Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Menemui Melisa


__ADS_3

"Jadi macam ni, pihak laboratory dah temukan sesuatu yang tak biase dalam obat-obatan yang dibawa oleh Melisa dalam dia punya bag," kata polisi itu begitu Ilham dan Yola berada di kantor polisi untuk mendapatkan informasi yang mereka dapatkan tentang Melisa.


"Tak biase macam mana maksudnya?" tanya Ilham pula.


"Dalam obat injeksi itu ada terkandung zat sintetic yang dapat merusak syaraf bila dimasukkan dalam tubuh kite manusia. Kami dah bertanya pada Melisa tentang darimana datangnya ubat tu dan dia gunakan untuk ape, tapi dia tak nak mengaku," kata Polisi itu lagi.


Ilham dan Yola serentak mengernyitkan keningnya sebelum akhirnya mereka saling pandang satu sama lain.


"Hmmm ... apakah orang yang terkena zat itu bisa mengalami kelumpuhan?" tanya Yola.


Mendengar keterangan itu dari polisi spontan membuat pikirannya tiba-tiba melayang pada Sonia di rumah. Apa mungkin semua itu adalah perbuatan Melisa?


Polisi itu mencoba mengingat-ingat.


"Saye pun tak tahu pasti, namun agaknya kalau saye tak salah ingat pihak laboratory sempat cakap macam tu juge pada saye ketika saye datang nak ambil laporan hasil pemeriksaan itu kat sana," kata polisi itu mencoba mengingat-ingat. "Tetapi untuk lebih jelasnya sila Tuan dan Puan datang kat laboratory lagi untuk jika nak cari informasi lebih banyak tentang ubat ni," kata polisi itu.


"Hmmm ... terima kasih, Tuan. Nanti kami akan ke laboratory untuk mencari tahu ape sebenarnya kandungan dan kegunaan ubat tu. Tetapi untuk sekarang, boleh ke kami nak berjumpa sekejap sahaja dengan Melisa?" pinta Ilham.


Ilham merasa perlu berjumpa lagi dengan Melisa. Dia ingin tahu apa yang sesungguhnya gadis ini lakukan sehingga dia memiliki obat yang sangat berbahaya seperti itu.


Polisi itu nampak berpikir sejenak sebelum mengijinkan Ilham dan Yola untuk menemui Melisa. Hingga akhirnya kemudian dia mengangguk.


"Baiklah, tetapi jangan berlama-lama. Saat ni Melisa tengah jadi tahanan yang "diistimewakan"," kata polisi itu.


Lagi-lagi Ilham dan Yola mengernyitkan kening heran.


"Diistimewakan macam mana?" tanya Ilham.


Yola ikut mengangguk pertanda dia juga punya pertanyaan serupa dengan suaminya.

__ADS_1


"Kami curiga Melisa ni adalah salah satu bahgian dari sindikat mafia yang bergerak dalam peredarat ubat-ubat terlarang dan illegal," kata sang polisi tadi sedikit menjelaskan. "Jadi untuk berjumpa dengan orang lain pun kami batasi."


Yola dan Ilham terperanjat mendengar keterangan polisi itu. Sungguh mereka tidak menyangka akan mendapat informasi mengejutkan seperti ini dari balai polis.


"Ah, yang betul, cakap Tuan polis ni ..." kata Ilham masih tak percaya.


"Itu masih sebatas prasangka kami sahaja. Mase ni masih dalam penyidikian kami. Tuan Ilham usah khawatir. Perkara Melisa ni serahkan sahaja untuk kami tangani kat sini," kata polisi itu.


Ilham mengangguk-angguk. Pikirannya kini sedikir resah mendengar kata mafia. Apa maksudnya itu? Kenapa mereka mengincar Sonia? Apakah karena Sonia tahu mengetahui sesuatu tentang mereka? Apakah karena Sonia tahu siapa yang ingin mencelakai Yola waktu itu? Semakin banyak Ilham memikirkannya, semakin banyak juga pusing yang dia rasakan.


"Baiklah kalau macam tu. Boleh kami berjumla Melisa sekarang?" tanya Ilham mengulangi permintaannya.


Dan akhirnya Ilham dan Yola di antar ke ruang tunggu khusus narapidana yang hendak berjumpa dengan pembesuknya.


"Tunggu sekejap!" kata polisi itu.


"Abang, apakah kira-kira Melisa yang melakukan itu pada Sonia? Apakah menurut abang penyakit Sonia itu diakibatkan obat itu?" tanya Yola pada Ilham sementara mereka menunggu Melisa dijemput ke selnya.


"Abang pun tak tahu tapi nampaknya betullah macam tu, kalau ditengok dari keterangan tuan polis tu," kata Ilham lagi.


"Terus kalau semisalnya benar itu akibat obat itu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Yola bingung.


Ilham belum sempat menjawab saat Melisa tiba di ruang temu itu dengan diantar petugas yang berbeda dengan polisi yang menjemputnya tadi. Tangannya terborgol dari arah depan. Dengan tatapan tajam dia memandang pada Yola dan Ilham.


"Duduk kat sini!" suruhnya pada Melisa. "Dan jangan berlama-lama," kata petugas itu pada Ilham dan Yola yang segera disahuti mereka dengan anggukan.


"Jadi buat ape Tuan dan Puan Nirwan ni datang nak besuk saye kat sini?" tanya Melisa sinis.


Ilham mendengus kasar.

__ADS_1


"Jadi selain bunuh Atok aku, kau pula yang buat Sonia sakit hingga lumpuh macam tu ye?" kata Ilham sarkas. "Kau ada dendam ape pada kami, hmm?"


Melisa tersenyum penuh makna.


"Saye dah kate, bukan saye yang bunuh Tuan Yahya Nirwan. Kenape korang tak percaye tetapi masih sahaja datang kat sini? Kalau korang tak percaye dengan ape yang saye cakap, kenapa bersusah payah datang kemari?" tanya Melisa lagi. "Saye dah pun tawarkan kesepakatan di hari tu, keluarkan saye dari sini, saye akan bantu ceritakan ape yang korang semua ingin tahu."


Ilham terlihat mulai emosi dari raut wajahnya dan bersiap ingin menaikkan kembali intonasi suaranya menjawab kata-kata Melisa, namun Yola menahannya. Wanita itu mencekal tangan Ilham. Sebab dia mengerti posisi Melisa. Gadis itu pasti sedang berada dalam posisi tak menguntungkan sekarang. Menjadi tersangka utama pembunuhan Atok Yahya Nirwan ditambah lagi kini dia juga dicurigai menjadi kawanan dari sindikat mafia berbahaya. Melisa pasti sedang terancam hukuman berat sekarang. Lalu meski diancam, apa lagi yang dia takutkan?


"Melisa, aku tahu kamu orang baik. Kita sempat tinggal bersama-sama di rumah Atok hampir sebulan lamanya, kan? Lalu kenapa kamu begini? Atok meninggal di hari kamu melarikan diri dari rumah, saat semua orang rumah sedang berada dalam majlis perkawinan kami di hotel Royale. Kalau bukan kamu lalu siapa? Dan kenapa kamu kabur waktu itu? Kalau memang bukan kamu, tolong kasih kami petunjuk, siapa yang melakukan hal sekeji itu pada, Atok. Melisa, tolong ..." kata Yola nyaris memohon.


Kini Melisa menatap Ilham dengan pandangan meremehkan.


"Saye sudah pernah nak tawarkan kesepakatan pada kau punya husband, tetapi dia menolak. Kalau sekarang pun akan sia-sia memohon pade saye, tak de guna. Kehakiman dah pun memutuskan kalau saye adalah tersangka satu-satunya. Saye tolong korang pun tak de guna buat saye," kata Melisa menolak permintaan Yola.


"Tolong, setidaknya tunjukkan kau masih punya hati nurani. Atok kami orang baik. Dia tidak melakukan sesuatu yang sangat jahat pada siapa pun hingga seseorang berhak memperlakukannya dengan keji seperti ini. Tolong bantu kami, setidaknya jangan membiarkan dirimu sendiri menderita sementara orang yang seharusnya disini masih bebas berkeliaran di luar sana," kata Yola lagi-lagi dengan mimik yang memelas.


Melisa memperhatikan Yola yang terlihatt sangat tulus memohon padanya. Ibu hamil terlihat sangat memelas. Hingga akhirnya dia berucap kembali.


"Tengku Yahya Nirwan memang adalah orang baik. Tetapi tak seharusnya dia mengambil apa yang bukan miliknya," kata Melisa.


Yola dan Ilham saling pandang.


"Maksudnya?" tanya mereka berbarengan.


"Korang berdua tahu tentang Montha Somnang?"


****


Like, like, koment dulu reader beib aku. Btw, aku nanya donk... Kalian nemu novel ini pertama kali dari mana sih? FB? rekomendasi noveltoon atau dimana? Please ya dijawab...

__ADS_1


__ADS_2