
Tok!Tok!Tok!
Suara ketukan di pintu membuat Yola yang sedang sibuk memeriksa laporan keuangan supermarket di pinggir utara kota menjadi berhenti sejenak.
"Selamat siang, Puan Direktur. Saye adalah Juli, sekretary baru Anda." sapa wanita yang baru saja mengetuk pintu.
"Kebetulan sekali kamu datang. Beritahukan pada seluruh departemen pemasaran, 15 menit lagi kita rapat," kata Yola.
"Hah? Oh, baiklah, baiklah. Akan segera saya sampaikan," kata sekretaris itu buru- buru pergi.
Dan 15 menit kemudian di ruang rapat, para karyawan departemen pemasaran sudah gelisah menantikan Yola.
"Katanye direktur baru. Kira- kira baik tak ye?" gumam salah seorang.
"Kau usah risau. Paling juga kite disuruh ke sini hanye untuk perkenalan sahaja," sahut seseorang lainnya.
Sementara itu sahutan itu disambut anggukan para karyawan mengangguk- angguk tanda kalau mereka sepemikiran.
Dan tak lama suara langkah sepatu stiletto Yola yang berpadu dengan lantai pun terdengar menandakan kehadiran direktur marketing baru itu. Semua hening menyambutnya. Namun dalam hitungan detik saja semua langsung terperangah melihat kalau ternyata direktur baru itu masih sangat muda dan nampak begitu cantik. Dengan setelan kantor celana panjang dan blazer berwarna ungu tua dan dalaman coklat berenda neck v, penampilannya terlihat matching dan elegan.
"Selamat siang, perkenalkan saya adalah Yolanda Gunawan. Saya adalah Ketua Pengarah Pemasaran atau direktur marketing N-one Grocery Kuala lumpur yang baru. Saya suka menyelesaikan pekerjaan dengan efisiensi yang tinggi. Semoga kalian juga," kata Yola membuka rapat.
"Dan juga untuk kalian semua, saya ada beberapa poin yang wajib untuk diperhatikan. Yang pertama, kerjakan dahulu pekerjaan di departemen internal kita, yang kedua, setiap hari laporkan kemajuan dan progress kerja, dan yang ketiga, selesaikan pekerjaan sesuai dengan tenggat waktu yang saya inginkan." lanjut Yola dan menggunakan jarinya berhitung satu persatu untuk memperjelas poin- poin yang dia maksud.
Permulaan yang mengerikan, batin wakil direktur pemasaran.
Matilah kite, masa depan suram. Mulai mase ni tak dapatlah kita santai sedikit je, kode seseorang pada rekannya.
Dia benar- benar queen devil. Cocok sangat pabile disandingkan dengan king devil, ketua pengarah utama Tuan Ilham. Serasi sangat berdua ni pabile dikawinkan, kata hati yang lainnya lagi.
Aku gemetar, macem mana aku boleh jadi secretary queen devil ni? batin Juli pula.
"Kalian semua dengarkan saya baik- baik. Rapat kita mulai sekarang. Juli, siapkan notulen rapatnya sekarang," perintah Yola.
"Ba- baik."
Yola menyuruh Juli membagikan beberapa lembar kertas pada seluruh peserta rapat.
"Itu adalah informasi dasar tentang supermarket pinggir utara kota. Silahkan dibaca dulu!" kata Yola.
Selang beberapa menit, para peserta rapat membaca lembaran kertas di tangan mereka masing- masing. Semuanya tampak gugup dan terintimidasi.
"Target kita kali ini dalam satu bulan adalah merubah rugi menjadi untung. Pendapatan bersih supermarket pinggir utara kota harus naik setidaknya 2% dari bulan sebelumnya!"
Semua menganga mendengar target dari direktur marketing baru mereka.
"Saya berencana menggunakan ulang tahun perusahaan yang ke 27. Kita buat acara yang meriah dan membuat supermarket itu terlihat baru saat didatangi pengunjung. Untuk hal ini apa ada yang ingin ditanyakan?"
Semua peserta rapat spontan menggeleng secara serentak. Bagaimana mau bertanya. Semua perencanaan direktur baru itu telah tertera rapi tak terbantahkan di lembaran kertas yang dibagikan oleh Juli.
"Ok. Yang disebut tampak baru di sini adalah selain menutupi kekurangan sebelumnya, itu tidaklah cukup. Kita perlu meneruskan tradisi dan segala hal yang baik dari supermarket itu di masa lalu. Selain harus menarik pengunjung baru, kita juga harus mempertahankan pengunjung lama. Proposalnya berpusat pada tema yang saya bagikan tadi. Besok saya ingin itu sudah selesai. Kira- kira ada masalah?" tanya Yola sambil menatap satu per satu peserta rapat itu.
"Ti- tidak." jawab mereka terbata.
"Iklan dan proposalnya persiapkan lebih awal. Setelah proposalnya disetujui langsung dikerjakan. Pada hari Senin saya mau lihat proposal perencanaan akhir. Juli, ikuti semua perkembangannya. Jika ada masalah, secepatnya kamu beritahu saya. Wakil direktur, besok sore kamu ikut dengan saya ke supermarket pinggir utara kota untuk kunjungan lapangan. Sampai di sini ada yang ingin ditanyakan?"
Semua lagi- lagi serentak menggelengkan kepala.
"Bagus. Kalau begitu rapat selesai!"
Yola meninggalkan ruang rapat tanpa memperdulikan para peserta rapat yang langsung menghempaskan kepala mereka di meja.
"Matilah kite. Macem mana king devil boleh merekrut queen devil masuk N- one? Mereka benar- benar double killer!" keluh salah seorang dari mereka.
******
"Jam kerja dah pun selesai, untuk ape ketua pengarah utame panggilkan aku lagi kat sini? Aku nak pulang ni.... Leon dah nantikan aku di bawah " keluh Nadira pada Ilham.
"Hari ini hari pertamanya bekerja. Macam mana performanya?"
Nadira langsung tahu siapa yang dimaksudkan Ilham.
"Melebihi ekspektasiku ...."
"Oh ...?"
"Begitu selesai rapat Yola langsung dapat gelar kehormartan queen devil macem kau, king devil. Hahaha .... Kalian memanglah serasi sangat!
__ADS_1
Ilham yang mendengar hal tu cuma tersenyum mendengarnya.
"Ape senyum- senyum? Kau ni tampaknya sejak berjumpa dia, tampak sekali gembira sangatlah Ilham. Kau sangat cintakah dengan dia?" bisik Nadira menggoda.
Ilham tak menjawab. Namun senyum dan wajah merona itu terlihat jelas di wajahnya. Cinta dengan Yola? Ya. Dia sangat mencintai gadis itu. Andai tak ada kejadian sial itu pastilah saat ini dia dan Yola telah hidup berbahagia dengan Ammar. Bukan hanya dengan Ammar, mungkin juga dengan adiknya Ammar.
Membayangkan adik untuk Ammar tiba- tiba saja sekelebat bayangan romantis dan intim antara dia dan Yola dulu terlintas di benaknya. Astaga Ilham, ape yang kau bayangkan? Hatinya je kau belum dapat lagi, macam mana kau boleh berpikir hal- hal seperti itu dapat terjadi? pikirnya merutuki diri sendiri.
"Kenape? Terkenang mase lalu ye ...." goda Nadira lagi.
"Stop it, Nadira! Berhenti goda aku. Dahlah tu kite balik sekarang!" ajak Ilham.
Keduanya pun berjalan bersama ke bawah menemui Leon yang telah menanti sedari tadi di depan mobilnya. Di saat yang sama Yola pun keluar dari ruangannya.
"Yola!!" panggil Nadira. "Kau nak balik kemane? Mau ikut bersama kami tak? Kami nak antar kau sampai tujuan!" kata Nadira menawarkan.
Yola tersenyum kecut melihat Ilham yang berdiri tak jauh darinya.
"Maaf Nadira, aku sedang menunggu temanku. Dia akan menjemputku." tolak Yola halus.
"Boyfriend?" tebak Nadira
Yola hanya menanggapinya tersenyum. Membuat Ilham hatinya menjadi panas.
Boyfriend? Maksudnya kekasih? Awas kalau ada yang berani. Kau masih isteri aku, Yola. Kau tak boleh punya boyfriend lelaki mana pun! Kata hati Ilham.
Nadira mengernyitkan keningnya.
"Kawan? Kau baru di KL, dah punya kawan? Macam mana kalau dia tak baik? Ayolah, cancel je tu. Kau katakanlah pada kawan kau tu tak usah jadi jemput. Biar kami je yang hantar kau sampai rumah," kata Nadira sekali lagi menawarkan.
"Dia teman baikku sejak lama, jangan khawatir. Nah itu dia telah datang!" tunjuk Yola pada seoramg lelaki tampan yang baru saja keluar dari sebuah mobil.
Lelaki tampan itu melambaikan tangannya pada Yola. Dia terlihat sangat tampan dan bertubuh kekar. Dengan kaos putih pas badan, otot dada dan perut itu tercetak jelas membetuk roti sobek. Sebuah anting tindik khas anak muda terlihat keren di sebelah ditelinganya. Itu tidak membuatnya terlihat nakal melainkan terlihat maskulin dan cool.
Nadira dan Leon terperangah.
"Itu kan ...."
Belum sempat Nadira melanjutkan kata- katanya, Yola telah menghambur ke pelukan laki- laki itu.
"Maaf, maaf, maafkan aku Yola. Aku ada masalah pelik di gym Serawak, jadi aku kesana dulu. Baru boleh temui kamu di sini." kata lelaki itu.
"Hafiz, kau ade kat sini?" tanya Leon tak percaya.
"Iya. Kenape? Tak boleh?" jawab Hafiz.
Mereka tahu Hafiz adalah adik dari Ilham. Adik yang selama ini dikira adalah adik kandung ternyata hanya anak angkat keluarga Nirwan. Gosipnya sejak Hafiz tahu dia bukan anak kandung keluarga Nirwan, Hafiz mulai memusuhi Ilham. Dan mereka tak pernah bertegur sapa hingga sekarang. Tapi sekarang lelaki itu menunjukkan dirinya di N-one grocery karena Yolanda Gunawan, kakak iparnya. Atau mereka ada hubungan lain yang spesial?
"Hafiz, kau dan Yolanda ...."
Nadira menggantung kata- katanya. Dia ingin mempertanyakan hubungan keduanya.
"She is my girlfriend." jawab Hafiz acuh sambil menatap tajam pada Ilham.
"Hah? Macam mana boleh ....?" pekik Nadira tak percaya.
"Kenape tak boleh? Aku melajang. Dia pun single. Iya tak, sayang?" kata Hafiz pada Yola.
Yola tersenyum geli dan mengangguk. Dia dan Hafiz sejak SMA memang sering bermain akting sebagai pasangan kekasih untuk tujuan-tujuan tertentu.
Melihat senyum di wajah Yola tak urung membuat Ilham melemparkan pandangan tajam pada ibu muda berstatus gadis itu. Yola menyadarinya namun berusaha untuk acuh.
"Ndut, kita berangkat sekarang yuk!" ajak Yola yang segera diiyakan oleh pemuda itu.
Sementara Ilham menjadi panas hati mendengarnya. Di telinganya itu terdengar seperti panggilan sayang.
Yola memang masih memanggil Hafiz dengan panggilan Ndut atau Ehsan meskipun lelaki itu sekarang telah jauh berubah secara fisik dan penampilan. Berkat motivasi Yola, Hafiz berhasil menurunkan berat badannya secara bertahap dan kecintaannya pada fitness dan gym membuatnya terjun dalam bisnis yang sama. Hafiz membuka tempat fitnes dan gym di beberapa kota di Malaysia.
Sementara itu hubungannya dan Ilham memburuk sejak abangnya yang ternyata adalah abang angkat itu mencampakkan Yolanda, sahabat baiknya demi Sonia.
"Bro! Sepertinya kau punya rival yang pelik sangat. Ini tak kan senang buat kau. Berjuanglah, kawan!" ledek Leon memanas- manasi Ilham sepeninggak Yola dan Hafiz.
Sial! Ilham segera mengambil mobilnya dan mencoba mengikuti Yola dan Hafiz. Sementara itu Leon tertawa jahil melihat usahanya memprovokasi Ilham berhasil.
"Ape kau bikin tu? Macem budak kecil je memprovokasi orang," tegur Nadira pada Leon.
"Biarlah. Kalau tak macam tu, dia takkan bergerak. Bile usahanye boleh dapatkan direktur baru tu berhasil?" kekeh Leon.
__ADS_1
"Iyalah, iyalah. Kita balik sekarang!" kata Nadira.
Sementara itu di dalam mobil Hafiz yang melaju lambat Yola pun membuka percakapan.
"Kau tak perlulah sampai harus berakting segala di depan mereka. "Kau iseng sekali, sayang!" canda Yola sambil mencubit pipi Hafiz.
"Biarkan je, kau tak lihat ke buaya darat tu? Mukanya macam kepiting rebus saat aku kate kau kekasih aku. Hahaha ...." gelak Hafiz dalam tawa.
Tak jauh dari gedung N-one, Hafiz menghentikan mobilnya di sebuah apartemen.
"Nah di sini, apartemennya. Flatnya punya kawan aku. Aku dah lihat pun tadi. Nampaknya ini cocok buat kau. Dan tidak begitu jauh dari N- one." kata Hafiz.
Tak berapa lama mereka segera naik ke lantai atas untuk melihat apartemen yang akan disewa Yola. Apartemen itu cukup nyaman dan dekat dari gedung N-one. Yola bahkan bisa melihat gedung N-one dari balkon itu.
"Sewa per bulan 3500 RM. Deposit 3 bulan. Air, listrik dan biaya pemeliharaan belum termasuk. Macam mana? Kau puas tak?"
Yola mengangguk dan menyampirkan lengannya di bahu Hafiz.
"Ya. Aku puas. Nanti aku traktir kamu makan setelah kamu bantu aku ambil barang- barangku di hotel, oke?" katanya.
Selepas dari melihat apartemen Yola dan Hafiz pun kembali ke mobil dan menuju hotel untuk mengambil koper dan barang- barang Yola.
Mereka tak menyadari Ilham yang sedari tadi mengikuti mereka dari belakang. Melihat Yola dan Hafiz masuk ke dalam hotel membuat Ilham kembali merasa terprovokasi.
Ape mereka nak bikin di hotel? Dah tadi di apartemen. Sekarang pindah pula ke hotel, gerutunya dalam hati.
Di bayangan Ilham Yola dan Hafiz sedang melakukan hal- hal panas dan erotis di kamar hotel. Dan itu membuatnya tak tahan untuk tidak masuk ke dalam hotel. Kalau memang perlu dia akan memerintahkan manager hotel menggeledah kamar hotel satu persatu untuk menemukan Yola dan Hafiz. Dan jika terbukti dia akan menghajar adiknya itu karena telah berani berbuat tak sepantasnya pada kakak iparnya.
Baru saja Ilham ingin masuk ke dalam hotel, ia kemudian telah bertemu Hafiz di lobby sementara Yola masih melakukan proses check out di lobby hotel.
Hafiz langsung mendelik curiga pada abangnya.
"Ape nak kau bikin di sini?" tanyanya tak suka.
"Aku nak bertemu klien. Kenape? Kau kire aku macam kau, kurang kerjaan?" balas Ilham kesal.
Hafiz menyeringai sinis.
"Aku beritahu kau. Jangan coba-coba nak dekati Yola lagi." kata Hafiz memperingatkan.
Peringatan itu segera dibalas oleh Ilham.
"Kalau aku nak dekati dia lagi, macam mana? Yola masih isteri aku. Kau boleh buat apa?" tantang Ilham.
Hafiz masih ingin membalasnya andai dia tak melihat Yola yang kini tengah berjalan ke arahnya. Wanita itu sempat heran melihat Ilham ada di sana. Namun dia berusaha tak menghiraukan.
"Ndut, antar aku bawa barang- barang ini ke apartemen. Setelah ini kamu ku traktir makan," kata Yola sembari menggayut tangan Hafiz.
Hafiz segera menurut dengan Yola dan mereka pun pergi dari hotel itu.
"Ade yang bisa kami bantu?" tanya salah satu staff hotel pada Ilham yang masih terpaku menatap kepergian Yola dan Hafiz.
"Oh. Tak ade." jawab Ilham.
Oh begitu! Ternyata Ilham hanya salah paham. Dia akhirnya tahu kalau Hafiz hanya membantu Yola mencari apartemen dan membantu memindahkan barangnya dari hotel ke apartemen.
Ilham mengeluarkan ponsel dari kantong celananya. Mencari nomor Leon pada kontaknya kemudian mendial nomor itu.
"Leon, aku punya tugas untuk kau ...."
"Ape?" suara bersemangat terdengar di seberang sana.
"Aku mahu kau cari tahu di flat nomor berape, Yolanda akan tinggal di apartemen Gold Century. Lalu macam mana pun caranya. Kau musti, carikan aku flat di sebelahnya atau berhadapan dengan flatnya. Lalu kau buatlah seolah- olah aku dah tinggali flat itu dalam waktu yang sudah lama," kata Ilham.
"Eh, macam mana kalau dah ada orang tinggal di sana? Macam mana kalau di depan dan di sebelahnya dah ditinggali orang? Macam mana?" jerit Leon ditelepon.
Dia tak menyangka akan dapat tugas gila dan merepotkan dari bosnya ini.
"Pokoknya aku tak mau tahu. Bile dah ada yang tempati flat di dekatnya, suruh mereka pindah atau tawarkan sejumlah uang. Tak payahlah pelik sangat macam tu."
"Kalau tak payah, kenapa bukan kau saje yang lakukan?!" teriak Leon kesal.
"Kau lakukan seperti yang kuminta atau kau kupindahkan ke luar kota!" kata Ilham mengancam.
"Iyalah, iyalah. Membuatku susah je!" keluh Leon sambil menutup telepon.
Ilham tersenyum dengan idenya. Bagaimana pun dia harus dekat kembali dengan Yola. Karena itu dia memerlukan pula bantuan dari seseorang. Ammar!
__ADS_1