HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 11 Nasihat


__ADS_3

"Willy......." Panggil Moranno.


"Iya dad......"


"Duduklah......." Moranno menunjuk kursi didepan mejanya.


Willy mendekati meja ayahnya lalu duduk pada kursi dihadapan ayahnya. Ia sudah mempersiapkan dirinya untuk menerima konsekuensi apapun dari sang daddy.


"Apa yang membuatmu kebut - kebutan secara ugal - ugalan dijalan raya seperti perkataan nona Hanaria tadi?" Tatap Moranno pada Willy yang duduk dihadapannya.


"Willy tidak kebut - kebutan dad......" Ucap Willy berusaha membela diri.


"Tidak bagiamana..... kau sampai menyerempet mobilnya...... kau tahu......itu bisa membahayakan nyawa orang Willy.......Lalu kenapa kau tidak cerita pada daddy? " Tanya Moranno memberondong, mengeluarkan apa yang ia tahan sedari tadi.


"Maafkan Willy dad.....Willy takut daddy marah....." Jawab Willy dengan raut bersalah.


"Jadi, kau lebih memilih daddy tahu dari orang lain, begitu??"


Tidak seperti itu juga dad....." ia memutar bola matanya malas.


"Nah sekarang daddy tahu..... dari nona Hanaria.....Jadi cepat atau lambat, daddy pasti tahu juga Willy."


"Mau sampai kapan kau bersikap kekanak - kanakan seperti ini Willy, kau sudah dewasa, kau sekarang sudah menggantikan daddy jadi CEO perusahaan ini."


"Kau jangan bersikap sesuka hatimu, kau bukan orang biasa yang tindakannya bisa diabaikan oleh pesaing bisnismu. Mereka bahkan berusaha mencari titik lemahmu untuk menjatuhkanmu Willy....." Tatapan Moranno tajam menatap putranya itu.


"Daddy tidak bisa mendampingimu terus menerus Willy, .... Jadi mulai sekarang belajarlah bersikap dewasa dan bijak.... dan bekerjalah dengan sungguh - sungguh."


"Iya dad........"


"Sekarang katakan pada daddy kenapa kau main kebut - kebutan, jelaskan pada daddy......?" Moranno kembali ketopik awal.


"Sebenarnya Willy dan Rosalia waktu itu mengejar waktu untuk hadir diacara reoni dad..... Willy tidak sengaja nyerempet nona Hanaria. Karena nona Hanaria mengejar, Willy pikir dia ngajak Willy balapan. Willy juga tidak tahu kalau dia seorang wanita sebelumnya dad, abisnya dia bisa melajukan mobilnya ngalahin kecepatan Willy mengemudi." Jelas Willy.

__ADS_1


"Nah kau bersama Rosalia lagi..... untung tidak kenapa - kenapa. Rosalia itu putri tuan Hartawan, orang yang sangat berpengaruh di negeri ini, bila sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada kalian waktu itu, kau bisa mempertaruhkan nama baik tuan Hartawan juga keluarga kita Willy...."


"Iya dad.....Willy mengerti...... maafkan Willy....." Willy menundudukkan wajahnya dengan rasa menyesal.


"Ingat perkataan daddy....... Kemanapun kau pergi, kau tidak hanya membawa nama baikmu saja, tapi kau akan membawa nama daddy, dan bahkan keluarga besar kita."


"Bila kau berlaku melanggar hukum, orang - orang akan berkata..... Willy, putra Moranno, anggota keluarga Agatsa yang memiliki kerajaan bisnis dinegeri ini, telah melakukan tindakan melanggar hukum, dan bla.... bla......bla..... Semua nama yang ada hubungannya denganmu akan dikait - kaitkan !"


"Apa pun yang kau lakukan, kau akan membawa nama keluargamu, jadi berpikirlah yang benar sebelum berrindak."


Willy mengangguk - anggukkan kepalanya mendengar nasihat dan petuah dari sang daddy.


"Apakah kau sudah minta maaf pada nona Hanaria?"


""Hm..... Belum dad......aku lupa, lagi pula aku sudah membiayai perbaikan mobilnya itu." Jawab Willy apa adanya.


"Ya ampun Willy...... apa kau merasa tidak bersalah.....hingga tidak mau meminta maaf padanya...?" Kepala Moranno langsung berdenyut mendengar perkataan Willy yang seolah tidak punya perasaan.


"Daddy tidak mau tahu, kau harus meminta maaf padanya......"


"Daddy tidak percaya kalau kau memilikk pikiran sombong seperti itu. Ingat, kedepannya, kau akan lebih banyak memiliki hubungan kerja dengannya. Perusahan yang kau pimpin ini bergerak dibidang properti, jadi mau tidak mau, kau harus membangun hubungan yang baik dengan pegawaimu itu.".


" Yaang benar saja dad...... bukannya kebalik, yang ada bawahan yang harus menjaga hubungan baik, bukannya atasan dad....." Tolak Willy, ia berusaha mempertahankan argumennya.


"Willy, seorang pemimpin itu harus bisa menjaga hubungan baik dengan para pegawai kita, itu namanya rendah hati. Pegawai yang merasa dihargai, tentunya ia akan memberikan dedikasi yang tinggi dalam bekerja sebagai bentuk rasa hormatnya padamu juga perusahaan. Walau bukan itu tujuan utama kita menjaga hubungan yang baik dengan para pegawai."


"Baiklah..... kalau itu maunya daddy, Willy akan melakukannya.... " Willy mengalah dengan wajah terpaksa.


...***...


"Bagaimana Hana.....?." Linda melongokkan kepalanya dari depan meja kerjanya yang dibatasi sekat dengan meja Hanaria.


"Bagaimana apanya?" Hanaria balik bertanya, wajahnya tampak datar sambil membereskan beberapa berkas yang agak berantakan diatas mejanya.

__ADS_1


"Malah nanya..... ya, hasil pertemuan kau dengan CEO baru itu lah sayang...... ? Benarkan..... tuan Willy setampan yang aku katakan?" Wajah Linda nampak berbinar saat bibirnya menyebut nama Willy.


"Tuan Moranno menanyakan tentang kemajuan proyek yang sudah berjalan, dan memintaku untuk menjelaskan semua detailnya secara terperici. Semua berkas yang ku bawa tadi ditinggal di ruang kerja tuan Moranno, karena tuan Willy akan mempelajarinya." Jelas Hanria.


" Terus tuan Willy nya?"


"Apanya?" Tanya Hanaria tidak mengerti.


"Dia keren kan? Dia tampan seperti yang aku katakan kan?" Ucap Linda bersemangat, ia sangat penasaran pada pendapat temannya itu tentang bos mereka yang membuat semua kaum hawa diperusahaan itu terpukau.


"Tidak tahu...... aku tidak memperhatikannya....." Sungut Hanaria, ia terlihat malas membahasa pria yang dimaksud Linda. Ia kembali menatap laptopnya, meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda.


"Hana..... tuan Willy.........." Suara Linda terdengar setengah berbisik disebelah sekatan mejanya.


"Berisik..... Linda......" Hanaria nampak acuh, ia merasa terganggu mendengar suara Linda ditengah kesenyapan jam kerja mereka.


"Hana..... tuan Willy......" Suara Hana kembali terdengar setengah berbisik.


Hanaria memilih diam, ia pura - pura tidak mendengar suara Linda yang memanggilnya. tangannya sibuk menekan keyboard laptopnya sambil melihat hasil kerjanya.


Hidung Hanaria bergerak - gerak, indera penciumannya mencium aroma citrus yang menyegarkan.


"Hanaa..... tuan Willy....." Linda kembali berbisik menatap kearah Hanaria yang tidak mau melihat kearahnya..


"Linda..... stop....stop....."Hanaria yang bosan mendengar suara Linda yang berisik menurutnya, segera berdiri sambil memejamkan matanya dengan kedua tangannya yang turut menjadi bahasa tubuhnya, ia menghadap kearah Linda yang ada diseberang mejanya. Suaranya terdengar menggema diruangan yang senyap itu.


"Sudah cukup dengan tuan Willy yang kau sebut tampan, keren , kece atau apalah itu......." Hanaria lalu membuka matanya menatap wajah Linda yang terpaku melihat responnya, dan tunggu....semua pegawai yang sedang bekerja didalam ruangan itu turut menatapnya dengan wajah yang sulit ia artikan.


"Sekarang...... aku mau kerja dulu..... jangan sebut nama tuan Willy lagi.......!" Lanjut Hanaria ketus.


Linda yang masih terpaku duduk dimeja kerjanya menatap Hana dengan sejuta penjelasan yang ingin ia sampaikan, namun lidahnya terasa kelu, akhirnya hanya jari telunjuknya saja yang bisa berkompromi menunjuk kearah belakang Yurina berdiri.


Melihat jari telunjuk Linda mengarah padanya, Hanaria sempat bingung. Namun akhirnya ia menyadari jari Linda menunjuk seseorang yang berdiri dibelakangnya. Semua pegawai berdiri serempak termasuk Linda menunduk memberi hormat.

__ADS_1


Hanaria menoleh perlahan, ia merasa bulu kuduknya merinding. Tatapannya yang lantang tiba - tiba meredup saat melihat siapa yang berdiri dibelakangnya.


__ADS_2