
"Oma, boleh saya masuk?" Hanaria berdiri didepan pintu melihat nyonya Agatsa yang tengah tenggelam dengan buku-bukunya diruang perpustakaan.
"Masuklah Hana," sahut wanita itu menoleh mendongakan wajah dari bukunya.
Sesaat, Hanaria memperhatikan nyonya Agatsa yang hampir berusia 70 tahun itu, dirinya kagum, setua itu masih rajin membaca buku dan masih bisa melihat cukup jelas walau dengan bantuan kacamatanya.
"Bagimana? Apakah kau sudah menyelesaikan tugas yang ku minta beberapa hari yang lalu?" nyonya Agatsa menutup bukunya, menyimpannya disisi kanannya juga tidak lupa melepaskan kacamata bacanya dan meletakan diatas buku yang baru ia baca.
"Sudah Oma," Hanaria membuka laptop yang ia bawa, setelah file terbuka, ia segera memperlihatkannya pada nenek suaminya itu.
Nyonya Agatsa kembali memasang kacamatanya, ia memperhatikan dengan seksama, hasil desain yang ditunjukan oleh cucu mantunya itu.
Sambil memberi penjelasan, Hanaria merasa deg-deg'an, khawatir hasil desainnya akan ditolak.
"Bagus," puji nyonya Agatsa datar tanpa senyum diwajahnya. Walau demikian, Hanaria sudah sangat bersyukur desainnya bisa diterima.
"Sesuai keinginanku," sambungnya, lalu menanggalkan kembali kacamatanya dan meletakan ditempatnya semula.
__ADS_1
"Terima kasih Oma," Hanaria tersenyum lega.
"Apa kau tidak ingin kembali menjadi arsitek lagi di Agatsa Properti Group?" singgung wanita tua itu sambil menuangkan teh pada dua cangkir gelas.
"Emm, aku belum memikirnya lagi Oma. Aku masih pokus pada perusahaan nyonya Mingguana yang beralih atas namaku itu," jujur Hanaria.
"Minumlah, kau beruntung aku yang tua ini mau menuangkan teh untukmu," nyonya Agatsa menggeser secangkir teh kedepan cucu mantunya itu.
"Terima kasih Oma. Maafkan saya yang lamban berfikir, harusnya saya yang menuangkan teh itu untuk Oma," ucap Hanaria cepat, ia memahami benar bila itu adalah perkataan sindirian yang ditujukan padanya.
"Aku berharap suatu hari nanti kau berfikir untuk kembali lagi kesana. Terus terang, aku kurang suka pada team arsitek Agatsa Properti Group yang sekarang." sambungnya ke topik awal.
"Aku paling tidak suka bila desain yang aku minta harus mendapat revisi ulang, itu sama saja buang-buang waktu." Wanita itu mengangkat cangkirnya, menyesapnya pelan hingga beberapa teguk dan meletakannya kembali diatas tatakan.
"Desain yang kau perlihatkan padaku tadi, kirim itu pada Willy, aku ingin dia segera membangun villa itu untuk Billy." perintahnya.
"Baik Oma," Hanaria lalu menggeser laptop itu kehadapannya, dan mulai mengirmkan lewat e-mail nya pada Willy.
__ADS_1
"Oma," Hanaria nampak sedikit ragu.
"Katakan, jangan sungkan. Aku ini masih kepala keluarga Agatsa, bila ada sesuatu yang kau tahu, jangan pernah menyimpannya sendiri," nyonya Agatsa menatap Hanaria, menanti cucu mantunya itu melanjutkan kalimatnya.
"Dua hari yang lalu, aku bertemu kak Billy di rumah sakit Pemerintah, diruangan dokter Rosalia. Dan--, kak Billy sedang push up disana. Itu kali yang kedua aku melihatnya setelah pertama kali melihat kak Billy di perintahkan push up oleh tuan Hartawan dirumah sakit yang sama saat aku baru saja melahirkan baby Elnathan dan Jonathan, "Hanaria memandang nyonya Agatsa yang nampak datar saja mendengar aduannya.
Mengadu? Ya, itu yang memang ia lakukan, setelah melihat kakak iparnya diperlakukan secara demikian, ia sebagai anggota keluarga Agatsa tidak bisa menerimanya, itulah akhirnya ia mengadukan ini pada nenek suaminya.
Nyonya Agatsa kembali meraih cangkir tehnya, menyesap sisanya hingga habis.
"Sebagai ayah Rosalia, dia memang berhak melindungi putrinya supaya tidak salah memilih pasangannya," nyonya Agatsa kembali mengisi cangkir tehnya yang telah kosong.
"Bila sudah memperlakukan cucuku seperti itu, Jendral keras kepala itu sudah melewati batas haknya sebagai orang tua Rosalia, dan aku sebagai Oma-nya tidak akan tinggal diam."
"Baiklah, aku memang harus turun tangan. Aku akan mengajaknya bermain-main sedikit, supaya dia sadar bila cucuku Billy hanya bawahannya saat sedang bertugas," datarnya lagi.
Bersambung...👉
__ADS_1