
Morrano menatap tajam pada Willy yang baru tiba dimeja makan pukul sembilan malam bersama Hanaria. Willy yang ditatap hanya bersikap santai tanpa merasa bersalah sama sekali.
Sementara Hanaria lumayan deg-deg'an. Bagaimana tidak, kerinduannya pada Willy yang hanya berpisah sehari penuh oleh karena pekerjaan barunya berujung pada kedua mertuanya yang harus menahan lapar karena menunggu dirinya dan Willy menyelesaikan yang harus keduanya selesaikan dikamar mandi bayi Elvano.
Yurina buru-buru mengelus lengan Morrano, mendinginkan hati suaminya itu. Bisa-bisa makan malam akan terjadi insiden bila dirinya tidak berhasil membuat suasana hati suaminya tenang.
"Hana sayang, ayo duduk dekat Mommy." panggil Yurina dan menunjuk pada kursi disebelahnya.
"Tidak boleh, Hana harus duduk disebelah suaminya, seperti Daddy yang selalu nempel pada Mommy," tolak Willy membuat Hanaria bimbang harus mengikuti keinginan ibu mertuanya atau kah suaminya.
"Bukankah Mommy juga harus mengurus Daddy, jadi biarkan aku saja yang mengurus dan melayani isteriku yang sedang hamil ini," lanjut Willy seraya menarik kursi dan mempersilahkan Hanaria duduk disana, didekatnya.
Morrano memutar bola matanya melihat tingkah putranya itu, ia ingat bagaimana reaksi penolakan Willy saat dirinya dan isterinya meminta putranya itu menikah, sampai harus memaksa. Dan sekarang, semuanya sudah jauh bertolak belakang.
"Hana, bagaimana hari pertamamu berkerja?" tanya Moranno melihat kearah menantunya.
"Masih terkendali Dad. Hanya saja, mereka sepertinya sulit menerimaku," sahut Hanaria, mengingat bagaimana saat para petinggi itu menatapnya datar ketika asisten David memperkenalkan bila dirinya adalah pemilik baru dari perusahaan Mega Otomotif, dan bagaimana mereka begitu berisik saat dirinya keluar ruangan meeting setelah memaksa semua petinggi-petinggi itu dan semua pegawai perusahaan wajib menggunakan product Mega Otomotif.
"Reaksi awalnya kadang seperti itu. Yang penting kau harus sabar, tetap berkomitmen, menguatkan keyakinan kalau kau bisa melewati semuanya, dan yang terpenting adalah waspada. Jangan sampai yang bukan menjadi kesalahan dan kelalaianmu, kau yang harus menanggungnya.," lanjut Moranno memberi nasihat.
"Iya, aku mengerti Dad,"
"Dan satu lagi, bila ada sesuatu yang berhubungan dengan hukum, kau harus mengkonsultasikannya dengan lawyer Margolius Onde dan kakak iparmu Billy," lanjut Moranno mengingatkan.
"Iya Dad, aku pasti melakukannya," sahut Hanaria lagi sambil mengangguk pelan.
"Hana, mommy menyukai mobil barumu," ujar Yurina sengaja menyela, supaya acara makan malam mereka tidak hanya diwarnai pembicaraan yang berat saja, tetapi harus dibarengi obrolan ringan juga supaya tetap terasa santai. "Mommy.juga mau punya mobil seperti milikmu itu?" tambahnya lagi seraya menunjukan wajah ketertarikannya.
"Sebenarnya mobil yang sedang Hana gunakan itu dirancang khusus untuk nyonya Mingguana Mom. Hana merasa mubazir saja kalau dibiarkan begitu saja teronggok didalam workshop para engineer itu, jadi Hana saja yang membelinya.
"Maksudmu Limited Edition." tegas Yurina.
"Iya, Mom,"
__ADS_1
"Mommy juga mau pesan yang limited edition, yang dirancang khusus buat mommy," kata Yurina lagi dengan raut antusiasnya.
"Boleh Mom, nanti Hana akan sampaikan pesanan Mommy pada tuan Guandoo,"
"Kalau punya mobil baru yang limited edition, jangan lupakan limited edition yang ada disebelah Mommy itu ya," kekeh Willy seraya melirik wajah ayahnya yang spontan melotot kearahnya.
...***...
"Nona, Anda serius tidak perlu pengawalan dalam keberangkatan kita hari ini?" tanya asisten David memastikan pada majikannya itu.
"Iya, tidak perlu," sahut Hanaria singkat. Ia berdiri lalu beranjak keluar dari ruangannya diikuti asisten David.
Di dalam hatinya, pria itu merasa heran melihat Hanaria yang tidak butuh pengawalan seperti nyonya Mingguana setiap kali pergi mengunjungi beberapa perusahaan tambang miliknya.
Beberapa pegawai yang kebetulan berpapasan ada yang membungkuk hormat saat Hanaria dan asisten David melintas, tapi lebih banyak yang tidak. Seperti biasa, mereka terkesan acuh.
"Sampaikan pada manager HRD, beri tindakan tegas pada para pegawai yang kau lihat tadi asisten David. Aku mau semua pegawai di perusahaan ini bisa bersikap lebih hormat dan sopan bukan pada para petinggi saja, tapi pada semua atasan mereka dan juga tamu yang berkunjung ke perusahaan ini," tegas Hanaria yang tengah menuruni tangga lobby menuju parkiran dimana mobilnya terparkir.
"Baik Nona," sahut asisten David sigap, setelah berkata demikian, ia meraih ponselnya lalu menelpon manager HRD sesuai apa yang diperintahkan oleh Hanaria.
"Kak, aku butuh pengamanan secara rahasia sekarang," ucap Hanaria, sesaat kemudian, kerika ponselnya sudah tersambung dengan seseorang diseberang sana.
".................."
"Baiklah," Hanaria lalu menutup ponselnya, ia melirik asisten David yang masih sibuk dengan teleponnya. Ia masuk kemobil dan duduk dibelakan kemudi.
"Maafkan saya Nona, apakah Anda yakin akan menyetir sendiri? Sangat berbahaya, apa lagi sekarang Nona sedang mengandung," tanya asisten David yang baru saja menyelesaikan teleponnya.
"Aku akan berhati-hati. Naiklah asisten David, perjalanan kita hari ini akan sangat panjang," ujar Hanaria sambil menghidupkan mesin mobilnya.
"B-baik Nona," tanpa bertanya lagi, asisten David menurut, ia naik dan duduk disamping kemudi. Sebagai seorang asisten, adalah keharusan baginya untuk tetap menuruti apapun yang diinginkan oleh sang majikan.
Asisten David melirik sekilas arlojinya yang baru menunjukan pukul delapan pagi lebih dua puluh menit, saat Hanaria membelokan kemudinya memasuki area restoran, dan memarkirkan mobilnya diparkiran kosong. Apa mungkin majikannya itu tidak sempat sarapan saat akan berangkat berkerja tadi pagi? Namun dirinya enggan bertanya, karena itu bukan urusannya.
__ADS_1
"Ayo, kita turun dulu asisten David," ajak Hanaria. Ia mematikan mesin mobilnya dan membuka sabuk pengaman yang melilit ditubuhnya.
"Saya sudah sarapan Nona," sahut asisten David yang berniat menunggu didalam mobil saja.
"Ayo, turun saja asisten David, bukankah kau harus melindungi majikanmu?" paksa Hanaria.
"Selain itu, hari ini kita perlu banyak energi. Jadi kau-pun harus mengisi perutmu dengan makanan."
"Baik Nona," asisten David kembali menurut. Ia sedikit khawatir, bila perutnya penuh, perjalanan mereka bisa terganggu nantinya.
Seorang pelayan restoran datang mendekat, dan memberikan daftar menu makanan, juga dua lembar kertas pada Hanaria dan Asisten David untuk menuliskan pesanannya masing-masing.
"Tuan hanya memesan ini saja?" tanya sang pelayan sopan, membaca hasil tulisan asisten David.
"Iya," sahut asisten David singkat, merasa tidak nyaman dipanggil tuan dihadapan majikannya.
"Semua pesanan saya itu, tolong masukan kedalam kotak makanan," pinta Hanaria setelah menyerahkan daftar makanan yang telah ia berkan pada sang pelayan.
"Baik Nona," pelayan itu lalu undur diri, membawa daftar pesanan pada koki yang bertugas.
"Aku akan ke toilet sebentar," ucap Hanaria pada asisten David.
"Iya Nona," sahut asisten David seraya mengangguk pelan. Ia memperhatikan sebentar saat Hanaria beranjak menuju toilet. Begitu Hanaria menghilang dirinya memeriksa tabletnya, membaca ulang jadwal sepanjang hari ini.
Asisten David menyantap hidangannya lebih dulu sambil sesekali melirik lorong kearah toilet. Ia sedikit khawatir, karena sudah dua puluh menit Hanaria belum juga kembali.
Dengan terburu-buru, asisten David segera menghabiskan makanannya, lalu bergegas menyusul. Belum sempat sampai ke toilet, ponselnya beegetar.
Drrtt. Drrtt. Drrtt.
Asisten David segera mengangkatnya saat dilihatnya Hanaria yang sedang menelpon.
"Nona ada dimana?" tanyanya panik.
__ADS_1
"Aku sudah dimobil. Ambil dan bawa kotak makanan pesananku, aku sudah membayarnya. Saat kau keluar, cari plat mobil nomor XXX, warna silver. Masuklah, kebelakang kemudi karena aku sudah ada didalamnya. Dan tidak perlu banyak pertanyaan," setelah berkata demikian, telepon langsung diputus oleh Hanaria dari ujung sambungan telepon.
Bersambung...👉