
"Tunggu......!!!" Teriak seorang gadis belia, yang wajah cantik bersinar pada Hanaria.
Hanaria yang baru masuk kedalam lift pegawai, langsung menekan tombol, menahan supaya pintu lift tidak tertutup. Gadis yang berteriak tadi langsung masuk kedalam lift bersama seorang temannya, lalu berdiri disisi kanan dan kiri Hanaria.
"Selamat pagi nona muda......" Sapa Hanaria sopan, sambil membungkuk hormat pada kedua gadis belia itu.
"Selamat pagi juga kak Hana....... Perkenalkan, ini Stefhany, sahabatku yang ikut magang bersamaku diperusahaan ini." Ujar Edrine dengan senyum ramahnya, sambil memperkenalkan gadis seksi dan cantik disebelahnya sama seperti dirinya.
"Stefhany......" Ucap gadis belia yang seusia dengan Edrine, sambil mengulurkan tangan putih bersinarnya, khas kulit asia pada Hanaria. Suaranya saat berbicara kurang lebih dengan Edrine, logat inggris dan mandarin terdengar begitu kental.
"Hanaria........" Hanaria turut menyebutkan namanya pada gadis yang bernama Stefhany sambil mengulas senyum ramahnya.
"Kenapa nona muda Edrine dan nona Stefhany tidak menggunakan lift owner saja? Bukankah nona muda adalah salah satu anggota keluarga Agatsa?" Tanya Hanaria pada Edrine.
"Kak Willy yang memintaku dan Stefhany seperti ini dari awal kak Hana. Lagi pula, identitasku sebagai anggota keluarga memang dirahasiakan, bukan aku saja, tapi kami semua, cucu keluarga Agatsa." Sahut Edrine, sambil berdiri tenang disamping Hanaria.
"Kenapa harus dirahasiakan nona muda?" Tanya Hanaria lagi, sambil mengerutkan keningnya. Ia menatap wajah yang teramat elok milik Edrine, kulit putih mulusnya semakin menambah pesona pada kecantikan gadis belia itu.
"Untuk menjaga keamanan pastinya kak. Selain itu, kami memang diajarkan harus mandiri, tidak boleh manja dan bergantung terus, mampu melakukan sesuatu karena diri sendiri, bukan membawa nama besar kelurarga." Jelas Edrine.
"Jadi, kak Hana tidak perlu memanggilku nona muda lagi..... cukup nona saja, dan juga jangan membungkuk padaku, cukup pada CEO dan Dirut saja kak......" Imbuhnya lagi sambil tersenyum kecil.
"O.....oh, I see, I like that......." Ucap Hanaria menganggukan kepalanya, sambil tertawa kecil, mengikuti gaya bicara Edrine. Kedua gadis belia itupun ikut tertawa kecil bersamanya.
__ADS_1
"Ting - tong......!!!" Lift terbuka. Hanaria keluar, kedua gadis itu juga ikut keluar bersamanya dilantai enam.
"Kalian ikut keluar?" Tanya Hanaria saat kedua gadis itu berjalan menjejerinya.
"Kami magang dilantai enam juga kak. Kak Hanaria leaderku, dan tuan Doffy yang menjadi leader Stefhany." Jelas Edrine lagi.
"Benarkah? Aku kok tidak tahu?" Ucap Hanaria sambil terkekeh.
"Jelas saja kak Hana tidak tahu, karena dihari pertama dan hari kedua kemarin, aku dan Stefhany memulai magang kami, kak Hana tidak masuk karena sakit." Sahut Edrine lagi sambil terus berjalan mengikuti langkah Hanaria bersama Stefhany memasuki ruang Divisi Arsitekture.
"Nona Hana........!?" Panggil tuan Doffy, saat dirinya melihat Hanaria, ia bergegas keluar dari ruangannya untuk menemui Hanaria.
"Iya tuan Doffy......" Sahut Hanaria menatap kearah tuan Doffy yang berjalan menuju kearahnya, sedangkan Edrine dan Stefhany ikut menunggu dan berdiri disisi kiri dan kanan Hanaria.
Mereka memasuki satu ruangan kosong disebelah ruangan tuan Doffy. Ruangan itu nampak bersih dan rapi. Ada enam lemari aluminium transparan berjejer didinding, tempat penyimpanan berkas - berkas penting. Satu set meja kerja, langsung menghadap pintu masuk. Disisi kanan ruangan nampak satu set sofa tamu. Dibelakang meja kerja terdapat empat lemari kayu yang terkunci rapat. Disudut kiri, dekat jejeran lemari aluminium terdapat satu set meja kerja lagi.
"Nona Hanaria...... Ini ruang kerjamu yang baru. Ini meja kerjamu, dan ini kunci ruangan, beserta satu set kunci lemari - lemari itu. Dan ini semua daftar inventarisasi untuk semua barang dan berkas - berkas yang ada didalam ruangan ini. Kau boleh memeriksanya dengan teliti, bila sudah cocok, kau boleh membubuhkan tanda tangan dibawahnya nanti. " Ucap tuan Doffy. Ia meletakan kunci ruangan, dan satu set kunci lemari - lemari diatas meja kerja Hanaria. Lalu menyodorkan satu berkas berjilid untuk semua inventaris yang ada didalam ruang kerja barunya. Hanaria menatap wajah tuan Doffy, tangannya agak ragu menerima semuanya itu.
"Ada apa nona Hana, kau terlihat ragu? Apakah karena penyebaran video itu??" Tanya tuan Doffy, memandang penuh tanya, demikiann juga dengan Edrine dan Stefhany yang sejak tadi hanya mendengarkan. Ia mengerti, apa yang dialami Hanaria bukanlah masalah kecil, karena menyangkut nama baik perusahaan dimana mereka berkerja.
"Mm...... Salah satunya itu tuan Doffy....." Hanaria masih ragu menyampaikan apa yang ada dikepalanya selama ini, ia merasa sangat sulit untuk mengutarakannya.
"Nona Hana, selama tiga tahun ini, bahkan sudah memasuki tahun keempat nona berkerja disini. Kami telah melihat, nona selalu menunjukan sikap baik, rajin, dan ulet berkerja, ditambah lagi dengan prestasi - prestasi yang nona ukir dalam setiap pekerjaan yang dipercayakan. Kau layak untuk jabatan ini nona Hana, seluruh pegawai Divisi kita, mereka semua tahu itu. Jadi, kau tidak perlu khawatir akan fikiran negative pegawai - pegawai dikantor ini, berjalannya waktu, semuanya juga akan mereda dan kembali normal lagi." Ujar tuan Doffy berusaha menghibur dan menguatkan bawahannya itu yang kini sudah menjadi wakilnya.
__ADS_1
"Tapi..... bukan itu saja tuan.... masih banyak yang lain....." Ucap Hanaria menggantung, karena ucapannya kembali terpotong oleh tuan Doffy.
"Tenanglah nona Hana..... percayalah padaku...... semuanya akan baik - baik saja. Sekarang, lakukan saja apa yang menjadi tuga nona Hana, saya percaya pada kemampuanmu nona Hana......" Ucap tuan Doffy berusaha meyakinkan Hanaria.
"Nona Edrine, kau duduk dikursi sana, dan seperti kataku kemaren, nona Hana lah yang menjadi leadermu. Tapi untuk hari ini, nona Edrine dan nona Stefhany, mereka berdua akan ikut denganku kelokasi proyek, bertemu Pimpro tuan Sumantri, sementara kau nona Hana, akan ikut dengan tuan muda Willy dan sekretaris Morin menemui tuan Mondie Gafarlie siang ini." Ucap tuan Doffy kemudian.
"Tapi..... kenapa mendadak tuan Doffy.....?" Tanya Hanaria, dirinya merasa tidak siap bila harus bertemu Willy, apa lagi sampai pergi bersama pria itu.
"Ini sudah terjadwal nona Hana, kau bisa memeriksa jadwal yang sudah ditetapkan dibuku ini. Bila diriku, berhalangan maka kaulah yang berkewajiban menggantikanku nona Hana." Ucap tuan Doffy memperlihatkan sebuah buku agenda dari dalam laci meja kerja Hanaria yang baru.
"Sebaiknya nona Hana memeriksanya setelah ini, supaya bisa mengetahui jadwal selanjutnya. Dan jadwal ini dibuat setiap satu bulan sekali, dan tidak menutup kemungkinan bisa berubah sewaktu - waktu, tapi atas kesepakatan bersama nona Hana." Imbuh tuan Doffy lagi.
Hanaria lalu membuka buku agenda yang berisi jadwal selama satu bulan itu.
"Pertemuannya saat makan siang direstoran Sembilan Gàlaxi, pukul 12.30?" Tanya Hanaria sambil membaca apa yang tertulis dilembar halaman buku itu.
"Iya, sesuai yang tertulis disana nona Hana." Sahut tuan Doffy, ia turut memperhatikan, apa yang sedang Hanaria lihat pada buku jadwal itu.
"Agenda pertemuannya apa tuan ? Disini tidak ditulis....." Tanya Hanaria lag, ia memandang kearah tuan Doffy yang berdiri di samping mejanya.
"Proyek perumahan milik tuan Mondie Gafarlie sudah rampung, dalam dua minggu kedepan, pihak perusahaan kita akan mengadakan acara serah terima, dan kita sedang mempersiapkan semua dokumennya. Jadi, Hari ini tuan Mondie Gafarlie, berencana untuk menjalin kembali kerjasama baru dengan perusahaan kita lagi." Ujar tuan Doffy.
"Baik, saya mengerti tuan." Sahut Hanaria, setelah mendengar penjelasan dari atasannya itu.
__ADS_1