
Hafiz memijat-mijat kepalanya yang pusing akibat tidak tidur semalam. Setelah berbincang dan berunding dengan Ilham tentang masalah yang menimpa keluarga Nirwan, utamanya masalah kecurigaan mereka terhadap Yuri dan Imran sang notaris yang terlibat atas kasus kematian sang Atok dan juga masalah pengalihan saham Atok kepada Lucas, Hafiz pun bergegas pergi ke hotel Royale untuk memikirkan lagi strategi bagaimana caranya agar dia bisa mengorek keterangan dari Imran.
Dari malam hingga pagi, Hafiz yang menempati kamar di lantai delapan, yang posisinya hanya beberapa kamar dari kamar yang ditempati oleh Imran dan wanita itu, ia tidak dapat tidur sama sekali. Berulang-ulang dia keluar dan masuk kamar berharap Imran akan keluar lagi dan dia bisa membujuk pria itu untuk berbicara banyak mengenai saham Atok Yahya yang kini berada di tangan Lucas. Sempat terpikir untuk nekad mengetuk pintu kamar yang ditempati Imran, tetapi Hafiz berpikir dua kali. Imran datang ke hotel pastinya untuk bersenang-senang dengan wanita itu. Diganggu oleh Hafiz, tentu saja akan membuat lelaki itu murka dan memanggil pihak keamanan. Bisa saja, kan? Dan Hafiz tak mau berurusan dengan hal semacam itu. Jika bisa menempuh jalan damai dulu, untuk apa pakai jalan keributan ya kan?
Namun hingga pagi itu saat dia keluar dari kamar hotel dan ingin menemui Tuan Imran di kamar yang dipesannya semalam, di luar dugaannya, dia malah bertemu dengan wanita yang sebelumnya bersama dengan Tuan Imran. Dan sialnya menurut pengakuan wanita itu, pria itu sudah meninggalkan hotel sedari subuh. Sungguh sangat sial! Bahkan usahanya untuk menerima hadiah kamar dari Nizam hingga ke lantai delapan pun rasanya sekarang menjadi sia-sia.
"Nizam, kau ade kat mana?"
Hafiz bertanya keberadaan temannya itu setelah panggilan telepon itu tersambung. Mumpung dia masih berada di hotel yang sama, sesegera mungkin Hafiz menemui Nizam, temannya yang terkenal playboy itu. Hafiz bermaksud meminta tolong pada Nizam.
"Kau minta tolong ape?" tanya Nizam dengan mimik keheranan pada Hafiz.
Hafiz langsung saja menjelaskan maksud dan tujuannya. Berulang kali pria itu mencoba menyimak dan memahami penjelasan singkat namun padat dari Hafiz.
"Ape? Kau nak minta tolong kawan wanita aku untuk memancing pria itu?"
Hafiz mengangguk. Seperti yang Hafiz tahu, Nizam yang adalah seorang playboy memiliki banyak kenalan wanita malam. Dia berencana meminta bantuan salah satu dari mereka untuk menjebak pria itu.
"He em. Kau ade kenalan yang dapat lakukan hal itu ke? Aku akan bayar sesuai dengan yang dia minta, berapa pun!" kata Hafiz.
Nizam manggut-manggut.
"Yang penting dia tak hanya dapat gunakan dia punya badan sahaja, tetapi dia mestilah dapat pergunakan dia punya brain (otak), macam mana caranya agar si pengkhianat Atok itu dapat dimintai keterangan pasal saham Atok tu," imbuhnya menambahi.
Nizam kembali berpikir-pikir, mengingat kembali, memilah-milih beberapa dari wanita kupu-kupu malam yang pernah dikencaninya itu yang mana kira-kira yang masuk kategori cantik dan juga memiliki otak yang cerdas minimal licik yang mungkin bisa dia bujuk untuk membantu Hafiz.
__ADS_1
"Ade?" tanya Hafiz lagi.
Setelah berpikir sesaat, Nizam pun akhirnya dengan mantap mengangguk.
"Ade. Nanti kau kupertemukan dengan dia. Tetapi, pakai jasa dia mesti keluar wang banyak, taw ...."
Hafiz mengangguk mantap.
"Tak ade problem pasal wang, asal dia dapat bawa Imran ke hadapan saye dan Bang Ilham," jawabnya.
Dan masih di hotel yang sama Nizam pun akhirnya memanggil wanita itu. Wanita penghibur para lelaki hidung belang. Dia bernama Shima.
"Amboi, masih pagi, saye pun belum sempat balik rumah nak rehat dah pun dicalling kat sini. Abang Nizam ni bukannya sedang bawa Luna semalam?" keluhnya sambil menghempaskan dirinya dì ranjang hotel tempat Nizam menginap dengan teman kencannya tadi malam.
"He um, tetapi dia dah balik sedari pagi," jawab Nizam.
"Kite kumpul bertiga kat sini nak cuba style threes*me ke?" tanya Shima.
Hah? Hafiz dan Nizam yang kaget dengan pemikiran Shima serentak langsung membantah.
"Tak-tak macam tu!" Keduanya bak paduan suara langsung menggelengkan kepala.
Hafiz bahkan ingin membenturkan kepalanya ke tembok. Bisa-bisanya wanita itu berpikir kalau mereka kumpul di hotel itu untuk melakukan aktivitas dewasa sekaligus bertiga. Threes*me? Melakukan adegan dewasa normal dan konvensional saja dia belum pernah, apalagi mencoba melakukannya bertiga? Dengan Nizam pula? Haaaais, kacau dunia persilatan.
"Shima, tak macam tu lah. Abang ni masih normal! Dan lagi siape nak berbagi wanita di tempat tidur, macam betul je!" kali ini Nizam yang protes dan menatap Hafiz geli. Hafiz balik menatap jijik pada Nizam.
__ADS_1
"Habis macam mana? Kalau macam tu Shima ni nak layan siape?" Shina menatap nakal pada Nizam dan mengangguk ramah pada Hafiz Suatu sikap untuk menarik hati pelanggan baru. Oh yes!
"Dia!" Nizam menunjuk pada Hafiz.
"Oooo ..." Bibir Shima mengerucut senang mengetahui kalau dia mungkin akan mendapat pelanggan baru. Kali ini tampan dan muda seperti Nizam yang telah berulang kali memakai jasanya.Yah minimal bukan kakek-kakek menjelang uzur dengan banyak dia.
"Oh okay. Kalau macam tu, kite lakukan kat mana?" tanyanya girang. "Kat sini atau kat mana?"
Shima segera menghambur ke sofa di dekat Hafiz. Dia bergelayut manja pada Hafiz, membuat Hafiz spontan berusaha melepaskan diri.
"Emm ... tolong lepas sikit, saye perlu bantuanmu bukan untuk melakukan hal macam tu. Saye dah punya bakal isteri," tolaknya dengan sopan.
Shima pun melepaskan Hafiz dari gelayutan manjanya pada pria itu. Meski lumayan kecewa pada penolakan Hafiz.
"Kalau macam tu mesti layan macam mana?" Shima memasang wajah cemberut.
Hafiz membuka ponselnya. Mencari-cari biodata Tuan Imran di aplikasi mesin pencari, hingga akhirnya Hafiz pun menemukan foto pria itu di laman website notary publik atas nama Imran Hasan. Hafiz menunjukkan foto pria itu pada Shima.
"Merayu dia kau boleh ke? Berhasil merayu dia hingga tempat tidur, aku bayar seharga kau satu malam, berhasil dapatkan informasi yang kuperlukan, aku bayar dua kali lipat, jika dua hal ni tak boleh terjadi, kau dapatkan senjata yang buat dia tak dapat berkutik dan menurut untuk dapat diperintah ape sahaja, aku bayar 3 kali. Macam mana?" tantang Hafiz.
"Bayaran yang kau maksud tu short time ke atau long time? Kau tahu, bayaran saye tak murah," tantang Shima balik.
Hafiz tersenyum puas.
"Long time."
__ADS_1
"Okay. Deal!" kata perempuan itu.
****