
Ilham kembali ke ruang presdir (eh ke lantai presdir maksudnya hehehe) setelah rapat yang menguras otak dan emosinya itu selesai.
Triiiing!
Suara lift terdengar sehingga membuat Yola yang sibuk mengerjakan t*tek bengek perusahaan sambil bersandar cantik di atas ranjang menjadi menoleh. Dan benar saja perkiraannya, tak lama Ilham terdeng masuk membuka pintu ruang presdi dan terakhir mendorong pintu kamar yang terlihat menyatu dengan warna dinding.
Ilham sengaja mendesign lantai itu seperti sebuah kantor semi apartemen. Kamar tidur tempat dia dan Yola untuk istirahat dibuat tersembunyi di belakang ruang presdir. Pintu yang membatasi dua ruangan itu sendiri dibuat dengan walpaper yang sama sehingga jika ada orang yang bertamu ke ruang presdir, tak akan ada yang menyadari kalau di balik ruangan itu masih ada lagi ruangan lain di tempat itu. Hal itu tentu untuk menjaga image keduanya di mata karyawan-karyawan lain.
Di luar ruang presdir sendiri ada July sebagai sekretaris yang bertugas menyampaikan ke ruang presdir jika ada tamu atau ada sesuatu yang ingin disampaikan pada presiden direktur dan wakil presiden direktur itu. Yola memilih July untuk tetap menjadi sekretarisnya karena dia suka dengan hasil kerja gadis itu meski pun terkadang gadis itu bekerja agak sedikit lambat.
"Abang, meeting-nya udah selesai?" tanya Yola begitu pria yang beda usia 7 tahunan itu masuk ke ruangan itu.
Yola memang sengaja tidak mengikuti rapat karena tadi dia harus menemui salah satu relasi N-one Grocery sebagai perwakilan Ilham.
"Hmmm ...." jawab Ilham singkat seraya menghempaskan tubuhnya di ranjang empuk pilihan Leon itu.
Ilham melonggarkan dasinya dan membuka kancing paling atas kemeja kerjanya.
"Abang capek? Mau Yola pijitin?" tanya Yola menawarkan.
"Pijit?"
"Massage, Abang ..." ralat Yola sebelum Ilham kembali membuat rumit komunikasi mereka dengan perbedaan bahasa di antara mereka.
"Oh, Yola mahu urut abang ke?" tanya Ilham balik.
Yola mengangguk mengiyakan.
"Oh macam tu. Tunggu sekejap!" Ilham langsung bangkit dan pura-pura ingin membuka restleting celananya.
"Isss!!! Abang! Bukan yang 'itu', omes banget deh jadi laki-laki. Apa-apa kesitu terus pikirannya," omel Yola sambil cemberut.
"Oh, kalau bukan tu ape? Padahal abang dah siap-siap pun," goda Ilham.
__ADS_1
"Cih! Maunya ... aku tuh udah curiga, kalau abang sampai bela-belain sulap gudang jadi kantor semi apartemen kayak gini, sampai belikan kasur segala, tujuannya bukab biar aku bisa istirahat, tapi biar abang bisa iya-iya'in aku kan? Ngaku aja deh. Kalau gitu mah bukan bikin aku rehat kali, tapi malah mau bikin aku capek, iya kan?" tuding Yola dengan pandangan mata sengit.
Ilham lagi-lagi tertawa terkekeh mendengar celotehan Yola yang mencibirnya dengan kecerewetan maksimal khas emak-emak.
"Mana ade Yola capek? Abang pun yang penat. Yola hanya tinggal berebah sahaja, abang pun yang bekerja betul tak? hahaha ..." godanya lagi sambil tertawa berderai.
"Isss ... abang nih benar-benar," desis Yola sambil geleng-geleng kepala. "Jadi mau diurut nggak nih? Kalau nggak mau ya sudah. Aku nggak mau ya pijat plus-plus. Abang mah nggak ada duit bayar plus-plus juga kan sekarang? Semua uang ada di tangan Puan Nirwan, Hahaha ..."
"Haiss... kenape Yola kikir macam tu? Padahal abang dah bagi saham N-one pun seluruhnya hanya buat Yola. Ckckck, tak patut, tak patut ..." Ilham pura-pura berdecak sebal.
"Oh, jadi mau ungkit-ungkitan nih sekarang. Gara-gara saham itu juga abang jadi presdir sekarang? Is, is, is .... abang mah nggak terima kasih. Yola kasih tau Mamah nih," Yola balas pura-pura mengancam Ilham dengan mata memicing.
"Ampun, Puan Ratu! Jangan bagi tahu Ibu Suri, nanti posisi abang jadi menantu diganti macam mana? Hahaha," gelak Ilham.
"Jangan mesum makanya," omel Yola.
"Tak apelah, Sayang. Dengan isteri sendiri pun," kata Ilham membela diri.
"Iya, dengan istri sendiri memang tapi lihat waktu dan tempatnya juga kali," kata Yola merengut.
"Sini dekat makanya!" kata Yola sembari menutup laptopnya dan meletakkannya di atas nakas.
Di saat yang sama, Leon datang dan menghampiri July.
"Ade Presdir ke?" tanyanya.
"Ade. Tunggu sekejap!" July ingin memberitahukan kedatangan Leon pada Ilham.
Tetapi Leon yang kebiasaan selalu langsung menghampiri bosnya itu tanpa pemberitahuan sebelumnya lupa kalau Yola juga mempunyai ruang kerja yang sama dengan Ilham sekarang.
"Tak payah, tak payah. Saye dapat masuk sendiri," kata Leon percaya diri.
"Tapi, tapi ..."
__ADS_1
Leon mengibaskan tangannya pada July pertanda dia bermaksud mengatakan kalau tidak akan terjadi apa-apa, meski dia masuk tanpa pemberitahuan dari sekretaris terlebih dahulu.
"Ilhaaaam ...."
Ruang presdir itu tampak kosong. Mata Leon terpaut pada kamar di balik ruangan itu. Leon menebak pasangan pasutri petinggi perusahaan itu pasti sedang berduaan di kamar saat ini. Sifat usil dan jahilnya timbul saat membayangkan hal tersebut. Segera dia mendekat pada pintu pembatas antara ruang presdir dengan kamar istirahat pasangan itu.
"Argggh ... Yola, bawah sikit, bawah lagi. Ahhh, jangan macam tu. Terlalu pelan .... abang jadi geli lah. Yola! Ahh, lambatnya .... Tak berase ape pun. Tak macam tu caranya!" Terdengar suara Ilham dari dalam kamar.
O,o? Ape hal mereka bikin dalam bilik tu? batin Leon kepo.
"Ahhh!!! Abang, abang tu cerewet deh. Udah ah! Malas aku kalau begini mah! Coba abang ajarin Yola gimana caranya, jangan taunya protes doank!" Kali ini suara omelan Yola yang terdengar dari dalam kamar.
"Aihhh, Yola ni. Itu pun tak pandai," jawab Ilham. "Macam ni, sini abang bagi tahu Yola caranya."
Leon menajamkan pendengarannya. Sesaat hening, namun kemudian terdengar suara kembali suara pasutri itu.
"Ahhh, abang ...."
"Macam mana? Sedap?"
"Sedap? Memangnya makanan? Ahh, iya di situ, abang .... Kencengin dikit .... ahhh, jangan di situ. Geli ... abang aaa ...."
Oh, my God! Leon menjadi panas dingin mendengar percakapan pasutri itu. Sebenarnya apa yang mereka lakukan di dalam? Otak mesum Leon langsung travelling seketika, mengingat kembali tugas yang diberikan Ilham padanya yaitu membeli kasur untuk istri tercinta bosnya saat ingin rebahan kalau lelah bekerja di N-one. Awalnya dia percaya tapi sepertinya sekarang tidak lagi. Cih! Ilham itu betul-betul tidak tau tempat.
Leon semakin menempelkan telinganya di pintu saat tak mendengar lagi suara-suara dari dalam kamar itu. Tapi apes... sedang semangat-semangatnya ingin menguping, tiba-tiba pintu pembatas antara ruang presdir kamar itu tiba-tiba terbuka.
Srrrrrttt!!! Bruuuuukk!!!
Leon ambruk ke dalam kamar!
"Leoooon!!!" pekik Ilham kaget melihat Leon yang terjungkal kini sampai terjerembab mencium kakinya.
"Hello, Bosss!!" Leon bangkit dan hanya bisa tertawa cengengesan.
__ADS_1
****
Intermezzo dulu ya reader biar nggak tegang. Hehehe