
"Uang sebanyak ini, apa ini hasil gajimu Hana.....?" Tanya pak Muri. Ia meletakkan kembali diatas meja, bandelan - bandelan rupiah yang telah ia masukan kedalam amplop cokelat berukuran kertas HVS itu.
Tuan Muri menatap wajah putrinya yang duduk diseberang meja tamu dengan lekat, seolah mencari kejujuran dimata putrinya itu, demikian pula halnya dengan ibu Muri. Bagi mereka uang itu terlalu banyak, dan bagaimana mungkin dalam waktu tiga tahun berkerja, putri mereka bisa menabung sebanyak itu dari gajinya.
"Hana..... ayah dan juga ibumu selama ini telah mengajarkan nilai - nilai kebenaran dalam keagamaan maupun kemasyarakatan. Kami orang tuamu berharap, kau tidak melupakan semuanya itu walau kau tinggal dikota yang menyajikan banyak kemudahan dalam mencari uang dan melihat gaya hidup mewah orang - orang disana. Tetaplah menjadi diri sendiri, pribadi yang jujur dan dapat dipercayai nak." Ucap pak Muri masih menatap wajah Hanaria yang tetap tenang mendengar semua perkataan ayah dan juga ibunya itu.
"Ayah, dan juga ibu.... selama ini, Hana memang selalu ingat akan nasihat dan juga pengajaran yang telah ayah dan ibu berikan pada Hana sejak kecil. Itu tetap Hana amalkan hingga sekarang." Sahut Hanaria.
"Hana selalu menjaga diri dan juga nama baik keluarga kita, dimanapun, dan kemanpun Hana pergi." Ucapnya lagi menambahkan.
"Bagi Hana nama baik, harga diri, jauh lebih berharga dari pada harta apapun didunia ini. Jadi Hana selalu berusaha dengan baik untuk menjaga nama baik keluarga, jangan sampai tindakan yang Hana lakukan bisa membuat malu keluarga kita."
"Semua uang yang ada ini, bukan dari gaji Hana. Tabungan gaji Hana, sudah Hana pergunakan untuk membeli rumah sederhana dan mencicil mobil seperti yang pernah Hana ceritakan pada ayah dan ibu dulu.
"Uang ini diberikan tuan Doffy, atasan Hana, dari hasil Hana membantu membuat design renovasi bangunan cafe salah satu kenalannya. Ini Hana punya bukti...." Hanaria memperlihatkan lembaran poto coppy pada ayah dan ibunya.
"Apa ini Hana?" Tanya sang ayah tidak mengerti melihat benda putih yang bertuliskan nilai angka yang cukup besar.
"Ini namanya cek ayah, warna aslinya tidak putih seperti kertas ini. Ini hanya poto coppy saja, yang sengaja Hana buat dan simpan untuk berjaga - jaga, siapa tahu dikemudian hari diperlukan. Yang aslinya sudah Hana serahkan ke bank untuk mencairkan angka yang tertera dikertas ini saat dalam perjalanan pulang kemari ayah." Jelas Hana. Pak Muri dan ibu Muri mengangguk - anggukan kepala tanda mengerti, walau baru kali itu mereka melihat benda itu, namun penjelasan Hana membuat mereka mudah memahaminya.
__ADS_1
"Jadi, Hana mohon ayah dan ibu menerimanya. Hana tidak mungkin memberikan yang tidak halal pada ayah dan ibu yang sudah mendidik dan membesarkan Hana dengan baik." Sambil mendekatkan amplop cokelat itu dihadapan kedua orang tuanya.
"Ini semua uang mu nak, kau gunakan saja untuk keperluanmu saja, ayah dan ibu masih kuat berkerja, kami masih bisa mencukupi kebutuhan dari hasil sawah dan kebun kita Hana." Ucap pak Muri masih menolak.
"Iya Hana, ayahmu benar, kau lebih membutuhkannya dari pada kami, dan ini semua juga hasil kerjamu nak. Kami merasa senang karena kau ingat dan mau berbagi dengan kami orang tuamu. Kiriman setiap bulan yang kau berikan lewat rekening kakakmu Jonly sudah banyak membantu kami. Jadi ini untukmu saja Hana, kau bisa menggunakannya untuk keperluanmu sendiri." Ujar ibu Hana menambahi apa yang dikatakan suaminya.
"Hana ikhlas kok bu... yah.... jangan tolak. Bukankah ayah berencana membuat rumah dilahan kebun kita seperti pak guru Arta, bangun saja menggunakan uang ini. Hana tidak menerima penolakan lagi, baik dari ayah maupun ibu." Ucap Hana menutup pembicaraan mereka yang panjang lebar dengan menyesap teh dari cangkirnya. Pak Muri dan ibu Muri hanya bisa berpandangan saja.
"Ayah, ibu.... ada satu lagi yang ingin Hana sampaikan. Supaya ayah dan ibu tidak kaget saat datang kerumah Hana dihari wisuda nanti." Hana meletakkan cangkir tehnya, ia memandang wajah kedua orang tuanya yang kembali serus menatap kearahnya.
"Ini mengenai Firlita...." Wajah Hana terlihat sedikit ragu saat ingin memulai ceritanya, ia merasa bingung bagaimana cara memaparkannya.
"Firlita itu teman atau sahabat Hana bu.... Hana pernah bercerita bahwa Hana tidak tinggal sendiri dikost, tapi dengan seorang gadis muda, apa ibu dan ayah ingat saat Hana pulang kampung dua tahun lalu?" Ucap Hanaria mengingatkan.
"Iya.... ibu dan ayah ingat...." Sahut ibu Hanaria sambil melihat kearah suaminya yang duduk disampingnya.
"Syukurlah kalau ibu dan ayah ingat. Pertama kali Hana mengenalnya, saat ia mencari kost murah dimana Hana sedang kost. Dia masih sangat belia bu, usianya waktu itu baru 16 tahun, dia anak yatim piatu, tidak punya sanak - saudara. Dia berkerja sebagai SPG untuk membiayai hidup dan sekolahnya." Papar Hanaria.
"Karena kasihan, Hana mengajaknya untuk tinggal satu kost saja. Walau Hana sudah memintanya tidak perlu membayar tapi dia selalu memberi setengah dari biaya sewa kost kami setiap bulannya."
__ADS_1
Ibu dan ayah Hanaria masih tetap memperhatikan cerita putrinya sambil mengunyah camilan yang ada diatas meja.
"Setahun kemudian, Hana pindah kerumah sederhana yang Hana beli dari menabung. Hana mengajaknya untuk pindah, tapi ia tidak mau. Dengan alasan, jarak tempuh kost kami itu ketempat kerjanya lebih dekat dibandingkan dengan rumah yang Hana tempati sekarang."
"Ya, dia meneruskan tinggal dikamar kost itu seorang diri, dan dalam dua tahun belakangan ini, kami jarang sekali bertemu, hanya sesekali saja, itupun secara kebetulan, karena kesibukan masing - masing."
"Beberapa minggu yang lalu, Firlita kerumah. Keadaannya tidak baik...." Hanaria menghentikan penuturannya, ia berusaha mencari kata - kata yang tepat untuk melanjutkan ceritanya.
"Keadaan yang tidak baik bagaimana Hana?" Ucap ibunya penasaran, yang sejak tadi memperhatikan setiap penuturan putrinya itu.
"Firlita Hamil diluar nikah....." Kalimat singkat itu lolos dari mulut Yurina. Wajah ayah dan ibu Hanaria mendadak menegang, banyak pertanyaan yang muncul dikepala mereka masing - masing, namun tidak mampu mengungkapkannya.
"Firlita diusir dari kostnya dengan alasan ibu kost khawatir, apa yang menimpa Firlita bisa mengganggu keamanan dan kenyamanan penghuni kost lainnya. Dia juga terancam akan kehilangan pekerjaannya sebagai seorang SPG, karena tempat ia berkerja tidak memperbolehkan seorang karyawan wanita hamil." Lanjut Hanaria lagi.
"Mendengar semuanya itu, Hana kasihan padanya, walau awalnya terpaksa, akhirnya Hana mengijinkan Firlita tinggal bersama Hana lagi."
Ayah dan ibu Hanaria mendesah berat mendengar keputusan yang putrinya ambil itu, karena hal itu adalah masalah yang besar menurut mereka.
"Apa tetangga kiri - kananmu mengijinkan Firlita yang hamil tanpa suami itu tinggal dilingkungan kalian Hana?" Tanya ibu Hanaria meneliti wajah putrinya, sementara ayahnya duduk sambil melipat tangan didadanya.
__ADS_1