
Sebenarnya Yola malas mengikuti acara bakar-bakar ayam dengan Ilham, Hafiz dan Yuri tentunya. Salah satu hal yang paling membuatnya malas berat untuk ikut serta, apalagi Putri sama sekali tidak mau bergabung dengan mereka. Alangkah bagusnya kalau dia bisa bermalas-malasan saja di dalam kamar saat ini, berselonjor di atas ranjang sambil berselancar di dunia maya. Tetapi Ilham agak sedikit memaksa dia untuk ikut, karena Yuri pasti tidak nyaman jika hanya dia seorang wanita yang ada di antara Hafiz dan Ilham jika tidak ada Yola. Bahkan Zubaedah pun malas untuk sekedar menyapa Yuri. Dia lebih memilih mengajak Ammar ke kamarnya untuk menonton film animasi anak.
"Yol, kamu masih ingat waktu Friska ulang tahun dulu nggak? Waktu itu kita bakar-bakar ayam juga di rumah Friska," kata Yuri membuka percakapan di antara mereka.
"Lupa!" jawab Yola malas.
Dia tentu masih ingat, meski waktu itu mereka masih kelas 4 SD, tetapi yang sebenarnya dia malas beramah tamah dengan Yuri.
"Waktu itu aku baru pindah ke Accacia, baru ketemu kamu padahal aku udah masuk kelas tiga harian, waktu itu kata Friska kamu sedang liburan di Malaysia, eh pas masuk sekolah kamu bilang kamu dari Kamboja, kamu ingat nggak itu hari pertama kita bertiga bersahabat, terus kita rayakan dengan bakar-bakar ayam di rumah Friska, eh ketahuan sama mamanya kita semua dimarahin karena mainan api, hahahaha ... kamu ingat nggak sih?" kenang Yuri sambil tertawa terbahak-bahak.
Angan Yuri sekilas ter-flashback hingga masa itu. Kalau dipikir-pikir dia juga lama tidak berkomunikasi dengan Friska, terakhir kali dia bertemu dengan sahabat masa kecilnya itu di saat Friska sedang melangsungkan resepsi pernikahannya, dan Yola menemani Rafly saat itu sebagai partner. Dan ngomong-ngomong soal acara bakar-bakar ayam di tempat Friska dulu, Yola jadi ingat sesuatu. Sesuatu yang sudah lama terlupakannya. Di hari itu, dia kehilangan sesuatu miliknya, sebenarnya adalah benda yang diberikan sang kakek padanya saat mereka berada di Kamboja.
"Emm, ngomong-ngomong berarti dulu kamu pernah ke Kamboja, ya?" tanya Yuri. "Kok Friska sebelum kamu datang katanya kamu lagi liburan ke Malaysia? Pas kamu datang malah kamu bilangnya dari Kamboja?"
Yola mengernyitkan keningnya heran. Tentu dia heran. Itu adalah kejadian hampir 14 tahun yang lalu. Bisa-bisanya Yuri ingat.
"Aku malah ga ingat lagi soal itu. Kamu kok bisa ingat sedetail itu?" tanya Yola curiga.
Kini Ilham dan Hafiz menjadi ikut menatapnya heran.
"Ehhhm ... ah, nggak kok! Mungkin hanya karena persahabatan kita di waktu SD sangat berkesan untukku. Sebelumnya aku nggak pernah punya teman seakrab kamu dengan Friska," selanya cepat sebelum Yola kembali curiga.
Lalu usai mengatakan itu Yuri pun dengan inisiatifnya sendiri mencoba untuk ikut membantu Hafiz mengipas-ngipas api agar apinya tidak mati. Yola sendiri memandang Yuri dari kursi tempatnya duduk.
Dibantu oleh Yuri, adalah peluang bagi Hafiz untuk meninggalkan tempat itu sejenak.
"Yuri, kamu kipas dahulu jangan sampai api tu mati, hmm? Aku nak ke tandas dahulu," pamit Hafiz.
"Oh, oke!" jawab Yuri sambil mengambil alih tempat Hafiz.
Hafiz tak membuang banyak waktu meninggalkan tempat itu dan masuk ke dalam rumah. Tetapi bukannya ke toilet dia malah mondar mandir di koridor sekitar kamar utama yang berhadap-hadapan dengan kamar tamu. Sial, dia malah tidak tahu dimana kamar Putri saat ini. Ingin bertanya pada para asisten rumah tangga, tetapi dia malu. Jangan sampai juga kalau ini menjadi gosip di kalangan ART dan pekerja di rumah ini, bisa-bisa Putri akan merasa tidak nyaman.
"Jadi macam ni, usai mereka bakar-bakar ayam kat samping rumah, kau bersihkan ..."
Jeng!Jeng! Jeng!
Itu kan suara Mama Zubaedah? Suara itu semakin lama semakin mendekat. Nampaknya Zubaedah tengah berbicara dengan salah seorang asisten rumah tangga sambil berjalan ke arah kamar tamu. Bak seorang pencuri, panik tak menentu, Hafiz pun mencoba ingin menyembunyikan diri.
__ADS_1
Dia tak pernah sekonyol ini. Semua terjadi secara spontanitas. Padahal andai dia tertangkap basah pun berada di koridor ini, bukankah dia bisa saja berdalih ingin menemui Mamah Zubaedah? Bukankah kamar Mamah Zubaedah juga berada di sini? Di antara kamar utama dan kamar tamu.
Ini semua dikarenakan di pikirannya saat ini ada Putri, sementara dia harus tetap menjaga situasi dan kondisi agar Yuri tetap berada di bawah kendalinya.
Lalu, dengan spontanitas pula, kini Hafiz segera meraih daun pintu salah satu kamar yang berada di dekatnya dan ia pun masuk. Jangan sampai Mamah tahu kalau dia sedang berusaha mencari peluang untuk bertemu Putri.
Ngiiiiik!!
Pintu itu terbuka dan ... Hafiz pun masuk dengan sukses ke dalam dan buru-buru menutup pintu. Namun ketika Hafiz berbalik badan, sesuatu terjadi lagi.
Seseorang yang hanya memakai pakaian dalam wanita tiba-tiba spontan menutup dadanya. Dia putri, yang sedang mengganti pakaiannya dengan piyama tidur.
Keduanya sempat saling pandang, terpaku, tertegun sebelum akhirnya Putri tersadar dan ...
"Issss!!! Hafiiiiizzzz!!" teriak Putri.
"Sssssst!!" Ilham menempelkan jari telunjuknya di bibir, kode untuk menyuruh Putri diam. "Putri diam!!"
Putri buru-buru memakai bajunya.
"Hafiiz!! Dasar cabul!" umpatnya. "Kesanain matanya!"
"Oh, sorry, sorry! Maaf!"
Hafiz segera membalikkan badan, tapi terlambat!
Pintu terbuka dan ... Mamah Zubaedah kini tiba-tiba saja telah berada di sana. Membuat Putri semakin panik dan buru-buru mengancing kemejanya.
"Mamah?!" pekik Hafiz, tak menyangka kalau insiden kali ini akan melibatkan sang Mama. Jelas saja terlibat, teriakan Putri hampir terdengar ke seantero rumah.
"Hafiiz!! Ape kau buat di kamar Putri macam ni?" Zubaedah langsung menjewer telinga Hafiz.
Ah, dia ingat peristiwa di rumah Yola, saat Hafiz menyatakan ingin menikahi Putri. Banyaknya kejadian berat belakangan membuat masalah itu sedikit terlupakan. Padahal, Zubaedah pun ketika di rumah menantunya Yola, sempat mempertimbangkan Putri untuk Hafiz. Bukankah dari segi bibit, bebet dan bobot Putri jelas lebih baik dari Yuri yang ternyata adalah seorang perampok yang telah merampok apartemen anak dan menantunya? Padahal katanya sahabat Yola. Cih! Sahabat apa macam tu?
"Mamah, ampun, Mah! Ampun!!" pekik Hafiz mengaduh kesakitan.
"Tak ade ampun! Kau cuba cakap dulu, ape kau buat di kamar Putri, hmm?"
__ADS_1
Zubaedah semakin mengencangkan jewerannya pada Hafiz.
"Tak de buat apa pun!" bantah Hafiz sambil memegangi telinganya.
"Tak ade buat apa pun?" Zubaedah mengulangi pertanyaannya. "Tapi kau Mama tangkap basah sedang berade di kamar Putri. Macam mana ade hal semacam ni kalau tak ade alasan apa pun?"
"Haiiis, Mamah ni salah sangkelah. Hafiz ni nak jumpe Mamah tetapi salah masuk kamar!" Hafiz beralasan.
"Oh, macam tu? Salah masuk kamar? Sejak bila kamar Mamah pindah kat sini? Hmm? Kamar Mamah ade kat ujung loronglah. Kau ni hanya beralasan je. Mestilah kau ni sengaja nak tengok intip Putri sedang berganti pakaian, ye?" tuding Mamah dengan tangan masih di telinga Hafiz dan mata menuduh.
"Tak Mamah! Hafiz tak sengaja pun!" Hafiz segera mengacunga jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V. "I'm sure. Please, believe me!"
"Mamah tak dapat percaye! Kau ni mulai degil sekarang ni! Dah pandai berbuat curang untuk dapatkan perhatian anak gadis orang! Kau ni nak Mamah kawinkan ke?"
"Nak, Hafiz nak! Tetapi dengan Putri ... aw!Ampun! Hafiz hanya bergurau je!" pekik Hafiz manakala Zubaedah semakin mengeraskan jewerannya. Putri sendiri sampai melotot dibuatnya
"Ape? Hanya bergurau?" Zubaedah semakin membuat Hafiz terpojok.
"Tak bergurau, Mamah! Putri, tolong Abang! Kau cakap ke Mamah kalau Abang tak sengaja masuk ke kamar ni!" rengek Hafiz.
Cih, Abang! Abang dari Hongkong?" cibir Putri dalam hati sambil memanyunkan bibirnya.
"Iss, apaan sih? Makcik, Hafiz kayaknya memang nggak sengaja deh masuk ke kamar Putri." Putri akhirnya mengalah untuk menyelamatkan Hafiz.
"Betul ke?"
"Iya, betul."
"Baiklah kalau macam tu, Makcik tinggal dahulu! Hafiz, kau lekaslah meminta maaf pada Putri! Dan jangan berbual berdua kat bilik macam ni. Nanti mestilah di antara korang berdua ade syeitan yang ikut. Bercakap di luar sahaja, oke?"
Hafiz mengelus-elus telinganya yang terasa panas akibat dijewer Zubaedah.
Setelah Zubaedah meninggalkan mereka berdua di kamar dengan pintu yang terbuka lebar, untuk beberapa waktu keduanya saling diam tanpa kata. Sungguh mereka tak bisa membohongi perasaan masing-masing saat ini.
"Putri, ikut Abang!" Hafiz akhirnya menarik tangan Putri dan membawanya ke luar kamar.
***
__ADS_1
Cieeee, Putri! Dibawa kemana Putri dengan Abang Hafiz ya gengs?Mau tahu, mau tahu? Like dan koment dulu donk ...