HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
268. Sanggup Menanggung Yang Didengar


__ADS_3

📞"Asisten David, sudah lama aku tidak menerima laporan darimu seperti biasanya. Apa kau lupa?" Hanaria menatap pucuk-pucuk pepohonan dari balkon kamarnya dan Willy.


📞"Maafkan saya Nona, bukankah Anda harus beristirahat total setelah melahirkan?" sahut asisten David dari seberang sambungan telepon.


📞"Kau benar. Tapi kau 'kan tidak ada cuti, bukankah begitu asisten David?"


📞"Iya Nona," sahut asisten David pelan.


📞"Jadi tetaplah lakukan tugasmu seperti biasa. Kirim semua laporanmu, aku akan memeriksanya."


📞"Tapi Nona--" asisten David nampak ragu, peringatan nyonya Agatsa kembali terngiang ditelinganya ketika berada di rumah sakit waktu itu.


📞"Aku memerlukan laporanmu asisten David, bukan sanggahanmu," tegas Hanaria.


📞"Baiklah, akan segera saya kirimkan Nona," sahut pria itu patuh.


"Kudengar ada orang yang sedang memaksa pegawainya," Hanaria berbalik, mendapatkan Willy berdiri dibelakangnya dengan bertelanjang dada, hanya menggunakan handuknya yang menutupi bagian bawahnya karena baru selesai membersihkan tubuhnya dikamar mandi.


"Aku tidak memaksa asisten David, Sayang. Aku hanya memintanya mengirimkan laporan pekerjaan seperti biasanya." sanggahnya lalu berusaha melewati suaminya yang berdiri diambang pintu.


"Aku memerlukan laporanmu asisten David, bukan sanggahanmu!" Willy meniru ucapan dan gaya berbicara Hanaria ditelepon dengan bibirnya yang meliuk-liuk.


"Kau mengejekku," Hanaria terkekeh geli, seketika ia merasa gemes lalu berusaha mencubit perut Willy yang tanpa lemak itu.

__ADS_1


"Aduh! Sakit!" pekik Willy berpura-pura lalu merengkuh tubuh isterinya itu masuk dalam pelukannya.


"Jangan paksa-paksa asisten David ya, Sayang. Laki-laki itu bisa gila karenamu, kasian anak-anak dan isterinya, cukup aku saja yang tergila-gila padamu, heum," gurau Willy sembari mengeratkan pelukannya dan mencium pucuk rambut Hanaria. Permintaan resign asisten pribadi isterinya itu kembali terngiang ditelinganya.


Hanaria kembali tertawa. Suaminya itu kadang suka berlebihan menurutnya.


"Baiklah, kalau kau tidak mau aku memaksa asisten David, maka aku akan memaksamu saja," ucap Hanaria mendongakan wajahnya, menatap wajah segar Willy yang habis mandi.


"Dengan senang hati, aku suka dipaksa.olehmu," sahut Willy dengan senyum sumringahnya.


"Kalau begitu, tolong lepaskan aku dulu Sayang. Aku akan mengambil pakaian gantimu dulu dan setelah itu aku akan memaksamu untuk melakukan sesuatu untukmu," pinta Hanaria lembut.


"Heum, jadi penasaran. Paksaan yang bagaimana ini maksudnya, kok disuruh pake baju dulu," gumam Willy tak mengerti. Namun ia tetap melepaskan pelukannya, lalu mengekor Hanaria dari belakang meninggalkan balkon.


"Kau pakai baju yang ini saja Sayang." Hanaria mengeluarkan pakaian kerja suaminya lengkap dengan pakaian dala*annya dari dalam lemari. Willy menurut, dan segera mengenakan semua pakaiannya dengan bantuan isterinya itu.


Willy tercekat, beberapa minggu ini dirinya memang belum membahas tentang perusahaan isterinya itu, sesuai nasihat Oma-nya supaya isterinya untuk sementara waktu pokus dulu dengan kesehatan dirinya juga dua bayi kembar mereka.


"Longgarkan dasinya Sayang, napasku sesak," ujar Willy merasa tercekik.


"Maaf, tidak sengaja," Hanaria tertawa kecil lalu buru-buru melonggarkan dasi yang tidak sengaja terlalu erat dirinya memasangnya.


"Apa saja yang kau dengar?" tanya Willy, begitu napasnya lumayan lega, hampir saja terjadi insiden pencekikan dasi pagi ini batinnya.

__ADS_1


"Semua yang kalian perbincangkan mengenai permasalahan yang ada dalam tubuh perusahaan tambang nyonya Mingguana yang telah beralih menjadi atas namaku itu," sahut Hanaria.


Tangan wanita itu baru saja selesai membenarkan dasi suaminya, lalu memakaikan jas untuk menutupi kemeja hijau muda lengan panjang sang suami.


Willy menatap wajah Hanaria yang terkesan tenang, tidak ada raut kekusutan disana ataupun serupa dengan itu seperti yang dialami dirinya dan asisten David ketika sedang membahas permasalahan milik Hanaria.


"Dan akupun perlu tahu apa yang dikatakan asisten David padamu saat kau mengantarnya pulang," todong Hanaria, ia menelisik wajah Willy yang masih terlihat sedang berfikir dan menatapnya.


"Aku ingin kau mengatakan semuanya, jangan ada yang kau tutup-tutupi dariku. Percayalah, aku sanggup menanggung apa yang aku dengar," pinta Hanaria penuh harap.


Willy mendesah pelan, sebelum mengatakan semuanya. Sebagai seorang CEO perusahaan besar, ia tahu beban berat yang tengah ditanggung isterinya itu. Dan dirinya juga tahu, walau Hanaria bukan berasal dari keluarga seperti keluarganya, tapi isterinya itu memiliki watak yang keras dan kukuh pada pendiriannya.


...***...


"Nyonya Mingguana!" panggil seorang petugas didepan pintu tahanan.


Wanita paruh baya itu segera berdiri mendengar namanya disebut, ia melirik kiri dan kanan, melihat beberapa wanita berseragam sama dengannya dengan beragam usia menantapnya acuh.


"Buruan! Tidak perlu tolah-toleh! Kau tidak perlu berpamitan dengan kami!" lantang seorang perempuan berperawakan kekar berotot dari arah sudut dengan tato lebah madu hampir memenuhi bagian tangan dan kakinya.


Trang! Trang! Trang!


"Jangan berisik!" sentak petugas menatap tajam pada wanita bersuara lantang itu sambil membenturkan tongkat ditangannya pada jeruji besi didepannya.

__ADS_1


"Kau Nyonya, cepatlah!" perintahnya, menunjuk dengan tongkat ditangannya. "Seseorang ingin bertemu denganmu," imbuhnya.


Bersambung...👉


__ADS_2