HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
216. Gemes


__ADS_3

Willy menekukkan wajahnya. Ia melajukan mobil yang dikemudikannya dengan kecepatan sedang meninggalkan Mega Otomotif. Hanaria yang duduk disebelahnya sesekali melirikan pandangannya dengan diam-diam, ia tahu suaminya itu sedang kesal padanya.


Suasana nampak hening sepanjang perjalanan, hanya terdengar suara klakson yang saling bersahut-sahutan ditengah kemacetan lalu lintas menuju jalan pulang sore itu.


"Willy, maafkan aku," lirih Hanaria seraya menyentuh lengan suaminya, dengan wajah yang diliputi rasa bersalah, ia berharap suaminya itu tidak marah lagi padanya.


"Hmm," Willy yang tengah pokus pada kemudinya hanya berdehem, wajahnya pun sudah tidak menekuk seperti sebelumnya. Hanya saja ia masih merasa sangat gemes, teringat bagaimana wajah riang isterinya itu saat berada dibelakang kemudi. Dengan kecepatan tinggi mengemudikan mobil yang baru selesai dirakit oleh para engineering tempat isterinya berkerja. Dengan gaya pembalapnya, melesat kesana-kemari diarea test drive, dan baru berhenti saat ia tidak sengaja melihat suaminya yang menatap tajam kearahnya.


Hanaria yang tertangkap basah sedang menyalurkan hobby balap-nya itu turun dengan wajah sedikit menunduk dari mobil keluaran terbaru hasil desainnya sendiri yang disempurnakan oleh para engineering di perusahaan Mega Otomotif.


Tidak ada satupun dari para engineering itu yang berani bersuara, mereka hanya mematung menatap pasangan suami isteri itu, termasuk tuan Guandoo saat melihat wajah Willy yang memperlihatkan rasa kesalnya kala itu.


Willy memarkirkan mobilnya di basement apartemennya. Semenjak meninggalnya Firlita, keduanya memutuskan untuk pindah ke apertemen milik Willy, karena Hanaria yang memintanya. Kenangannya akan mendiang Firlita membuat Hanaria harus pergi untuk sementara waktu dari rumahnya itu, sampai kesedihannya sedikit mereda.


"Hana, yang kau lakukan itu sangat berbahaya. Apalagi sekarang kau sedang mengandung anak kita," kata Willy membuka pembicaraan, setelah berhasil mematikan mesin mobilnya, supaya isterinya itu mengerti akan kekhawatirannya sehingga ia terpaksa harus marah dihadapan para rekan kerja isterinya itu.


"Bagaimana bila terjadi sesuatu?" kata Willy dengan menunjukan wajah seriusnya saat melontarkan pertanyaannya itu.


"I-iya. Aku mengerti," sahut Hanaria gugup karena telah menyadari kesalahannya. " Aku hanya-, hanya bermaksud test drive saja," kata Hanaria mengemukakan alasannya kenapa ia melakukan hal itu.


"Aku tahu kau hanya beralasan saja bukan? Karena aku yakin, Mega Otomotif tidak kekurangan driver handal bila hanya untuk melakukan uji coba mobil baru mereka." Hanaria hanya bisa terdiam mendengar ucapan suaminya, karena itu memang benar.

__ADS_1


"Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat kau mengemudikan mobil baru itu dengan kecepatan tinggi, hingga putaran bannya yang mengelurakan suara decitan yang membuat ngilu gigi orang-orang yang mendengarnya," kembali Hanaria tidak membantah, ia memang melakukan hal itu untuk menguji kepekaan rem yang ia injak dan ketangguhan kecepatan mobil itu saat berlari kencang diatas lintasannya.


"Kau ingatkan? Bagaimana awalnya kita bertemu? Karena kau berhasil mengejarku dan dokter Rosalia waktu itu," kembali Willy mengingatkan permulaan mereka bertemu, membuat Hanaria ikut mengingat bagaimana ia mengejar Willy dengan hati geram saat Willy yang belum berstatus jadi suaminya kala itu menyerempet mobil miliknya untuk meminta ganti rugi.


"Terus terang, bila terjadi sesuatu pada dirimu, juga bayi kita yang sedang kau kandung, aku pasti akan sangat menyesal karena telah mengijinkanmu berkerja di Perusahaan itu," kata Willy lagi memandang Hanaria yang masih menundukkan kepalanya.


"Apa kau tahu? Tingkah laku seorang wanita yang sedang mengandung akan berpotensi besar menurun pada bayi yang sedang dikandungnya," kata Willy menakut-nakuti. Hanaria yang benar-benar tidak tahu, hanya bisa menggeleng pelan mendengar ucapan suaminya yang bergaya sok tahu itu.


"Aoakah kau mau? Anak yang akan kau lahirkan nanti kelakuannya bisa melebihi kenakalan ayahnya atau ibunya?" kata Willy dengan wajahnya dibuat seserius mungkin.


Hanaria kembali menggeleng. Seingatnya, semasa kecil dirinya tidaklah bandel, cenderung pendiam dan pemalu, juga penakut, jadi ia sama sekali tidak khawatir bila anak yang akan dilahirkannya itu akan menjadi nakal dan bandel. Yang ia takutkan adalah apabila kenakalan suaminya semasa kanak-kanak akan menurun pada anak mereka. Hanaria kembali mengeleng rusuh.


"Syukurlah kalau kau tidak mau," kata Willy tersenyum lega melihat roman wajah isterinya. Ia tidak tahu apa yang telah difikirkan oleh isterinya, entah apa yang akan ia katakan bila tahu apa yang ada dalam kepala isterinya saat ini, mungkin ia akan kembali berdebat panjang dan lebar.


"Baiklah, aku maafkan. Jangan diulangi lagi," sahut Willy sambil melepaskan sabuk pengaman dari tubuhnya. " Cium tanganku dulu sebagai permohonan maafmu," katanya lagi sambil medekatkan tangan kanannya kewajah isterinya itu.


Hanaria menatap sejenak wajah suaminya yang kadang ada-ada saja tingkahnya. Bukannya meminta pelukan, atau minta pipinya dicium seperti biasa, batinya sambil tersenyum didalam hati.


"Ayo cepat, sebelum aku berubah fikiran," desak Willy tidak sabaran. Hanaria langsung meraih pinggung tangan suaminya dan memberi sentuhan lembut bibirnya pada punggung tangan suaminya. Willy mengembangkan senyumnya melihat kepatuhan isterinya itu.


"Kembalikan uang ayah yang kau pinjam dulu. Aku merasa malu walau isteriku meminjam uang ayahnya sendiri. Kau belum mengembalikannya bukan? Walau aku sudah menyuruhmu waktu itu," kata Willy mengingatkan isterinya itu lagi.

__ADS_1


"Kata ayah tidak perlu, lagi pula itu juga uang pemberianmu," kata Hanaria memberi alasan kenapa dirinya belum mengembalikan uang yang ia pinjam pada ayahnya.


"Walau aku yang memberikannya pada Ayah, tapi itu sudah bukan uangku lagi Hana, jadi kau harus mengembalikannya sekarang juga, tidak ada alasan apapun. Bukankah uangmu saat ini sangat banyak?" tandas Willy seraya mengerlingkan matanya.


"Yang banyak itu bukan uangku, tapi uang suamiku," kilah Hanaria, sementara itu tangannya sibuk melepaskan sabuk pengaman dari tubuhnya.


"Kau ini, selalu saja ada jawabannya," kata Willy kembali merasa gemes. "Uangku, ya uangmu juga. Aku berkerja buat keluargaku, yaitu kau dan anak kita," jelas Willy memandang isterinya masih dengan tatapan gemesnya.


"Dan uangku juga adalah uangmu juga bukan?" balas Hanaria tidak mau kalah. Willy langsung tertawa mendengar Hanaria yang meladeni dirinya berdebat.


"Hana-Hana, tidak ada rumus seperti itu," ucapnya sambil meraih tubuh isterinya itu untuk masuk kedalam pelukannya.


"Lalu?" Hanaria sengaja melanjutkan pertanyaannya, ia ingin tahu apa pendapat suaminya itu.


"Seluruh pendapatanmu yang kau hasilkan dari berkerja adalah sepenuhnya milikmu. Kau bebas menggunakannya semaumu Hana," kata Willy sambil mencium pucuk rambut isterinya dengan lembut.


"Dan setiap rupiah yang kuhasilkan, kau berhak mengelolanya untuk rumah tangga kita, untuk keperluanmu, keperluanku, keperluan anak-anak kita nantinya, tagihan-tagihan, dan semua keperluan rumah tangga kita yang memang perlu dibiayai. Itu sebabnya mommy menyuruhku memberikan semua kartu-kartuku itu padamu," jelasnya.


"Kata mommy, berbahaya seorang pria beristeri memegang banyak rupiah, takut tersesat dan lupa arah pulang kerumah," kata Willy mengada-ada.


"Benarkah? Apa mommy bicara seperti itu?" tanya Hanaria tidak percaya.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2