HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
153. I Love You My Wife


__ADS_3

Semua obrolan, perdebatan yang sedang berlangsung segera terhentikan saat terdengar seorang pembawa acara dari event organizer itu memberi pengumuman dengan pengeras suara bahwa mempelai perempuan akan memasuki ruang pesta resepsi pernikahan.


Alunan lembut musik romantis mulai terdengar dilantunkan mènggema memenuhi ruangan pesta menyambut kedatangan pengantin perempuan yang sedang ditungu-tunggu semua orang.


Semua pasang mata tertuju pada mempelai wanita yang mengenakan gaun pengantin berwarna Gold, melangkah dengan gayanya yang elegan dan senyumnya yang menawan.


Marina dan Malizha melangkah disisi kiri dan kanan Hanaria untuk membantunya menuruni satu demi satu anak tangga, sementara Edrine berjalan dibelakang ketiganya, mengawasi gaun pengantin Hanaria yang panjang membentang bagai ekor yang terseret.


"Putri kita sangat cantik bu," puji pak Muri pada isterinya.


"Iya ayah," sahut ibu Muri. Keduanya lalu tersenyum, senyum yang memancarkan kebahagiaan, karena bisa melihat putri kesayangan mereka bersanding dengan seorang pria yang baik, dan dari keluarga yang baik pula.


"Suamiku, kau lihat 'kan? Putra kita Willy, dia pandai mencarikan dirinya sendiri seorang isteri, tidak hanya cantik dan berprestasi, tapi dia juga baik hati," puji Yurina setengah berbisik pada suaminya sambil menatap kearah Hanaria yang melangkah semakin mendekat keanak tangga terakhir.


"Ya, walaupun ini semua terjadi karena ada campur tangan kita," imbuh Yurina lagi dengan senyum bahagianya.


"Iya sayang. Putra kita Willy mengingatkanku saat kita muda dulu, saat aku memutuskan untuk menikahimu, dan pilihanku-pun tidak salah," sahut Moranno ikut tersenyum bersama isterinya sambil menatap kearah yang sama, yang dilihat oleh isterinya.


"Tuan muda Willy Moranno Agatsa, mengapa anda berdiri mematung disana?!" seru pembawa acara lewat pengeras suara, membuat Willy langsung tersadar dan terlihat gugup dihadapan semua undangan kehormatan yang menatapnya sambil tersenyum geli.


Sementara Marina, Malizha, dan Edrine yang menemani Hanaria terlihat menahan tawa yang hampir saja meledak melihat kegugupan kakak laki-laki mereka itu.


Para hadirin dapat memaklumi, karena pengalaman yang sama juga pernah mereka alami saat menjadi pengantin dahulu, khususnya para pria-pria yang sudah berumur itu.


"Perhatikanlah baik-baik wanita yang berdiri dihadapan anda tuan muda, bila benar wanita itu adalah pengantin wanita anda berilah dia sebuket bunga yang anda bawa untuknya, bila bukan berikan saja bunganya pada saya, saya siap menjadi pengantin prianya," lanjut sang pembawa acara dengan guyonannya.


Willy melirik sekilas wajah sang pembawa acara, walau hanya sekalimat guyonan yang dilontarkannya, ingin sekali rasanya ia memukul kepala pria itu dengan sebuket bunga ditangannya.


Willy memajukan langkahnya mendekati Hanaria yang berdiri tepat dihadapannya dan menatap kearahnya, lalu secara spontan langsung berjongkok dihadapan isterinya itu, dengan posisi satu kaki yang menekuk, membuat Hanaria langsung terlihat gugup karena merasa bingung pada apa yang akan dilakukan suaminya itu, tidak sesuai instruksi pembawa acara yang ia dengar dari pengeras suara.


"I love you my Wife," suara Willy menggema memenuhi ruangan pesta dengan pengeras suara yang terpasang dikerah jas-nya.

__ADS_1


Tepuk tangan meriah terdengar begitu riuh, menyambut ungkapan perasaan Willy yang ia ucapkan secara spontan keluar dari hatinya.


Belum lagi Hanaria selesai dengan kegugupannya saat mendengar pernyataan cinta Willy yang tak terduga padanya diacara resepsi pernikahan mereka, Willy kembali mengejutkannya dengan meraih tangannya dan menciumnya dengan bibirnya. Hanaria serasa tidak berpijak dilantai karena terbawa suasana romantis yang diciftakan Willy untuknya saat itu.


Willy kembali berdiri tegak dari jongkoknya, setelah memberikan sebuket bunga, yang langsung diterima oleh Hanaria dengan senyuman manisnya.


Satu tangan Hanaria kemudian melingkar mesra dilengan Willy yang membawanya menuju pelaminan dengan diiringi tatapan semua pasang mata hadirin.


"Para undangan muda-mudi, silahkan bersiap-siap, karena kedua pengantin akan melemparkan bunga pengantinnya kearah kalian," ucap sang pembawa acara dengan antusias lewat pengeras suara.


Para muda-mudi yang hadir langsung merapat dan berdesak-desakan menantikan lemparan bunga pengantin yang akan dilemparkan oleh Hanaria dan Willy dari atas pelaminan.


"Sayang lihat disana." tunjuk Moranno pada kerumunan muda-mudi yang berdesak-desakan siap memperebutkan bunga pengantin yang sebentar lagi akan dilemparkan oleh Hanaria dan Willy.


"Oh My God! Marina! Malizha! Apa yang kalian lakukan disana!" Teriak Yurina pada kedua gadis kembarnya yang masih terlalu belia itu.


Kedua gadis kembar itu menoleh sebentar saat mendengar Yurina meneriaki nama mereka, setelah itu mereka semakin maju kedepan bahkan lebih bersemangat dari yang lainnya, tanpa memperdulikan ibunya yang pusing memikirkan hal itu.


"Tidak usah pusing kakak ipar, biarkan mereka bersenang-senang saja disana. Tidak mungkin juga kan kita menikahkan mereka yang belum cukup umur," ucap Margareth masih tertawa geli.


"Bagaimana aku tidak pusing adik ipar, Billy saja yang didahului Willy terlihat santai dan berdiri disudut sana bersama Edward adiknya, kenapa kedua adiknya malah ngebet ingin menyusul kakaknya Willy," ucap Yurina sambil menunjuk Billy yang memang terlihat santai sambil mengobrol dengan adik sepupunya.


"Margareth-Harry, lihat disana, yang berdiri paling depan, yang semangatnya mengalahkan kedua putri kembar kami,"


"Dia bahkan seperti anak kampus yang sedang berorasi didepan teman-temanya," ucap Moranno sambil mengeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.


Harry dan Margareth kompak melihat kearah yang ditunjuk oleh Moranno.


"Oh, tidak! Edrine!" Margareth tak sadar langsung meneriaki putrinya yang juga sedang bersemangat meneriaki yel-yel-nya didepan pelaminan.


"Sayang, biarkan saja anakmu dengan gayanya seperti itu. Biarkan dia bersenang-senang sesuka hatinya. Seperti katamu tadi pada Yurina, tidak mungkin kita akan membiarkan mereka menikah dibawah umur," ucap Harry menenangkan isterinya yang terlihat panik.

__ADS_1


Margareth menatap suaminya, lalu tertawa kecil menyadari kekonyolannya yang tertular gaya Yurina, kakak iparnya," kau benar sayang," ucapnya masih tersenyum mengingat tingkahnya sendiri.


Ditengah kerumunan muda-mudi itu, para sahabat Hanaria, Shasie, Norsa, Laras, dan Linda tidak mau ketinggalan untuk ikut menyambut pelemparan bunga pengantin. Mungkin saja diantara mereka berempat ada yang beruntung, pikir mereka masing-masing dengan harap-harap cemas.


"Hayo! Bersiap semua para pemuda dan pemudi! Sepertinya yang lebih bersemangat mau menikah para pemudinya," ucap pembawa acara yang melihat para pemudinya yang lebih dominan ikut acara pelemparan bunga pengantin.


"Kita hitung mundur sama-sama!" pimpin sang pembawa acara tidak kalah semangat dengan muda-mudi yang sudah tidak sabar menunggu bunga pengantin yang akan diarahkan ke mereka.


"Tujuh!"


"Enam!"


"Lima!"


"Empat!"


"Tiga!"


"Dua!"


"Satu!"


Semua mata fokus pada bunga yang telah dilemparkan ke udara oleh Hanaria dan Willy. Semua muda-mudi itu bergerak berdesak-desakan menuju bunga yang akan jatuh.


"Yeay!" Teriak Edrina sangat gembira saat bunga mengarah padanya.


Belum sempat tangannya meraih bunga yang sudah seper-sekian detik jatuh ketangannya, sepasang tangan yang lebih lincah dari tangannya langsung dengan cepat menyambar bunga yang siap ditangkapnya.


"Kak ROSA!" Teriak Edrine kesal bukan kepalang, membuat semua undangan yang menyaksikan tingkah para anak muda itu tertawa lepas.


Yah itulah salah satu hiburan bagi para undangan yang sengaja dihadirkan oleh penyelenggara acara, event organizer yang dipercayakan oleh Moranno Agatsa, untuk acara resepsi pernikahan putranya Willy Moranno Agatsa dengan menantunya Hanaria.

__ADS_1


__ADS_2