
Kabar Yola menerima lamaran dari Hafiz menyebar begitu cepat. Vidio moment lamaran Hafiz terhadap dirinya tanpa seijin mereka diupload oleh salah satu staf hotel di salah satu akun media sosial. Vidio itu bercaption "Manisnya mereka .... Aku pun nak begitu juga", mendapat respon beragam dari netizen Malaysia. Mereka bisa langsung mengenali Yola sebagai calon istri Ketua Pengarah N-one Grocery yang viral bulan lalu di perhelatan anniversary perusahaan skala nasional itu. Gosip itu pun menjadi trending topik di berbagai sosial media. Banyak netizen menganggap Yola sebagai wanita tak tahu malu yang mempermainkan dua pria sekaligus.
Tak terkecuali di N-one Grocery sendiri, wanita itu menjadi buah bibir di kalangan para staf dan karyawan.
"Kasiannya Ketua Pengarah, macam mana dia boleh jatuh hati pada wanita ular macam tu? Untung je mereka berdua belum berkahwin. Memanglah Puan Sonia adalah yang terbaik dibanding wanita manapun, sudahlah cantik, setia, dan sabar bahkan dah ijinkan suami dia sendiri nak kahwinkan wanita lain, eh wanita tu pula tak tahu malu. Dah pun mahu abangnya mahu pula dengan adiknya," oceh salah seorang staf.
Tetapi begitu melihat Yola datang untuk bekerja pagi ini, staf yang tadinya bergunjing itu pun terdiam. Dan begitu Yola berlalu, mereka pun menggunjingkannya kembali.
"Wah, betul- betul tak tahu malu. Dia masih berani datang ke N-one setelah apa yang telah dilakukannya. Betul- betul bermuka tebal," umpat mereka.
"Ho oh, macam mana ada perempuan tak tahu malu macam tu? Kite pula sesama perempuan ikut malu juga ada wanita macam tu," sahut karyawan lainnya sambil geleng-geleng kepala.
Yola sendiri bukannya tidak tahu kalau dia akan menjadi topik perbincangan. Namun dia tak ada pilihan lain selain tetap datang untuk bekerja.
"Jadi, kau dah memutuskan untuk kembali bekerja?" tanya Ilham padanya saat mereka berpapasan di koridor kantor.
Yola mendesah sembari mengangguk.
"Kalau macam tu, nanti siang kau kawani aku makan siang di Sandiego Resto," kata Ilham lagi.
Yola mengenyitkan keningnya heran, sebelum dia menolak, Ilham sudah melanjutkan kata- katanya.
"Usah salah mengira. Aku ajak kau makan siang, untuk bertemu kita punya calon relasi. Aku belum bagi tahu Puan Pengarah Pemasaran bahwasanya N-one Grocery mase ni punya target melebarkan cabang N- one di airport. Airport memberi satu kesempatan bagi salah satu supermarket di Kuala lumpur untuk bekerja sama dengan mereka. Saingan kite sangatlah banyak. Dan aku memerlukan Puan Pengarah pemasaran untuk dapat memenangkan tender ini, kau tak keberatan, kan?"
Yola mengangguk.
"Oke."
"Kalau macam tu persiapkan dirimu untuk nanti siang. Aku akan berikan file pendukung untuk kau boleh presentasekan kelebihan dan untung yang dapat airport terima bile bekerja sama dengan perusahaan kite, kau baca sikit nanti," kata Ilham.
Yola mengangguk mengiyakan.
Di waktu siang, Ilham pun menjemput Yola ke ruangannya.
"Kite bertolak sekarang," katanya. "Dah kau pelajari file yang aku bagi tadi pagi?"
"Sudah."
"Oke, let's go!"
__ADS_1
Ilham pun berjalan di depan, diiringi Yola yang berjalan di belakangnya. Semua pandangan para staf tak luput dari mereka berdua hingga mereka tiba di bawah. Saat berada di lobby keduanya bertemu dengan Sonia.
Sonia langsung mendelik tak senang pada Yola. Dia telah mendengar berita tentang hubungan Hafiz dan Yola, dan Sonia merasa itu membawa harapan baru pada hubungannya dan Ilham. Jika Yola dan Hafiz menikah, Ilham harusnya akan menyerah, kan?
"Ilham, aku nak ajak kau makan siang bersama," kata Sonia. "Sebelumnya kite boleh jemput Ammar dulu ke tadika, kite makan siang bersama- sama. Kamu mau, tak?" bujuk Sonia.
Dia berusaha mengalah dan mengabaikan kehadiran Yola di sana demi mendapatkan hati Ilham.
"Maaf Sonia, siang ni aku tak boleh temani kau makan siang dengan Ammar. Aku masih ada urusan dengan Puan Pengarah Pemasaran bertemu dengan calon partner kerja sama N-one. Kau baliklah dulu. Kite boleh makan siang di lain waktu, atau boleh ditukar dengan dinner nanti malam, kalau kau tak keberatan," kata Ilham.
Yola sedikit menunduk mendengar jawaban Ilham terhadap ajakan Sonia. Sepertinya Ilham menjadi lembut pada Sonia. Entah mengapa, hati Yola menjadi sakit karenanya. Sambil menghembuskan napasnya dia berusaha mengurangi sesak di dalam dadanya.
Sonia sendiri lumayan terkejut dengan jawaban Ilham. Biasanya Ilham akan bersikap kasar dan cuek padanya. Tapi kali ini, Ilham terdengar sangat sopan bahkan terkesan lembut.
"I- iya. Aku mahu. Tak apa diganti dengan dinner, aku akan bersiap- siap nanti malam, Ilham," kata Sonia.
Ilham hanya mengangguk dan memberi isyarat pada Yola untuk lanjut mengikutinya. Yola menurut.
"Tunggu sebentar!" seru Sonia.
Yola dan Ilham yang telah berjalan beberapa langkah, menghentikan langkah kaki mereka dan serentak menoleh pada Sonia.
"Tahniah atas rencana perkahwinan kau dan Hafiz. Aku dah tengok pun moment lamaran kau semalam di Royale Hotel. So sweet sangat! Aku pun iri tengok betapa mesra kau dan Hafiz. Hafiz memang pandai membuat hati kekasihnya gembira. Tak macam sorang yang tak tahu romantis dengan dia punya isteri," sindir Sonia sambil melirik Ilham.
Ilham membuang muka dan memilih untuk berjalan terlebih dahulu. Ilham sendiri telah melihat vidio beredar berisi lamaran Hafiz pada Yolanda. Dan di vidio itu Yola menerimanya. Betapa menyakitkan hati. Dia sendiri telah menikah dengan Yola sudah belasan tahun lamanya tapi ketidakpekaannya membuat dia tak pernah menyiapkan moment romantis untuk wanita itu. Seketika Ilham pun merasa menjadi orang terbodoh karenanya.
"Bile kau dan Hafiz menyelenggarakan majlis perkahwinan, kau pasti akan mengundang aku dan Ilham, kan?" tanya Sonia.
Dalam hatinya dia senang karena telah berhasil memprovokasi Ilham. Dengan begitu Ilham akan sadar posisinya dan tidak mengharapkan Yolanda lagi, begitu pikirnya.
Yola memaksakan diri untuk tersenyum sewajar mungkin.
"Pasti. Tentu saja aku harus mengundang kalian, tapi sekarang boleh aku pergi dulu? 'Bosku' menungguku untuk menghadiri makan siang penting dengan salah seorang calon partner penting bagi N-one," kata Yola sengaja menekan kata 'bosku' pada kata- katanya untuk membuat Sonia mengerti kalau dia dan Ilham hanya punya hubungan atasan dan bawahan.
"Ya. Sila!" jawab Sonia merasa menang atas persaingan cintanya dengan Yola.
*****
"Keuntungan yang pihak airport terima bila bekerja sama dengan N- one adalah salah satunya kami memiliki brand yang dikenal di seluruh Malaysia. Brand N-one familiar diingatan oleh hampir setiap masyarakat di Malaysia. Dan kami N-one tidak sama dengan supermarket pada umumnya. Kami N- one Grocery, bukan hanya nama, tetapi harga yang kami tawarkan adalah harga grosir di bawah rata- rata harga pasaran. Sangat bertolak belakang dengan umumnya harga produk yang dijual di airport yang boleh terbilang mahal. Jadi saya bisa menjamin, kerja sama ini akan memberi banyak keuntungan bagi pihak airport ," kata Yola mengakhiri presentasinya pada perwakilan bandara kuala lumpur itu.
__ADS_1
Lelaki paruh baya tersebut mengangguk- angguk.
"Saye dah tahu kelebihan dan keutamaan N-one Grocery, tapi saya baru tahu kalau N-one Grocery mempunyai Pengarah Pemasaran yang cantik lagi pandai macam Puan Yolanda ni. Puan Yolanda ni, dah berkahwin ke?" tanya lelaki bernama Abidin itu.
"Ehmm," dehem Ilham seakan memperingatkan lelaki itu agar tidak menyimpang dari tujuan mereka bertemu di resto ini.
"Oh, hahaha .... Maafkan saye Puan Yolanda, saye bertanya tak ade maksud buruk apa- apa. Siapa tahu Puan Yolanda masih sendiri, bolehlah saye nak kenalkan dengan adik saye yang masih membujang sampai saat ni. Dia dah lama pun nak cari isteri tapi belum juga bertemu jodohnya. Mmm, tapi saye paham, sepertinya Puan Yolanda dah pun ada yang punya, ye?" Tebaknya.
"Hmm?"
Yolanda yang baru saja minum meletakkan gelasnya dengan gugup. Dia tak mengerti kenapa pembahasan mereka bisa sampai ke sana. Yola sungguh merasa tidak enak hati dengan Ilham.
"Saye boleh tengok cincin yang tersemat di jari manis, Puan Yolanda," jawab Abidin.
"Oh, ini .... Hahaha ...." Entah mengapa Yola merasa perlu menyembunyikan cincin yang melekat di jarinya itu dengan menggenggam tangan kirinya itu dengan tangannya yang lain.
"Saya belum menikah, Tuan Abidin. Tetapi mungkin tidak akan lama lagi," jawab Yola dengan nada suara yang rendah.
Ilham sudah terlihat gerah dengan pembicaraan itu.
"Oh, kalau begitu saye doakan semoga perkawinannya segera terlaksana. Jangan berlama-lama. Kite tak tahu jodoh. Kata peribahasa, sebelum janur kuning melengkung, masih boleh orang lain untuk menikung, betul tak? Hahahaha ...." gelak Tuan Abidin.
Yola ikut tertawa terpaksa sementara Ilham tadi yang mulai emosi kini sedikit tersenyum. Benar kata Tuan Abidin, baru lamaran seperti itu sajaa, Ilham masih punya kesempatan merebut kembali Yolanda.
Makan siang itu selesai dengan janji Tuan Abidin akan mempertimbangkan N- one untuk bekerja sama dengan Malaysian Airport. Ilham pun segera membayar tagihan di kasir sementara Yola keluar lebih dulu menuju mobil mereka di parkir.
Baru saja Yola keluar dari restoran itu, tiba- tiba seseorang menyenggolnya dari belakang dan dalam hitungan menit tas tangannya telah ditarik oleh orang itu dan secepat kilat orang itu berlari membawa kabur tasnya.
Yola terkesiap, dia seperti pernah mengalami ini sebelumnya. Namun tak ada waktu, Yola segera mengejar maling itu namun sial! Sebelum dia berhasil menjangkau orang itu, heels sepatunya tersangkut pada grill penutup paret di depan resto yang menyebabkan Yola sampai jatuh terjerembab. Pergelangan kakinya seperti terpelintir, lutut dan lengannya pu sepertinya memar.
Yola berusaha bangun, namun dia masih sempat melihat orang yang merampas tasnya naik ke boncengan sepeda motor orang yang menunggunya di bawah pohon akasia di pinggir jalan. Orang itu menoleh. Dia seorang perempuan, memakai kemeja kotak- kotak berwarna biru yang beberapa kancingnya dibiarkan terbuka begitu saja, dengan dalaman t-shirt berwarna hitam. Gadis itu memakai topi, dengan rambut diikat keluar dari lobang kancing di belakang topi tersebut. Yola familiar dengan wajah itu.
"Yola! Yola! Kamu kenapa?!!" seru Ilham yang baru saja keluar dari resto.
Ia terkejut melihat Yola yang terlihat tertelungkup di atas grill penutup selokan dengan tumit sepatu terjepit di antara besi paret itu.
Yola tak menyahut, bahkan saat Ilham membantunya berdiri. Pikiran Yola tertuju pada peristiwa 11 tahun silam. Meski tidak segar lagi diingatannya, tapi Yola yakin itu orang yang sama dengan orang yang menjambretnya 11 tahun silam di mall.
Siapa dia? Apakah ini hanya kebetulan?
__ADS_1