
"Siape yang nak honeymoon?" tanya Sonia mengulangi pertanyaannya.
Ilham, Leon, dan Nadira sontak saling pandang seolah mereka telah menggunakan komunikasi telepati untuk berunding secara kilat.
"Nadira dan Leon berencana nak ambil cuti untuk pergi honeymoon," jawab Ilham.
Sejenak Ilham menatap Yola seakan meminta pengertian agar Yola tak salah paham dengan jawabannya itu. Bukan dia ingin berbohong karena takut ketahuan Sonia jika dirinya telah rujuk dengan Yola, melainkan dia takut Sonia tahu dan kemudian menghancurkan rencananya untuk menggali informasi tentang Mr. Y.
"Oh ya???!!! Manis sekali. Aku jealous sangatlah dengan kalian berdua ni. Selalu mesra dan so sweet semenjak kite masih sekolah menengah. Tak macam aku dan Ilham. Kite tak pernah pun berbulan madu," sindir Sonia sekaligus bergelayut pada lengan Ilham seolah mengirim kode keras pada Ilham berharap Ilham mengajaknya juga berbulan madu.
Yola berusaha setenang mungkin menghadapi saingan cintanya ini. Dianl tidak boleh terpengaruh atau nanti semua akan berabe.
"Jadi kau berdua dah pun ade planning memberi adik pade Lily, ye? So sweetnya...." pekik Sonia girang.
Leon hanya cengar cengir mendengar celoteh Sonia, sementara Nadira hanya menanggapinya malas.
Nadira dulu bersahabat dengan Sonia saat berada di sekolah menengah. Dan sebenarnya dulu dia berharap antara Sonia dan Ilham memiliki hubungan yang langgeng sama halnya dengan hubungannya dengan Leon. Tapi mengetahui apa yang dilakukan Sonia untuk mendapatkan Ilham, membuat Nadira geram pada Sonia walaupun pada awalnya Nadira juga marah pada Ilham yang tak jujur tentang pernikahannya. Nadira mengetahui kalau Ilham telah menikah dengan Yola, saat pria itu akan menikah lagi dengan Sonia. Hati Ilham hancur saat mencurahkan segala kesedihannya saat ditinggal oleh Yolanda, istri pertamanya.
"Sayang, bila kite kasih Ammar adik juge?" tanya Sonia sambil membelai pundak Ilham sembari melirik Yola.
Pertanyaan yang mengandung provokasi itu membuat Yola merasa tersentak. Tapi dia berusaha menahannya.
"Yola, kau tak ape, kan kalau Ammar memiliki adik lagi? Ammar tuh anak yang pandai. Dia mesti senang kalau dah punya adik lagi," kata Sonia berusaha memprovokasi Yola.
Dia ingin menunjukkan kalau Ilham adalah miliknya saat ini.
Yola menghela napas dalam- dalam, kemudian menoleh pada Sonia.
"Ya, tentu saja. Aku pasti sangat senang kalau Ammar memiliki adik lagi. Tapi Kakak Sonia, selama 7 tahun ini, ngapain aja sampai nggak kepikiran punya anak sendiri? Maaf, mungkinkah kakak Sonia mandul? Atau jangan-jangan suamimu sudah nggak punya kemampuan memproduksi anak?" tanya Yola dengan jengkel seolah dia dan Ilham masih berada dalam pengaruh perang dingin.
"Ape maksud kau?!!" tanya Sonia dengan berang.
Yola langsung berdiri dari kursinya dan berbalik menghampiri Sonia hingga kini mereka berhadapan.
"Maksudku, kakak Sonia, jangan memprovokasiku. Aku juga punya batas kesabaran, oke?" jawab Yola sambil merapikan rambut yang sedikit berantakan di pundaknya.
Sonia tak menyangka Yola yang dulu ditindasnya di hari pernikahannya dengan Ilham akan seberani itu sekarang. Yola bahkan berani menyentuhnya. Dengan kasar Sonia pun menepis Yola.
"Yolanda Gunawan, kau masih tak tahu malu bekerja di sini. Hafiz, juga punye usaha yang tak boleh dianggap remeh. Kau sebagai calon isterinya tak de niat untuk pindah kerja ke tempat calon husband kau ke? Atau kau lebih suke di sini menggoda aku punya husband? Apa tuh ye, bahase orang indon tu? Valakor? Pelakor? Perebut laki orang?" balasnya tak kalah sengit.
"Sonia ...." tegur Ilham memperingatkan.
"Biarkan aku bicara pada pelakor ini, Ilham!" kata Sonia geram
Yola tersenyum terkesan meledek.
"Aku rasa kau sangat tahu siapa yang pelakor di sini. Kakak Sonia, kau sangat menyedihkan! Kalau kau sangat yakin Ketua Pengarah ini sangat mencintaimu, kau tak perlu memprovokasiku seperti itu, betul kan?" tantang Yola dengan nada yang antagonis meskipun sebenarnya dia adalah protagonis. Hehehe...
__ADS_1
"Aku dan Ilham saling mencintai!" kata Sonia dengan tegas.
"Ya, ya, ya. Aku percaya," kata Yola dengan nada yang malah terkesan sebaliknya.
"Sebelumnya kami memang kurang harmonis kerana kau. Tapi sekarang Ilham dah move on dan tahu siape yang dia kasihi," kata Sonia berusaha meyakinkan.
Dia tak mau Yola menganggap remeh dirinya.
"Oh begitu? Kalau macam tu, tahniah Tuan dan Puan Nirwan," kata Yola masih dengan senyum mengejek. "Tapi sekarang jam kerja sudah usai. Boleh aku pergi sekarang? Pelakor mau lewat!"
Yola sengaja lewat di antara Sonia dan Ilham sehingga posisi keduanya agak berjauhan. Melihat Yola yang pergi dan suasana di meeting itu sepertinya tidak menyenangkan. Itu membuat Nadira menggayut tangan Leon untuk segera pergi juga dari sana.
"Bro! Kami balik dahulu," pamit Leon sambil menepuk pundak Ilham seolah menyuruh sahabatnya itu agar lebih bersabat sedikit lagi.
Sepeninggalan Yola, Leon, dan Nadira, hanya tinggal Ilham dan Sonia yang masih berada di meeting room itu.
"Jadi kau kesini nak ape?" tanya Ilham dengan nada yang dia tak bisa tutupi kalau dia tak senang akan kehadiran Sonia di situ.
"Aku datang untuk bertemu kau. Aku baru sahaja pusing- pusing dengan kawan aku di mall. Dan aku minta diturunkan kat sini. Jadi Ilham, tolong hantarkan aku balik ke rumah, ya. Aku tak de kereta," katanya manja.
"Sonia, aku masih ada banyak sangat job. Kau naik taksi sahaja," kata Ilham.
"Tak ape, aku akan tunggukan kau hingga selesai. Habis tu barulah kita balik bersama," kata Sonia.
"Tak boleh. Kau disini hanya akan ganggu konsentrasiku sahaja, kau baliklah dulu!" kata Ilham tak mau dibantah.
"Aku sibuk dan ada banyak sangat job, baliklah ...." bujuk Ilham mulai tak sabar.
"Tapi Ilham ...."
"Kalau aku kate balik, ya balik!!!" bentak Ilham dengan nada suara tinggi.
Sonia terkejut. Kenapa Ilham kembali lagi kasar padanya. Sonia sungguh tak mengerti.
"Baiklah," Sonia mendengus kesal dan berlalu dari hadapan Ilham.
Selepas Sonia pergi, Ilham segera mengirim chat pada Yola.
[Tunggu Abang di parking area, kite balik bersama]
Tak lama balasan chat itu pun datang.
[Nggak usah, aku ikut Nadira aja]
Merajuk pula, pikir Ilham.
Lalu tanpa buang- buang waktu Ilham pun mencoba mengejar Yola ke ruangannya. Tak ada. Lalu dia pun mencari ke ruang kerja Nadira juga tak ditemukannya. Hingga akhirnya dia segera berlari ke lift dan mencoba mengejar Yola. Dan akhirnya dia menemukan Yola di mobil Leon yang hampir saja berjalan.
__ADS_1
"Turun, Yola!" katanya memaksa Yola turun dari mobil.
Leon yang tidak mau ribet, segera menyuruh Yola ke luar.
"Turun sahajalah, Yola. Jangan menyulitkan aku," katanya yang langsung disahuti istrinya dengan cubitan.
Yola mau tak mau turun dan terpaksa mengikuti Ilham ke mobilnya di area gedung parkir.
"Kita nggak bisa pulang bareng, abang. Ada Eva di rumah. Dan kalau bisa abang sementara jangan tinggal di unit abang deh. Abang tinggal di rumah atok dulu," kata Yola sesaat setelah mereka ada di dalam mobil.
"Kau pasti marah dengan Abang tadi," kata Ilham tak menghiraukan celoteh Yola.
"Sedikit," jawab Yola ketus.
"Abang sengaja marahkan Yola, agar orang- orang tak curiga pada hubungan kita" kata Ilham menjelaskan.
"Ya, agar istrimu Sonia tak tahu kamu selingkuh denganku," kata Yola tak kalah ketus.
"Ya Tuhan, sebab ape Yola cakap begitu dengan Abang? Kau dah tahu kalau abang dah ceraikan Sonia," kata Ilham mencoba membela diri.
"Dan kalian rujuk lagi," kata Yola.
"Tak, sayang. Sekarang hanya kaulah isteri abang," kata Ilham sembari menggenggam tangan Yola.
"Tapi aku sekarang merasa jadi istri rasa pelakor," gerutu Yola.
"Kau hanya merebut sesuatu yang mestinya jadi milikmu. Abang Ilham ni hanya milik Yola seorang," rayu Ilham.
"Gombal aja teros ..." balas Yola.
Ilham tertawa.
"Pasal honeymoon esok, kau kemas- kemaslah nanti. Kite berjumpa di airport. Malam ini abang di rumah Atok je," kata Ilham.
"Syukurlah kalau abang mengerti. Aku juga pusing Eva ada di sini. Dia akan mengadukan segala macam kegiatanku pada Papa. Dan entah apa yang harus kukatakan besok padanya agar dia tak curiga aku pergi dengan abang," Kata Yola.
"Abang yang akan pikir pasal tu," kata Ilham. "Tapi sekarang abang nak minta kewajiban Yola sebagai isteri."
"Apaan? Abang aaa ...." Yola mencoba menghindari cumbuan Ilham yang sepertinya tak tahu tempat itu. "Kita lagi di parkiran sekarang!"
"Sedikit sahaja. Lagi pula di sini tak de siapa pun. Para pekerja dah balik ke rumah masing-masing. Dan abang pun nak cuba di sini," kata Ilham bandel.
"Ta- tapi .... Emmb...."
Mulut Yola akhirnya berhasil dibungkam Ilham dengan ciuman panas bergairah. Sungguh gila apa yang mereka lakukan saat ini di dalam mobil di gedung parkir. Tanpa mereka sadari sebuah kamera CCTV di gedung parkir sedang mengarah ke arah mobil Ilham.
Sementara Ilham dan Yola asyik dengan kegiatan panasnya. Seseorang di ruang monitor CCTV itu turut memperhatikan. Di bibirnya tersungging sebuah senyum. Masih memperhatikan tontonan menarik itu, orang itu pun lalu meraih secangkir kopi di depan meja dan meminumnya. Usai meminum kopi, dia mengambil ponsel dan menelepon seseorang.
__ADS_1
"Tuan Y, aku dapatkan sesuatu yang menarik!"