Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Flashback Ilham (8)


__ADS_3

"Ape?? Kau nak bawa Ammar ke Berlin?" tanya Zubaedah nyaris berteriak.


Ilham mengangguk yang dibalas oleh gelengan kepala Zubaedah.


"Tak. Tak boleh. Macam mana kau dapat merawat Ammar, sedang kau sendiri sibuk belajar? Kau sendiri tinggal yudisium, kan? Lepas tu kau akan ambil magister pula kat sana. Tak! Mamah tak dapat setuju, Ilham!" Zubaedah menolak keras ide Ilham.


"Ilham akan mencari pengasuh untuk jaga Ammar, kalau Ilham sedang pergi ke university," jawab Ilham.


Zubaedah semakin meradang mendengarnya.


"Ape? Pengasuh? Hahh? Kau ni tak boleh sembarangan macam tu. Macam mana kau boleh menyerahkan Ammar pada orang lain sedang kau tak ade? Macam mana kalau dia membawa lari Ammar saat kau berada di university. Ilham, kau jangan macam-macam, hmm? Mamah tak setuju dengan kau punya usulan!"


Ilham menatap Ammar yang sedang tertidur di ranjang. Bayi itu merasa kekenyangan setelah menghabiskan ASIP terakhir milik sang ibu yang dibekali Ratih sebelum menyerahkan cucunya itu pada sang besan.


Ilham mengecup pipi Ammar. Aroma ASI menguar dari mulut baby Ammar membuat Ilham lagi-lagi menghela napas memikirkan kalau untuk ke depan Ammar tak akan lagi bisa mendapatkan haknya yaitu ASI sang mama. Dan Zubaedah telah menyiapkan susu formula untuk bayi saat di perjalanan tadi. Anaknya yang malang.


"Ilham sudah merasa hampa semenjak Yola tak lagi dapat Ilham raih, Ma. Selama empat tahun ini kami menikah, berjumpa pun hanya beberapa kali, Ilham kira akan terbiasa. Tetapi sejak kami tak lagi bisa bersama macam harapan Ilham, rasannya separuh jiwa Ilham telah pergi. Sakiit, di sini!" Ilham menepuk dadanya tapi kemudian dia tertawa untuk mencegah air matanya keluar.


"Ilham dah kehilangan Yola, Ilham tak nak pula berpisah jauh dari Ammar. Dia buah cinta Yola dan Ilham. Tolong Mamah, biarkan Ilham bawa Ammar ke Berlin. Ammar pula kasihan, dah pun kehilangan kasih sayang Mamah dia macam mana kalau kurang kasih sayang dari Ilham pula?"


Pria itu mengelus-elus pipi Ammar yang masih berwarna kemerahan. Ada wajah Yola di sana meski kata Atok dan asisten-asisten rumah tangga disini, Ammar lebih mirip dirinya.


Mendengar permintaan putranya tak urunc Zubaedah ikut menghela napas panjang dan mengacak-acak rambut Ilham.


"Kau ni dah pun jadi Papa, bukan budak kecil lagi. Macam mana kau boleh menjadi sentimental macam tu," ledek Zubaedah.


Ilham hanya tertawa, tetapi sudut matanya berair.


"Ilham cinta dengan Yola, Mamah. Macam mana ni? Dia tak akan dapat balik pada Ilham," rengek Ilham seperti bercanda tapi terdengar pilu.


Zubaedah memukul bok*ng Ilham hingga Ilham mengaduh.


"Rasakan! Kau dahulu tak nak dikahwinkan dia, kan? Inilah akibat durhaka pada Mama. Sekarang kau pula yang menanggung rasa macam ni! Crybaby!"


Ilham hanya bisa tertawa mendengar omelan dan ledekan sang Mama. Tapi sungguh hatinya pilu hingga akhirnya dia tiba-tiba terdiam.


"Mamah berunding dengan Papah dahulu macam mana baiknya. Kalau Papah setuju, Mamah akan ikut kau dan Ammar ke Berlin. Mamah tak dapat tenang membiarkan cucu Mamah satu-satunya diasuh oleh orang lain. Nanti macam mana kalau dia dibawa lari oleh orang lain macam And ..." Zubaedah terdiam, tak kuasa melanjutkan kata-katanya.


Trauma, pasti. Dan sampai saat ini, Andini belum dapat ditemukan. Sonia hanya memberikan kabar Andini melalui foto-foto yang dikirimkan Mr. Y itu padanya. Dan foto itu pun tak pernah menunjukkan wajah Andini secara keseluruhan. Namun tanda lahir di pundak Andini membuat Zubaedah yakin kalau itu memang putrinya yang hilang. Dan Sonia bilang dia masih berusaha membujuk Mr. Y untuk mempertemukan mereka kembali.


Ilham yang melihat perubahan hati sang Mama kini bangkit dari posisi rebahannya.


"Nanti Ilham akan desak Sonia lagi untuk pertemukan kita dengan Andini."

__ADS_1


Zubaedah mengangguk.


***


"Nona Yola!!" panggil Ana membangunkan Yola.


Yola meringkuk dibawah selimut


"Udah dibilangin, jangan panggil aku nona-nona, apaan?!" protes Yola dari bawah selimut.


"Udah bangun, siang nih! Entar non Yola terlambat sekolah loh," bujuk Ana lagi.


Yola akhirnya bangun.


"Mbak Ana kok ada disini sih ? Mbak anak kan bukan pengasuh aku lagi? Pake dibangunin segala lagi. Emangnya aku anak kecil?" gerutu Yola.


"Kalau bukan anak kecil lagi, bangun makanya. Mbak Ana udah siapin sarapan di bawah," kata Ana lagi.


Dengan malas Yola bangun dari tidurnya dan langsung menurunkan kakinya ke bawah.


"Aduh ngerembes nih!" seru Yola panik saat merasakan piyama bagian depannya basah oleh ASI.


"Bentar, mbak Ana ambilkan breast pump," kata Ana.


Yola tertegun, sadar kalau Ammar tak ada lagi di sini. Tiba-tiba dia kembali murung


Yola terlihat sangat sedih.


Ana mengelus pundak Yola.


"Nggak apa-apa. Pumping aja dulu, ya!"


"Terus nanti dikemanain? Dibuang?" Yola mengernyitkan keningnya.


"Ehmm, di sekitar rumah Mbak Ana ada bayi baru lahir, ibunya nggak ada lagi, Non Yola. Maaf nih, kalau Non Yola berkenan sementara bisa donorkan ASI ke baby tu. Beberapa hari aja gitu, nanti mbak Ana carikan obat pengering ASI," usul Ana.


Yola berjengit mendengarnya.


"Diih, emang mamanya tuh anak kemana? Aku ogah ahh ngasih ASI ke anak orang. Entar anak aku banyak, gimana? Kalau ASI dikasihkan ke bayi otomatis aku jadi ibu sepersusuannya donk? Nggak ahh! Mbak Ana aneh-aneh aja ihhh," tolak Yola.


"Ibunya sudah meninggal, Non!"


Ana meringis, mengingat ini pertama kalinya dia berbohong demi ... Ahhh! Maaf, batinnya.

__ADS_1


Tetapi sebaliknya Yola malah terenyuh mendengarnya.


"Seriusan? Meninggal karena apa? Kasihannya ...."


Dan Ana pun harus melanjutkan kebohongan lagi demi menutupi kebohongan yang tadi. Ahhh, pusing!


Subuh tadi Ilham meneleponnya, untuk menanyakan kabar Yola setelah ditinggal pergi Ammar kemarin. Dan dengan jujur dia berkata kalau Yola tidak keluar dari kamarnya dari sepulang sekolah kemarin. Ilham kemudian menanyakan apakah Ana bisa mengakali Yola untuk memberikan ASIP-nya lagi pada Ammar, karena bayi mungil itu ternyata menolak meminum susu formula. Ammar butuh ASI Yola untuk diajarkan beradaptasi pada susu formula. Dan Ammar tidak bisa begitu saja langsung berhenti mengkonsumsi ASI. Dia butuh beradaptasi.


Dan untungnya Yola tak banyak bertanya lagi, bersedia mengabulkan permintaan Ana.


"Anaknya cowok atau cewek? Aku khawatir kalau cewek suatu saat berjodoh dengan Ammar," katanya dengan mimik lugu.


Ana membalasnya dengan senyum dik*lum.


"Ya elah, Non! Ammar aja bukannya nanti bakal dibawa ke Malaysia. Nggak bakalan ketemu dah," kata Ana menenangkan. "Lagi pula anaknya juga cowok."


"Ya, mana kita tau jodoh, buktinya aku dan abang ..." Yola menghentikan kata-katanya.


Air matanya kini merembes lagi dengan derasnya. Dia sadar dirinya tak lagi berjodoh dengan si abang yang dia maksud. Sejak ... sejak wanita itu hadir di antara mereka. Dan Ammar pun kini telah dibawa darinya. Dari mana lagi jalannya hingga mereka kembali berjodoh? Tak ada!


"Ya ampun, jangan nangis lagi ... Non Yola matanya udah bengkak kayak gitu malah tambah nangis lagi, Ammar bisa gelisah merasakan kalau mamanya lagi sedih," bujuk Ana.


"Emang bisa begitu?" Yola menyeka air matanya.


Ana mengangguk.


"Bisa. Antara ibu dan anaknya pasti ada ikatan batin, dia bisa merasakan apa yang non Yola rasakan."


Yola terdiam.


"Jadi mau pumping nggak nih?" tanya Mbak Ana lagi.


Yola mengangguk.


"Anaknya cowok juga, kan? Nggak apa-apa deh, berarti Ammar nanti ada saudara sepersusuan," jawab Yola.


"Kalau gitu yuk buruan. Entar terlambat sekolah lagi kalau kelamaan."


Sementara itu di rumah kediaman Zubaedah, diam-diam Ilham bisa mendengar percakapan Yola dengan Ana. Dia memandang Ammar yang memang terlihat rewel saat Yola menangis tadi.


"Kau dengar tak suara Mama?" bisiknya sambil mengecup pipi Ammar.


Semalam mama dan papanya telah berembuk dan setuju untuk membawa Ammar ke Berlin. Tetapi Zubaedah akan ikut bersama mereka. Ismail juga nampaknya tidak terlalu keberatan. Namun Ilham masih harus menunggu beberapa hari lagi untuk mengurus dokumen-dokumen penting bagi Ammar untuk dibawa bepergian jauh.

__ADS_1


****


Aiiih, bosan nggak sih kalian flashback Ilham? Perlu diceritain pas di Berlin atau gimana? Kasih pendapatnya ya... plus like dan komentarnya ...


__ADS_2