
📞"Itu suara Willy? Kenapa si perusuh itu ada disana?" Rosalia menajamkan pendengarannya, mendenggar kegaduhan dalam ponsel ditangannya.
📞" Iya, itu suara Willy. Kami sedang berada dikamar baby Jo dan baby El." sahut Billy.
📞"Aku akan menghukumnya nanti bila bertemu, karena berani menguping," sungutnya mengancam.
📞"Itu artinya kau juga akan menghukum adik ipar, Oma, dan baby El, karena mereka juga ikut menguping," kekeh Billy.
📞"A-apa? Kau serius? Apa nona Hana dan Oma juga ada disana?" kagetnya.
📞"Iya, mereka ada disini. Bahkan Oma yang memegang ponselku yang di loadspeaker.
📞"K-Kau dan Willy membuatku kesal malam ini," Rosalia seketika memutuskan sambungan teleponnya sepihak membawa rasa malunya.
Semua yang ada disana saling berpandangan dengan tatapan menuduh kesatu titik. Hanya Billy yang terlihat tetap santai, tidak terlalu memusingkan sikap Rosalia, ia memandangi baby El lalu kembali menghujani ciuman diwajah bayi gembul itu.
"Ini semua gara-gara kau Willy, kasihan kakakmu Billy," sesal nyonya Agatsa geram.
"Willy kan hanya bercanda Oma," ucap Willy membela diri.
"Ayo Billy, ikut Oma. Berikan baby El pada ibunya, kita harus kerumah Rosalia sekarang juga." ucap nyonya Agatsa mengabaikan pembelaan Willy barusan.
"Tapi Oma, Billy masih ingin bermain dengan baby El disini," sahut Billy berusaha menolak.
"Billy, kau tidak bisa membiarkan seorang gadis kesal tanpa membujuknya. Ayo kita pergi sekararang," paksa nyonya Agatsa.
"Baiklah, sebentar Oma," Billy mengalah, ia mendekati Willy menyerahkan baby El pada adiknya itu.
"Anak pintar, sama Daddy dulu ya. Paman ada urusan penting sama Oma-nya Paman. Kapan-kapan Paman kesini lagi untuk bermain denganmu," ucapnya sembari mencium pipi gembil bayi itu.
"Nghh, oee, ohh," suara bayi itu, dengan kaki tangannya yang bergerak rusuh dalam gendongan Willy.
Billy memang tidak mengerti bahasa bayi, tapi dari bahasa tubuh baby Elnathan dengan tangan menggapai-gapai kearahnya, ia biasa tahu kalau bayi itu masih ingin bermain dengannya.
__ADS_1
"Bye baby El, sampai jumpa," Billy menyempatkan melambaikan tangannya, karena satu tangannya lagi sudah diseret paksa oleh sang nenek untuk keluat dari sana.
"Oma, sepertinya malam ini aku tidak bisa kerumah Rosalia," ucap Willy, begitu ia dan neneknya sudah keluar dari kamar bayi kembar Hanaria dan Willy.
"Kenapa?" nyonya Agatsa menghentikan langkahnya.
"Sebelum kemari, aku sudah kerumah Rosalia Oma, tapi pak Hartawan menyuruhku pulang," jujur Billy.
Nyonya Agatsa seketika terpaku ditempatnya, mendengar pengakuan Billy yang seolah mengada-ada.
"Aku ingin bertemu Elvano dulu Oma, aku merindukan bocah itu," Billy mendekati daun pintu yang tidak jauh darinya, meraih kenop pintu dan mendorongnya pelan lalu masuk kedalamnya dan disusul oleh nyonya Agatsa.
"Selamat malam Tuan muda dan Nyonya besar," sapa bibi Salu yang nampak kaget, karena pintu kamar Elvano didorong tanpa diketuk terlebih dahulu.
"Selamat malam juga Bibi, Vano sudah tidur?" tanya Billy mendekati ranjang Elvano.
"Sudah Tuan, baru saja." jawab bibi Salu.
"Bibi boleh istirahat sekarang, aku dan Billy mau berbincang-bincang dikamar ini," ucap nyonya Agatsa menatap bibi Salu. Sementara Billy sudah naik keranjang Elvano.
Dari sisi tempat tidur, nyonya Agatsa memandangi Billy yang tengah merapikan selimut tebal Elvano, supaya bocah yang belum genap 2 tahun itu merasa lebih nyaman dalam selimutnya.
Wanita itu merasa senang karena Willy dan Billy, kedua cucunya sama-sama penyayang anak-anak, termasuk Elvano, walau bocah itu adalah kerurunan dari manusia yang telah melakukan kejahatan pada Hanaria, anggota keluarga Agatsa.
"Billy apa kau sudah menemukan bukti baru lagi mengenai kejahatan yang dilakukan nenek dan ayah dari bocah itu?" tanya nyonya Agatsa.
"Belum," Billy mencium wajah Elvano dengan lembut, lalu dengan hati-hati menyandarkan punggungnya pada headbord dibelakangnya agar bocah itu tidak terbangun akibat gerakannya.
"Aku sepertinya memerlukan keterangan dari adik ipar dalam waktu dekat," ungkapnya lagi, sembari menyilangkan kedua kaki panjangnya.
"Aku terkadang sedih dan kasihan pada nasib bocah ini," Billy mengusap lembut pucuk rambut Elvano. "Untung saja adik ipar mengadopsinya waktu itu, sehinga Elvano bisa memiliki masa depan," ucapnya.
"Kau benar Billy." nyonya Agatsa mendudukkan dirinya ditepi tempat tidur. "Pak Aji dan ibu Maria sudah sakit-sakitan diusia tua mereka, lalu nyonya Mingguana mendekam dalam penjara bersama putranya." ucapnya sambil tercenung, membayangkan nasib malang bocah itu.
__ADS_1
"Billy, ceritakan ke Oma, bagaimana bisa kau disuruh pulang oleh tuan Hartawan dari rumahnya?" tanya nyonya Agatsa yang kembali teringat tentang ucapan cucunya yang sempat ke rumah Rosalia.
Wanita yang telah dianggap sebagai sesepuh dalam keluarga besarnya itu memijat betis cucunya dengan sayang.
Billy terkekeh memandang neneknya yang nampak penasaran. "Itu hal yang sudah biasa aku alami Oma, jadi tidak perlu diceritakan secara detail."
"Sudah sering?" nyonya Agatsa nampak tak percaya pada apa yang ia dengar.
Sepengetahuanya, selama ini Rosalia sering menghabiskan waktu bersama kedua cucu kembarnya itu sejak mereka bayi. Ketika Rosalia dan Willy memutuskan kuliah diluar negeri, barulah mereka jarang bertemu karenaa Billy mengikuti pendidikan kemiliteran didalam negeri. Jadi bila Billy berkata demikian, mungkinkah ada yang terluput dari perhatiannya? Batinnya.
"Seingatku, mulai kami TK A dan Rosalia di TK B, pak Hartawan memang sering menjauhkanku dari Rosalia, tapi bila ada Willy kami boleh berteman bertiga." adu Billy, mengingat masa kecilnya waktu itu.
"Apa kau menyukai Rosalia lebih dari sahabat? Jawab Oma dengan jujur Billy," selidik nyonya Agatsa memperhatikan wajah cucunya itu.
"Entahlah," Billy menggoyang-goyangkan kedua kakinya yang menyilang dengan bersedekap dada sambil berfikir sejenak. "Tapi, bila tidak melihat, atau mendengar suaranya, ada rasa yang kurang Oma," tuturnya serius menatap kewajah neneknya.
Nyonya Agatsa tersenyum, ternyata cucunya yang tidak pernah mengenalkan seorang wanita pada keluarganya itu menyukai putri seorang jendral, atasannya sendiri.
"Apa mungkin tuan Hartawan cemburru padamu karena tahu kau menyukai putrinya?" duga nyonya Agatsa, spontan saja Billy kembali terkekeh mendengar ucapan neneknya itu.
"Memangnya ada seorang ayah seperti itu Oma?" tanya Billy masih terkekeh.
"Oma juga tidak tahu, hanya menduga saja. Apa kau mau Oma membantumu untuk meluluhkan hati tuan Hartawan?"
Billy buru-buru menggeleng. "Jangan Oma, biar aku berusaha sendiri, lagi pula aku masih menabung."
"Menabung apa?" tanya nyonya Agatsa.
"Pundi-pundi uangku masih sedikit Oma, jadi aku tidak harus buru-buru," Billy nampak malu mengakuinya.
"Kalau itu, kau tidak perlu pikirkan, ada.Oma dan Daddy-mu, jangan khawatir."
"Tidak Oma. Billy tau Oma.dan Daddy punya banyak uang, tapi Billy ingin berusaha sendiri." tegasnya.
__ADS_1
"Kau memang cucu kebanggaan Oma," nyonya Agatsa menepuk-nepuk pundak cucunya itu dengan senyum bahagianya.
Bersambung...👉