Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Sonia


__ADS_3

"Hanye kau cakap? Kau sangka terkena peluru tu tak sakit ke? Sonia macam tu kerana kau Ilham!!! Kau mesti tanggung jawab!!!" serang Raudah lagi sambil mengguncang- guncang tubuh Ilham.


Ilham tak bergeming atas perlakuan Mama Sonia. Dia lebih membutuhkan jawaban dari dokter yang merawat Sonia.


"Kami pun tak tahu ape yang salah pade tubuh die. Hanya sahaja, sel- sel syaraf die ada banyak mengalami kerusakan. Hal ni masih dalam mase penyidikin kami. Namun persangkaan sementara, sistim kekebalan tubuh Puan Sonia tak terlalu kuat untuk menerima zat ubat yang dipakai saat operasi pengangkatan peluru tu," kata sang Dokter.


Ilham mengernyitkan keningnya lagi. Setahu dia selama ini Sonia selalu sehat. Apanya yang sistim kekebalan tubuh terlalu lemah? Sonia hanya hatinya saja yang lemah, Ilham tahu itu.


"Ape tak de cara lain untuk dapat membuat die, bisa sihat lagi?" tanya Ilham sambil melirik Sonia.


Sonia juga sedang menatap ke arahnya. Nampak matanya berkaca- kaca. Sungguh dia senang, bisa melihat Ilham hari ini. Rasanya dia ingin memeluk pria yang dicintainya itu sejak lama, tapi bahkan tangan dan kakinya tak bisa lagi digerakkan.


"Kami sedang upayakan. Tetapi Tuan Ilham, penyakit Puan Sonia nih memang nampak pelik. Kalau Tuan tak nampak yakin dengan hospital kami, bolehlah Tuan cuba ke rumah sakit lain pula," kata dokter pria itu.


Usai mengatakan apa yang seharusnya dia sampaikan, dokter itu pun meninggalkan Ilham, Raudah dan sonia di ruang ICU itu.


Ilham kembali melirik Sonia. Dalam hatinya Ilham berharap semoga wanita ini hanya bersandiwara. Dia tak bisa membayangkan Sonia yang dikenalnya lincah dan aktif dari dulu tiba- tiba menjadi lumpuh seperti ini. Sungguh Ilham akan merasa bersalah pada sahabatnya di masa remaja itu.


"Kau tengok tu!!! Sekarang macam mana?!! Ilham kau mesti tanggung jawab pada Sonia! Saye tak nak menerima keadaan Sonia yang macam begitu. Kau kahwinkan die dalam keadaan sihat, mestilah kau kembalikan die pade kami dalam keadaan yang sihat pula kalau memang kau nak berpisah dengan die. Kau boleh ceraikan die, kalau die dah sihat seperti sedia kala. Sebelum itu terjadi, usah berharap kau dapat ceraikan dia sesuka hati kau!!!" kata Raudah memberi ultimatum.


Ilham berdecak tanda dia pusing dengan keadaan ini.

__ADS_1


"Baik. Saye akan bertanggung jawab dengan Sonia sampai dia sembuh. Tetapi masalah perkahwinan saye dengan Yolanda tak kan ade yang boleh ganggu gugat pasal tu. Lepas Sonia sihat, saye tetap akan menceraikan die. Dan tolong Mamah ingat, jike di lain mase saye tahu bahwa ini hanye akal licik dari Sonia sahaja, saye takkan tinggal diam dengan hal ni. Sonia tidak akan dapat bahagian ape pun seusai perceraian kami kerana saye dah meminta bagus- bagus dengan die supaya kami bercerai baik- baik sebelumbya dan saye dah berjanji akan memberikan hak dia sebagai mantan isteri, tetapi die tetap membuat sulit semuanya. Itu tidak akan dapat saye terima," kata Ilham.


Raudah, Ibunya Sonia sedikit tergagap mendengar kata- kata Ilham. Tidak akan dapat apa pun? pikirnya.


"Lalu macam mana dengan nafkah bulanan yang biase kau beri untuk Sonia, lagi dia sakit ni? Dia ... masih boleh mendapatkannya, kan?" tanyanya ragu- ragu.


Ilham geleng- geleng kepala denga sikap ibu Sonia yang materialistis ini. Dari dulu memang Raudah senang memanfaatkan Sonia untuk meemnuhi kebutuhan keluarga mereka. Caranya ya meminta dan menengadahkan tangan pada menantunya yang kaya itu.


"Sonia sedang sakit, dia tak memerlukan shopping atau sejenisnya. Untuk pengobatannya, saye yang akan tanggung. Jadi nafkah ape lagi yang Mamah maksudkan?" tanya Ilham.


Raudah mendengus kasar.


"Hanye biaye hospital je. Kau sangka yang menjaga Sonia kat sini tak makan ke? Kau sangka Mama datang pergi antara rumah dan hospital tak pakai ongkos ke?!" jawab Raudah marah.


Hal itu membuat wajah Raudah menjadi merah padam menahan malu. Kata- kata Ilham secara tidak langsung jelas telah membuatnya kehilangan harga diri.


"Baik. Kalau macam tu saye tak kan datang nak lihat Sonia hingga dia sihat kembali! Kau uruslah dia sendiri!" kata Raudah sembari menyambar tasnya dan pergi meninggalkan Ilham dan Sonia berdua saja di ruangan itu.


Ilham segera duduk di sisi ranjang sambil menatap Sonia yang hanya bisa melirik tak bisa menggerakkan kepalanya.


Sonia benar- benar merasa sakit hati mendengar percakapan Ilham dengan mamanya. Dia tak menyangka Ilham begitu tega menyalahartikan rasa cintanya dengan pembagian harta gona gini seusai mereka bercerai jika dia sembuh nanti.

__ADS_1


Sembuh? Masih bisakah dia sembuh? Dengan tubuh yang sehat dan tak kurang suatu apa pun saja Ilham tetap tak mau memberikannya kesempatan untuk mereka menjalin hubungan kembali, apalagi dengan tubuh penyakitan ini, yang entah kenapa tiba- tiba bisa begitu saja lumpuh dan tak bisa digerakkannya.


"Sonia, aku berharap kau tak sedang berlakon agar aku tak jadi kahwinkan Yola. Kau sembuh atau tak, aku tetap akan kembali pade dia, sebagaimana mestinya. Dan kite meski belum bercerai di pengadilan tetapi aku dah ucapkan talak pada kau. Kau jangan pura- pura akan hal itu, hmmm?"


Ilham, kau tega sekali dengan aku. Kau tak punye belas kasihan sikit ke dengan aku? jerit hati Sonia.


Namun sayang, Ilham tak akan bisa mendengarkannya. Seberapa keras pun Sonia menggerak- gerakkan lidahnya untuk berbicara, tapi tak ada kata utuh yang berhasil tertangkap telinga saat mendengarnya. Dia persis seperti penderita stroke saat ini.


"Baiklah, aku akan balik dulu. Dan Sonia, aku cakap ni tak bermaksud membuat kau lebih marah atau pun ape. Tapi aku dan Yola akan melangsungkan majlis perkahwinan dalam pekan ini. Jadi, usah bikin perkara, Oke?"


Usai mengatakan itu, Ilham pun langsung bangkit dan bersiap untuk pergi.


"Mengenai kau, aku akan carikan perawat untuk kawani kau dalam mase pengubatan ni. Kau usah risau. Aku ni masih pria yang bertanggung jawab," kata Ilham sembari menepuk pundak lengan Sonia yang masih terbaring terlentang dengan wajah menengadah ke atas.


Ilham!! Jangan tinggalkan aku!!!! jerit hati Sonia.


Namun Ilham tetap pergi berlalu meninggalkan wanita itu. Hingga Ilham tak terlihat lagi, Sonia hanya bisa memandang pilu ke arah pintu. Air matanya keluar. Sakit. Ingin rasanya dia pergi berlari dan mengejar Ilham, memohon agar lelaki itu tak meninggalkannya. Tapi semua usahanya hanya sia- sia saja. Yang terdengar di ruangan itu hanya isak tangisnya saja.


"Eill ... haaam ..."


***

__ADS_1


Lanjut lagi nggak 1 part lagi? Like dan komentnya lagi beib ....


__ADS_2