Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Panggil Aku Abang!


__ADS_3

"Hey, ape maksud kau cakap macam tu?" tanya Ilham keberatan. "Jadi kau tak cakap pasal wasiat Atok hanye kerana kau takut orang berprasangka macam tu dengan kau? Ckckck, sungguh tak patut, tak patut," kata Ilham sambil geleng-geleng kepala.


"Hmmm, benar kata kata Abang, Ndut. Kenapa kamu nggak ngomong soal kata-kata Atok sebelum meninggal? Kamu tahu nggak kalau itu pun wasiat namanya? Haisss, kamu itu! Sejak kapan kamu peduli apa kata orang? Dulu waktu aku hamil saat kita masih sekolah, orang-orang menuduh kamu adalah ayah dari anak yang kukandung, kamu nggak peduli. Kenapa sekarang kamu mementingkan kata-kata orang yang seperti itu? Kalau pun itu benar memangnya kenapa? Kamu adalah keluarga Nirwan juga. Betul kan, Abang?" kata Yola meminta pendapat Ilham.


Ilham mengangguk perlahan. Dia tahu semua yang dikatakan Yola itu benar. Dan Ilham merasa banyak yang harus ia bayar pada Hafiz. Meski Hafiz tidak memiliki andil menemani Yola seperti suami di saat- saat wanita itu membutuhkannya, tetapi nyatanya Hafiz sebagai seorang sahabat memberi peranan berupa dukungan besar pada Yola di masa itu. Dan itu sangat berarti untuk Yola.


"Hafiz, kau datanglah kat N-one esok," suruh Ilham.


Hafiz menaikkan alisnya. "Buat ape?" tanya Hafiz ingin tahu.


Ilham tak menjawab melainkan berpaling pada Yola.


"Kau juge, Degil!" katanya seraya mencubit mesra hidung Yola.


Senyum Yola mengembang. Nampaknya dia tahu apa alasan Ilham menyuruhnya untuk datang ke N-one besok.


"Abang, abang suruh Yola ke N-one besok, biar aku bisa kerja lagi, kan? Jadi Ketua Pengarah?" tebak Yola dengan riang.


"Usah tebak-tebak buah manggis. Nanti kau kecewa pula," jawab Ilham mengolok istrinya itu.


"Isss, Abang ni! Terus kalau bukan mau bolehkan aku bekerja, mau ngapain coba? Kirain ... ternyata ... mengecewakan!" oceh bumil itu.


Ilham tertawa terkekeh.


"Ho oh, memang ade pasal ape suruh aku ke sana pula. Aku tak tahu menahu pun soal N-one," keluh Hafiz.


"Korang berdua ikut sahaja. Hafiz, kau bermalam kat sini sahaja. Besok pagi kite bersama-sama kat N-one," kata Ilham.


"Aku tak de bawa baju ganti," jawab Hafiz.


"Pakai baju Abang je," jawab Ilham.


"Haiis, kite ni punya style berbeza taw," olok Hafiz.


"Tapi Style abang lebih trendy, taw," balas Ilham.


"Yola, kau tengok husband kau ni. Style macam orang tua je dikate trendy, macam betul je," olok Hafiz sambil tertawa ngakak. "Ape tu namanya, Yola? Norak? Hahaha...."


Ilham mengerling sebal pada Hafiz kemudian berpaling pada Yola.


"Norak tu ape?" tanya Ilham pada Yola.


Yola kembali ingin jahil pada suaminya itu.


"Norak itu Abang, hmmm ..." Yola berpikir sejenak.


"Ape?" tanya Ilham dengan mata memicing.


Dari tadi Yola sangat senang mempermainkannya yang tidak terlalu paham bahasa Indonesia.


"Kamseupay, Abang!Hmmmppp ... hmmmphh," Yola menutup mulutnya menahan tawa.


"Kam .. se ... ape? Itu ape lagi?" tanya Ilham dengan mimik curiga.

__ADS_1


"Handsome, hmmmpp .... hahaha ..." sahut Hafiz.


Hafiz dan Yola berusaha menahan tawanya.


"Memanglah abang ni handsome," kata Ilham percaya diri.


"Handsome tapi norak, abang! Hahaha ..."


Kali ini Hafiz dan Yola saling ber-tos ria.


Ilham yang sadar adik dan istrinya itu sedang mengolok dan mempermainkannya, memicingkan matanya lagi.


"Korang berdua ni, sedang mempermainkan Abang ye?" tudingnya.


"Mana ada, hahaha ..." Yola berusaha membantah tetapi tangan Ilham secepatnya menggelitik wanita itu hingga Yola tak dapat mengelak dan tertawa-tawa kewalahan.


"Abang ... u- udah ... hahaha am-ampun, hahaha ..."


Ilham tetap menggelitik Yola tanpa ampun.


"Masih nak degil dengan abang?" tanya Ilham.


"Nggak, nggak ... ampun, aduuuh, perutku sakit ketawa terus, hahaha aduuuh.. abang! udaah," keluhnya masih sambil tertawa.


Ilham yang sadar istrinya sedang hamil menghentikan aksinya itu. Dia melirik wajah Yola yang nampak meringis kesakitan.


"Sakit betul ke?"


"Sakit, Abang! Tapi .... bohong!!" Yola segera berjalan cepat ke arah kamarnya sambil tertawa.


Sadar dibohongi oleh istri sendiri, Ilham berdecak sebal. Semakin sebal saat Hafuz lanjut meledeknya.


"Kau tertipu, hahaha ...."


"Oh, kau minta dihajar juge, hmmm?"


Kali ini Ilham menyerang Hafiz dan mengajaknya bergulat ala lelaki saat sedang bergurau.


"Kau mahu cuba-cuba permainkan abang juga, hmmm? Kau rasakan sahaja ini!!" Ilham menohok-nohok perut Hafiz dengan tinjunya yang tidak terlalu sakit.


"Ampuuuun ...."


"Tak senang ampun macam tu," kata Ilham masih tak mau melepaskan Hafiz dari kungkungannya.


Kini posisi Hafiz tertelungkup di sofa dengan tangan dikunci oleh Ilham ke belakang.


"Ampuuun ... hahaha!!!"


"Kau akan diberi ampun bila panggil aku abang," kata Ilham memberi penawaran.


Hehehe, muslihat yang licik.


"Tak nak!!!" tolak Hafiz.

__ADS_1


"Oh, kalau macam tu, kau rasakan sahaja ini!"


Masih dengan posisis Hafiz yang tertelungkup di sofa, Ilham dengan entengnya duduk di punggung Hafiz.


"Hey, pergi dari belakang aku lah, kau tu tak tahu ke kau tu berat sangat macam gajah sahaja," kata Hafiz.


"Panggil aku abang dahulu!" pinta Ilham sambil bangkit sedikit dari duduknya di punggung Hafiz dan kemudian menghempaskannya lagi hingga pria itu memekik karena beban berat tubuh Ilham.


"Argghhh!!! Berat taw!!!" pekik Hafiz.


"Kau panggil aku abang dahulu!!!" perintah Ilham lagi.


"Tak nak!!!"


Dan sekali lagi Ilham menghempaskan duduknya di punggung Hafiz.


"Argggg, Ilhaaammm!!!"


"Abang!! Panggil abang dahulu!!!"


Kegiatan abang dan adik itu terhenti sejenak saat Mamah Zubaedah datang dari dapur untuk melihat ribut-ribut apa yang terjadi di ruang tamu.


"Astaghfirullahaladzim!!! Ilham! Hafiz!!! Korang ni buat ape?!" pekik Mamah Zubaedah melihat pemandangan di depannya.


"Tolong Hafiz, Mah!" Hafiz meminta bantuan.


"Mamah jangan cuba-cuba tolong dia! Dia mesti panggil Ilham abang dahulu barulah Ilham lepas!!" kata Ilham.


"Ya Tuhaaan, korang berdua ni macam budak kecil je. Ckckck," Zubaedah berdecak.


Memori Zubaedah langsung memutar kembali flashback dalam ingatannya betapa akrab Ilham dan Hafiz dulu sebelum mereka beranjak dewasa. Dan melihat pemandangan ini hari ini hatinya menjadi sedikit terharu melihat abang dan adik yang sebenarnya masih saling menyayangi satu sama lain namun karena salah satunya gengsi untuk memulai hubungan kembali, jadilah mereka selama ini merasa canggung satu sama lain.


Ilham menerapkan jurus smack down dan mencekal leher Hafiz.


"Kau menyerah sahaja, Intan payong! Panggil aku, Abang, atau kalau tak kite akan macam ji hingga esok pagi!" ancam Ilham.


Tenaga keduanya sudah hampir terkuras habis karena adegan kekanak-kanakan itu saat Hafiz dengan terengah-engah berkata.


"A- abang! Am-ampun! Aku penat sangatlah," keluh Hafiz yang masih terkapar tertelungkup di sofa dengan Ilham duduk di punggungnya.


"Apa tadi? Abang tak dengarlah," kata Ilham usil.


"Ampun, Abang!!!Abang Ilhaaaam, ampun!!! Belum puas ke???"


Ilham tertawa dengan penuh kemenangan. Lalu perlahan turun dari atas punggung Hafiz.


"Macam tu kan bagus didengar," kekehnya sambil mengacak-acak rambut Hafiz bak memperlakukan Hafiz seperti adiknya saat masih bocah. "Good, Boy!!!"


Zubaedah geleng-geleng kepala melihat kelakuan Ilham dan Hafiz itu. Akhirnya kedua orang itu bisa akur kembali.


***


Ini bab ke 3 hari ini. Buat kalian yang baca dua novelku yang lain, maaf ya agak lama updatenya di situ. Author mau crazy up di sini dulu soalnya. Soalnya level novel ini menurun setingkat. Nanti author usahakan nulis walau pun 1 bab, 1 bab dulu untuk novel I love you dr. gagu sama Assalamualaikum, My CEO!

__ADS_1


__ADS_2