Anda memberikan saya lampu hijau untuk melanjutkan kasus ini." Tegas Hanaria lagi.

__ADS_1


"Silahkan...... Saya tidak berkeberatan jika anda mampu nona HANARIA...." Ucap nyonya Mingguana dengan penuh penekanan, tatapan matanya memperlihatkan senyum jahatnya, demikian juga dengan Mahendra yang merasa selalu terlindungi oleh ibunya.


...•••...


Sepulang berkerja, Hanaria menjemput Firlita dirumah sakit, Sore itu Firlita sudah diperbolehkan pulang. Segala administrasinya sudah Hanaria selesaikan diloket petugas dan menstransfer sejumlah uang lewat rekening rumah sakit.


"Kak Hana terima kasih banyak untuk semua yang kakak lakukan bagiku. Aku mungkin tidak bisa membalasnya, karena terlalu banyak kebaikan kakak...." Ucap Firlita haru, ia duduk disamping Hanaria yang tengah mengemudi sambil memperhatikan jalan didepannya.


"Sama - sama Fir.... Aku pun tidak berharap balasan darimu, aku ikhlas kok Fir....." Sahut Hanaria dengan menyunggingkan senyum tipis diwajahnya sambil menatap sekilas kearah Firlita yang duduk disebelahnya.


"Apa itu ditanganmu yang sedang kau pegang?" Tanya Hanaria saat melihat Firlita sejak masuk telah memegang benda itu ditangannya.


" Ini??" Tanya Firlita menunjukan sapu tangan yang sedang ia pegang untuk memastikan maksud pertanyaan Hanaria. Hanaria menganggukan kepalanya.


"Aku bermaksud meminta tolong pada kak Hana untuk mengembalikan ini padanya, kak Hana kan mengenalnya? Aku lihat dia sama baiknya dengan kak Hana." Ucap Firlita sambil mengingat pria yang menolongnya itu sambil tersenyum simpul.


"Iya, kakak mengenalnya. Tapi sepertinya dia tidak membutuhkannya lagi, dia kan orang kaya, dia pasti sudah membelikan yang baru sebagai gantinya. Kau simpan saja atai buang saja." Sahut Hanaria asal, itu karena dirinya tidak menyukai CEOnya itu.


"Kok kak Hana bicara seperti itu. Kak Hana kan pernah bilang, harus menghargai kebaikan orang. Jadi menyimpan dengan baik atau mengembalikan barang miliknya adalah salah satu wujud kita menghargai kebaikan orang itu kak." Ucap Firlita sambil memperhatikan sapu tangan yang terlipat rapi ditangannya.


"Terserah kau saja Fir....." Ucap Hanaria memutuskan tidak mau membahas masalah itu lagi.


"Kak Hana....." Panggil Firlita lagi sambil melihat kearah Hanaria yang masih berkonsentrasi dengan kemudinya.


"Iya, ada apa Firlita......?" Sahut Hanaria tanpa menoleh kearah Firlita.

__ADS_1


"Pria yang menolongku itu..... dia sangat tampan ya kak..... aku saja tidak bisa melepaskan pandanganku dari wajahnya saat ia menggendongku, wajah tampannya itu tidak membosankan." Ucap Firlita sambil membayangkan wajah pria yang menolongnya itu.


"Firlita..... Firlita..... Kau itu ya, sempat - sempatnya memperhatikan wajahnya segala...." Dengus Hanaria. Dikantor ada teman - temannya yang mengagumi majikannya itu, dan sekarang ada Firlita juga.


"Ya sempatlah kak, wajahnya saja hanya berjarak 20 senti saja dari wajahku. Walau lampu - lampu malam itu tidak terlalu terang benderang, tapi wajah tampannya itu sangat jelas terlihat." Sahut Firlita antusias, Hanaria hanya bisa memutar bola matanya malas mendengar bosnya itu terus - menerus dielu - elukan ketampanannya.


"Ketampanan seseorang itu relatif Firlita. Coba saja kalau ia berulah dan melakukan kesalahan pada kita, pasti tidak terlihat tampan lagi kan? Misalnya pacarmu itu..... si Mahendra gemblung itu." Ucap Hanaria mendadak bad mood mengingat laki - laki yang telah menghamili Firlita itu.


"Oya kak.... ngomong - ngomong tentang Mahendra, tadi ada dua polisi yang datang untuk menanyaiku. Ya.... aku jelaskan saja semuanya, sesuai dengan apa yang telah terjadi, seperti pesan kak Hana." Ucap Firlita memberi kabar pada Hanaria.


"Apakah kak Hana ingin memenjarakannya??" Tanya Firlita kembali menatap wajah Hanaria. Hanaria tidak langsung menjawab, ia nampak berpikir sejenak sebelum mengucapkan sesuatu pada Firlita. Matanya masih pokus pada jalan raya didepannya.


"Itu sepertinya pilihan terakhir Fir..... Kak Hana menginginkan Mahendra menikahimu." Sahut Hanaria akhirnya, setelah beberapa detik ia sempat terdiam.


Firlita mendelikkan matanya menatap Hanaria disampingnya, ia tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya hingga wajahnya langsung memucat.


"Kak Hana serius berniat melakukan hal itu.....?" Wajah Firlita masih nampak pucat.


"Iya Fir..... kak Hana serius." Sahut Hanaria membenarkan perkatannya.


...•••...


♡♡♡ Terima kasih buat kakak pembaca yang telah berkenan meninggalkan like dan comennya. Author berusaha lebih semangat lagi up nya...😁😁🙏♡♡♡


Yukz baca novel author yang satu ini 👇👇

__ADS_1


__ADS_2