Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Sijil Perakuan Cerai


__ADS_3

"Ini!" kata Ilham sambil menyerahkan Sijil Perakuan Cerain (Surat Cerai) antara dia dan Sonia ke tangan Yola di hadapan keluarga besarnya. "Ilham dah penuhi janji Ilham pada Mama dan Yola."


Yola membaca akta cerai yang tertulis dengan menggunakan bahasa melayu itu. Meski Yola tidak terlalu fasih berbahasa melayu, tetapi Yola cukup paham kata-kata yang tertera di surat itu.


Entah Yola harus merasa bahagia karena kini Ilham hanya akan menjadi miliknya seorang, tapi tiba-tiba di hati kecilnya yang paling dalam tiba-tiba dia memikirkan Sonia. Yola tahu kalau rival cintanya itu sangat mencintai Ilham hingga berani menghalalkan segala cara untuk dapat bersama dengan suaminya itu.


"Kenape?Kau tak bahagia?" tanya Ilham yang melihat wajah Yola yang tiba-tiba saja berubah menjadi datar.


"Ehmmm ...."


Belum Yola sempat mengungkapkan apa yang ada di hatinya, Mama Ratih telah merebut Sijil Perakuan Cerai itu dari tangan Yola.


"Ini surat cerai beneran? Kok cepat banget selesainya? Memang di Malaysia ngurus cerai cepat begitu?" tanya Mama Ratih. "Atau jangan-jangan ini manipulasi kamu aja lagi, Ilham," kata Mama Ratih dengan penuh kecurigaan


"Taklah, Ma. Ilham tak payah berbuat macam tu. Ilham memang telah lama dah uruskan segala masalah perceraian ni pada kawan Ilham. Dan baru beberapa hari ni permohonan Ilham dapat terkabul oleh Mahkamah Syariah. Itu asli tanpa tipu-tipulah," kata Ilham mencoba meyakinkan.


"Terus wanita itu mau diceraikan? Dia mau tanda tangan?" tanya Mama Ratih.


Yola juga menunggu jawaban dari Ilham. Pertanyaan Mama Ratih itu bak mewakili pertanyaan Yola yang tak jadi ditanyakannya pada pria itu.


Ilham mengangguk. Sebisa mungkin dia bersikap wajar seakan dia tidak mengkhawatirkan Sonia. Dia tidak mau Yola dan Mama Ratih salah menyangka kalau perhatiannya pada Sonia adalah wujud cinta, padahal yang sebenarnya adalah dia hanya merasa kasihan pada gadis itu.


"Hmmm iya," jawab Ilham.


"Tapi kenapa dia mau tanda tangan?" celutuk Yola. "Abang apain dia? Abang nggak menindas dia kan?"


"Tak payah pikirkan tu, sayang. Yang penting sekarang Abang Ilham hanya milik Yola sahaja," kata Ilham berusaha mengalihkan perhatian Yola agar bumil itu tak berlarut-larut memikirkan Sonua.


"Amboi, amboi ... Semenjak tadi belum puas rase hati dua orang ni agaknya berkasiih mesra ... Sampai tak tahu menahu ade orang lain kat sinilah," tegur Mamah Zubaedah.


Yola tersipu-sipu dibuatnya.


"Ah, bukan gitu, Mah. Yola cuma ingin tahu kenapa Sonia mau tanda tngan, itu aja kok," kata Yola memberi tahu.


Zubaedah menghela napas mendengar jawaban itu dari mulut Yola.

__ADS_1


"Betul kata abangmu Ilham, tak payah pikirkan tu. Yang penting sekarang dia dan Sonia dah pun bercerai.Hanya tu yang paling penting, Sayang," kata Mamah Zubaedah menimpali.


Yola tersenyum kecut melihat Ilham mendapat dukungn dari Mamah Zubaedah.


"Iya, deh kalau gitu, Mah," jawab Yola.


Mama Ratih mengangguk puas dan mengembalikan lagi surat itu pada Ilham.


"Kalau begitu, mumpung kamu ada di sini, sekalin urus berkas-berkas pernikahan kamu dan Yola. Ilham, kamu bawa semua yang udah Mama bilang kan? Kartu identitas, pas foto, dan apa tuh lagi?" Mamah jadi bingung sendiri dengan prosedur pernikahan dua negara.


Ilham tersenyum dan mengangguk.


"Borang Kebenaran Berkahwin Luar Negara dari JAIS (Jabatan Agama Islam). Esok Ilham akan membawa ni dahulu ke kedutaan/konsulat Malaysia kat sini," kata Ilham sambil menunjukkan lagi berkas-berkas itu pada Mama Ratih.


"Wuihhh ... ternyata Abang dan Mama udah memang sekongkol merencanakan ini di belakang Yola. Sebal!!" kata Yola dengan mimik sinis.


Pantasan saja sang Mama mendesaknya pulang ke Jakarta waktu itu dan si Abang juga dengan santainya tak melarang meskipun dia sedang hamil dan membawa Ammar. Ternyata dia di Malaysia sibuk mengurus segala berkas-berkas yang diperlukan.


"Hebat Mama kan? Kamu kan yang pada akhirnya senang?" cibir sang Mama.


"Iya deh, iya. Mama salah. Tapi kalau nggak gitu Ilham nggak seru donk surprisenya? Mama berbohong demi kebaikan, tau ..."


Yola menirukan Mama Ratih dengan mengkomat-kamitkan bibirnya sesuai dengan apa yang diucapkan Mama Ratih tadi.


"Udah deh, bumil nggak usah marah-marah. Sok ngomel-ngomel padahal suka," olok Mama Ratih.


"Betul tuh, Tan," kata Putri ikut-ikutan menimpali. "Padahal pas tadi lihat Bang Ilham datang. Woaaaa .... ekspresinya, Tan, pas ngelihat kekasih pujaan hati, Putri lihat banget bahagia syekaleee. Coba tadi nggak ramai orang, beuhhh ... itu si Abang pasti dah di peluk cium. Percaya deh!"


Semua yang ada disana tertawa mendengar Putri yang sedang meledek Yola.


Yola menjadi merona bak kepiting rebus menjadi bulan-bulanan di tengah dua keluarga yang sedang ngumpul ini. Yola heran kenapa sedari tadi semua orang senang sekali mengganggunya.


"Isss ... udah ya, udah! Senang banget gangguin aku," omelnya.


Itu malah membuat Putri makin gencar menggodanya. Hingga akhirnya Mama Ratih kembali bicara serius soal pengurusan berkas-berkas perkawinan Yola dan Ilham.

__ADS_1


"Kalau begitu Mama besok temani kalian berdua ke kedutaan Malaysia. Setelah itu kita urus pernikahan kalian berdua di KUA," kata sang Mama menyusun rencana untuk schedule mereka besok.


Yola dan Ilham mengangguk.


****


Di Kuala Lumpur,


"Ayah, hari ini aku mendengar Ilham dan Yolanda melakukan acara lamaran di kediaman keluarga Gunawan. Apa yang sebaiknya harus kita lakukan sekarang? Perlukah kita mengacaukan rencana resepsi pernikahan yang telah mereka buat itu?" tanya Martin pada sang Ayah.


Lucas yang sedang asyik bermain catur dan memainkan pionnya tersenyum penuh makna.


"Untuk apa digagalkan? Biarkan saja. Justru nanti kita perlu hadir di resepsi pernikahan mereka, betul kan? Aku perlu bertemu dengan kawan lamaku Yahya di sana. Hahaha ..."


Martin mengangguk-angguk tanda mengerti.


"Lalu apa lagi yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Martin lagi pada sang Ayah.


"Tetap jalankan planning sesuai dengan yang telah direncanakan sebelumnya," kata Lucas. "Biarkan Ilham dan Yolanda bersenang-senang lebih lama di Jakarta. Selama dia tidak ada, kita akan lebih leluasa melakukan rencana kita di N-one "


Martin mengangguk-angguk lagi. Dia paham apa yang harus dia lakukan selanjutnya.


"Oh, iya! Bagaimana kabar gadis itu sekarang?" tanya Lucas ingin tahu.


"Siapa?" tanya Martin balik.


Lucas menghentikan permainan caturnya sejenak dan menatap wajah Martin.


"Eva, saudara tiri Yolanda. Kamu dekat dengannya, kan? Dimana dia sekarang?"


****


Hay.... author bikin part ini tengah malam dengan mata yang sangat mengantuk. Jadi harap maklum kalau banyak kata-kata yang typo dan sejenisnya.


Jangan lupa like dan komentarnya yak....

__ADS_1


__ADS_2