HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
158. Berkeliling Villa


__ADS_3

"Iya," sahut Willy singkat. Ia menoleh kearah Hanaria untuk melihat rekasi isterinya itu. Tidak seperti yang diharapkan, ternyata reaksi Hanaria terlihat datar-datar saja membuat Willy kecewa.


Willy cepat tersadar, tidak pantas ia merasa kecewa, Hanaria isterinya kan memang belum mencintainya, batinya menghibur diri sendiri.


"Ayo, kita pergi dari sini," ajak Willy.


"Kemana?" tanya Hanaria menatap wajah suaminya itu, saat Willy kembali meraih tangannya.


"Tentu saja melihat-lihat yang belum kau lihat, supaya selama disini, kau tidak tersesat," ucap Willy terus menyeret tangan Hanaria untuk mengikutinya.


"Ini bangunan Villa milik oma, disebelahnya nenek dan kakek Morgan, bila mereka berlibur kemari," ucap Willy menunjuk satu bangunan Villa yang menjulang tinggi didekat telaga.


Hanaria memperhatikan sejenak bangunan yang ditunjuk Willy, rasa cintanya pada ilmu arsitecture membuatnya harus menghentikan langkahnya, mengamati untuk beberapa saat lamanya tampilan eksterior yang ditunjungan bangunan yang ada dihadapannya.


"Lalu disebelahnya?" tanya Hanaria kemudian, sambil menunjuk satu bangunan Villa disebelah Villa milik nyonya Agatsa.


"Itu untuk para cucu keluarga Agatsa," sahut Willy ikut menatap kearah bangunan yang ditunjukan oleh Hanaria.


"Berarti kita nanti menginap disana," ucap Hanaria masih memandang dua bangunan Villa yang berdiri kokoh dihadapannya.


"Tidak," sahut Willy melirik ke Hanaria yang berdiri disampingnya, dan masih melihat kagum kearah bangunan Villa yang ia lihat.


"Kenapa tidak? Bukankah kau juga salah satu cucu keluarga Agatsa," tanya Hanaria, ia beralih menatap Willy yang masih memandang kearahnya.


"Itu benar," ucap Willy sambil menggerakan dagu dan alisnya keatas.


"Tapi aku sudah berkeluarga. Jadi, aku juga memiliki Villa khusus disini. Nanti kau akan melihatnya." ucapnya lagi sambil tersenyum tipis memandang Hanaria.


Keduanya terus berjalan menyeberangi taman beraneka bunga yang sedang bermekaran. Tangan Hanaria sesekali menyentuh kelopak-kelopak bunga yang menarik perhatiannya.


"Lanjutkan ceritamu tadi," pinta Hanaria sambil berjalan meninggalkan telaga.


"Yang mana?" tanya Willy pura-pura tidak mengerti.


"Lucy, pacarmu itu, apa kau masih berhubungan dengannya?" ucap Hanaria tanpa sadar, membuat Willy tersenyum, ternyata isterinya itu ingin tahu juga tentang dirinya, fikirnya penuh percaya diri.


Willy tidak menjawab, ia malah membawa Hanaria masuk ke satu bangunan Villa." Apakah ini Villa yang kau maksud milikmu tadi?" tanya Hanaria, ia menatap berkeliling sambil memutar tubuhnya.


"Bukan, ini milik Daddy dan Mommy, disini mereka berbulan madu setelah menikah," pancing Willy menatap Hanaria yang terpesona melihat Villa miliki kedua mertuanya itu.

__ADS_1


Hanaria pura-pura tidak mendengar, ia terus menuruti kata hatinya, berjalan menaiki anak-anak tangga menuju satu lantai yang ada diatasnya. Willy membuntutinya dari belakang.


"Ini sangat luar bisa," ucap Hanaria, menatap pemandangan dari atas Villa.


"Kau sangat menyukainya?" tanya Willy mendekati Hanaria.


"Iya, aku sangat suka," sahut Hanaria tersenyum lepas, pandangannya menyapu kesegala penjuru. Willy ikut menikmati apa yang sedang dilihat oleh Hanaria, keduanya larut dalam situasinya hatinya masing-masing.


"Ayo kita turun, hari sudah mulai sore," ucap Willy memecahkan keheningan diantara mereka. Ia kembali meraih tangan Hanaria, membawanya menuruni anak-anak tangga Villa milik kedua orang tuanya dengan hati-hati.


"Nah, itu Villa kita berdua," tunjuk Willy pada bangunan yang ada diatas bukit yang berjarak kurang lebih lima puluh meter dari Villa milik Moranno dan Yurina.


"Kita kesana," ajak Willy. Keduanya lalu berjalan diatas rerumputan elastis yang menambahkan keasrian Villa yang mereka tuju.


Hanaria tidak henti-hentinya berdecak kagum, semuanya terlihat luar biasa dan istimewa baginya. Ia sudah merancang belasan Villa para pengusaha sesuai permintaan mereka, namun ia merasa hasil karyanya belum ada apa-apanya dibandingkan Villa milik keluarga Agatsa yang ia lihat.


"Siapa yang menjadi arsitek Villa ini?" tanya Hanaria.


"Mendiang opa Agtasa. Saat itu belum sempat terlaksana, karena opa sudah pergi karena sakit. Bahkan aku dan kak Billy belum lahir saat opa meninggal." ucap Willy.


"Jadi, Daddy yang membangunnya sesuai rancangan yang sudah dibuat opa yang masih menggunakan alat-alat gambar manual, tidak seperti sekarang yang sangat dimudahkan dengan teknologi yang serba medern." ucap Willy sambil mengayun-ayunkan tangannya yang menggandeng tangan Hanaria.


Hanaria kembali memperhatikan setiap detail Villa yang ia masuki. Desain interiornya terlihat berbeda dengan Villa milik kedua mertuanya yang ia lihat sebelumnya.


Willy menuntun isterinya itu hingga dilantai atas," ruangan apa itu," tanya Hanaria, saat melihat Willy menempelkan lima jarinya didaun pintu, hingga pintu membuka dengan sendirinya.


"Kamar tidur kita," sahut Willy.


"Masuklah lebih dulu, aku akan kembali sebentar lagi," ucap Willy didepan pintu sambil melepaskan tangannya dari tangan Hanaria.


"Kau mau kemana?" tanya Hanaria menatap Willy.


"Ke bawah, memasak sesuatu untuk makan malam kita," sahut Willy.


"Kau bisa masak?" tanya Hanaria terperangah menatap wajah suaminya itu.


"Tidak, hanya melakukan percobaan," ucap Willy sekenanya saja.


"Jadi kau ingin aku memakan hasil percobaan masakmu, begitu?" pungkas Hanaria sambil mencebikkan bibirnya kearah suaminya itu.

__ADS_1


"Hmm," guman Willy seraya menaikan kedua alisnya yang tebal.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita masak berdua?" Hanaria memberi penawaran.


"Tidak perlu," tolak Willy.


"Kau masuklah, dan segera mandi, setelah itu turun untuk makan malam bersamaku," ucap Willy menambahkan.


"Dan jangan pernah lupa pada aturan yang kubuat," Willy menatap Hanaria lekat.


"Aturan? Aturan apa?" tanya Hanaria tidak mengerti.


"Jangan keluar kamar, kalau kau belum bersih, fresh, wangi, dan cantik," sahut Willy.


"Aku tidak suka punya isteri yang bau, tidak wangi dan tidak mempesona," ungkap Willy.


Hanaria langsung memijit kepalanya yang tidak terasa sakit, tapi perkataan Willy cukup memusingkan dirinya.


"Baiklah," sahut Hanaria, "aku akan melakukan seperti apa mau-mu itu."


Hanaria masuk, sementara Willy kembali turun kelantai bawah seorang diri.


Hanaria semakin masuk kedalam, pandangannya menyapu seluruh isi ruangan, memperhatikan kamar tidur mereka yang cukup luas dengan dinding di cat berwarna putih lembut berpadu gold yang mempertegas setiap lekukan-lekukan interior dalam kamar itu.


Pandangan mata Hanaria terhenti pada ranjang tidur yang terletak ditengah-tengah ruangan kamar, posisi yang tidak biasa menurutnya. Ia sering melihat ranjang selalu menempel kedinding atau berada disudut.


...I Love You My Wife...


...HANARIA...


...Your Husband...


...WILLY MORANNO AGATSA...


"Ini-kah alasanmu memintaku memasuki kamar ini lebih dulu seorang diri," gumam Hanaria pada dirinya sendiri.


Hati Hanaria bergetar saat melihat susunan mawar-mawar merah yang membentuk tulisan diatas tempat tidur mereka. Di eja-nya berulang-ulang hingga hatinya terasa menghangat. Ini untuk kali yang kedua, Willy menyatakan cinta pada dirinya setelah mereka menikah.


Perlahan, Hanaria menghampiri ranjang itu, disentuhnya kelopak mawar-mawar itu dengar jari-jarinya. Dipungutnya beberapa kelopak mawar merah dan meletakkan diatas telapak tangan kirinya.

__ADS_1


Dengan penuh perasaan dihirupnya dalam-dalam aroma mawar yang wangi itu hingga imajinasinya melayang pada satu wajah yang sepanjang hari ini berada disisinya.


__ADS_2