
"Nona Hanaria!" seru tuan Guandoo dari ujung koridor wokshop. Hanaria menoleh, ia menghentikan langkahnya sebelum masuk ke lift, menunggu tuan Guandoo yang melangkah terburu-buru kearahnya.
"Apakah Nona Hana sedang terburu-terburu?" tanya Guandoo, saat dirinya sudah berada didekat Hanaria.
"Sebenarnya iya tuan Guandoo, ada banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan karena beberapa hari ini saya tidak masuk berkerja," sahut Hanaria.
"Katakan saja, saya akan berusaha meluangkan waktu," sambung Hanaria ketika melihat wajah pria paruh baya yang rambutnya mulai memutih itu nampak bahagia.
"Desain yang Nona buat, unitnya sudah siap. Saya memang berharap Nona meluangkan waktu untuk melihatnya bahkan mencobanya. Apakah Nona tidak keberatan?" kata Guando penuh harap.
"Baiklah, saya jadi penasaran dengan hasilnya tuan Guandoo. Ayo bawa saya kesana sekarang," kata Hanaria bersemangat.
"Mari Nona," ucap tuan Guandoo tidak kalah bersemangat. Keduanya lalu berjalan menyusuri koridor menuju workshop.
Beberapa pegawai yang tengah melintas bersisian dengan Hanaria dan tuan Guandoo sebagian ada yang membungkuk hormat, sebagian lagi ada yang bersikap acuh, dan ada yang tersenyum sinis namun tidak mengucapkan kata apapun.
Hanaria hanya membantin didalam hatinya, tetap bersikap positif dan tidak berburuk sangka, ia ingat dirinya berada di Perusahaan itu adalah untuk berkerja, bukan karena alasan lainnya.
Sejak awal dirinya berkerja di Mega Otomotif, Hanaria sudah mendapat kesan yang kurang ramah dari sebagian besar pegawainya, termasuk juga para petingginya, jadi hal itu tidak mengagetkannya. Demikian pula halnya dengan tuan Guandoo, ia pun bersikap sama halnya dengan Hanaria, lebih memilih tidak perduli.
"Tuan Guandoo," Hanaria melirik sekilas engineering senior yang berjalan disebelahnya lalu kembali menatap kedepan.
__ADS_1
"Iya Nona Hana, ada apa?" tanya tuan Guandoo, ia turut menoleh sebentar menatap Hanaria dan kembali menatap kedepan, pokus pada jalan dihadapannya.
"Alasan apa yang membuat tuan Guandoo bertahan di Perusahaan yang para pegawainya sangat tidak ramah ini?" tanya Hanaria, hati kecilnya lumayan penasaran mengapa sebagaian besar para pegawai itu mampu bertahan hingga belasan tahun atau bahkan puluhan tahun hingga mereka menua seperti tuan Gundoo salah satunya.
Tuan Guandoo tidak langsung menjawab, ia terlebih dahulu menyungging senyum diujung bibirnya.
"Awalnya saya tidak betah saat bergabung dengan orang-orang yang hanya perduli pada dirinya sendiri, dan sering terlintas dibenak saya untuk pergi dari perusahaan ini Nona, mencari perusahaan yang pegawainya bisa lebih berlaku ramah," sahutnya dengan tatapan lurus kedepan dan fikiran yang menerawang masa lalu yang telah ia lalui bertahun-tahun lamanya ditempat itu. Hanaria berusaha menyimak setiap kata yang pria itu uraikan.
"Saya fikir, disini saya sedang berkerja, memberdayakan ilmu yang sudah saya terima dari dunia pendidikan yang juga bertahun-tahun saya pelajari dan tekuni. Rasanya sangat tidak adil untuk diri saya sendiri, bila saya pergi hanya karena alasan ketidak ramahan sebagian besar para pegawai yang ada disini," ungkapnya dengan hati-hati.
"Saya berusaha memulai dari diri saya sendiri Nona, berusaha menjadi pribadi yang nyaman dalam team engineering kami. Ini memang tidak mudah, lama kelamaan kami bisa saling memahami dan menyesuaikan diri satu sama lain, tanpa memaksa teman-teman dalam satu team kami merubah dirinya, kami menjadi diri kami sendiri. Tanpa terasa, akhirnya kami menjadi team yang solid," ujar tuan Guandoo dengan senyuman.
Hanaria tertegun mendengar ucapan tuan Guandoo, ia teringat saat dirinya berada didalam workshop mereka, kesolidan para team engineering itu memang dapat terlihat saat mereka menyempurnakan desain yang dirinya buat.
"Sekalipun hasil karya kami sering diragukan, namun kami tetap membuat hasil karya. Itu bukti kecintaan kami pada pekerjaan yang tengah kami geluti. Urusan penjualan, ada team marketing yang mengurusnya.Kita semua memiliki tanggung jawab masing-masing , sesuai dengan tugas pekerjaan kita di Perusahaan ini," sambung tuan Guandoo lagi.
"Iya, Anda benar tuan Guandoo, saya setuju itu," Hanaria merasa kagum pada pemikiran pria berumur itu, dia bukan hanya tua secara usia, tapi juga memiliki prinsip dan pandangan sendiri dalam hidupnya yang tidak terpengaruh oleh sikap orang lain diluar dirinya
"Nona HANARIA! Ternyata berani juga kau memunculkan batang hidungmu di perusahaan ini, setelah kau memenjarakan pemilik dan putra tunggalnya," ketus Lucy tidak senang, membuat Hanaria dan tuan Guandoo mengjentikan langkah mereka.
Hanaria menatap datar pada Lucy yang berdiri sambil bersedekap dada diambang pintu workshop yang akan ia masuki bersama tuan Guandoo.
__ADS_1
"Tuan Guandoo, apa ada pintu lain selain pintu ini?" tanya Hanaria menoleh pada tuan Guandoo disebelahnya.
"Hanya pintu ini Nona," sahut tuan Guandoo.
"Nona Lucy, disini tempat kita berkerja, bukan membahas hal-hal pribadi. Mohon menyingkirlah, supaya kami bisa lewat," ucap Hanaria kembali menatap Lucy yang masih tidak mau beranjak dari tempatnya berdiri.
"Disini kau bukan benar-benar ingin berkerja nona Hana, tapi berusaha mencari keuntungan. Kau fikir aku tidak tahu niat busukmu selama ini,"
"Kau sengaja menikahkan adik bodohmu itu dengan Mahendra karena hartanya, dan berkerja disini untuk mengambil perhatian Bibi, dan setelah kau mendapatkan semuanya itu, tanpa perasaan kau memenjarakan mereka untuk menguasai semua harta milik mereka. Dasar munafik! Manusia licik!" tuduh Lucy dengan geram.
Hanaria tidak langsung menjawab, ia hanya menatap datar mantan kekasih suaminya itu. Bagaimana bisa suaminya itu pernah punya hubungan dengan wanita picik dihadapannya ini. Suaminya pun tidak pernah bercerita banyak tentang hubungan yang pernah mereka jalani sehingga Hanaria tidak banyak tahu tentang model cantik itu.
"Aku rasa mendiang Firlita yang kau sebut bodoh itu jauh lebih pintar darimu nona Lucy," kata Hanaria disertai senyum sinisnya, membuat Lucy menurunkan tangannya yang menyilang didepan dada dengan tatapan tidak suka karena dianggap wanita bodoh.
"Mendiang Firlita sanggup membantu suami sah-nya yang bernama tuan Mahendra menemukan putrinya yang hilang, yang ia cari-cari selama ini, yang sudah dinyatakan mati oleh ibu anaknya sendiri, walau hal itu dilakukannya tanpa sengaja, karena mengikuti permintaanku yang ingin membuktikannya,"
"Dan tuan Mahendra dipenjara karena sengaja mendorong isterinya terjatuh dari lantai atas rumahnya hingga meninggal, begitu pula dengan nyonya Mingguana yang turut serta menyembunyikan kejadian yang sebenarnya menimpa menantunya," ungkap Hanaria singkat.
"Itu sebenarnya yang terjadi." imbuh Hanaria menutup penjelasan singkatnya.
"Tapi tidak seharusnya kau memenjarakan keduanya, mereka itu adalah iparmu dan majikanmu, kau sangat tega!" kata Lucy masih belum bisa menerima bila wanita yang dipanggilnya Bibi itu mendekam dipenjara.
__ADS_1
"Kau salah nona Lucy. Bila aku yang membalas, mereka tidak ada didalam penjara saat ini, tapi nyawa akan dibalas dengan nyawa. Karena negara dimana kita berada adalah negara hukum, maka hukuman yang harus mereka terima sesuai dengan undang-undang yang berlaku," jelas Hanaria dengan giginya yang menggeretak geram.
Bersambung...👉