
"Apa?!! Apa kamu bilang? Hamil?!! Mira?!!" Suara Salim terdengar menggelegar hampir keseluruh rumah itu.
Abimanyu menunduk mengiyakan.
"I- iya, Yah!" jawab Abimanyu tergagap.
Seketika Salim memijat keningnya, pusing.
"Ayah sudah sedari awal mengatakan padamu kan, ayah tidak suka dengan gadis itu, Abimanyu!!!" terdengar bentakan lagi di ruangan itu.
"Kenapa ayah tidak suka dengan Mira? Dia gadis yang baik! Dan aku pasti akan menikahinya!" kata Abimanyu mencoba memberanikan diri untuk membantah perkataan ayahnya.
"Baik?? Gadis seperti itu kamu bilang baik? Gara- gara dia kamu dan Septian memiliki hubungan yang tidak harmonis satu sama lain! Begitu pun masih kamu bilang dia baik?!" balas Salim lagi- lagi hampir berteriak.
Dia benar- benar tak habis pikir pada kelakuan anak sulungnya ini. Bukan hanya pada Abimanyu saja, Salim juga sakit kepala memikirkan Septian, anak bungsunya itu. Keduanya jatuh cinta pada wanita yang sama. Dan membuat mereka punya hubungan yang renggang satu sama lain. Dan sekarang gadis itu hamil oleh Abimanyu? Ya Tuhan, entah apa yang akan terjadi setelah ini pada keluarganya.
"Ayah tak ingin wanita itu masuk ke keluarga kita. Sampai kapan pun kalau kau tetap ingin memaksa bersama dia, pergi saja kamu dari rumah ini! Angkat kaki dari sini, dan hapus nama Gunawan dari namamu. Keluarga Gunawan tidak memerlukan orang yang membuat perpecahan dengan keluarganya sendiri apalagi dengan adiknya!! Huh!!" kecam pria tua itu.
"Lalu ayah mau apa? Ayah mau aku menelantarkan darah dagingku sendiri?!" tanya Abimanyu menahan amarah.
"Tak ada yang menyuruhmu menyulut api. Salahkan dirimu kalau harus terbakar bersama wanita dan anak hasil perbuatan harammu itu! Jika kau ingin pergi bersama wanita itu, pergilah! Lupakan Gunawan, keluarga dan perusahaan ini! Dan juga ... ayahmu ini!" teriak sang ayah tak kalah marah.
Salim dalam beberapa hal memang adalah seseorang pria berwatak keras, meskipun di sisi lain dia juga bersikap lembut. Karena itulah Abimanyu tidak bisa membanntahnya. Pria itu juga tidak bisa begitu saja merelakan perusahaan Guna- 1. Memilih Mira sang kekasih, dan melepas perusahaan besar milik ayahnya, tak pernah terbersit di pikirannya akan memiliki ide seperti itu.
Karena itu dengan beralasan dirinya harus belajar ke luar negeri, Abimanyu berpamitan dalam suratnya pada Mira akan pergi dan tidak akan kembali dalam waktu yang cukup lama. Hanya permohonan maaf yang bisa dia ucapkan dalam surat itu berulang- ulang kali, menyesal bahwa dia bukan seorang pria yang baik dan juga bukan ayah yang bertanggung jawab. Namun dalam suratnya itu dia meminta jika anak yang akan dilahirkan Mira nanti perempuan, semoga Mira berkenan memberi nama bayi itu Yolanda Gunawan. Dalam permohonan itu terselip harapan semoga ayahnya kelak masih bisa berubah pikiran jika telah melihat cucu perempuannnya yang bernama Yolanda itu.
Dan pria itu pun pergi, belajar bisnis di Amerika untuk memperdalam ilmu agar dia punya bekal memimpin perusahaan Gunawan kelak.
Hingga tiga tahun berlalu, Abimanyu kembali ke Jakarta dan siap memimpin Guna-1. Harapannya agar ayahnya bisa menerima keberadaan Mira dan anaknya tetap ditolak mentah- mentah oleh Salim. Yang ada Salim malah menyuruh Abimanyu menikah dengan anak salah seorang relasinya, yaitu Ratih.
"Ayah! Aku tidak mau menikah dengan wanita itu. Bagaimana mungkin ayah menyuruhku menikah dengan orang lain sedangkan aku punya anak dari wanita lain?!" tolak Abimanyu frustasi.
"Ratih gadis yang baik, dari keluarga terhormat, cerdas berpendidikan, dan yang pasti dia tau cara menghargai dirinya sendiri sebagai wanita. Dengannya kau akan memiliki keturunan yang berbobot kelak. Bibit unggulan, ayah tidak akan salah memilih calon pendamping untukmu!" jawab Abimanyu tak terbantahkan.
"Tapi Ayah ...!"
"Harus!Atau pilihannya akan sama dengan 3 tahun yang lalu tinggalkan Guna-1 dan keluarga ini!"
__ADS_1
Dan lagi- lagi Abimanyu terpaksa menuruti titah sang ayah. Terpaksa menikahi Ratih, anak relasi ayahnya yang bahkan dia tidak kenal sebelumnya.
Tapi Ratih seperti ayahnya bilang, adalah perempuan menarik. Tak hanya cantik parasnya, berpendidikan dan dari keluarga terhormat, dia juga sangat pandai beradaptasi dan mengambil hati siapa saja yang berada di dekatnya. Hingga akhirnya Abimanyu pun secara alami jatuh hatinya dan karena itulah mereka memiliki putri yang dinamai sendiri oleh Salim, Yolanda Gunawan.
Tak lama berselang, Septian, adik dari Abimanyu nekad menikahi Mira, mantan kekasih sang kakak meski tanpa restu dari ayah dan keluarganya. Rasa bencinya pada kakak kandungnya sendiri semakin menjadi- jadi karena wanita yang dicintainya ditelantarkan begitu saja oleh Abimanyu. Belum lagi masalah perusahaan Guna-one yang secara otomatis jatuh pada Abimanyu karena kekesalan Salim pada pernikahan Septian dan Mira, membuatnya tersingkir dari daftar pewaris Guna- one.
Hingga di suatu waktu saat kondisi kesehatan Salim sedang melemah, Septian ditarik kembali ke keluarga Gunawan. Keberadaan Mira dan anaknya bisa diterima oleh Salim demi bersatunya kembali anak- anaknya.
"Kau boleh membawa Mira masuk ke dalam keluarga Gunawan. Tapi anak itu!" tunjuk Salim pada anak perempuan kecil berusia 4 tahunan yang digendong Septian. "Dia boleh saja memakai nama keluarga Gunawan, tapi! Yolanda cucuku hanya satu. Ganti namanya. Terserah dengan nama apa, tapi Yolanda dalam keluarga Gunawan hanya boleh dia saja!"
Salim menunjuk pada bayi yang digendong oleh Ratih. Ibu muda itu tampak tak senang akan kehadiran Mira dan anaknya. Apalagi setelah dia tahu kalau anak bernama Yolanda itu juga adalah anak dari skandal yang pernah dilakukan suaminya. Dan kini wanita saingannya itu akan tinggal bersama dengannya dengan menyandang predikat yang sama yaitu menantu keluarga Gunawan.
Tidak! Dia tidak akan membiarkan dirinya dan putrinya kalah oleh wanita itu! Abimanyu adalah suaminya dan hanya putrinya satu- satunya Yolanda di keluarga Gunawan ini.
*Flashback off*
****
"Abang .... aku nggak ingat apa kepanjangan dari nama Eva yang Y- nya itu. Soalnya aku nggak pernah akrab dengan dia sih, jadi malas aja gitu berbasa basi nanya nama lengkap dia sebenarnya. Dia selalu memusuhi aku dari dulu. Dan Mamanya Tante Mira juga begitu, nggak pernah suka dengan aku dan Mama," kata Yola sambil termenung mencoba mengingat- ingat lagi.
"Kalau semisalnya Y- nya itu Yolanda, macam mana?" tanya Ilham tak sadar.
Yola terdiam sejenak sebelum kemudian tertawa.
"Abang! Abang tebakannya lucu deh! Mana mungkin kami memiliki nama yang sama? Kecuali nama Gunawan, mungkin iya karena kami satu keluarga!" kata Yola sambil geleng- geleng kepala.
"Kenapa tak mungkin. Boleh sahaja kan, kalian memiliki nama yang sama? Apalah arti sebuah nama, betul tak Mrs. Nirwan?" Ilham masih bersikeras.
Yola menggeleng dan menghentikan tawanya.
"Itu tidak mungkin, abang. Yang memberi nama Yolanda padaku adalah almarhum kakek. Dulu kakek selalu bilang dan sering kali mengatakan hal ini berulang- ulang. Bahkan Mama pun sering mengatakannya, bahwa Yolanda di keluarga Gunawan hanya aku satu- satunya. Hanya aku, abang!" kata Yola bersikeras.
Seperti anak kecil, dia tak terima ada Yolanda yang lain di keluarganya.
"Baiklah, baiklah kalau macam tu. Tapi satu yang harus kau tahu, Yolanda Gunawan ...." panggil pria itu.
"Hmmm .... Apa tu?" tanya Yola.
__ADS_1
"Siapa pun kau, apa pun namamu, bagi abang kau satu- satunya Yolanda yang ada di hati dan hidup abang," kata Ilham sepenuh hati.
Yola terdiam dan menatap wajah pria yang berstatus suaminya itu. Sejenak dia mengelus pipi Ilham.
"Abang ...." panggilnya
"Hmmm?"
"Aku belum pernah mendengar suara buaya sebelumnya. Ternyata begini kalau buaya lagi ngomong ya. Hahahaha ...." gelaknya.
Ilham yang mengira Yola akan terharu akan kata- katanya, mencubit pipi istrinya itu gemas.
"Ini bukan Bu Aya, Sayang. Ini Pak Aya. Kalau macam tu bolehlah Pak Aya minta Bu Aya cium sikit?" rayu pria itu sambil mencondongkan pipinya ada Yola
"Isss .... Abaaanggg!!! Ini masih di kantor tauuuu ... Sana!!" Yola mendorong pipi Ilham.
"Sikit je ..."
"Nggak ... Dibilangin nggak juga ...Ihh..."
"Sikiiit sahaja ...."
"Tak nak!"
"Yola, sikit ..." rengek pria itu.
Yola kemudian menatap sejenak pipi itu dan ...
Cuppp!!!
Sebuah kecupan mendarat di pipi Ilham.
"Yola sayang Abang!"
***
Aduuuh, aduuh jomblo mohon bersabar guys... Jangan lupa like, komentnya dulu reader kesayangan akoe....
__ADS_1