
"Saudari Yolanda, Saye Nadira, Pengarah bagian Personalia N-one Grocery. Saye menelepon nak bagi tahu kalau anda diterima bekerja di perusahaan N- one Grocery. Jadi kami berharap Anda boleh datang kat sini esok untuk langsung dapat bekerja serta mengurus proses administrasi. Boleh?"
Panggilan telepon itu tak di sangka datang sangat cepat. Padahal tadinya Nadira berkata akan memberi kabar dalam beberapa hari. Namun nyatanya, di siang hari di hari yang sama saat interview, mereka telah memanggilnya untuk mengurus proses administrasi.
Dan kabar itu pun dengan cepat juga sampai ke telinga Atok. Atok pun segera memanggil Yola ke rumahnya.
"Atok dah dengar, kau telah lolos seleksi wawancara. Jadi Atok nak bagi kau kembali, ini ...."
Atok Yahya memberikan sebuah kunci pada Yola.
"Itu kunci rumah yang Atok beri untuk kau dah Ilham sebagai hadiah perkahwinan beberapa tahun silam. Kerana Yola akan menetap di sini. Atok bagi kau kembali rumah ini. Ambillah .... Tak payahlah mesti tinggal di hotel. Buang- buang wang je," kata Atok.
Yola menatap kunci itu. Teringat green house di atas bukit, tempat ia dan Ilham memadu kasih beberapa tahun lalu. Hal yang sangat dia tidak ingin ingat. Dan sekarang untuk apa ia ingin tinggal di sana.
"Maaf, Atok! Yola telah memutuskan untuk sewa apartemen saja, selama Yola tinggal di sini. Lagi pula jarak dari rumah itu ke N- one lumayan jauh. Yola ingin cari yang dekat- dekat saja," katanya.
"Yola, kenape kau nak lawankan Atok terus? Terima je konci tu. Kalau kau tak mau tinggali pun tak pe. Tapi tolong hargai apa yang atok beri," kata Atok.
Yola menghela napas dan mengambil kunci itu dan menyimpannya dalam tas.
"Baiklah, Atok. Yola akan simpan saja kunci rumah ini dulu." Jawabnya pasrah.
Menghabiskan waktu berbasa basi sejenak, Atok memperhatikan Yola yang terlihat celingak-celinguk mencari- cari sesuatu.
"Yola nak cari siape? Ilham ke?" tanya Atok yang di telinga Yola terdengar seperti sedang menggodanya.
Yola menggeleng.
"Ammar .... Dimana dia, Atok?" tanya Yola akhirnya.
Sejak dia bertemu anak bernama David itu tadi pagi, entah kenapa timbul rasa penasarannya ingin melihat Ammar.
Diam- diam Atok berusaha menahan senyumnya. Sepertinya cucu menantunya ini mulai memiliki rasa yang seharusnya akan anak kaandungnya. Perasaan seorang Ibu. Atok bisa melihat itu.
"Ohh .... Ammar sore hari macam ni ada bimbingan belajar jarimatika. Bile pagi, dia sekolah pula di Tadika. Kenape? Yola nak bertemu, ke? Kalau nak tunggulah hingga sore nanti. Atau Yola pun bolehlah makan malam di sini je. Menginap pun boleh. Sekitar pukul 5 Ammar pun balik dah tu kat rumah," pancing Atok.
"Ehmm, tak perlu, Atok. Yola masih harus berbelanja beberapa pakaian kerja. Yola ke sini hanya membawa beberapa pasang pakaian saja dari Jakarta. Sementara Yola besok sudah mulai masuk bekerja," tolak Yola.
"Baiklah kalau macam tu," jawab Atok.
"Yola pamit Atok," kata Yola sambil menyalim punggung tangan Atok Yahya.
"Yola, Ilham balik ke KL bukan Atok yang bagi tahu Yola ade kat sini. Mohon jangan salah sangka dengan Atok," kata Atok Yahya.
Yola mengangguk frustasi.
"Ya, Atok. Yola permisi dulu."
Sepeninggalan Yola, Ilham yang sedari tadi ternyata berada di dalam ruang kerja Atok yang berdekatan dengan ruang tamu, segera keluar dan bergabung dengan Atok di ruang tamu.
"Terima kasih, Atok." ucapnya.
"Buat ape?" tanya Atok.
"Karena telah mengirim Yola ke N- one. Atok melakukan ini agar Ilham bisa rujuk kembali dengan Yola. Iya kan?"
Atok tersenyum sinis.
"Jangan lekas gembira dulu. Atok masih kecewa dengan kau Ilham. Kalau mase tu kau tak bermain- main dengan perempuan lain di belakang Yolanda, macem mana perempuan tu boleh memasang perangkap agar kau berkahwin dengannya? Kau tengoklah sahaja kelakuan die. Berpendidikan tapi seperti tak pernah dididik. Malu Atok punya cucu menantu macem tu. Coba kau tengok tu Yola, setelah ape yang kau lakukan. Dia pun masih boleh bangkit meski kau menghancurkan kehidupannya. Semua ni kerana kau tak betul- betul percaye pada pilihan Atok. Ape- ape yang Atok pilihkan untuk kau mestilah demi kebaikan kau. Termasuk isteri. Meski mase tu Yola masih budak kecil, tapi Atok dah tengok, dah pun menilai segala sesuatu yang berkenaan dengan asal usul keluarga dia. Keluarga Gunawan adalah keluarga terhormat. Atok dah kenal keluarga mereka dari beberapa generasi. Tak de yang perangainya macam isteri kau Sonia tu. Taunya hanya bisa mengancam, berhura- hura. Segeralah ceraikan betina satu tu. Membuat Atok sakit kepala je," keluh Atok.
Ilham mengangguk.
"Ilham akan usahakan, Atok .... Bagaimana pun Ilham mesti tahu dimana mereka sembunyikan dia."
__ADS_1
"Jangan berlama-lama. Atok dan Yola hanya punya kesepakatan satu tahun je. Selama itu, kau menangkanlah hati dia lagi. Walaupun Atok tau itu tak akan senang buat kau."
"Kesepakatan?" tanya Ilham bingung.
"Iyalah. Kesepakatan. Kau sangka ape? Kerana dia cinta dengan kau?" tanya Atok lagi meremehkan.
"Kesepakatan ape, Atok?"
"Dalam mase setahun, Yola mesti menaikkan omset N-one sebanyak 30 %." jawab Atok.
"Kalau tak?" tanya Ilham cemas.
"Kalau tak, kau tak cuma akan kehilangan Yola tapi kau juga akan kehilangan Ammar. Atok berjanji akan memberikan hak asuh Ammar dalam mase setahun apebile dia berhasil menaikkan omset N-one sebanyak 30%," jawab Atok acuh.
"Atok!!! Macam mana Atok boleh membuat Ammar jadi bahan taruhan? Dia anak aku Atok!" protes Ilham tak terima.
"Bukan cuma anak kau. Dia juga anaknya Yola. Jadi sekarang tergantung seberapa gigihnya usaha kau untuk dapatkan kembali Yola. Kau mesti jadikan Yola cucu menantu keluarga Nirwan yang resmi di hadapan publik. Kegigihan kau akan menentukan ape kau kehilangan mereka berdua atau tau kau akan dapatkan kembali keduanya dan membina rumah tangga seutuhnya dengan anak isteri kau yang sebenarnya. Kau tak mahu ke? Atau Atok yang salah kire tentang perasaan kau pada Yolanda. Kau cinta dia kan?"
Ilham dengan mantap menganggukkan kepalanya.
"Iya, Atok."
"Maka berjuanglah!"
*****
Tok!Tok!Tok!
Yola mengetuk pintu ruangan Nadira yang sedang terbuka.
"Direktur Nadira, saya datang ingin menyelesaikan administrasi," kata Yola.
Nadira tersenyum menyambut kedatangan Yola.
"Masih pukul 07.45. Hari ini sepertinya direktur Yola datang lebih awal?" sapanya sembari melirik jam tangannya. "Sila masuk!"
"Saya tidak mau di hari pertama saya bekerja wakil direktur utama menyalahkan saya karena datang terlambat," jawab Yola sembari balas tersenyum.
Nadira pun langsung mengeluarkan kontrak kerja dan menjelaskan poin per poin pada Yolanda.
"Masa percobaan selama 3 bulan. Salary yang akan kamu dapatkan adalah RM. 50.000 selama masa percobaan ditambah bonus. Setelah menjadi pekerja tetap, salary kamu naik menjadi RM. 75.000. Selain itu masih ada bonus, komisi, dan tunjangan bagi karyawan," kata Nadira menjelaskan.
Yolanda mengernyitkan keningnya.
"Ini melebihi salary yang saya minta ketika wawancara," gumamnya.
"Oh, itu .... Ketua pengarah yang memutuskan hal tersebut. Mungkin beliau ade pula pertimbangan lain," kata Nadira.
Yola terdiam mengetahui kalau Ilham akan memberikan gaji yang melebihi dari yang dia minta setelah ia jadi pegawai tetap di perusahaan ini. Apa itu bentuk sogokan, agar dia bersedia bekerja untuk seterusnya pada N-one? Tapi untuk apa Ilham melakukan itu? Agar dia bersedia di samping lelaki itu? Dan dia melakukannya dengan sogokan melalui gaji?
Ah, tidak, tidak! Kau terlalu banyak berpikir, Yola! batin Yola.
"Tanda tangan kat sini!"
Setelah menandatangani kontrak kerja itu, Nadira pun mengajaknya untuk berkeliling departemen pemasaran.
"Setelah ini, kita akan bertemu dengan Leon, wakil ketua pengarah. Dia akan menjelaskan ape- ape yang akan menjadi tugas utamamu," kata Nadira.
"Jadi, setelah berkeliling- keling pada akhirnya aku tetap akan jatuh ke tangannya juga?" keluh Yolanda mengingat konflik kecilnya dengan wakil direktur itu kemarin.
"Kenape? Takut?" tantang Nadira.
"Itu sih tergantung seberapa hebat dirinya," balas Yola.
__ADS_1
"Hehehe .... Kau tak usah risaukan dia, Yola. Boleh aku memanggilmu begitu? Kau pun boleh memanggilku Nadira je," kata Nadira. "Kita bolehlah berkawan semenjak saat ini."
Yola mengangguk. Dia senang pada kepribadian Nadira yang terlihat low profil.
"Leon itu suami aku. Dia sebetulnya baik. Cume itu je, dia agak sikit keras je. Tapi hatinya lembut bagai kapas," katanya.
Yola tercengang. Tak menyangka kalau wakil presdir yang menyerangnya kemarin dengan kata- kata sindiran adalah suami Nadira yang menyenangkan. Betapa bertolak belakang.
"Kenape? Tak percaya ke?"
Yola menggeleng.
"Aku cuma kagum aja. Kalian bisa bersama di rumah dan di kantor setiap hari setiap waktu dan bisa memisahkan antara urusan pribadi dan pekerjaan. Itu luar biasa," puji Yola.
"Kau pun bukannya sama je?"
"Hmmm?"
Yola masih ingin bertanya tentang maksud perkataan Nadira saat mereka telah sampai di ruangan Leon.
"Wakil direktur utama, Leon. Direktur marketing baru kite Yolanda Gunawan telah menyelesaikan administrasinya." kata Nadira setelah mengetuk pintu.
"Ok. Sila Masuk."
"Aku tinggal ya," kata Nadira pada Yola yang langsung dibalas dengan anggukan.
"Meski kau dah masuk N-one Grocery tapi kau belum menjadi pekerja tetap. Menurut peraturan perusahaan, masa uji coba staff adalah 3 bulan. Namun saye bisa mempersingkat waktu itu menjadi satu bulan sahaja bilamana engkau boleh melewati tantangan saya," kata Leon.
"Oke. Apa itu?" respon Yola cepat.
"Kita memiliki supermarket cabang N- one Grocery di pinggir utara kota. Supermarket tu amatlah pelik untuk berkembang. Tiap waktu selalu merugi. Selalu lebih besar pasak daripade tiang. Jadi tantangan dari saye adalah, kau mesti menaikkan setidaknya 2% pendapatan supermarket itu dalam satu bulan. Macem mana? Sanggup tak? Bilamana kau berhasil posisi Direktur marketing dalam satu bulan akan jadi milikmu." tantang Leon.
Macem mana? Berani tak? kekeh Leon dalam hati.
"Baik! Dalam satu bulan saya akan menghidupkan kembali supermarket itu," kata Yola.
Cih! Kau tu terlalu percaya diri atau memang angkuh? Belum je nampak kondisi supermarket tu dah pun percaya diri sangat! batin Leon dalam hati.
"Baiklah, kalau direktur Yolanda begitu percaya diri. Saya akan menantikan hasilnya," kata Leon.
"Kalau tidak ada lagi, saya permisi dulu," pamit Yola meninggalkan Leon yang masih mengomel dalam hatinya.
Selepas Yola pergi Leon pun dipanggil ke ruang rapat. Lelaki itu pun mendatangi ruang rapat dan menghempaskan tubuhnya begitu saja di kursi di dekat Ilham.
"Kau tak boleh ke, semangat sikit je?!" kata Ilham melihat wajah Leon yang terlihat bete.
"Mau semangat macam ape pun aku, mana boleh dibandingkan dengan direktur baru tu, isteri kau tercinta tu, iya kan?" bisiknya sebal.
"Kenape lagi?" tanya Ilham.
"Aku beri dia tantangan menaikkan pendapatan supermarket di pinggir utara kota sebanyak 2%. Kau tau ape yang dia kate? 'Dalam waktu sebulan aku akan hidupkan supermarket tu'." Kata Leon sambil geleng-geleng kepala.
"Isteri kau tu Ilham arogan sangatlah. Aku jadi meragu, kau dapat taklukkan hati dia. Cakapnya besar sangat. Aku akan dengan sukarela memberikan jawatanku ke dia, kalau dia boleh memenangkan tantangan itu."
Mengatakan itu Leon mengetuk jarinya pada meja dengan sebal.
"Wah, itu pemikiraj yang bagus sangat! Dia boleh dekat di samping aku kalau macam tu. Kalau macam tu kau nantikanlah saat tu tiba. Aku nak kirim kau ke cabang N-one di luar kota!" jawab Ilham jahil.
"Hey! Aku tak serius pun. Kau tarik lagi ucapan kau tu, Ilham! Aku tak nak dikirim ke luar kota!"
"Kau yang cakap tadi!"
"Tak nak! Aku bilang tak nak, tak nak!"
__ADS_1
Ilham tertawa melihat kekesalan sahabatnya itu. Namun dalam hatinya dia juga penasaran sehebat apa Yola mengurus bisnis sampai sangat percaya diri seperti itu. Bahkan di bawah kepemimpinannya, supermarket itu tak jua menunjukkan progressnya!
Ah, Yola, seberubah ape kau sekarang, Sayang? Dulu kau sangatlah polos dan penurut. Tapi sekarang kenape kau terlihat sangat bertolak belakang dari mase dulu? Ape sakit yang kutoreh yang membuatmu berubah? Batin Ilham