Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Seusai Lamaran


__ADS_3

Acara pinangan dan seserahan barang hantaran itu akhirnya selesai di sore hari. Setelah para tamu dan undangan pergi, Keluarga Gunawan dan Keluarga Nirwan pun berkumpul masih di ruangan tamu yang lapang tanpa perabotan itu.


Keluarga Nirwan sebenarnya ingin kembali ke hotel, tempat mereka menginap semalam ini, namun oleh Abimanyu dilarang dan menyuruh menginap di rumah keluarga Gunawan saja.


"Kita telah menjadi keluarga lagi, untuk apa berepot-repot buang-buang duit untuk menginap di hotel?" kata Abimanyu saat Atok Yahya sebagai pimpinan rombongan minta untur diri untuk kembali ke hotel.


"Bukan macam tu, tetapi barang-barang kite pun ade kat sana semuanya," kata Atok Yahya beralasan.


"Kalau begitu Pakcik tak perlu khawatir, nanti saya bisa mengirim sopir untuk menjemput barang-barang Pakcik dan keluarga lain dari hotel. Tinggallah semalam dua malam di gubuk kami ini. Lagi pula, Pakcik dan keluarga besan semua tidak selalu bisa datang ke sini setiap hari," kata Abimanyu merendah.


Tengku Yahya Nirwan yang mendengar permintaan dari ayahnya Yola itu saling berembuk sejenak dengan anggota keluarga lain yang dibawanya beramai-ramai langsung dari Malaysia.


"Baiklah kalau tak membuat susah Nak Abi dan family. Kalau macam tu biar Ilham sahaja yang jemput kite punya barang kat hotel nangi," kata Atok.


"Biar Hafiz sahaja Atok," kata Hafiz menawarkan. "Abang tak terlalu paham jalan kat Jakarta sini."


"Kau pun tak ape," jawab Atok. "Kalau kau tak rase penat pergilah jemput barang kite sekarang juge. Atok dah pun nak mandi sedari tadi."


"Baiklah, Tok. Papa Abi, boleh Hafiz pinjam kere ... ta?"


Saat Hafiz ingin meminjam mobil pada Abimanyu, tak sengaja dia keceplosan memanggil Abimanyu dengan panggilan Papa seperti dulu waktu Yola sempat menjadi tunangan sesaatnya.


"Ah, maaf. Maaf, maksud Hafiz bukan Papa tapi pakcik," katanya merasa sungkan.


Abimanyu yang mendengar itu menjadi mendesah panjang mengingat apa yang pernah terjadi beberapa bulan lalu. Keegoisannya untuk memisahkan Yola dan Ilham malah membuat putrinya itu menjadi nekad memilih Hafiz sebagai pendamping hidupnya. Dan sekarang tak dapat dihindari, pria itu pastinya menjadi orang yang paling tersakiti, karena pada akhinya Yola tetap memilih Ilham untuk menjadi pendampingnya.


"Hafiz, kamu nggak perlu merubah panggilan kamu pada saya dan pada mamanya Yola. Panggil kami mama dan papa, seperti sebelumnya. Hubungan boleh berbeda. Tetapu kita pada akhirnya tetaplah keluarga. Kamu dan Yola bersahabat sejak kecil. Dan meski bagaimana kamu juga adalah adiknya Ilham. Jika Ilham dan Yola memanggil saya Papa, tentu kamu juga boleh memanggil saya seperti itu," kata Abimanyu pada Hafiz


Hafiz mengangguk-angguk tanda memahami.


"Terimakasih, Pakcik, eh Papa ... " jawab Hafiz.


Sikapnya yang berlapang dada melepas Yola itu tentunya mendapat apresiasi dari seluruh anggota keluarga Gunawan. Sebelumnya beberapa bulan lalu sebagian besar dari keluarga Gunawan sempat menyaksikan pertunangan antara Yola dan Hafiz. Dan sesungguhnya beberapa hari lalu saat Ratih mengabari kalau Yola akan melangsungkan acara lamaran dengan Ilham, banyak dari mereka yang protes karena mereka tahu apa yang terjadi di masa lalu antara Ilham dan Yolanda dan tidak ingin Yola terjebak lagi dengan pernikahan yang sama dengan lelaki yang sama.


Namun setelah mendengar dari Ratih kalau Yola telah rujuk kembali dengan Ilham, bahkan sedang mengandung calon adiknya Ammar, mereka Om dan Tantenya Yola mau tidak mau terpaksa merestui rujuknya keponakan mereka itu dengan lelaki yang mereka anggap telah menjadi mantan suami Yola itu.

__ADS_1


"Kalau macam tu, Hafiz bolehlah pinjam kereta Papa sekejap untuk bawa barang-barang kite dari hotel?"


"Boleh, tentu saja boleh! Mama, tolong ambilkan kunci mobil untuk Hafiz dulu," pinta Abimanyu pada Ratih.


Sementara itu di atas, di kamar Yola, Ilham sedang berbaring di ranjang Yola. Seluruh matanya menyapu ruangan itu dari sudut ke sudut. Dekor kamar Yola ini pastilah menggunakan design interior profesional. Ilham bisa mengetahui itu. Yola adalah anak yang terlahir dengan sendok emas di mulutnya.


Meski Ilham telah mengetahui tentang anak simpanan dari mertuanya itu yakni Eva, yang Yola kira selama ini adalah sepupunya Yola, tetapi Ilham tidak punya keberanian untuk mengungkapkan hal itu pada Yola. Selain karena dia takut Yola menjadi shock saat mengetahuinua, di luar itu yang menjadi alasannya adalah karena dia telah berjanji pada Abimanyi untuk merahasiakannya pada Yola. Entah apakah Mama Ratih tahu, Ilham tidak mengetahuinya sampai sedetil itu.


Namun yang menjadi pikiran Ilham saat ini adalah, jika Yola terlahir bak putri mahkota dengan fasilitas dan seluruh kebahagiaan dipersembahkan untuknya, lalu bagaimanakah dengan Eva, anak Abimanyu yang lain yang terlahir di luar pernikahan yang sah? Jika Yola terlahir dengan sendok emas di mulutnya, mungkinkah anak itu terlahir dengan sendok yang sama-sama terbuat dari emas? Apa hanya terbuat dari perak? Atau malah dari sendok kayu saja?


Jika perlakuan yang diberi Abimanyu tidak sama dengan yang didapatkan Yola, maka adalah hal yang wajar jika anak itu memiliki dendam terselubung pada Yola. Dan Ilham mengkhawatirkan itu.


Lamunan Ilham buyar saat Yola keluar dari kamar mandi. Wanita itu baru saja selesai buang air kecil. Rasanya semakin membesar janin dalam perutnya, kantung kemihnya terasa semakin cepat penuh dan semakin sering pula frekuensi buang air kecil Yola meningkat. Sebentar-sebentar dia harus menyempatkan diri untuk ke toilet saat acara tadi masih berlangsung.


"Abang ceritain deh, kenapa abang nggak ngasih tau Yola kalau abang mau bikin acara lamaran begini untuk Yola?" tanyanya sesaat setelah Yola ikut naik ke ranjang dan merebahkan diri di sebelah Ilham.


"Surprise romantis, Honey," jawab Ilham sembari memiringkan badannya dan menatap istrinya itu dengan penuh cinta. "Yola suke?"


Yola mengangguk.


"He em, suka banget, abang, makasih, ya..."" jawab Yola sambil mengelus pipi Ilham yang selalu mulus tanpa pernah ditumbuhi brewok itu.


"Apa?" tanya Yola dengan mimik curiga sambil menyilangkan tangan di dadanya.


"Duuuuh, kikir sangat isteri abang nih. Abang dah 3 hari tak jumpe dengan Yola, nak beradu kasih pun tak boleh," kata Ilham pura-pura merajuk.


Ilham kemudian kembali berbaring ke posisi telentangnya seperti tadi.


"Abang jangan pura-pura lupa, ya ..." kata Yola memperingatkan. "Masalah kita belum selesai."


"Pasal ape??" tanya Ilham pura-pura tak tahu.


"Pasal perceraian abang dengan Sonialah," kata Yola.


"Oh .... pasal tu. Abang dah resmi bercerai dengan dia," kata Ilham santai.

__ADS_1


Yola terperangah tak percaya.


"Yang benar?" tanya Yola.


"He um,"Ilham mengiyakan.


"Kapan? Buktinya mana?" tanya Yola.


"Abang akan berikan buktinya, kalau Yola berikan abang satu kiss sahaja," kata Ilham usil.


"Abang, serius ...." tuntut Yola.


"Seriously, honey!"kata Ilham tak mau kalah.


"Mana buktinya?"


"Mane kiss-nya dahulu?"


"Abang, kita baru aja lamaran ya! Jangan nakal!"


"Kau yang degil. Masih lamaran, perut dah pun besar macam tu!"


"Abang!!! Kecilin suaranya, nanti ada yang dengar!"


"Semua orang dah tahu pun. Nak buat ape ditutupi."


"Abang!!! Yola sebal sama abang!"


"Tetapi cinte dengan abang, kan?"


"Tau ahhh ...."


Dari luar kamar, Mama Ratih yang kebetulan lewat kamar Yola dan ingin mengambil kunci mobil di kamarnya, mendengar senda gurau anak dan menantunya itu.


Di bibirnya kini tersungging senyum. Syukurlah kalau Yola bahagia saat ini.

__ADS_1


***


Like dan koment jangan lupa ya reader sayang-sayang akoe....


__ADS_2