HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
242. "Saya Beli Semua"


__ADS_3

Setelah kepergian security malang itu, asisten David dengan sigap maju kebih dulu dan mendekati pintu rapat direksi untuk membukanya.


"Jangan lakukan itu," cegah Hanaria datar.


Asisten David serta merta menghentikan gerakannya. Mungkinkah sang majikannya itu takut lalu berubah fikiran batinnya.


Diluar dugaannya, empat detik kemudian, Ia melihat sang majikannya itu maju beberapa langkah, mendorong pintu raksasa dihadapannya dengan kedua tangannya.


Suara deritan pintu yang terbuka lebar, mengagetkan semua petinggi yang sedang melakukan meeting mereka didalam sana. Suasana seketika hening, hanya suara hentakan sepatu Hanaria dan asisten David yang begitu jelas terdengar memasuki ruang rapat itu.


Asisten David yang melangkah dibelakang Hanaria dapat melihat dengan jelas, ekspresi yang ditunjukan oleh setiap petinggi-petinggi itu, tegang, dengan wajah yang tak terbaca, ketika Hanaria tiba-tiba memasuki ruangan rapat tanpa mereka duga.


Asisten David terlihat kebingungan, karena tidak ada satu kursi pun yang tersedia untuk Hanaria maupun dirinya. Ia berinisiatif keluar untuk mencari kursi, setidaknya hanya untuk sang majikannya.


"Tidak perlu asisten David," cegah Hanaria, mengerti apa yang akan dilakukan asisten David yang sedang beranjak menuju pintu keluar.


"Sangatlah wajar hal ini terjadi, karena kita hadir disini tanpa undangan asisten David," sindir Hanaria datar.


Mendengar perkatan Hanaria, beberapa petinggi yang hadir itu tergelak tertahan, selebihnya, hanya tersenyum berusaha menahan tawanya agar tidak lepas begitu saja, rupanya mereka masih menjaga image-nya sebagai seorang petinggi perusahaan.


"Apa terdengar lucu, sehingga Tuan-Tuan dan Nyonya sekalian mentertawai apa yang saya ucapkan," pancing Hanaria, menyapu pandangannya pada seluruh sidang rapat yang terhormat itu.


"Itu benar sekali Nona Pemilik Perusahaan," celetuk seorang pria beruban yang duduk dibarisan kedua, dan ia masih melanjutkan senyum lebarnya.

__ADS_1


Hanaria langsung bersitatap dengan pria tua itu. Dari suaranya saja, sebenarnya Hanaria sudah tahu siapa yang bisa berbicara tanpa berfikir seperti itu.


"Sudah saya duga, ternyata itu memang suara tuan Rudolf Bong," ucap Hanaria tersenyum tipis diujung bibirnya. Pria yang disebutkan namanya itu kontan menyambutnya dengan tawa mengejek. Hanaria berusaha bersikap tenang, menghadapi pria tua yang selalu saja bersikap dan berbicara sesuka hatinya itu tanpa menimbang rasa.


"Sepertnya, untuk hari ini saya memang harus setuju dan sepakat dengan apa yang dikatakan Anda tuan Rudolf Bong, Nona Pemilik Perusahaan Mega Otomitif terlihat lucu," ungkapnya masih tersenyum tipis, seolah sedang merendahkan dirinya sendiri.


"Ya, lucu. Lucu sekali! Bagaimana mungkin para direksi yang terhormat, pemegang saham, bersatu padu mengadakan rapat tertutup, diruang rapat direksi milik perusahaan Mega Otomitif, tanpa permisi pada pemiliknya." ucapan sarkas Hanaria seketika menghapus senyum pada wajah para petinggi itu, termasuk tuan Rudolf Bong yang sedari tadi menunjukan senyum mengejeknya.


"Nyonya Miasa Laura, lanjutkan rapatnya. Saya ingin mendengar agenda pembahasannya, sekalipun sebagai pemilik sah Perusahaan Mega Otomotif, saya tidak diundang dalam rapat ini," ucap Hanaria beralih pada pemimpin rapat yang berdiri dibelakang podium.


"Rapat kami sudah selesai Nona," sahut wanita itu datar dan tanpa ragu.


"Bacakan hasilnya, saya juga ingin tahu," tegas Hanaria menatap wanita itu.


"Merujuk pada keputusan sepihak oleh nona Hanaria, selaku pemilik Perusahaan Mega Otomotif, yang mewajibkan setiap Dewan Direksi, Pemegang Saham, hingga para pegawai untuk memaksa membeli dan memiliki product Mega Otomotif, maka kami atas nama Pemilik Saham, Para Dewan Direksi tidak setuju akan hal itu. Dan kami sepakat, menarik semua saham yang kami miliki dari Perusahaan Mega Otomotif," eja wanita itu lantang.


Detik kemudian ia memandang kearah Hanaria. "Saya turut prihatin nona Hanaria, Perusahaan yang selalu Anda banggakan sebagai pemiliknya, kini bukan hanya bangkrut, tapi benar-benar akan bubar," ungkap wanita itu lagi dengan senyum jahatnya, ia merasa posisinya bersama para pemegang saham dan dewan direksi yang sepaham dengan dirinya, saat ini merasa benar-benar diatas angin.


"Kau bukan siapa-siapa nona Hanaria. Kau hanya anak kemarin sore, yang bermimpi memimpin kami di perusahaan raksasa ini. Pengalamanmu itu belum ada apa-apanya," lanjut wanita itu dengan nada meremehkan.


"Kehamilanmu itu sebenarnya mengharuskanmu tinggal diam dan duduk manis dirumah sebagai ibu rumah tangga, bukan berada di Perusahaan ini," ketus wanita itu lagi.


Asisten David melirik wajah Hanaria. Kekhawatirannya pada sang majikan membuatnya harus siaga menjaga wanita hamil tua itu, bisa saja Nona majikannya itu melahirkan ditempat ketika mendengar semua cercaan yang menyakitkan ditujukan padanya langsung tanpa ragu dari seorang wanita petinggi yang mewakili para peserta rapat itu.

__ADS_1


"Sekarang, kami memberi kesempatan pada Anda untuk terakhir kalinya berbicara, sebelum perusahaan ini benar-benar bubar Nona," ucap nyonya Miasa mengakhiri cercaannya. Dirinya merasa puas, segala hal yang ia simpan sudah dipaparkan secara terbuka dan gamblang pada Sang Pemilik, yang baru seumur jagung itu.


Suasana seketika terasa senyap. Semua atensi para petinggi itu kini terpusat pada Hanaria yang sedang mengambil napas dalam.


Dari kesekian banyak para petinggi itu, masih ada beberapa orang Pemilik Saham dan Dewan Direksi yang sedari tadi berempati melihat Hanaria yang terbilang paling muda dari mereka semua. Didalam hati, mereka menyelipkan doa, semoga Sang Pemilik muda itu bisa mengatasi permasalahan ini.


"Sepertinya bukan hanya saya saja yang suka bermimpi, tapi nyonya Miasa juga," sahut Hanaria menimpali ucapan wanita paruh baya itu dengan senyum tipisnya.


Nyonya Miasa hanya tersenyum sinis menanggapi ucapan Hanaria. Menurutnya, Hanaria yang masih sangat muda itu tidak akan bisa membalas dirinya kali ini.


"Saya harap, walaupun sudah berusia lebih dari setengah abad, nyonya Miasa tidak lupa, bila peraturan anggaran dasar rumah tangga Perusahaan Mega Otomotif ini, mengatur keras bagi pemilik saham yang mau menarik sahamnya, hanya diperkenankan menjualnya pada orang yang menjadi pemilik sah Perusahaan atau para pemegang saham yang masih bertahan di perusahaan Mega Otomotif," jelas Hanaria secara gamblang, mematahkan keyakinan nyonya Miasa yang mewakili para pemegang saham dan dewan direksi yang satu frekuensi dengannya.


"Itu artinya, rencana untuk membubarkan Mega Otomotif masih berupa mimpi yang jauh dari kenyataan." Hanaria tersenyum didalam hati, saat melihat wajah nyonya Miasa menekuk mendengar ucapannya.


"Untuk Tuan-Tuan dan Nyonya yang siap menjual sahamnya, silahkan menemui pihak manager keuangan Perusahaan setelah rapat ini usai. Saya beli semuanya, dan akan terbayar lunas." tegas Hanaria menatap kearah para petinggi yang hadir dalam ruang rapat itu.


"Ternyata Anda bisa sombong juga Nona Hanaria," ucap nyonya Miasa dengan raut kesalnya.


"Saya hanya mengimbangi saja Nyonya. Supaya orang seperti Nyonya, beserta Tuan-Tuan dan Nyonya yang sepaham dengan nyonya, tidak menganggap dirinya sebagai orang hebat dan menganggap dirinya bijak," balas Hanaria tak mau kalah.


"Dan bagi Tuan-Tuan dan Nyonya yang masih bertahan di Perusahaan ini, dan ingin membeli saham yang dijual itu, silahkan menemui asisten David besok,"


Setelah berkata demikian, tanpa berpamitan Hanaria bergegas meninggalkan ruang rapat diikuti asisten David.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2